Melintasi Batas Kesunyian

Merenungi Hidup…..Dengan Segala Macam Hikmahnya

Arsip untuk April, 2007

Sudah… Bubarkan Saja…!!!

Ditulis oleh Andres Irawan di/pada April 13, 2007

Satu hal yang saat ini menjadi perbincangan di berbagai media adalah, masih perlukah IPDN? Jika pertanyaan itu mesti anda jawab, mungkin anda akan berkata tidak perlu lagi. Sebuah jawaban yang saya sendiri juga sependapat dengan anda

Tapi bukan karena kekerasan yang baru saja (serta kasus-kasus lama) terjadi atas salah seorang siswanya. Tapi disebabkan, saya tidak yakin jika IPDN dipertahankan meski sistem pendidikan sudah di perbaiki akan menjamin tidak adanya lagi tindak kekerasan dalam kampus IPDN

Ada beberapa faktor yang yang membuat saya menjadi pesimis jika IPDN tetap dipertahankan akan berdampak baik. Hal tersebut, yaitu :

  • IPDN berada di bawah Depdagri

Bukan masalah sebenarnya jika IPDN dibawah Depdagri. Meski banyak yang bilang bahwa status IPDN yang berada di bawag Depdagri melanggar UU Pendidikan, yang mana sebuah lembaga pendidikan semestinya berada di bawah Depdiknas. Kita bisa melihat hal yang sama pada sekolah kedinasan lainnya.  Misalnya aja sekolah Kehakiman, tentu saja berada di bawah Departemen terkait, yaitu DepHum & HAM. Yang menjadi masalah adalah, sosok seorang Mendagri yang selalu berasal dari Militer. Sejak jaman Soeharto, Mendagri berasal dari Militer. Mulai dari Rudini, R. Hartono, Hari Sabarno sampai M. Maaruf sekarang, semua dari militer.

Karena Depdagri yang pada fungsinya adalah lembaga penyelenggara pemerintah sipil, karena di pimpin oleh militer, tentu saja ada jiwa militer yang ditanamkan pada pejabat-pejabat didikan Depdagri, yaitu IPDN

 

  • Kekerasan adalah Budaya

Kekerasan di IPDN adalah budaya, bukan sistem yang diciptakan oleh pejabat terkait, atau pimpinan lembaga pendidikan. Dalam hal ini, rektor IPDN tidak terlibat secara langsung, namun dia dianggap gagal sebagai pimpinan karena terulangnya kembali tindak kekerasan tersebut

Tindak kekerasan, adalah budaya yang tertanam dalam setiap senior di IPDN. Meskipun dalam teori, mereka tidak pernah diperbolehkan melakukan “perploncoan”, namun karena sudah menjadi budaya dan kebiasaan dalam kehidupan di IPDN, dimana seorang senior merasa superior terhadap juniornya, maka tetap saja terjadi tindak kekerasan tersebut.

Hal ini yang susah diantisipasi karena meski sudah ada kebijaksanaan dalam mencegah tindak kekerasan, namun karena jiwa arogansi dan superior dalam diri sang senior, maka daia merasa sah-sah saja untuk melakukan tindak kekerasan terhadap junior. Dan karena hal ini berulang-ulang dari tahun ke tahun, maka dalam diri junior yang mengalami tindak kekerasan, akan tersimpan “dendam,” yang siap dilampiaskan ketika sang junior tersebut telah menjadi senior dan akan melakukan “balas dendam” tadi kepada yang lebih junior

Butuh waktu yang lama untuk merubah budaya tersebut, karena sebuah kebiasaan, tidak dapat hilang dalam waktu yang singkat

 

  • Kerjasama antar Senior

Dalam sebuah lingkungan yang terisolir dan dalam pengawasan ketat, maka hal yang menggelikan jika terjadi “penculikan” atas seorang junior oleh para seniornya tanpa diketahui oleh petugas jaga. Hal ini bisa dilakukan, karena petugas jaganya sendiri juga merupakan senior pula. Di IPDN, ada kesatuan yang dinamakan Polisi Praja. PolPra ini adalah kesatuan disiplin dalam IPDN. Jadi, bagaimana PolPra bisa bertindak, jika yang melakukan tindak kekerasan itu adalah teman-temannya seangkatan (atau mungkin malah PolPra juga melakukan tindak kekerasan juga)

 

  • Arogansi Internal

Ada sebuah cerita dari teman yang tinggal di sekitar kampus IPDN. Bahwa sebenarnya, seorang siswa IPDN, jika terlibat masalah dengan orang kampong disekitar IPDN, mereka tidak berani macam-macam. Bahkan terkesan takut.

