Melintasi Batas Kesunyian

Merenungi Hidup…..Dengan Segala Macam Hikmahnya

Arsip untuk Desember, 2005

i’ve meet my dream but i can’t have it

Ditulis oleh Andres Irawan di/pada Desember 31, 2005

Temanku berkata, kejarlah mimpimu
sampai kapanpun kau mau,
hingga mimpi itu akan kamu dapatkan
dan berada dalam genggamanmu

Lalu aku berkata pada diriku
aku ingin mengejar mimpiku
untuk meraihnya dalam genggaman tanganku
dan kubawa dalam hidupku

Kemudian sang waktu menjawab
mimpiku telah larut
dalam genggaman tangan yang lain
yang memberikan kedamaian yang selama ini dicari

Selanjutnya aku tersadar
mimpiku adalah sebuah angan dalam hidupku
yang sempat menghampiri
dan membius dalam kesadaranku

Namun aku bersyukur, aku masih bisa bermimpi
Dan dipertemukan dengan mimpi teridahku
meski hanya sebatas impian
namun aku menjaganya sampai akhir hayat

Ditulis dalam Dari Jiwa | Leave a Comment »

dedicted for my love

Ditulis oleh Andres Irawan di/pada Desember 26, 2005

aku bukan angin yang datang begitu saja
aku bukan pula air yang sekedar mengalir
namun aku adalah damai yang ingin merengkuh
jiwa yang menyusut pelan
dalam serenada keheningan

aku bukan sinar matahari yang kemilau
aku bukan pula cahaya rembulan di malam gelap
namun aku adalah lentera yang ingin menjumput
kasih yang terbang melayang
dalam buaian kehidupan

aku bukan sekuntum bunga yang mekar
aku bukan pula bentangan sayap burung camar
namun aku adalah tangan yang ingin memeluk
sebuah cinta yang tersisa
dalam hempasan badai

aku bukan gemerlap kepingan logam mulia
aku bukan pula rangkaian butiran mutiara
namun aku adalah sebuah hati yang dipersembahkan
kepada wanita yang mencintaiku
dalam rangkaian kehidupanku

Ditulis dalam Dari Jiwa | Leave a Comment »

Antara Mimpi dan Harapan

Ditulis oleh Andres Irawan di/pada Desember 24, 2005

Andres sedang mellow lagi…????

Ah nggak juga kok. Kenapa ada postingan dua syair rada mellow itu, sebenarnya ada alasannya. Sejujurnya baru tadi malam bisa nyambangin rumahnya mas AULIA MUHAMMAD. Beliau ini salah satu penulis yang saya suka. Kebetulan beliau sering mengisi kolom di sebuah surat kabar terbitan Jawa Tengah, Suara Merdeka. dan domisili saya yang berada di daerah Surakarta dan sekitarnya membuat saya dengan mudah bisa membaca tulisan-tulisan beliau ini

Nah, tadi itu barusan saya membaca sebuah tulisan sederhana yang saya nilai bagus sekali, cerita tentang kerinduan (meskipun bisa bermakna lain). Juga beberapa tulisan lainnya yang kemudian menjadikan saya berinspirasi untuk menulis tentang kerinduan.

Bicara tentang kerinduan, sebenarnya kerinduan kepada seseorang itu sedang saya rasakan. Kepada seseorang yang nun jauh disana, seseorang yang saya berjanji kepadanya, untuk menjaga sesuatu yang dia titipkan kepadaku. Namun seiring waktu berjalan, sesuatu yang dia titipkan itu akhirnya dimintanya kembali. Saya gak mempermasalahkan jika sesuatu itu kembali, saya hanya menyesal setelah sesuatu itu kembali dengan tidak utuh.

Sekarang dia pergi dan saya gak akan mengusiknya lagi, Dia mencari sesuatu yang lain yang bisa dia pegang kembali. Dan saya merelakan sesuatu itu kembali pada seseorang yang bisa dia percaya. Meskipun saya tahu, sebenarnya dia meninggalkan bekas yang teramat dalam. karena darinya saya belajar untuk melepas masa lalu dan menyongsong masa depan. Bersamanya pula saya belajar arti sebuah pengorbanan, dan juga bersama dia pula saya menemukan sebuah arti kepercayaan. Walau ternyata, lain di bibir lain pula di hati.

