Melintasi Batas Kesunyian

Merenungi Hidup…..Dengan Segala Macam Hikmahnya

Arsip untuk Februari, 2006

Report of Final Battle

Ditulis oleh Andres Irawan di/pada Februari 28, 2006

Selasa 21 Februari

Jenuh banget hari ini, segalanya kacau suracau. Sekali lagi aku dipojokkan dan makin terpojok. Ah..sudahlah, mungkin dia sama sekali tidak tahu bagaimana aku menyesal dan memilih untuk keluar, jujur aja aku malu terhadapnya.

Jenuh yang kedua, naskah belum jadi dan kepalaku cenut-cenut gak karuan, Imbasnya, tensi darah ku naik tinggi sekali. Inginnya mukul orang lagi, bukan gedebhok pisang yang biasanya ku pukulin.

Rabu, 22 Februari

Makin menjadi-jadi jenuhku, gak karuan rasanya dikepala. Udah gitu, tensi yang makin tinggi butuh penyaluran, entah kenapa aku pengen ngajak “perang” seseorang yang biasanya nelpon aku, dari rumahnya, kantor or sekretariat.

Kamis, 23 Februari

Akhirnya, perang benaran deh. Dan…….akhirnya malam itu juga ber “azzam” mesti selesai naskahnya

Jumat, 24 Februari

Alhamdulillah, naskah di ACC oleh DPU ku, Bu Tatik(1), juga DPA pak Irwan(2). Wah, meski gerak cepat niy agar bisa daftar ujian besok. Mana Sekretaris penguji belum tau sapa, semoga dapat dosen yang baik

Sabtu, 25 Februari

Jam 8 pagi sudah di kampus, minta daftar ujian ke sekretaris jurusan, langsung didaftarkan dan Alhamdullillah dapat dosen yang baik, pak Avivi(3). Langsung sms beliau memberitahukan ujian selasa agar dapat dikonfirmasikan, dan Alhamdulillah bisa dan naskah segera dikirim kerumah

Dan ternyata, masih banyak syarat ujian yang belum terlengkapi..senin mesti lembur

Ahad, 26 Februari

Lembur membenahin naskah skripsi, dan cuek dengan konflik yang terjadi meski memang aku yang salah. Ah….udahlah, meski kepikiran terus, aku mencoba konsen sama ujianku, meski emang berat (maklum, mellownya masih terlalu dominan dibanding kolerisnya)

Sorenya, langsung ke rumah pak Avivi memberikan naskah ujian. Dan gak tahunya, justru diberi tentiran tentang hal-hal yang akan diujikan besok. Subhanallah, kemudahan yang Allah berikan yang kedua setelah yang pertama naskah di ACC begitu saja oleh dosen pembimbing

Malam, akhirnya mencoba merenungi diri

Senin, 27 Februari

Pagi sekali, langsung ke kantor pusat minta stempel KTM, kemudahan kedua yang diberikan oleh Allah, soalnya meski petugasnya gak ada, langsung disetempel oleh atasannya.

Langsung ke perpustakaan fakultas, minta stempel lagi dan Alhamdulillah mas Aziz(4) petugas jaga di perpus segera memberikan stempel. Dan, setelah itu menghadap Pak Jum(5) mendaftar ujian. Setelah sempat diperiksa, aku disuruh membenarkan form 14 yang masih keliru dan juga fotocopy berkas yang masih kurang.

Naik ke ruang atas fakultas, buat ketemu pak Irwan, memberikan naskah dan konfirm tentang jam ujian, ternyata pak Irwan gak bisa seperti diawal yaitu selasa jam 11 dan minta diundur sampai jam 1 siang, Pertolongan Allah keempat, ternyata setelah di konfirm ulang bu Tatik dan pak Avivi bisa memenuhi ujian jam 1 siang

Setelah fotocopy, aku serahkan semua berkas ke Pak Jum, dan ketemu dengan Fetty(6) disana. Fetty ini adek tingkatku, biasa becandaan bareng denganku di lab komputer yang memang aku sebagai adminnya sekaligus rekan seperjuangan dalam penulisan skripsi. Setelah discuss sejenak dengan Fetty, aku ke lab komputer buat jaga disana.

Habis sholat dhuhur, menghadap pak Jum lagi, ternyata ada masalah ketika satu mata kuliahku tidak keluar nilainya. Aku ingat saat itu nilaiku keluar terlambat karena sempat tidak ngumpulin tugas akhir kuliah. Atas saran pak Jum segera mencari dosen yang mengajar mata kuliah tersebut dan ternyata dosen tersebut ada di tempat. Setelah membikin surat pemberitahuan, langsung di acc dan diserahkan ke pak Jum agar diproses. Itu adalah pertolongan Allah kelima.

Alhamdulillah, setelah menanti sampai jam 2, surat undangan daan pelaksanaan ujianku selesai dan tinggal didistribusikan ke dosen dan perlengkapan buat ruangan dan kepegawaian untuk pencatatan.

Tapi undangan belum disampaikan, akhirnya sore itu juga minjem motor “Bos” ku, muter-muter nganterin undangan tersebut, ke pak Irwan dan juga bu Tatik. Di bu Tatik malah sempat discuss sejenak, bahkan dipesenin belajar yang baik agar bisa lulus.

Kelar nganter berkas dan undangan jam ½ 9 malam. Dan ternyata badanku sudah lelah dan ngantuk sekali. Sempat ngenet sejenak dan teryata, emosiku yang meluap-luap dan melimpah gak terkendali setelah pikiranku tertekan begini menyebabkan aku kehilangan seorang sodara lagi. Ah, bukan yang pertama kali memang, namun selalu saja ada penyesalan dengan semua ini. Aku gak bisa konsentrasi akhirnya

Langsung tidur dan mencoba agar bisa bangun jam 1 malam hari

Selasa, 28 Februari

Jam 1 malam akhirnya bangun, dan mencoba banyak membaca setumpuk materi dan buku yang sudah aku siapkan sebelumnya. Innalillahi, materi sebanyak itu, jangankan 50 % aku menguasai, 10 % aja itu sudah bagus. Blank, otakku lelah dan terlalu banyak penyesalan yang terlintas, juga ketakutan dan lainnya. Aku harus gimana????

Akhirnya, jam 3 pagi, mandi dan mencoba mendekatkan diri kepada sang Khaliq, Allah SWT, dalam lantunan doaku, aku memohon ampun atas semua salahku, salah kepada orang tuaku, salah kepada sodaraku yang baru saja kusakiti hatinya, salah kepada banyak teman dan lainnya. Ah, entahlah. Tapi yang jelas, malam tadi merupakan salah satu malam terdamai dalam hidupku, meski dalam kepasrahan.

