Melintasi Batas Kesunyian

Merenungi Hidup…..Dengan Segala Macam Hikmahnya

Arsip untuk Oktober, 2006

Profesional Dong..!!!

Ditulis oleh Andres Irawan di/pada Oktober 30, 2006

Saat mudik kemaren merupakan saat aku kembali kerumah. Sudah lama aku gak pulang ke rumah, mungkin hampir 5 bulan sejak bulan juni. Meskipun akhir Agustus sempat pulang, namun cuma satu malam dan itupun hanya sekedar nginap aja dan gak sempat keluar ke rumah teman-teman.

Solo – Wonogiri berjarak 32 km, jika naek bus ditempuh sekitar 60 – 75 menit. Sedangkan naek motor bisa hanya 40 – 50 menit (bahkan saat masih suka trek-trekan dulu aku pernah hanya 20 menit )

Kita lupakan saja soal diatas. Sekarang mari membicarakan suatu hal yang lebih produktif. Sudah biasa kita dapati, diatas bis kota atau bis antar kota akan ada seseorang atau beberapa orang yang membawa alat musik yang bisa berupa gitar, kentrung (gitar kecil bersenar 3) bahkan sampai aqua galon atau pipa paralon yang di modfikasi sehingga bisa menjadi gendang. Mereka adalah pengamen

Pertanyaannya adalah, apakah pengamen itu sebuah pekerjaan / profesi???

Seorang pengamen yang pernah aku jumpai, dia mengatakan bahwa mengamen itu adalah alternatif dia untuk mendapatkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Setelah melamar ke banyak tempat, tidak ada panggilan, akhirnya dia memilih menjadi pengamen yang naik turun bis kota. Hampir semua pengamen (meskipun hanya beberapa orang) yang aku tanya mengatakan demikian. Dengan kata lain, bagi mereka, mengamen adalah sebuah pekerjaan / profesi

Namun ada yang membedakan antara pengamen tiap kota dengan kota lainnya. Dari beberapa kota yang pernah aku tinggali, aku menemukan beberapa karakteristik dari pengamen tiap kota. Mulai dari Jakarta, meskipun hanya kurang 3 bulan aku kerja di kota metropolis ini, namun aku sangat akrab dengan kehidupan diatas bis kota. Maklum saja, dalam satu hari kerja bisa aku menghabiskan 4-5 jam diatas bis kota. Dengan demikian, aku pun cukup akrab dengan sajian hiburan diatas bis, yaitu pengamen. Ada yang bernyanyi / nembang dengan diselipi syair (entah karangan sendiri atau gubahan orang lain), atau juga keseluruhan ngamennya adalah puisi panjang yang cukup panjang (hebat banget, bisa hapal seluruh syairnya). Tapi kebanyakan dari mereka adalah pengamen yang melantunkan 3- 5 lagu sekali ngamen dan diimbangi dengan kualitas vokal yang tidak bikin kuping sakit (lumayanlah)

Kalo di Jember, biasanya pengamen membawa temannya, jadi rame-rame dan mereka membawa berbagai macam alat musik yang ringan sehingga suara yang dihasilkan pun lebih rame. Biasanya mereka melantunkan 2-3 lagu yang kadang di modifikasi sendiri.

Sedangkan di Surabaya, biasanya melantunkan 2-3 lagu yang mereka sendiri berusaha menyajikan sebaik mungkin sesuai kapasitas vokal mereka. Namun kalo di Surabaya, justru aku lebih banyak menemui anak kecil usia sekolah yang hanya bersenjatakan kecrek tutup botol sebagai alat musik. Tentu saja secara olah vokal mereka kalah, dan juga lagu yang dibawakan biasanya juga kacau liriknya.