Masa lalu datang kembali didepan saya, tapi bukan berarti merampas masa depan saya. Karena bagaimanapun juga, masa lalu adalah cerminan dari sebuah perjalanan hidup. Hanya sayangnya masa depan kemudian tidak seperti yang kita rencanakan semula. Meskipun masa depan itu perlahan meninggalkan saya, saya akan meraih masa depan itu kembali, apapun caranya dengan segala daya.

Hikmah hari ini —-> Mimpi adalah bagian dari masa lalu kita, namun harapan adalah bagian dari masa depan kita. Jangan pernah berhenti berharap, karena dengan harapan itulah kita berupaya mewujudkan apa yang kita inginkan.

Ditulis dalam Dari Pikiran | Leave a Comment »

Today report

Ditulis oleh Andres Irawan di/pada Desember 23, 2005

Wah……hari ini asmaku kumat lagi, tapi gak papa kok, meski rada ngik2 dan ngok2 tapi masih bisa tahan. Dan juga….sepertinya harapanku agar “mentari” bisa kembali bersinar mulai terlaksana, meski aku tau kesabaran itu mutlak adanya

Dan yang kedua….uangku HABIS….setelah “ditembak” seseorang selama Yogya-Surabaya, tiket kereta api pulang yang terbuang percuma, dan juga tiket bus yang separuh ku subsidi, akhirnya habislah sudah uangku. Pulang ke Jember pun aku make duitnya BALUNG itupun aku masih dibantu oleh dua orang teman yaitu Kang Mono dan Fau-fau alias Ujik. Untung saja selama di Surabaya, aku punya TTM alias Teman Tempat Makan yaitu dirumahnya Dek Eq yang dengan ramah menyambut kami (huekssss….. :D )

Sampai hari Selasa, aku baru balik Ke jember. Tapi badanku akhirnya ngedrop beneran. Rabu paginya, aku terbangun tengah malam dengan nafas tersengal-sengal karena Asma ku kumat…Oh my God…akhirnya lelah pikiran berimbas juga dengan lelah fisik. Terlebih, dengan penyesuain jadwal yaitu makan sekali sehari karena emang udah gak punya duit lagi membuat kondisi tubuhku makin drop. Tapi gak papalah, namanya juga amal dan kebaikan, semoag dicatat di buku amalku.

Dan barusan buka email….eh ada kiriman dari Balung bilang kalo lay out “Mengejar Matahari” nya udah selesai. Wah….cepet banget Lung, Thanx banget yah. Cuman sepertinya aku tetep kompak dulu dengan kalian semua, yaitu akan ganti kalo semuanya juga ganti. So…sementara aku tahan dulu keinginan nyoba lay out barunya ini

Oh ya..makasih juga buat Kang FUNS atas banyaknya nasehat dan masukan yang diberikan. Tapi tentang SMS sampeyan yang bilang tentang “undangan” itu, sek yo Kang, tinggal Mentari nya mau gak saya ajak buruan he3. Juga buat “seseorang” yang nemuin aku dengan bela-belain mampir padahal habis rapat dan masih banyak agenda lain, namun mau aja aku suruh ke URIKA buat ketemu. Sebagai ganti aku gak jadi silaturahim di Lumajang yah dek he3.

Ditulis dalam Dari Hidup | Leave a Comment »

terhempas

Ditulis oleh Andres Irawan di/pada Desember 23, 2005

Pelan kau menghampiriku,
meskipun kau tahu aku jauh dari dirimu.
Dengan sabar kau melembutkan hatiku,
meskipun kau tahu akan luka di benakku.
Kemilau sinarmu, mencoba membalut
duka yang sempat menghantuiku
saat hatiku terbenam
dalam sebuah keputus asaan
dan ketiada berdayaan.

