Anak sulung dari keluarga arsitek itu bernama Ernesto, lahir di Argentina, mengidap asma sejak kecil dan kemudian sekolah kedokteran. Tidak nampak jiwa pemberontak pada masa kecil anak sulung tersebut.
Namun, itulah jalan hidup seorang Guevara, bukan dikenal sebagai dokter atau arsitek, tapi nama Guevara hanyalah sebuah rangkaian dari Ernesto “Che” Guevara
Terjun sebagai seorang dokter di daerah yang sedang bergolak, menempa jiwa Che menjadi seorang yang revolusioner, dan satu hal yang dia tahu dari berbagai hal yang dia temui, bahwa terjadi ketidakadilan di bumi amerika latin.
Bergabung dengan seorang pemberontak Kuba, Fidel Castro, bergerilya di hutan dan musuh terbesar mereka adalah pengkhianatan, keletihan dan tentu saja lepra, Che menjadi ahli kesehatan di antara mereka. Namun bukan sekedar menjadi dokter, Che menjadi sosok pemimpin diantara mereka. Dan Che yakin, pengalaman bertahun-tahun di hutan, adalah bagian dari sebuah ujian untuk “lulus sebagai manusia”
Meski menjadi pejabat setelah kemenangan pemberontak, jiwa revolusioner Che tidaklah padam. Setelah pamit kepada Castro, Che hijrah ke Bolivia, untuk membantu pemberontak disana. Dan akhirnya, sejarah mencatat bahwa seorang Ernesto “Che” Guevara tewas ditangan Jenderal Bolivia, yang kemudian mengatakan “Ia salah memilih negeri, ia salah memilih kawan, ia salah memilih
medan. Ia seorang pemberani, tapi Tuhan tidak bersamanya ….”
Ernesto hanyalah seorang pemberani yang terketuk jiwa revolusionernya setelah menyaksikan ketidakadilan. Dia rela hidup di hutan, demi sebuah kemenangan, dan setelah menang, Che pun memilih melepas jabatan tingginya untuk terus berjuang.
Di Indonesia kita pernah punya seorang pemberani bernama Soekarno, lahir dari keluarga ningrat, kemudian meraih gelar arsitek, terjun menjadi seorang politikus, ditangkap dan diasingkan oleh Belanda, kemudian bersedia bekerjasama dengan Jepang sampai akhirnya mengumandangkan Proklamasi kemerdekaan Indonesia.
Tapi jabatan kemudian membutakan jiwa revolusi Soekarno, setelah mengumumkan sebagai Pemimpin Besar Revolusi, Soekarno kemudian menerapkan Demokrasi Terpimpin dan menjadi pemimpin seumur hidup. Soekarno telah kehilangan jiwa revolusinya.
Dan sejarah mencatat pula, Soekarno meninggal dalam “tahanan rumah” tanpa sebuah penghormatan yang layak bagi seorang pemimpin revolusi. Soekarno dibesarkan oleh kharismatiknya (hampir seluruh pemimpin Indonesia seperti ini), bukan oleh sebuah kekuatan revolusinya