Habis shubuh, ternyata ngatukku malah menjadi-jadi. Kepalaku terasa berat dan akhirnya ku putuskan untuk tidur dulu. Bangun jam 7 pagi dan langsung berangkat ke kampus untuk konfirm alat dan juga viewer. Alhamdulillah, laptop bisa pinjem teman.

Jam ½ 9 pagi bertemu Fetty, dia ujian jam 9 ternyata. Juniorku satu ini malah lebih dulu ujian dari padaku. Setelah memberikan semangat dan saling mendoakan, aku kembali ke lab komputer buat belajar sambil nyoba laptop.

Setelah sempat sholat dhuha dan juga berdoa cukup panjang, jam ½ 11 mencoba belajar lagi. Malah, bukan bisa masuk tapi ngantuk yang makin menjadi-jadi. Dan akhirnya aku sukses tertidur di masjid he he he

Bangun jam ½ 12, siap-siap sholat dhuhur. After tilawah At Taubah (soalnya mau berangkat perang) dan sholat sunat 2 rekaat, mulailah konfirm ruang dan pinjam viewer, terus masang di ruang sidang bawah. Konfirm ke dosen pembimbing tempat sidang dan siap-siap menghadapi ujian

Jam 1 siang, dosen semuanya masuk dan rapat sebentar dan aku nunggu di panggil masuk ruangan. Setelah nelpon bundaku sejenak aku matikan HP dan siap-siap di panggil. Jam satu seperempat dipanggil masuk ruang sidang.

Setelah diawali dengan pembukaan dari bu Tatik dan juga mempersilahkan untuk berdoa dulu, langsung dipersilahkan presentasi.

Dan…..#^%)(()_+|(&^(_*_$%&()(_+*&^%+_)I(

Jam 3 sore tepat, aku dipersilahkan keluar ruangan untuk memberikan kesempatan dosen rapat sejenak kembali. Setelah menunggu 10 menit, akhirnya dipanggil dan….

Aku dinyatakan lulus

Subhanallah Walhamdulillahu Allahu Akbar

Setelah menunggu selama 6 tahun 6 bulan tepat, akhirnya tanggal 28 Februari 2006, aku dinyatakan lulus meski dengan revisian yang cukup banyak

Alhamdulillah, tiada kata yang pantas terucap selain syukur kepada Allah SWT

Langsung nelpon bundaku, mengabarkan kelulusan ujianku. Dan nge sms beberapa teman yang masuk sms nya waktu HP aku matikan saat ujian. Dan……

Badai Pasti Berlalu….semoga mentari bisa bersinar kembali

**********

catatan :

1. Dr. Ir. Sri Hartatik, MS = Dosen Pembimbing Utama (DPU) sekaligus ketua jurusan Budidaya Pertanian FP UNEJ

2. Ir. Irwan Sadiman, MP = Dosen Pembimbing Anggota (DPA) sekaligus Pembantu Dekan II FP UNEJ

3. Dr. Ir. Sholeh Avivi, Msi = Dosen Pembimbing Anggota (DPA)

4. M. Aziz = staf perpustakaan FP UNEJ

5. Jumbariyanto = staf akademik FP UNEJ, bagian pendaftaran ujian dan wisuda

6. Fetty Tri N.H = Ilmu Tanah 2000, rekan seperjuangan dalam menyelesaikan skripsi

Ditulis dalam Dari Hati, Dari Hidup | Leave a Comment »

gak ada judul (lagi)

Ditulis oleh Andres Irawan di/pada Februari 28, 2006

Gak ada yang pingin ditulis
selain…..

ALHAMDULILLAH kepada ALLAH

akhirnya,
selasa 28 Februari 2006 pukul 13.00-15:15 WIB
aku ujian skripsi
dan dinyatakan lulus
(meski penuh revisian)

Ditulis dalam Dari Hati | Leave a Comment »

Gaya Pikirku BUKAN Gaya Pikirmu

Ditulis oleh Andres Irawan di/pada Februari 23, 2006

Tepat seperti prediksi ku, akan banyak muncul komentar yang beragam tentang dua tulisan ku yaitu “Aku seorang Pendosa” dan ” Aku bukan Ikhwan”. Dan seperti yang memang sudah aku perkirakan akan banyak muncul kesan “negatif” tentang dua tulisan itu.

Tau kenapa dalam footer tulisan ini aku nulis seperti itu (baca sendiri tuh, yang warnanya ungu di bawah postingan ini), yang pasti anda semua bukan diriku, jadi anda gak akan pernah bisa merasakan yang aku rasakan. Cukup diam, dan tunjukkan sedikit empati anda, itu cukup. Tapi jika hanya buat mempertanyakan kenapa dan mengapa, lebih baik anda bertanya pada diri anda sendiri.

Jarang yang bisa mahamin gaya berpikir ku. Bahkan orang yang sempat bertahan dua tahun dekat dengan ku sebelum ini, dengan gaya berpikir ku yang “berbeda” ini pula akhirnya menyerah dan undur diri, meskipun dengan cara yang menyakitkan. Jadi, aku juga gak heran ketika seseorang yang baru kenal tidak sampai 2 bulan kemudian mulai “dekat” dan kemudian akhirnya dia pun undur diri pula karena berbeda pola dan gaya pemikiran denganku.

Aku gak suka dikritik, tapi aku suka dijelaskan salahku dimana dan tunjukan. Setelah itu, ya sudah, jangan kau bawa-bawa terus salahku. Aku gak menolak nasehat, tapi aku gak suka dengan cara nasehat yang hanya memojokkan. Aku pikir, semua orangpun pasti akan seperti itu pula

Dan bicara masalah tulisan, terima kasih buat semua yang ngasih nasehat tentang membuka aib sendiri. Berarti anda semua belum membaca postingan-postinganku terdahulu. Asal tau aja, postingan ini sebuah “review” dari postingan ini sebuah tulisan yang menyegarkan ingatan lagi, bahwa aku pernah juga nulis sesuatu yang gak kalah serunya meski emang lebih fokus tulisan saat ini.

Aku gak minta anda tau bagaimana salah dan jeleknya diriku, thoh aku gak malu dengan itu semua. Itu salahku, dan semua dosaku, aku yang nanggung. Gak aku buka pun banyak orang yang tau, dan aku juga gak mempermasalahkan itu. Tapi…..tau gak maksud semua itu???