Ketika tangan lembutmu menyentuh kepalaku,
kau kecup keningku dengan kasih sayangmu
Angin yang menusuk tulangku
terhangatkan dengan canda tawamu.
Keruh yang terkumpul
kau bersihkan dengan keceriaanmu.
Kelopak mata yang sayu
kau lembutkan dengan usapan tangan mungilmu,
dan kau berjanji akan kesetiaan dalam pengharapanmu

Ketika badai datang menerjang,
kau mencoba menyertaiku
meskipun kau tahu beratnya kesetiaanmu kepadaku.
Tapi hantaman karang
membuat tangamu terlepas dari dekapanku,
kau melayang jauh,
terhempas ombak yang membuat
kau makin tak nampak dimataku.
Dan ketika badai itu reda,
ku hanya melihat bayanganmu di mataku,
dengan ketiadaan.

Akankah damai kembali tercipta tanpa kehadiranmu?

Aku butuh dirimu

Ditulis dalam Dari Jiwa | Leave a Comment »

Jujur aja….saya ngeri

Ditulis oleh Andres Irawan di/pada Desember 22, 2005

Seorang teman saya, wanita yang hidup dikota metropolis berkata kepada saya ” Batasan pergaulan hidup antara laki-laki dan wanita, terlebih jika mereka mempunya komitmen hati adalah hamil. Selama mereka aman-aman saja, gak ada yang merasa terbebani, bahkan juga kalo si ceweknya oke-oke aja dan gak hamil, gak ada tanggungjawab dari pihak laki-laki”

Glodhax….#@&%=?????????
Sebuah statemen yang membuatku langsung mencopot kaca mata minus 4 ku juga garuk-garuk kepala. sudah sedemikian parahnya kah pergaulan dikota besar sehingga hubungan bebas dan percumbuan dengan hamil atau tidaknya menjadi sebuah parameter dari sebuah hubungan???

Terlalu banyak aku mendengar cerita dari “seseorang” tentang kisah hidupnya. Gak usah saya jelaskan disini, tapi yang pasti, jika emang statemen temanku diatas dijadikan parameter dari apa yang menimpa “seseorang” tersebut, maka jelaslah dia ada di posisi yang kalah.

Lalu saya sempat teringat edisi “deteksi” di koran Jawa Pos. Pernah salah satu di edisi tersebut mengangkat topik bahasan tentang “apa saja yang pernah dilakukan selama pacaran”. Metode yang digunakan adalah dengan menggunakan responden dengan jumlah responden 1000 orang dan error maksimal 5 %. dan hasilnya tentu saja menempatkan dua besar yaitu kissing dan petting. Wow….sebuah hasil yang tidak mengejutkan sebenarnya.

Jujur aja….saya ngeri

Ditulis dalam Dari Hidup | Leave a Comment »

Buat Kamu

Ditulis oleh Andres Irawan di/pada Desember 22, 2005

Senyap….
Keadaan ku selama beberapa hari ini bagaikan sendiri dalam keramaian Aku lebih suka mojok di sudut lab dengan kompie favoritku…
Enggan memperhatikan sekitarku yang sama-sama sibuk dan berkerja
Aku sibuk membuka Corel draw dari pada Word
Aku lebih menggambar dan mendesign grafis dari pada menulis skripsiku Aku lebih suka mengurung diri di kamar dari pada berangkat ke kampus Aku lebih suka nongkrong di pinggir sungai dari pada depan Mall
Semua itu kenapa…??????????????
Bahkan sekedar bertanya pun….
Bukan jawaban itu yang aku inginkan
Bahkan sekedar mencari perhatian pun
Bukan sekedar menyenangkan hati bundaku yang aku mau
Aku mau “KEJUJURAN HATI” mu
Itu saja yang aku minta
Bukan sekedar menyenangkan diriku atau yang lainnya
Jika kau tidaklah memintaku menjauh
Biarkan aku tenggelam sendiri dalam duniaku

Ditulis dalam Dari Jiwa | Leave a Comment »

Bahagia Merayakan Cinta

Ditulis oleh Andres Irawan di/pada Desember 22, 2005

T = “Mas, aku boleh minta pendapat ga? Aku diajak nikah sama cowokku. Akunya gak masalah, papa juga setuju aja, tapi mama belum bias ngelepas kayaknya. Lagian cowokku itu kerja diluar jawa, jadinya masih pisah dong mas. Enaknya gimana?”