Nah, kalo di Solo ini yang paling parah. Biasanya dengan modal gitar atau kentrung, kemudian menyanyikan lagu yang sedang populer namun vokal dipaksakan dan itupun tidak sampai habis, setelah itu dengan setengah memaksa meminta recehan kepada yang mendengar

Hal ini yang kadang bikin aku jengkel. Aku bisa menerima kalo di Jakarta atau Surabaya mereka sedikit memaksa meminta recehan, karena lagu yang dibawakan cukup banyak dan vokalnya pun tidak terlalu mengecewakan. Pun demikian juga di Jember, karena nuansa rame nya (atau mungkin takut karena di tagih rame-rame ). Tapi kalo yang di Solo, kadang aku sampai gontok-gontokan dengan pengamen, gara-gara aku gak punya recehan namun mereka tetap memaksa meminta. Dan yang lebih menjengkelkan, adalah karena hanya lagu yang sepotong dan tidak selesai serta vokal yang ancur-ancuran mereka meminta “bayaran” atas usaha mereka.

Kalo memang ngamen adalah sebuah pekerjaan, mana profesionalitasnya? Bukankah jika ingin dapat hasil yang banyak, maka usahanya pun juga lebih. Lalu bagaimana bisa mendapat banyak, kalo usahanya sendiri asal-asalan. Jujur saja, para pengamen di daerah Solo dan sekitarnya sama sekali gak profesional. Kalo ingin hasil banyak, profesional dong!!!

 

(16.15, menjelang pulang kantor. Sambil winamp di komputer melantunkan lagu lama kesukaanku “Out of Nothing at All” by Air Supply)

 

Catatan

Aku sendiri pernah ngalamin yang namanya jadi pengamen, hampir 10 tahun silam. Saat liburan akhir tahun, biasanya dengan teman aku naek dari bis ke bis (saat itu pengamen belum sebanyak sekarang). Dan hasilnya yang diperoleh cukup lumayanlah meskipun habisnya juga hanya untuk foya-foya remaja (masa remajaku, bisa baca Sebuah Testimoni)

Ditulis dalam Dari Hidup | 1 Komentar »

Ketika Cinta Menyapa (4)

Ditulis oleh Andres Irawan di/pada Oktober 22, 2006

Siang itu teramat panas, tapi Angie mesti berangkat ke kampus. Ada rapat BEM yang mesti dihadirinya, dan kali ini rapat tersebut sangat berkaitan dengan eksistensi departemen yang dia kelola. Lagi pula, siang ini ada rencana bertemu dengan beberapa orang anggota BEM luar ibu kota yang sedang berkunjung ke kampusnya. Meski hidungnya sudah kemerahan, kontras dengan kulit wajahnya yang putih, Angie tetap menunggu bis yang melewati wilayah kampusnya (selengkapnya baca di sini)

Ditulis dalam Dari Jiwa | Leave a Comment »

Fitri

Ditulis oleh Andres Irawan di/pada Oktober 21, 2006

SUARA  TAKBIR TELAH DIPERDENGARKAN

BEDUG DITABUH BERTALU – TALU

BOCAH BERLARIAN KIAN KEMARI

ALLAHU AKBAR….. ALLAHU AKBAR….ALLAHU AKBAR

WALILLAH ILHAM

 

HARI KEMENANGAN TELAH TIBA

PINTU HATI DIBUKA

TEBARKAN MA’AF DI SUDUT – SUDUT HATI UMAT

HARI RAYA

HARI KEMENANGAN

ALLAHU AKBAR….. ALLAHU AKBAR….ALLAHU AKBAR

WALILLAH ILHAM

 

 

MINAL AIDIN WAL FAIDZIN

MEMINTA MA’AF DAN SALING MEMA’AFKAN

MEMBERSIHKAN LAHIR DAN BATIN KITA

DENGAN

BERJABAT TANGAN

DAN

 

MENGUCAPKAN

 

SELAMAT HARI RAYA

IDUL FITRI 1427 H

TAQABALALLAHU MINNA WA MINKUM

TAQABAL YAA KARIIM

 

Ditulis dalam Dari Hati | 2 Komentar »

Zero

Ditulis oleh Andres Irawan di/pada Oktober 20, 2006

Tak ada kata yang akan terucap

Tak ada nada yang akan tercipta

Tak ada bibir yang akan tersenyum

Tak ada mata yang akan berbinar

Tak ada tangan yang akan memeluk

Tak ada tubuh yang akan merengkuh

Tak ada nadi yang akan berdenyut

Tak ada tulisan yang akan terangkai

 

Tak ada lagu yang akan terlantun

Tak ada hati yang akan mencinta

 

Tak ada tempat untuk berteduh

Tak ada orang untuk mengadu

Tak ada waktu untuk bersama

Ditulis dalam Dari Jiwa | 1 Komentar »

Menikah itu Butuh Proses

Ditulis oleh Andres Irawan di/pada Oktober 17, 2006

(Tulisan Pertama dari Tiga Bagian)

 

 

 

Ass, Andres. Gimana kabarnya? Sekarang udah kerja yah, udah kaya dong, jadi kapan nih proses dan nikah?