Silahkan anda semua punya pikiran lain, silahkan pula anda mengomentari macam-macam asal tidak memojokkan dan menghujat. Dan kalaupun adan tidak puas ya silahkan aja bikin bantahannya di blog anda sendiri, jangan marah-marah sama aku. Thoh aku gak menyebut nama anda

Yang pasti, aku menulis baik tentang dosa, ataupun juga tentang ikhwan adalah sebagai pengingat untuk anda semua, sapa sih anda sampe mendiskriminasikan orang lain, apakah anda hanya manggil akh dan ukh hanya terbatas lingkungan “ngaji” anda?? Kenapa mesti muncul sekat-sekat seperti itu? Kalo ikhwan-khwat sebagai pembatas, lalu dimana batasan yang jelas? Tunjukkan dengan nyata, jangan pakai gambaran dan khayalan. Atau anda merasa dengan panggilan dan stempel ikhwan maka anda merasa ekslusif? Gak banyak memang tapi pasti ada diantara kalian yang seperti itu.

Aku juga punya salah, dan aku akuin itu. Bahkan “salah” ku terhadap seseorang yang membuat dirinya sempat hancur pun aku tanggung sampe sekarang, dalam sebuah penyesalan. Tahukah dia??? Mungkin tidak, atau malah tidak perduli thoh aku juga gak minta dia peduli kok. Pun dengan rasa hati yang mencoba ditegarkan meski teramat sakit, saat kesalahan lain yang berbeda aku lakukan pada orang selanjutnya, bahkan aku memutuskan untuk memutus harapanku terhadapnya, aku terima resiko itu, karena aku juga manusia yang masih punya hati. Tapi, apakah mereka paham dengan apa yang aku rasakan??? Never and never again. Gak pernah, dan gak akan pernah karena buat mereka aku adalah orang salah yang berulang-ulang akan melakukan salah. Cukuplah aku yang kalian anggap buruk, jangan sampai aku menganggap kalian buruk dimataku

Dan bicara tentang komentar, heran aja masih ada yang gak berani naruh nama disitu saat komentar. Ngakuin nama aja anda gak berani, gimana ngakuin salah anda. Asal anda tahu aja, sempat terpikir menghilangkan “comment” termasuk juga Shotbox dari Blog ini agar anda semua tidak bisa komentar. Karena, bagaimanapun juga, ini adalah rumah ku. Saat anda masuk rumah ini, aku ijinkan anda berada diteras rumah ku. Jadi selayaknya pula anda juga harus menjaga adab bertamu. Tapi akhirnya, aku masih pertahankan coment dan juga Shotbox ini demi kenyaman anda semua.

Sekali lagi, di blog ini adalah gaya pikirku, bukan gaya pikirmu yang berkuasa. Kalo gak suka, ya silahkan aja protes, gak ada larangan kok!!!

Ditulis dalam Dari Pikiran | Leave a Comment »

Aku Seorang Pendosa

Ditulis oleh Andres Irawan di/pada Februari 23, 2006

Sempat termenung pada akhir tahun 2005 lalu, saat aku sempat membaca blog seorang teman, Yusuf Caesar (1) –maaf, atas permintaan beliau yang belum dirubah bahwa tidak boleh di link kan- tentang tulisan yang berisikan dosa-dosanya.

Lalu didepan monitor komputer, saat ini, aku termangu beberapa saat dengan semua yang aku alamin dalam sejarah hidupku yang menjelang 25 tahun ini. Sudah berapa banyak dosa yang aku lakukan????

Jawabannya sangat dan teramat banyak sampai aku tidak tahu berapa ratus lembar catatan hitam yang telah ditulis oleh sang malaikat Atid, atau berapa rak yang dibutuhkan untuk menyimpan catatan kejahatan dan dosaku

Aku memang pendosa, sungguh aku tidak bangga dengan predikat itu. Sama seperti Yusuf, aku juga pernah menyakiti hati orang tuaku, bahkan aku pernah membuat mamaku berurai air mata dengan apa yang aku lakukan. Aku juga pernah bertengkar dengan kakakku, sampai kakakku merasa sakit hati.

Aku juga pernah menjadi preman, entah berapa liter alkohol yang pernah mampir dalam perutku, entah berapa kali pula mulutku menghisap tembakau yang membuat bibirku menghitam (emang dasar orangnya berkulit gelap) juga entah berapa kali pula aku melayangkan tanganku ke wajah orang lain saat berkelahi, yang seperti sabda Rasul dilarang memukul wajah. Aku pernah menjadi penjual gambar porno, bahkan juga videonya. Aku juga pernah menjadi pengedar ganja, bersama dengan teman akrabku.

Aku juga pernah berbohong, ngibul bahkan mencuri. Bahkan aku hampir pernah jadi kriminal dengan menjadi seorang penodong. Aku pernah meninggalkan shalat, juga puasa. Bahkan aku pernah menggugat Tuhan dengan kata-kataku, aku menggugat keadilan, bahkan eksistensi Nya saat aku dalam kebingungan.

Entah berapa banyak dosa lagi yang akan kulakukan di sisa umurku yang makin sedikit, dan berapa banyak lagi catatan hitam yang akan menambah panjangnya keburukanku. Dan aku sendiri yakin, bahwa aku akan masih melakukan kesalahan lagi. Entah aku yang menyadarinya, atau karena aku terpaksa melakukannya.

Semua salahku, semua dosaku tersimpan dalam sebuah memori di kepalaku. Aku mencatatnya baik-baik, dan aku menyesal telah melakukannya. Namun, ada satu dosa besar yang sampai sekarang aku tidak mampu menghapus dari ingatanku, sebuah dosa yang teramat memalukan, dan membuat aku sangat dan teramat menyesal melakukan. Sebuah kebodohanku, mengikuti hawa nafsu, dan begonya lagi hal itu aku lakukan dengan kesadaran.

Aku memang pendosa, tapi aku tidak malu mengakui bahwa aku seorang pendosa. Sedangkan diluar sana, kalian bersembunyi dibelakang topeng-topeng kemunafikan kalian. Memalukan!!!


Aku melakukannya, maka aku terima konsekuensi dan penyesalannya. Saudaraku, maafkan aku!!!

*****************

1. Yusuf Caesar = Mahasiswa FMIPA UNSOED, teman dan sekaligus rekan sesama moderator milis KAMMI

Ditulis dalam Dari Hati | Leave a Comment »

Aku Bukan Ikhwan

Ditulis oleh Andres Irawan di/pada Februari 23, 2006

Ikhwan….entah sebuah pakem darimana asalnya dan juga dari mana awalnya, setiap orang yang sudah “terbina” maka dia bisa disetempeli dengan label ikhwan, bahkan mungkin bangga menjadi seorang ikhwan.