J = “Udah nyoba ngeloby mama belum?Ya kalo dek nya ngerasa siap dan gak masalah dari papa, ya udah, jalanin aja”

T = “Tapi mamaku kayaknya belum siap ngelepas mas, lagian khan masih mesti pisah dulu”

J = “Dicoba lagi ngeloby mama dek lah. Dek itu beruntung, diluar sana masih banyak cewek yang udah berumur tapi bingung karena gak ada yang ngelamar. Ini dek udah diajak nikah sama cowoknya malah bingung”

T = “Iya deh mas, ntar aku coba ngeloby mamaku. Thanks yah mas”

J = “Iyaa, gak papa kok. Ntar hasilnya kasih tau yah”

Ini perbicanganku lewat SMS dengan seorang teman, lebih tepatnya temannya adekku, sekitar 3 minggu yang lalu. Seminggu kemaren aku dapat kabar bahwa Insya Allah mama nya ngijinin dan pertengahan tahun 2006 besok akan nikah (doain jadi yah) dan aku tentunya diminta datang ke resepsinya, ya lumayanlah meski jauh di Jakarta sono.

Bicara tentang jodoh dan nikah, sesuatu hal yang selalu menarik untuk dibahas. Awal Januari ini, salah satu teman terbaikku di rumah sana, Fauzi, Insya Allah juga akan melangsungkan akad nikah. Aku yang bisa dikatakan tahu banyak tentang “proses” Fauzi ini termasuk seringnya dicurhatin ketika mendapat masalah juga share pikiran, merasa cukup kagum akan perjalanan dan usahanya untuk menikah, pun termasuk tahu benar kondisinya yang baru bekerja sebagai guru kontrak di almamaternya di As-Salam Solo.

Satu faktor yang sangat menentukan dalam pernikahan adalah orang tua. Jadi ingat kisah sedih banyak temenku, yang proses pernikahannya terhambat atau malah gagal sama sekali ketika orang tuanya gak ngasih ijin atau malah menolak calon yang dihadirkan. Memang hak orang tua yang menentukan apakah anaknya, baik yang laki maupun perempuan untuk menikah dengan siapa yang dipilihnya.

Namun dibalik itu pula, sebenarnya orang tua pun adalah sesuatu yang unik, terutama jika mempunyai anak gadis. Masih ingat dengan ungkapan ini khan.. “Anak laki-laki, sampai tua adalah milik Ibunya. Sedangkan anak perempuan adalah milik suaminya”. Maksudnya adalah, sampai tua pun, seorang anak laki-laki akan terus bertanggungjawab terhadap orang tuanya, sedangkan anak perempuan saat dia menikah, maka tanggungjawabnya akan beralih kepada suaminya. Karena sang ayah telah menyerahkan sepenuhnya anak gadisnya kepada sang suami.

Pagi tadi barusan sempat bicara ama Mbak-ku (aslinya sih cuman beda usia 5 bulan 16 hari he he he) yaitu Mbak Wuland. Nah..tadi itu dapat cerita yang cukup bermanfaat dan dapat diambil hikmahnya. “orang tua itu aneh, mereka selalu takut anak2 gadisnya ga ‘laku’. tapi selalu merasa cemburu juga pas ada laki2 dateng buat minta anak2 gadisnya. Namun ya akhirnya mesti dikasih juga lah coz. it’s love U know”

Kemudian Mbak Wuland ini memberi masukan dari sebuah buku “Bahagia Merayakan Cinta”. Dibuku tersebut dikatakan bahwa “Nafas cinta mereka meniup kuncupku, maka ia mekar jadi bunga. Dan ketika bunga itu mekar, ada anak orang lain yang akan memetiknya. mereka merelakannya dalam kesedihan, kebanggaan, kekhawatiran, harapan, kecemasan, dan doa. Mereka kembali melewati hari-hari dalam sepi, tanpa celoteh dan canda yang biasa kita pentaskan. Memang sudah bukan masanya. Memang dunia berputar mengiringkan bertambahnya usia mereka, dan sudah saatnya, bukan mereka yang diwasiati Allah ttg anak2 mereka, tetapi kita, anak-anak mereka lah yang diwasiati Allah ttg mereka” dan ditutup dengan sebuah ayat Cinta dari sang Maha Kuasa “…maka bersyukurlah padaKu, dan pada kedua orang tuamu …” (Al Luqman : 14).