Mas, jadinya nikah kapan niy? Khan udah kerja

Akh Andres, katanya mau nikah tahun ini. Udah hampir habis lhoh waktunya, jadinya kapan?”

Ndres, kapan rabi?”

 

 

Banyak sms atau email yang masuk ke HP atau inbox mail ku yang senada dengan beberapa pernyataan diatas. Pada intinya adalah menanyakan kabarku, kemudian kerjaanku, dan terakhir apakah aku sedang proses atau mungkin bahkan sudah lamaran

Sesaat jika kita mau sedikit berpikir keluar jalur, mungkin memang seperti itu hidup manusia. Dari lahir, kemudian besar dan kuliah, lulus kuliah lalu kerja dan kemudian akan menikah

Itulah proses dalam kehidupan ini, begitu banyak hal yang kita lewati dan kita pelajari dalam mengarungi hari demi hari dan kita pun kemudian mengambil keputusan.

Menikah, adalah perkara yang tidak mudah, namun bukan berarti sulit. Menikah merupakan sebuah fase kehidupan, saat diri sendiri bisa (baca : membutuhkan) kehadiran orang lain disisi kita untuk sama-sama beribadah dan saling melengkapi. Begitu banyaknya hal yang akan berubah saat masih sendiri dengan saat sudah mempunyai suami atau istri.

Untuk menikah, maka kita memerlukan sebuah “proses”. Proses yang dimaksud adalah sebuah usaha untuk mencari calon, berkenalan, menimbang dan berfikir, melamar sampai kemudian akhirnya walimah atau menikah.

Banyak cara untuk mencari. Tidak dibatasi harus lewat orang tua, atau keluarga. Jika anda merupakan bagian dari sebuah jamaah, maka proses menikah bisa jadi akan melibatkan jamaah, dalam hal ini biasanya murobbi atau pembina anda yang akan terlibat. Mulai dari mencarikan, mendampingi saat berkenalan sampai melamar dan menikahnya.

Namun semestinya juga tidak harus dibatasi harus menikah lewat murobbi. Jika kita ingin mencari sendiri, semestinya tetap diperkenankan dengan mengikuti adab-adab yang harus dilakukan. Diantaranya seperti memberitahu murobbi bahwa sedang proses serta perkembangannya sampai mana. Dalam hubungan dengan sang calon pun juga dijaga bentuk komunikasi sampai juga kerahasiaan bahwa sedang proses dengan seseorang (hal yang amniyah).

Mungkin sedikit dilematis, karena sesuatu yang dirahasiakan jika diketahui oleh orang lain biasanya akan menimbulkan gejolak atau fitnah. Tapi semestinya hal itu juga bisa di redam karena sesungguhnya meski kita berproses sendiri tapi kita sudah memberitahukan proses kita termasuk perkembangannya kepada murobbi kita.

Kenapa saat berproses mesti dirahasiakan? Kenapa mesti hanya sedikit orang yang tahu, kenapa mesti begitu?

Jawabannya adalah karena anda manusia . Anda punya hati, anda juga punya perasaan. Kenapa mesti dirahasiakan, karena untuk menjaga hidup kita masing-masing. Jika saja hasil dari proses adalah positif, alias sampai pada fase menikah, mungkin tidak akan menjadi masalah. Namun jika terjadi hasil negatif semisal sudah oke dari kedua pihak namun ternyata ada orang tua yang tidak setuju sehingga akhirnya proses dibatalkan, bisa jadi akan muncul rasa malu, yang kedua adalah untuk menjaga emosi dan perasaan sang pendamping sesungguhnya.