Apakah dengan “ngaji”, dengan ngikut liqoat, dengan menjadi kader KAMMI, dengan menjadi kader PKS, maka dirimu sudah merasa menjadi ikhwan????

Pun demikian dengan akhwat, apakah dengan ngaji, ikut liqoat, dengan menjadi kader KAMMI dan menjadi kader PKS, serta berjilbab panjang dengan jubah atau pakaian longgar, maka bisa kah dia disebut akhwat??

Bagiku jawabannya adalah tidak..!!!
Sebuah dikotomi dan kerancuan bahasa dalam penggunaannya

Aku memang ngaji, aku ikut liqoat tiap minggunya. Aku juga aktif di KAMMI, belum DM 1 aja aku udah jadi pengurus Komsat, selanjutnya bahkan aku pernah menjabat sebagai ketua komsat, dan juga KASTRAT KAMMI Jember. Meski gak masuk kepengurusan DPD, aku selalu siap dan stand by saat DPD membutuhkan orang. Aku tercatat jadi anggota kader PKS, bahkan kartu anggota pun, itu aku sendiri yang ngeprint bersama dengan beribu KTA lainnya pada masa kampanye 2004 karena itu amanah yang dilimpahkan padaku. Tapi aku tetap merasa bukan ikhwan.

Sejak awal, aku tidak mengiyakan saja setiap orang yang manggil diriku dengan sebutan ikhwan, malah kadang aku lebih suka dipanggil namaku dengan apa adanya, ataupun panggilah aku dengan sebutan kak, mas dan sebagainya. Bahkan meminjam istilah yang dipakai sahabat baikku, Didik(1), lebih suka disebut cowok biasa dari pada ikhwan. Cowok dalam artian cowok biasa yang lagi belajar buat berubah baik, meski dia tertatih-tatih untuk belajar dan masih saja berbuat kesalahan, dari pada menjadi ikhwan yang hanya jual stempel saja namun kelakuan gak karuan. Dengan ini pula, aku menyangkal sebuah testimonal di FS dari Rho Mayda(2) bahwa aku adalah ikhwan tulen. Maaf Ima, aku bukan seorang ikhwan, aku hanya cowok biasa yang banyak kesalahan

Sungguh, bukan aku anti dengan sebutan ikhwan, atau menggugat monopoli sebutan ikhwan pada orang yang “ngaji”, tapi aku malu. Aku malu pada diriku sendiri, aku malu pada orang lain, aku malu pada ALLAH.

Aku malu, dengan label ikhwan, aku masih melakukan banyak larangan Tuhan
Aku malu, dengan label ikhwan, aku masih bersikap seperti bajingan
Aku malu, dengan label ikhwan, aku memakai topeng dalam sebuah peran
Aku malu, dengan label ikhwan, aku masih akrab dengan setan

Lalu…..masihkan kamu semua dengan sikap kalian yang seperti itu, dengan bangganya mengaku dirimu seorang ikhwan???

Aku masih lemah dihadapanmu Ya Allah, Ampuni diriku yang pernah menggugatmu

****************

1. Didik Wahyudi = Alumni Pendidikan Fisika UNY, mantan Ketua Komsat UNY, mantan Staf Kaderisasi KAMMI Yogya, sekarang kerja di Jepara

2. Rhomayda aka Ima = Sesama blogger, sekarang tinggal di Belgia, klik aja namanya kalo mau lihat blognya

Ditulis dalam Dari Hati | 2 Komentar »

Sebuah Testimoni : Kesaksian dalam Hidupku(2)

Ditulis oleh Andres Irawan di/pada Februari 22, 2006

Tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan pertama yang sudah dipublikasi sebelumnya.

Aku lulus SMA dengan nilai yang biasa-biasa aja, meskipun demikian gak tau kenapa aku malah keterima di Universitas Jember lewat jalur PMDK. Disaat teman-teman masih pusing mengikuti bimbingan belajar, aku justru malah nyantai dan bisa nyemangatin teman-teman untuk UMPTN.

Masuk kuliah, aku di Fakultas Pertanian Universitas Jember Jurusan Budidaya Pertanian Program Studi Agronomi. Kampus yang sebenarnya cukup baik dan reprensentatif meskipun bukan pilihan utamaku (belakangan aku baru nyesal kuliah di pertanian)

Diawal Ospekan, aku didaulat teman-teman jadi ketua angkatan Agronomi 99, karena kebetulan aku mewakili agronomi saat ada diskusi antar mahasiswa saat ospekan di fakultas. Awal-awal kuliah aku cukup dekat dengan teman-teman baik cewek maupun cowok, bahkan cenderung nyantai. Di awal kuliah aku akrab dengan tiga orang teman yaitu Guntur(1), Thobroni(2) dan Agung(3). Kami sama-sama sering meluangkan waktu bareng, maen bareng bahkan terbiasa menghabiskan malam minggu dengan main PS alias Playstation sampe pagi. Hampir satu tahun, aku keranjingan PS meski setelah itu, aku bahkan gak pernah lagi main PS.

Kekeringan ruhiyahku membuat aku mencari tempat ngaji yang kondusif. Saat berangkat dari Wonogiri, tidak ada pesan khusus dari murobbi ku untuk ngaji disuatu tempat. Masjid kampus yang jaraknya cuman 100 meter dari Kampus ku jadi sasaran utamaku. Disana aku mencoba masuk dan silaturahim sama orang-orang yang ada disana. Dan mereka menyambut antusias bahkan mengajak aku ikut pesantren kilat yang mereka adakan untuk mahasiswa baru. Disaat bersamaan, senior-seniorku di kampus, melihat potensiku yang jadi ketua angkatan agro 99 mengajak ku untuk ikut sebuah gerakan mahasiswa yaitu HMI, aku diajak dan silaturahim untuk ikut LK 1. Aku sengaja menolak ajakan senior kampusku di HMI, karena sengaja pingin nyoba masjdi kampus dulu. Gak tahunya, dua bulan aku jalan bareng dengan mereka aku merasakan adanya “perbedaan” antara materi dan juga fokus sistem pembinaan mereka dengan yang pernah aku alamin waktu SMA dulu. Aku awalnya merasa mungkin karena dulu hanyalah materi ringan di SMA dan sekarang masa kuliah jadinya materinya berbeda. Namun, aku merasakan adanya “benang putus” antara materi SMA dan Kuliah. Akhirnya aku mutusin cabut dari masjid kampus buat mencari yang lain (belakangan aku tahu, bahwa fikroh yang bergerak di masjid kampus Jember adalah dari teman-teman Hizbut Tahrir Indonesia atau HTI)