Mungkin saat ini, kita belum merasakan beratnya mempunyai seorang anak gadis yang kemudian setelah dewasa kita serahkan ke laki-laki lain. Tapi dari situ saya belajar tanggung jawab sebagai orang tua amatlah besar dalam kehidupan anaknya. Jadi wajar saja seperti yang cerita di atas, bila orang tua merasa belum rela melepas anak gadisnya.

Satu hal yang pasti, hidup itu akan terus berjalan meskipun kita mengalami kesulitan dan kesukaran. Seringkali jalan yang kita tempuh, nampak indah diawal namun penuh kerikil tajam ditengahnya, bahkan juga jurang yang dalam di pinggirnya. Alangkah indahnya kita, jika memaknai setiap cinta dan kasih sayang yang telah kita terima selama ini, terutama dari orang tua kita sebagai bekal di perjalanan usia kita yang tidak lama ini

(ps—-> Alhamdulillah, bundaku udah nelpon aku dari Makkah, dan sehat-sehat aja. Hope u can be a “Mabrur Hajj”. I love u mom)

Ditulis dalam Dari Hati | Leave a Comment »

Bersyukur Atas Apa yang Kita Dapat

Ditulis oleh Andres Irawan di/pada Desember 21, 2005

Lho…. gak kerasa udah mau tahun 2006 nih. Jadi ingat, ada satu target yang meleset tahun ini. Meskipun ada juga yang memenuhi bahkan melampaui apa yang direncanakan. Target dapat ijin nikah gak tercapai, begitu pula dapat kerja walaupun part time, gak terealisasi. Tapi disisi lain, proposal skripsi dan penelitian yang udah kelar sampai bulan desember ini, hingga tinggal pembahasan dan setelah itu seminar dan ujian skripsi melebihi target yang aku bebankan diawal tahun 2005, secara teknis, semestinya aku baru bisa mengajukan proposal skripsi itu bulan desember ini, kemudian penelitian selama 3 bulan dan analisa data, baru kemudian bisa wisuda yang dikalkulasikan membutuhkan waktu setahun. Tapi gak disangka awal juli dapat tawaran penelitian dan kemudian aku terima dan sekarang tinggal pembahasannya saja. Yah semoga bisa ngejar wisuda Maret besok

Bicara tentang nikah, ah..no comment deh, lha wong pengen nikah gak boleh-boleh sama bundaku, ya udah..mendingan ngurusin studi yang terbelengkalai. Jujur aja, selama dua tahun kemaren adalah masa-masa suram dalam studiku. Gimana gak, sejak semester 3, gairah belajar ilang drastis, yang ada hanya males di bangku kuliah, gak betah dan gak tau mesti ngapain. Kasarnya, disorientasi fokus hidup. Akhirnya lari ke “jalanan” jadi aktifis beneran. Walau aslinya tanpa dipaksain diri aja, emang udah jadi aktifis. Akhirnya, ya begitulah, nilai yang hanya segelintir ditambah beberapa kasus nilai “E” yang menghiasi form IPK ku mesti aku bereskan selama dua semester sisa studi ku kini.

Menyesal..mungkin udah terlambat kali yah, lha wong emang udah terlalu jauh. Tapi mau diperbaiki pun juga udah sangat berat sekali. Sekarang yang ada hanyalah tinggal menyelesaikan dua semester yang tersisa ini sebaik-baiknya dan segera mengusahakan skripsinya selesai

Bicara masalah studi, ada seorang “sahabat” yang malah selama 4 semester nilai IPK nya adalah 0,00 alias E semua, karena daftar kuliah tapi selama masa kuliah tidak pernah datang dan ujianpun juga tidak hadir, jadi gimana mau dapat nilai kalo gt. Sayang banget, karena dia menjadi satu-satunya harapan orang tua untuk menjadi sarjana setelah abang-abangnya tidak ada satupun yang kuliah. Dan sekarang, yang aku dengar dia memutuskan untuk berhenti dari studi dan mungkin akan bekerja atau aktifitas lain untuk mencari penghasilan.