Semisal contoh begini, Ikhwan A berproses dengan akhwat B, dan ternyata gagal menikah padahal sudah disebarluaskan bahwa ikhwan A lagi proses sama akhwat B, bisa jadi akan muncul rasa malu pada kedua pihak ketika ternyata hasilnya adalah negatif. Selain itu, ketika nanti sang ikhwan atau akhwat berproses dengan orang lain, tidak akan menimbulkan gesekan dengan calonnya yang sekarang karena sang ikhwan / akhwat tersebut pernah berproses dengan orang lain, terlebih jika sang calon dulu dengan calon sekarang saling mengenal atau berteman.

Anda manusia, anda pasti punya emosi dan perasaan. Jika istri anda ternyata pernah berproses dengan teman dekat anda dan itu diketahui oleh umum, bagaimana reaksi anda? Mungkin ada bisa terima, namun saya tidak yakin jika anda tetap terima karena mungkin suatu saat rasa itu akan meledak dengan sendirinya. Jadi itulah kenapa, berproses itu sebaiknya dirahasiakan dari orang-orang yang tidak perlu tahu sampai saatnya nanti untuk dimumkan

 

Menikah adalah sebuah proses, dan proses itu butuh waktu!

 

 

(menjelang pulang kantor, 16.25, sambil mendengarkan “Begitu Indahnya” Padi, teringat saat-saat masih awal kuliah, aku pernah melantunkan lagu ini saat ngeband sama anak-anak kampus. Dan sore ini tampak begitu indah karena ramadhan menghiasinya. Begitu banyak dosaku ya Allah, Rabbighfirli3x)

 

Ditulis dalam Dari Pikiran | 5 Komentar »

Salah Kaprah

Ditulis oleh Andres Irawan di/pada Oktober 17, 2006

“Eh nomor HP mu berapa?”, tanyaku pada seorang teman

“Aku gak punya HP, tapi punya nya Flexy”, jawab temanku

Hal-hal seperti ini sering kali aku jumpai ketika menanyakan nomor HP teman. Kalo mereka punyanya Flexy atau Fren atau Starone (jaringan CDMA) maka mereka akan menjawab seperti jawaban di atas. Pun temasuk Kang Funs yang kerja di Telkom, ketika pertama kali aku minta no HP nya, dijawab seperti itu tadi.

Mungkin teman-teman juga pernah ngalamin hal begitu, ketika ditanya nomor HP, dijawab gak punya HP tapi punyanya CDMA. Padahal, ini adalah sebuah kekeliruan.

HP alias Handphone adalah istilah yang digunakan untuk telpon seluler / telpon genggam yang praktis karena ukurannya relatif kecil dan tidak memerlukan kabel seperti telpon rumah konvensional. Karena kemudahan dan kepraktisannya maka handphone sangat laris dan mudah diperjualbelikan.

Dulu, HP mempunyai jaringan AMPS (Advance Mobile Power System) jaringan ini bekerja pada frekuensi <800 Mhz dan tidak bisa dibawa keluar kota tempat tinggalnya. Berkembangnya teknologi, AMPS kemudian digantikan oleh GSM (Global Mobile System) yang bekerja pada awalnya di frekuensi 900 MHZ, dan kemudian diperbarui menjadi 1800 dan 1900 Mhz. Pada generasi ini, HP bisa lebih berkembang tidak hanya sekedar kirim sms dan bertelpon tapi sudah bisa dibawa keluar kota serta bisa kirim gambar dan data. Bahkan saat ini, sudah bisa melakukan video conference dimana saat menelpon kita bisa bertatap muka dengan orang yang ditelpon lewat visual yang ditampilkan dilayar HP secara langsung. Di Indonesia, 3 operator terbesar GSM adalah Telkomsel (Halo, Simpati, As), Indosat (Matrix, Mentari, IM3) dan Excelcomindo (Explore, Bebas, Jempol).