Selepas dari masjid kampus, aku ikut seorang teman kos-kosan buat “ngaji”. Aku yang masih awam soal fikroh gerakan ya manut aja diajak ngaji, dia ajak berpahala kok gak mau tho?? Diajaklah aku ikut sebuah pengajian di sebuah masjid, dari maghrib sampai jam 10an malam dengan break sholat Isya. Di pengajian ini, banyak orang dan seorang ustad membacakan ayat quran dan hadits dan dipahamin artinya. Setelah itu dibentuk kelompok kecil sekitar 10 orang, dengan teman “khuruj”. Aku yang masih pertama kali bingung, apa sih khuruj itu? Sampai akhirnya dijelaskan temanku bahwa khuruj itu pergi kesuatu tempat yang masih asing selama beberapa waktu, bisa seminggu, sebulan atu bahkan setahun untuk berdakwah. Ada satu pertanyaan dalam hatiku, kenapa mesti pergi keluar?? apakah disekitar kita udah bagus semua sehingga mesti berdakwah jauh-jauh? lalu bagaimana dengan aku yang jauh-jauh ke Jember buat kuliah, lalu malah disuruh pergi buat berdakwah ke tempat lain. Aku gak menolak berdakwah, tapi kenapa mesti pergi jauh-jauh??Akhirnya cuman sekali itu saja aku ikut kelopok tersebut, yang belakangan kemudian aku tahu itu adalah kelopok Jamaah Tabligh

Setelah Jamaah Tabligh, aku masih sempat pula nyasar di beberapa kelompok salafi, bahkan beberapa kali diajak ngaji dan sebagainya setelah sempat sekali dua kali aku ikut. Akhirnya aku bosan dengan itu semua, dan sewaktu pulang kerumah saat habis lebaran, aku minta “surat transfer” ke KAMMI.

Berbekal surat transfer itu, aku kemudian silaturahim sama M. Syafi’i(4) alias Pi’i. Dari dia, surat transfer itu aku berikan agar bisa sampai ke ketua KAMMI Jember. Dan saat itu pula, aku diajak ngaji lagi dan langsung dikenalkan kepada Bang Ramli(5). Beliaulah Murobbiku pertama di tanah jember ini.

Bersama bang Ramli, aku mulai intesif ngaji lagi setelah sempat vacuum selama 6 bulan. Disaat itu pula aku mulai terlibat kegiatan KAMMI, yaitu idul adha dan tebar hewan qurban. Berbekal keahlianku nyetir meski lom punya SIM A, aku diamanhin buat mengemudikan mobil yang membawa hewan qurban kedaerah.

Dan sejak saat itu pula, aku mulai aktif dan terlibat di KAMMI sampai saat ini (Akan aku bahas nanti di waktu lain)

Selama kuliah, jujur aja aku sama sekali gak bisa menikmati kuliahku yang di pertanian. Bahkan terkesan aku membenci kuliahku meski aku dengan sangat terpaksa terjebak didalam kampus pertanian ini.

Jujur aja, IPK ku hanya 2,3 sekian. Sebuah prestasi yang memalukan buat seorang aktifis seperti diriku. bahkan kalo aku bisa lulus 4 tahun, mungkin ada sedikit kebanggan karena bisa lulus cepat. Namun, jangankan lulus cepat, buat ujian aja nafasku terengah-engah.

Namun aku boleh bangga, bahwa nilaiku itu semua murni atas hasil kerjaku. Aku gak pernah mencontoh teman, ngelirik pekerjaan teman atau sekedar bertanya. Bahkan aku tidak pernah menjiplak dan menyembunyikan catatan kecil di saku buat di baca waktu pengawas ujian tidak melihat. Semua nilaiku murni hasil kerjaku, bukan kerjaan orang lain. Idelisme yang aku pegang sampe sekarang, anti mencotek. Tidak seperti teman-teman lain, yang banyak aku lihat mengandalkan contekan atau jiplakan dalam ujian. Meski aku bego dan gak ngerti jawaban, aku memilih menjawab seadanya dan ngeloyor pergi gitu aja, dari pada tanya sama teman. Meskipun aku mencatatkan rekor, selama 14 semester kuliah, aku memperoleh nilai dibawah dua sebanyak 6 kali, 7 matkul yang pernah dapat E, bahkan paling parah aku pernah dapat IP 0,6 (baca: nol koma enam) di form Lembar Hasil Studi. Tak terbayang, dampratan dosen waliku didepanku saat itu

Dan sekarang, menjelang akhir masaku kuliah, aku gamang dengan masa depanku sendiri. Akankah aku mendapatkan pekerjaan yang layak dengan IPK ku yang cuman segitu. Entahlah, bahkan cara buat luluspun aku masih bingung dan saat ini, aku terdampar antara sebuah kebimbangan dalam hidup

****************************
catatan
1. Guntur : Mahasiswa Jurusan tanah angkatan 99, sudah lulus dan kembali ke jakarta
2. Thobroni : Mahasiswa Jurusan Tanah angakatn 99, masih belum lulus juga
3. Agung : Mahasiswa jurusan HPT, sudah lulus dan kembali ke lumajang
4. M. Syafi’i : Mahasiswa FE angkatan 97, Biro PO KAMMI Jember tahun 1998-1999, kabar terakhir kurang jelas dimana keberadaanya
5. Bang Ramli SH : Mantan ketua KAMMI Jember peridoe 1998-1999, berdomisili di jakarta sekarang

—ketika sebuah kejujuran yang terucap, malah disalahartikan sebagai bentuk pembelaan diri, lalu apa aku harus menyalahkan diri terus?? bukan menganjurkan yang baik, kau hanya menyalahkan dan selalu menyalahkan. Itu yang kau bilang menasehati?? alangkah naifnya kau ukhti—
(catatan penting menjelang maghrib sore hari ini)

Ditulis dalam Dari Hidup | 1 Komentar »

Sebuah Testimoni : Kesaksian dalam Hidupku(1)

Ditulis oleh Andres Irawan di/pada Februari 22, 2006

Tidak terasa, usia ku akan menginjak angka 25 tahun. Dan terasa pula, sekian banyak hal yang aku alamin. Suka dan duka, pahit manis, senang ataupun sedih, semua terangkum menjadi satu dalam sebuah lembar episode kisah hidup seorang Andres.