Bersyukur terhadap apa yang didapat itu perlu, tapi alangkah baiknya pula jika dilanjutin dengan mempergunakan apa yang telah kita dapat itu sebaik-baiknya. Mungkin aku bukanlah contoh yang baik, dan emang gak layak untuk ditiru. Kadang malu juga liat banyak temen yang udah lulus dan kerja, pa lagi karena aku aktifitasnya di kampus adalah jadi admin laboratorium computer, jadinya tahu adik-adik tingkat yang sedang ngerjain skripsinya. Ya sudahlah, paling nggak adalah aku masih berupaya untuk penuhin janjiku kepada mendiang ayah untuk menjadi sarjana.

Hikmah hari ini

Menjadi sesuatu yang berarti bagi orang lain adalah sebuah kebaikan, menjadi sesuatu yang berarti bagi di kita sendiri pun adalah sebuah kebaikan pula. Tapi alangkah baiknya jika kita bisa menjadi sesuatu yang berarti bagi kehidupan kita dan sekitar kita

(ps —> buat balung..kita segera lulus yuk..masak gak malu ama adek-adek kita)

Ditulis dalam Dari Hati | Leave a Comment »

A Time of Moment

Ditulis oleh Andres Irawan di/pada Desember 19, 2005

Bayangkan jika kita berada disebuah tanah luas yang berada ditepi sungai. lalu kita meminta ijin pada yang punya untuk berkebun. Setelah diberikan ijin, kita mulai menanam berbagai jenis buah-buahan dan sayuran. Lalu kita merasakan panen pertama yang begitu menggembirakan, hasil sebuah pekerjaan yang dengan kerja keras kita agar kebun tersebut menghasilkan. Meskipun sebenarnya, pada penanaman pertama ini, berbagai macam hama dan serangan penyakit silih berganti datang menyerang. Namun dengan kebulatan tekad dan juga keinginan untuk mendapatkan hasil yang baik, membuat kebun ini akhirnya berproduksi dengan baik. Lalu kemudian kita tanam lagi sayuran lagi, kita berupaya keras untuk menghasilkan panen yang sama baiknya dengan panen yang kedua. Tapi ternyata panen yang kedua ini tidaklah sebaik panen yang pertama. Padahal dari segi serangan hama dan penyakit, jauh berkurang.

Sampai akhirnya, kebun ini tidak mau berproduksi lagi. Ditanami apapun, menjadi mati, padahal tidak tahu apa masalahnya. Setelah diselidiki, ternyata hama penyakit yang ada didalam kebun itu telah kebal dengan berbagai jenis pengendali hama yang ada.

Sampai akhirnya datang petani lain yang kemudian mengolah tanah tersebut dengan baiknya, sampai beberapa kali panen dan menghasilkan. Dengan sabarnya, petani tersebut menyingkirkan hama lama dan kemudian dapat menikmati hasil panenannya beberapa kali dengan puasnya.

Tapi kemudian dengan alasan yang tidak jelas, petani kedua ini tiba-tiba pergi begitu saja disaat kebun ini sedang berbuah dengan banyak-banyaknya. Akibatnya adalah gagal panen karena tidak ada perawatan. Sampai akhirnya kita tahu hal tersebut dan berupaya merawat tanaman-tanaman yang ada didalam kebun tersebut. Namun apa daya, setelah berusaha sekuat tenaga, tanaman di kebun tersebut menjadi mati dan kebun tersebut menjadi gersang, terlebih setelah sungai yang mengalir didalamnya juga menjadi kering dan tak berair lagi. Tidakkah kita menjadi sedih dengan semua hal tersebut?

(Hikmah dalam Hidup : Kita bertanggung jawab terhadap apa yang telah kita lakukan, tapi ada kalanya kita tidak mendapatkan kesempatan untuk bertanggung jawab meski pun kita telah berupaya maksimal. Jika itu yang terjadi, mungkin perasaan bersalah tetaplah ada, tapi aalngkah lebih baiknya kita berdoa agar semua menjadi lebih baik dengan segala yang ada saat ini)

ps—-> Andres udah “normal” lagi. Seperti yang Balung bilang..urip kuwi yo mampir dinggo ngombe..Balung yag ngombe, aku sing mangan (iyo gak Lung?)

Ditulis dalam Dari Pikiran | Leave a Comment »