Semakin berkembangnya teknologi, maka muncul jaringan yang di sebut CDMA (Code Division Multiple Access). Jaringan ini bekerja pada frekuensi 800 Mhz dan 1800 Mhz. CDMA ini lebih menjual citra sebagai “telpon lokal” yang murah. CDMA sendiri sebenarnya tidak bisa dibawa keluar dari daerah asal nomor tersebut, karena memang tidak diregulasikan. Karena jika CDMA bisa dibawa keluar daerah maka tentu saja akan mematikan GSM karena tarifnya yang sangat jauh berbeda. Ada beberapa operator jaringan CDMA yaitu Telkom[sel] (Flexy), Indosat (Starone), Mobile-8 (Fren) serta Bakrie (Esia). Ciri khas nomor telpon CDMA diawali dengan kode daerah telepon lokal pada nomor telponnya (mau tahu banyak soal CDMA, klik di sini)

Ada perkecualian dari Fren, dimana nomor Fren bisa dibawa keluar kota. Fren memang mempunyai regulasi untuk dibawa keluar kota, namun imbasnya adalah ketika nomor lain menghubungi Fren, maka akan dikenakan tarif yang lebih mahal dibandingkan menelpon ke operator CDMA lain meskipun sama-sama lokal.

Kenapa saya mesti menjelaskan soal operator dan jaringan ponsel seperti diatas?

Karena kita sering keliru atau salah dalam mengartikan soal HP dan CDMA. Meskipun memakai nomor CDMA, tetap saja pesawat yang digunakan disebut HP, bukan CDMA. Karena CDMA hanya jaringan, sama seperti GSM. Tidak ada yang berbeda antara HP CDMA dan GSM, hanya frekuensi kerja dan systemnya yang berbeda, namun wujudnya tetap sama yaitu HP.

Jadi meskipun anda memakai CDMA, entah Flexy, Fren atau yang lainnya, ketika ditanya berapa nomor HP nya, maka jawabannya adalah nomor CDMA anda, bukan malah menjawab gak punya HP tapi punyanya CDMA


Catatan:

Banyak istilah yang sering salah kaprah di Indonesia. Diantaranya ketika ada pertanyaan apa merk motor yang dipunya. Banyak yang menjawab Honda Shogun atau Honda Alfa. Padahal Honda tidak pernah mengeluarkan type Shogun atau Alfa. Pun sama istilah yang dipakai buat pompa air, orang sering mengganti pompa air dengan sebutan Sanyo, padahal Sanyo hanyalah sebuah merk pompa air dan belum tentu pompa yang dipakai bermerk Sanyo

Ditulis dalam Dari Hidup | 1 Komentar »

Jalan-Jalan

Ditulis oleh Andres Irawan di/pada Oktober 17, 2006

Minggu lalu aku sempatkan diri setelah shalat taraweh buat jalan-jalan. Aku baru nyadar bahwa ternyata kantorku itu terletak di pusat pemerintahan propinsi Jatim, tepatnya dekat banget dengan kantor Gubernur. Dan persis depan kantor gubernur itu adalah tugu pahlawan. Tidak jauh dari tugu pahlawan ada sebuah pasar yang terkenal yaitu pasar turi. Disini, aku sempatin buat beli TV kecil buat nonton bola :) (karena sama sekali gak ada hiburan di kamar kos :) )

Tak jauh dari pasar turi, sekitar 200 m sebelah utaranya ada Stasiun Pasar Turi. Tempat ini sedikit menggoreskan luka karena hampir setahun yang lalu aku nyaris menghajar seseorang di situ. Apa sebabnya, tak perlulah di jelaskan, yang pasti lebih terkait pada kehormatan seseorang.

Kearah barat pasar turi, jalan raya tersebut nanti akan tembus pada jalan tol Gempol – Gresik. Jadi kalo misalnya bawa mobil dan ingin cepat, lebih baik masuk tol aja karena Surabaya-Waru bisa ditempuh hanya 10 menit dibandingkan mesti lewat jalan kota yang padat merayap yang bisa memakan waktu lebih dari 30 menit.

Kearah utara, adalah jalan ke arah pusat kota dan perbelanjaan. Berhubung gak punya kendaraan, jadinya masih cukup puas menjadi penumpang angkot. Muter-muter Surabaya sebenarnya cepat, Surabaya itu tergolong tidaklah terlalu besar dibandingkan dengan Kota besar lainnya. Bahkan mungkin lebih besar kota Semarang.