Aku diberi nama "Andres Irawan". Lahir di kota Berseri, Surakarta Hadiningrat, tepat hari kamis Pon tanggal 2 April 1981, dirumah sakit Panti Waluyo. Kata mama ku, aku lahir pukul 10 pagi hari, pada usia kandungan 9 bulan lewat 15 hari.

Entah kenapa, aku diberi nama Andres, apa karena kebiasaan orang padang, yang suka ngasih nama anaknya yang rada aneh-aneh, tapi kata mama ku itu ada sejarahnya. Saat baru lahir, aslinya disiapkan sebuah nama yaitu "Hendrik", tapi saat pemberian nama itu, aku menangis kencang-kencang dan gak mau berhenti. Atas saran seorang tanteku, lalu dirubahlah namaku. Papaku sempat kebingungan mencari nama alternatif lainnya, sampe kemudian teringat seoarang penyanyi berdarah ambon yang menyanyikan lagu "Ambon Manise" bernama Andres. Langsung aja nama itu dicomot, dan seketika itu pula aku langsung diam.

Masa kecilku, sejak usia 3 bulan sampe 3 tahun ku habiskan selama kota Bandung, saat itu papaku dapat tugas belajar di LPPU ITB Bandung, sampe tahun 1984. Masa itu, aku lebih fasih berbahasa sunda dari pada bahasa Indonesia, apalagi bahasa Padang. Kami sekeluarga, papa-mama, uni dan aku tinggal sebuah rumah petak yang sederhana, didaerah Taman sari. Kalo hari minggu, biasanya kami berenang di kolam renang Karang Setra. Atau kalo tidak, aku biasa minta diajak naek kuda di sekitar jalan Ganesya (entah, apakah sekarang masih ada atau udah hilang).

Sejak kecil, aku sakit-sakitan, terutama asma. Bahkan pada usia 3 tahun, aku mengalami sebuah serangan sakit yang teramat parah, menjelang kepindahan papaku balik ke Solo. Saat itu, aku dirawat oleh Dokter spesialis anak paling top di kota bandung , dokter Ina namanya (aku gak tau apakah beliau masih buka praktek atau sudah pensiun). Bahkan dalam perjalanan pulang ke Solo itu, sudah diwanti-wanti untuk segera membawa aku ke rumah sakit Solo, untuk penanganan lebih lanjut. Antara maut dan hidup saat itu, bahkan orang tua ku udah pasrah. Tapi Alhamdulillah, setiba di Solo, justru keadaanku berangsur membaik.

Hanya satu setengah tahun di Solo, papaku dipindah tugaskan di wonogiri, selatan solo sejauh 32 km. Seluruh keluargapun pindah ke Wonogiri. Dan semenjak itu aku menjadi warga tetap wonogiri pada tahun 1986. Masa TK tahun 1986, saat itu aku termasuk murid cerdas, sudah bisa membaca dengan lancar. Hanya setahun di TK, tahun 1987 aku mengeyam pendidikan SD. Di SD aku bukanlah siswa yang menonjol, karena banyak teman-teman yang lebih pintar dariku. rangking kelasku hanya berkisar angka 5-10 besar di kelas. Di SD, aku hanyalah jadi "pupuk bawang" alias seseorang yang gak pernah dianggap. Badanku yang kecil, bahkan terkesan mungil dibanding teman-teman yang laen. Juga sifat pendiam ku, serta satu lagi kelemahanku, yaitu mudah nangis alias gembengan. Aku juga penakut, dan gak berani kalo ditantang berkelahi.

Lulus SD di tahun 1993, nilaiku gak memungkinkan masuk ke SMP favorit di wonogiri, akhirnya SMP 3 yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah menjadi pilihanku. di Sekolah inilah, terjadi perubahan yang sangat krusial pada diriku. Aku yang awalanya penakut, pendiam, gak berani berkelahi dan sebagainya, karena terpengaruh pergaulan dengan teman-teman yang nota bene SMP 3 merupakan SMP paling "rusak", membuat diriku jadi seorang yang nakal dan liar. Di sini, pertama kali aku merasakan menghisap rokok, bahkan juga minum alkohol. Aku juga terbiasa tawuran, berkelahi dan jotos-jotosan. bahkan aku pernah menghajar teman SD ku yang dulu pernah nantang diriku berkelahi. Asal tahu aja, saat masuk SMP terjadi perubahan drastis pada fisikku. Awal masuk SMP hanya 145 centimeter, dalam waktu 2 tahun melonjak menjadi 173 centi, membuat badanku menjulang cukup tinggi di antara teman-teman SMP lainnya, meskipun tetap aja kurus.

Di SMP pula, aku berteman akrab dengan Ashari(1), dia temanku sejak SD meski saat itu gak terlalu akrab, lalu sekelas terus selama 3 tahun di SMP. Badannya yang cukup besar membuat cukup ditakuti. Dari dia pula aku kenal sama yang namanya gambar porno. Jaman SMP dulu, buku stensilan alias enierrow ataupun gambar model telanjang adalah barang yang cukup "wah" pada masa itu. Dan aku belajar juga jadi pedagang gambar porno itu. Dengan Ashari pula, aku biasa berantem dan mabuk. Istilah mendhem alias mabuk buat kami, biasanya kita menuangkan aneka macam minuman kedalam baskom, dioplos sama minuman laen, lalu masing-masing peserta menciduk pake gelas aqua kecil, minum dan gak boleh berhenti sampe teler. Dan itu rutin aku lakukan minimal dua minggu sekali.

Namun, meskipun kegiatan premanku jalan lancar, orang tua ku sama sekali tidak tahu aktifitas sampinganku sperti mabuk itu tadi. Soalnya, aku mengimbangin dengan nilai akademik yang cukup lumayan, meski naik turun kayak rollercoaster. Kelas satu, semester awal aku meraih rangking 1, yup benar, rangking satu alias juara kelas. Namun semester berikutnya nilaiku hancur sampe cuman jadi rangking 17. Kelas dua, semester ganjil aku dapat rangking 4 dan lagi-lagi semester genap jatuh ke rangking 21. Saat kelas tiga, aku digenjot benar oleh papaku, sampe semester ganjil cuman rangking 14, tapi di penghujung ajaran, aku boleh berbangga diri karena mencatatkan nilai Ebtanas tertinggi di kelasku, jadi aku ini juara di awal dan diakhir periode. Selain akademis, aku sendiri tercatat sebagai anggota marching band SMP dengan alat yang ku pegang adalah bass drum. Selain itu aku juga menjadi pasukan pengibar bendera di SMP sehingga aktifitas itu bisa menutup efek negatif dari aktifitas mabukku.

Berbekal nilai yang cukup tinggi, aku bisa masuk ke SMA terbaik di kotaku. Yup, SMA 1 Wonogiri. Dan disinilah, aku menemukan "jalan kebenaran". Awalnya, gak sengaja aja, saat penataran P4. Saat itu setiap kelas didampingin oleh seorang senior OSIS sebagai Penanggungjawab Kelas atau PK. Nah, saat itu PK ku di kelas 1.3 adalah Ganesya(2) atau biasa disapa mas Gadhek. Mas Gadhek ini adalah seorang penggiat Rohis SMA. Di hari pertama penataran, setelah dibentak-bentak dan juga rada lelah psikis, siangnya dilanjutkan sholat Dhuhur bersama di Aula. Saat itu, setelah adzan, kok gak dimulai-mulai, akhirnya teman-teman mendaulat aku buat qomat biar bisa segara mulai Sholat. Akhirnya, qomatlah diriku dan kemudian sholat dimulai. Saat itu pula diriku diamati oleh mas Gadhek dan juga senior-senior rohis lainnya, soalnya kontradiktif banget. Sikapku yang cuek dan slengekan, bahkan mbalelo sama senior sampe hari pertama aku dapat jatah push up sebanyak 25 kali kok malah qomat, yang gak maen-maen dilihat seluruh siswa yang mau sholat, baik putra maupun putri. Akhirnya, setelah sholat aku dipanggil mas Gadhek dan dikasih tugas buat besok untuk adzan sholat dhuhur. Memang sih, meski nakal, sebenarnya mama papaku selalu menanamkan ajaran agama cukup dalam. Akhirnya selama satu minggu itu pula aku dapat tugas buat adzan selama masa penataran.

Setelah itu, aku bertemu dengan Fauzi(3) alias Ujik. Dia adalah pimpinan sangga ku dalam perkemahan pelantikan pramuka penegak. Ujik ini aslinya kelas 1.7. Karena tiap sangga di campur kelasnya, akhirnya kenalah diriku dengan Ujik (Bicara tentang Ujik, sudah banyak aku ceritakan sebelumnya, dan ada beberapa kisah yang nanti aku ceritakan sendiri dalam bab lain).

Kelas satu itu pula, aku sudah ditarik di dalam kepengurusan rohis SMA. Awalnya, karena aku jadi panitia acara maulid nabi Muhammad SAW di SMA, jadi seksi hiburan. Dan lagi-lagi, karena aku orangnya cenderung ndableg, aku sih oke-oke aja buat bikin lakon drama pada sesi hiburan. Dari situ, akhirnya aku direkrut di OSIS sebagai Bidang Kepribadian dan Budi Pekerti Luhur Seksi Humas. Disini tugasku sebagai pengumuman antar kelas dalam banyak hal, semisal berita duka, kegiatan atau hal lainnya. Namun entah kenapa, aku sering kebagian job buat ngumumin berita duka dan ngumpulin uang duka, sampe anak-anak kelas tiga menuluki aku "malaikat maut" karena setiap nongol selalu membawa berita kematian.

Nah, di kelas satu ini sebenarnya mulailah aku tersentu dengan nilai-nilai Islam secara konstan, meski aku sendiri masih males-malesan buat ikut. Selain itu, aktifitas mabukku masih jalan terus, thoh banyak teman-teman ku yang juga mabuk dan aku akrab dengan mereka.

Sampe aku naik kelas 2 dimana aku jadi ketua panitia perkemahan pelantikan penegak. Oh ya, selain aktif di Rohis dan OSIS, aku juga menjadi salah satu Pramuka Penegak Bantara di SMA, bahkan menjadi kerani di dewan Ambalan SMA saat pertengahan kelas dua (nanti akan aku ceritakan pada bagian lain). Disini pula, mental dan jiwa kepemimpinan ku diuji. Bagaimana menangani panitia yang gak karuan, juga banyak hal yang menimpa. Namun Alhamdulillah, semuanya bisa di atasi. Waktu kelas 2 ini, kegiatan OSIS ku makin menjadi-jadi. Aku yang dasarnya emang senang berorganisasi jadi makin sering keluar kemana-mana. Bahkan semenjak jadi Sekretaris I OSIS yang mebuat aku memegang kunci sekretariat OSIS yang sering ku pakai buat ngabur membolos. Imbasnya, nilai raportku pun kebakaran, fisika, matematika dan kimia semuanya dapat 5 secara bersamaan, yang bikin papaku ngamuk berat. Akhirnya aku disuruh non aktif sementara dan konsen pada pelajaran.

Aku nurut, soalnya emang berasa bersalah dan kemudian mulai aktif "ngaji". Saat itu aku belum tau tentang tarbiyah dan sebagainya. Yang aku tahu, saat itu ada dua kekuatan yang menarik diriku dan kelompok ngajiku, yang satu adalah golongan mas Gadhek, sedang yang satu lagi adalah golongan mas Djito(4), dan baru sekarang aku nyadar kalo mas Gadhek itu adalah tarbiyah sedangkan mas Djito adalah golongan "keras" yang sekarang ada dalam tahanan Polisi setelah di tangkap Detasemen Khusus 88 Anti Teror Polri.

Bersama mas Gadhek, aku dikenalkan pada seorang murobbi yaitu Ustad Abdullah Rabbani(5). Dari beliau, aku belajar banyak hal tentang tarbiyah, meskipun jujur aja aktifitas luaranku yaitu mabuk tetap jalan, malah makin parah. Bahkan pernah dalam suatu kesempatan, saat ada kegiatan nginap di sekolah aku yang habis mabuk didaulat jadi imam sholat Shubuh dan akunya manut aja. Yang paling parah waktu di Bali, aku bikin keonaran di kumpulan anak-anak saat mabuk arak bali yang lumayan keras, sampe anak-anak pada ketakutan.

Titik balik semua kisah hidupku, terjadi saat kelas tiga, saat duduk di kelas 3 IPA 5 alias PAIMO (IPA Limo). Disini, aku semeja dengan Didik(6). Dia adalah sama-sama teman ngajiku di SMA, juga ketua I OSIS dan tentunya juga salah satu sahabat dekatku. Kami makin dekat saat sama-sama menjadi pesakitan dan tertuduh utama di balik mogoknya siswa se SMA menuntut transparasi BP3 yang gak jelas. Pada awalnya, karena Didik dan aku sama-sama pengurus OSIS mencoba menjembatani antara Siswa dan Guru, namun kemudian malah kami yang dituduh bertanggungjawab atas aksi itu. Bersama dengan Ujik dan Jumari(7), kami berempat masuk daftar blacklist yang siap-siap di keluarkan dari sekolah.