Hal yang unik di Surabaya adalah banyaknya jalan satu arah, serta kendaraan berjalan di lajur kanan. Pada awalnya aku rada heran karena banyaknya jalur kendaraan di lajur kanan, sampai kemudian aku baru tahu bahwa cara itu untuk mencegah kemacetan di perempatan akibat bertumpuknya kendaraan yang akan berbelok ke kanan. Karena sudah berjalan di lajur kanan, tentu saja belok kanan akan langsung terus melaju.

Tapi ada satu tempat yang mungkin gak akan aku kunjungin, yaitu gang Dolly J. Meskipun pernah melintasi sekali daerah tersebut (Cuma lewat….suer kok, ga pake mampir :) ), tapi aku gak berniat untuk jalan-jalan lagi kedaerah tersebut.

Well…. Surabaya, akhirnya aku jadi salah satu pendudukmu :)

(Surabaya,  istirahat siang di kantor, 12.45. Sambil mendengarkan  “Mahadewi”  Padi, serasa ingat waktu awal kuliah dulu  di Jember, karena lagu ini jadi  trademark kala itu)

 

Ditulis dalam Dari Hidup | 1 Komentar »

Ketika Cinta Menyapa(3)

Ditulis oleh Andres Irawan di/pada Oktober 16, 2006

Dengan berbekal pengalaman menjadi seorang wartawan saat kuliah, Dira melamar ke sebuah majalah islami. Dira sadar, dirinya mesti berdekatan dengan orang-orang yang beragama. Dia sendiri tidak bermimpi banyak untuk kembali alim, dia hanya ingin memperbaiki hidupnya, yang selama lebih dari 2 tahun kehilangan arah dan makna (selengkapnya baca di sini)

Ditulis dalam Dari Jiwa | 1 Komentar »

Jadinya…Mudik..!!!

Ditulis oleh Andres Irawan di/pada Oktober 14, 2006

Akhirnya, setelah diskusi dengan beberapa orang, lebaran tahun ini insya Allah akan aku lewati di rumah Wonogiri. Pada awalnya aku sendiri berencana untuk melewatkan Idul Fitri tahun ini sebagai yang pertama jauh dari keluarga. Bukan kenapa, atau malas ketemu keluarga atau anak yang gak berbakti sehingga tak mau kumpul. Tapi disebabkan faktor non teknis yaitu karena tempat kerjaku sendiri hanya memberikan waktu yang mepet buat mudik.

Sebagai pegawai baru, tentu aku belum mendapatkan jatah cuti tahunan. Dan tentu saja menyebabkan aku mesti stand by untuk jaga kantor. Kantorku sendiri, selain sebagai kantor cabang tempat aktifitas untuk wilayah provinsi Jatim, juga sebagai counter sales atau pusat penjualan. Sehingga mesti tetap stand by.

Ada beberapa alasan kenapa akhirnya, aku memutuskan untuk tetap pulang besok meskipun gak dapat cuti. Diantaranya adalah selain sebagai tradisi untuk kumpul bersama dengan keluarga, ziarah makam ayahku, juga karena setelah mendengar kondisi bundaku yang cukup menurun. Aku baru sadar bahwa usi bundaku sudah 52 tahun lebih. Masa yang sebenarnya bagi sebagian besar orang adalah usia yang belum tua, tapi sebagai single parent yang membesarkan anaknya sendiri (terutama aku) tentu banyak perjuangan yang beliau lakukan. Dan saatnya sekarang aku mesti berbakti kepada orang tua.

Ngomong-ngomong soal kumpul sama keluarga saat lebaran, seumur hidupku belum pernah lebaran sendirian, selalu kumpul bersama keluarga. Biasanya waktu kecil kami sekeluarga biasa kumpul di jakarta, di rumah Om / mamak dari pihak bundaku Dan biasanya kami setelah sholat kemudian “jalan” sambil nyari salam tempel atau angpaw . Besarnya salam tempel itu tergantung juga dari tingkat pendidikan, jadi makin tinggi sekolahnya maka makin besar yang didapat.