Kesamaan nasib, membuat kami jadi sangat dekat, bahkan sampai sekarang. Dari Didik, saya diajak buat menghabiskan waktu istirahat pertama buat sholat dhuha, dan istirahat kedua buat sholat dhuhuh berjamaah. Alhamdulillah, setelah beberapa minggu berjalan, sholat Dhuhur yang awalnya cuman segelintir orang yang ikut, makin lama makin membuat musholla sekolah penuh sampai harus dibikin dua gelombang bergantian.

Tanpa disuruh, aku mulai mencoba berfikir tentang semua yang aku lakukan termasuk tentag mabuk itu tadi. Lalu aku coba meresapi banyak hal yang aku terima dalam kelompok liqoatku. Dan tambah terhenyak, waktu aku diajak Ujik kerumahnya, dan disuruh baca buku di kamar, buku itu berjudul "dosa-dosa besar yang dianggap kecil" (aku lupa penulis dan penerbitnya), aku tanpa melihat daftar isi sekenanya aja membuka halaman dan langsung terbuka halaman 81 yang aku masih ingat tidak ada tanda batas bacaan ataupun tekukan karena buku itu masih baru. Pada halaman tersebut, dijelaskan tentang haramnya Khamr alias alkohol, dimana sholatnya tidak diterima selama 40 hari, juga jika meninggal jika masih ada setitik alkohol di perutnya maka tidak akan masuk surga. Langsung badanku menggigil saking takutnya.

Dari situ, aku langsung mengentikan semua kelakuan nakalku. Yang pertama adalah Alkohol, aku say no to Alkohol sejak tanggal 5 Oktober 1998, tepat saat aku membaca bukunya Ujik tersebut. Sedangkan rokok, aku mengakhiri hari-hari asap di mulutku tanggal 27 November 1998. Bagi seorang perokok berat, akan susah menghentikan kebiasaan merokok, dan memang aku butuh waktu sampe hampir dua bulan untuk berhenti merokok.

Sejak saat itu pula, aku banyak menghabiskan waktu untuk ngaji dan kumpul mempelajari ilmu agama. Jangan heran jika lulus SMA aku hapal Juz Amma dan separuh Juz 29 (namun sekarang..entah kenapa semuanya menguap begitu saja, aku emang banyak maksiat lagi :( hiks)

Bergantinya murobbi ku dari Ustad Abdullah ke Mas Syamsu(8) tidak berpengaruh banyak. Aku tetap rajin ngaji, malah catatanku lengkp dan termasuk mutarobbi yang disiplin. Buktinya, mas Syamsu masih nanyain kabarku kalo sempt ketemu saat aku pulang.

Dari 14 orang kelompok liqoatku, ternyata hanya 3 orang yang bertahan saat kuliah di perguruan tinggi. Lainnya???entah kenapa, banyak yang hilang gak karuan. Namun yang pasti, aku bahagia, aku menemukan jalan kebenaran itu, meskipun saat ini aku kembali tertatih-taih untuk mempertahankannya

*****************************

catatan
1. Ashari : mahasiswa FE Univ Winuwardhana Malang, sudah lulus tahun 2005
2. Ganesya atau Mas Gadhek : Mantan ketua OSIS SMA 1 Wonogiri tahun 1996-1997, mantan Ketua Badan Perwakilan Mahasiswa IPB tahun 2001-2002, sekarang bekerja di perusahaan perikanan di Ciamis
3. Fauzi alias Ujik : mahasiswa FMIPA UNS, mantan ketua SKI FMIPA UNS tahun 2002-2003, menjadi anggota MS kampus UNS, sekarang mengajar di PP As Salam Solo
4. Mas Djito : Alumni SMA 1 Wonogiri tahun 1996, dalam tahanan Polisi dalam tuduhan tersangkut tindakan terorisme sebagai anak buah Noor Din M Top.
5. Ustad Abdullah Rabbani : Direktur BMT, Bidang Kaderisasi DPD PKS Wonogiri
6. Didik Wahyudi : Alumni Pendidikan Fisika UNY, mantan ketua Komsat KAMMI UNY, mantan Staf Kaderisasi KAMMI Daerah Yogya
7. Jumari : Lulusan STPDN tahun 2003, saudaraku yang sempat "murtad" namun sudah balik kembali menjadi seorang ikhwan.
8. Syamsu Ahmad Noor : Aktifis ADS DPD PKS Wonogiri, terakhir menjadi ketua Kebijakan Publik DPD PKS Wonogiri

Ditulis dalam Dari Hidup | 2 Komentar »

Harapan dalam Harapan

Ditulis oleh Andres Irawan di/pada Februari 14, 2006

Melintasi batas dalam kesenjangan nurani
Adalah kata hati masih bermakna
Atau nafsu dan angkara murka
Menjadi kuasa yang tak terhingga

Dalam lembah keheningan
Adakah sebuah harapan
Akan hadir sebuah kebahagiaan
Dalam sebuah perenungan

Dalam sujud panjang
Mungkin tercipta harmonisasi
Antara dua hati yang terikat
Untuk bisa bersama kembali

Aku belum tau dimana dia
Dan aku juga tak tahu siapa dia
Yang aku tahu hanyalah
Aku kan bertemu dia dengan ijin-Mu

Ditulis dalam Dari Jiwa | Leave a Comment »

The Reason

Ditulis oleh Andres Irawan di/pada Februari 6, 2006

Terlintas dalam batas
Jiwa yang menjerit ketakutan
Dalam kesendirian dengan peraduan
Mencoba mencumbu langit yang membisu
Menatap mesra dengan penuh kegairahan

Teriring desir angin yang membeku
Dalam perselingkuhan dengan nadi
Bersetubuh dengan sang waktu
Rintihan sepi menyerbak terurai
Terhanyut dalam kepuasaan sesaat

Meraih kegalauan dalam kesendirian
Terselingkup dengan kehampaan hati dalam kebencian
Kenikmatan dalam percintaan dengan sang surya
Berselingkuh dengan nafas bumi yang menggebu
Larut dalam duka dengan hentakan tawa

Menepikan diri dalam keremangan senja
Ku melihat adakah titik hitam masih menggayuti kepala
Melingkari hari dengan kesombongan
Tertutup kehinaan dan kehampaan dalam kelu lidah
Tragis dalam tragedi, Tragedi yang tragis

…..My Soul….
With the confusion
With the paranoic
With the distate
With the sincerity

Ditulis dalam Dari Jiwa | Leave a Comment »