Kumpul bersama keluarga besar di jakarta (maklum, tradisi orang minang ) itu aku lakukan sampai tahun 1999. Mulai tahun 2000, kami biasa melewatkan lebaran di rumah saja, karena ada agenda rutin yaitu ziarah makam ayahku.

Tapi, dari sekian banyak lebaran yang aku alamin, mungkin lebaran pertama kali saat usiaku belum genap setahun merupakan lebaran paling spesial dalam hidup. Bukan kenapa, tapi karena saat itu dalam kondisi masih bayi aku membuat geger orang satu rumah. Jadi ceritanya gini, saat sholat Ied, rumah Om hanya ada tante dan bundaku. Saat itu, aku sudah di mandikan dan dipakaikan baju baru. Saat yang lain masih sholat, bundaku sedianya mau menyuapiku makan. Namun saat itu aku batuk-batuk dan seperti tersedak. Bundaku curiga dengan batukku, dan kemudian langusng histeris ketika melihat cincin yang ada di jariku udah gak ada. Ya emang gak ada karena udah aku makan

Akhirnya orang satu rumah pada ribut karena insiden itu, dan kemudian aku akhirnya dibawa ke dokter. Dan saran dokter ternyata malah simple aja, aku disuruh makan yang banyak agar cincin itu nanti bisa keluar bersama kotoranku. Walhasil, aku dikasih makan pepaya mulu biar cepet buang kotoran, dan tentu saja bunda dan tanteku mengorek kotoranku untuk memastikan cincin itu sudah keluar atau belum

Besoknya, baru cicin tersebut keluar bersama kotoranku dan membikin lega orang satu rumah. Jadi mesti sekarang kurus gini, aku pernah makan cincin lhoh . Coba, ada lagi gak yang pernah ngalamin hal kayak gitu? Kalo ada kita bikin komunitas yuk . Sampai sekarang, cerita itu masih jadi guyonan antara aku dan tanteku ketika bertemu

 

Ps : jangan pernah memasangkan aksesoris model apapun pada bayi anda, berbahaya (pengalaman pribadi)

Ditulis dalam Dari Hidup | 1 Komentar »

jadi gemuk

Ditulis oleh Andres Irawan di/pada Oktober 14, 2006

Ternyata, sudah hampir dua bulan aku tinggal di Surabaya. Dan kembali menjadi anak kos. Sebelumya aku sempat sebulan kerja di Jakarta, tapi saat itu aku tinggal bersama kakak sepupuku sehingga gak ngekos.

Bedanya tinggal di Jakarta dan Surabaya

Jakarta

  1. Jarak kantor jauh > 2 jam perjalanan
  2. Selalu stand by di kantor
  3. Banyak bicara dalam bekerja
  4. Masuk jam 8.00 pulang jam 18.00
  5. Satu kantor banyak orang > 50 or

Surabaya

  1. Jarak kantor dekat (10 menit jalan kaki)
  2. Kadang dinas keluar kota
  3. Tidak terlalu banyak bicara saat bekerja
  4. Masuk jam 8.00 pulang jam 16.00
  5. Satu kantor tidak banyak orang < 50 org

 

 Tapi perbedaan yang paling mencolok adalah berat badanku. Dulu waktu kuliah dan kerja di jakarta, berat badanku berkisar 58 kg, bahkan pernah sampai angka 56 kg saat banyak kerjaan dan kecapekan. Namun sekarang, saat dua minggu baru kerja, aku mendapatkan berat badanku melonjak menjadi 63 kg bahkan pernah mencapai 65 kg. Wah, kok malah makin gendut yah meski masih jauh dari berat idealku yang berkisar 75-80 kg

Sekarang berat badanku masih berkisar 62-61 saat puasa ini, namun itu adalah suatu peningkatan yang amat besar sebenarnya karena aku jarang beratku menmbus angka 60 kg

Pertanyaannya sekarang, kok bisa naek yah? Padahal khan balik jadi anak kos lagi . Apa karena di Surabaya ada yang “ngopeni” (baca:merawat) yah hehehe

Visi akhir 2006, semoga tetap terlaksana……Amin!!!

 

Ditulis dalam Dari Hati | Leave a Comment »