Beda halnya ketika berhadapan dengan internal, dalam hal ini junior, mereka bertindak sewenang-wenang dan arogan. Jiwa inilah yang nantinya akan tertanam pada calon pejabat lulusan IPDN, bahwa dalam melaksanakan tugas, mereka akan arogan kepada bawahan

 

  • Tidak bisa menjadi Teladan

Tentu saja, dengan budaya kekerasan dan juga arogansi mereka, tak dapat menjadikan mereka sebagai teladan dalam kehidupan sosial masyarakat. Karena bahwa sesungguhnya, sebagai pamong masyrakat, yang tugasnya melayani masyrakat dan membina masyarakat, tidak bisa dengan cara kekerasan dan arogansi tersebut

 

Banyak hal lain yang mungkin bisa ditambahkan, termasuk statemen rektor IPDN yang tidak tetap. Diawal bilang tidak ada tindak kekerasan, dan mengatakan kematian salah satu siswanya akibat sakit, namun kemudian mengakui adanya tindak kekerasan. Dan setelah itu, malah menyalahkan siswanya akan adanya kematian dalam kampus yang dia pimpin. Masih layakkah seorang yang berbohong kepada publik, kemudian menyalahkan orang lain, sedangkan itu merupakan tanggungjawabnya, dipercaya untuk memimpin sekolah yang mencetak pejabat pemerintah? Jika gurunya saja begitu, apalagi hasil didikannya.

 

Sudahlah, Bubarkan saja IPDN….!!!

 

Ditulis dalam Dari Pikiran | 4 Komentar »

Times To Changes

Ditulis oleh Andres Irawan di/pada April 13, 2007

Akhir Februari 2007

Habis sakit Hepatitis A, kayaknya ketularan dari teman kantor, soalnya ada 3 orang teman kantor yang juga sakit yang sama. Sempat nginap di RS selama 3 hari, karena mual dan muntah terus menerus sehingga kondisi tubuh jadi drop.

Secara bersamaan, rotasi pegawai Depkes mulai dibuka. Istri mencoba daftar PTT di daerah Indonesia timur, kalopun gak tembus maka kami siap pindah ke ambon karena ada tawqaran dari PKPU ambon buat kerja disana. Konsekuensinya adalah, aku mesti keluar dari kerjaan

Awal Maret 2007

Mengajukan permohonan mengundurkan diri. Secara kebetulan kontrak kerjaku berakhir awal Maret. Sedianya akan diperpanjang dan diangkat (mungkin), tapi aku memilih untuk mendampingi istri di tempat kerjanya

Pulang ke Wonogiri, ternyata malah diajak ke Jakarta sekalian buat ngenalin istri ke keluarga besar (maklum, orang Padang)

Di Jakarta malah dapat tawaran lagi soal kerja di perkebunan kelapa sawit di Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. Tapi untuk sementara aku simpan dulu, karena mau dampingin istri ke Maluku

Pulang ke Surabaya, istri akhirnya keterima PTT di Ternate, Alhamdulillah

Akhir Maret 2007

Persiapan mo berangkat ke Ternate. Masya Allah, waktu istri pembekalan di Dinkes Prov Jatim, gak taunya besoknya pagi jam 6 mesti berangkat. Akhirnya, siang itu pula kalang kabut nyari tiket pesawat yang sama dengan istri. Alhamdulillah, akhirnya dapet.

Well…. Akhirnya kami untuk pertama kalinya naek pesawat (norak yah…!!! :)  )

Masih bingung, bagaimana nanti di ternate, alhamdulillah ternyata dari Surabaya ada dokter PTT juga ke Malut, jadi ada temannya. Sampai di ternate, ada orang ternate yang merupakan teman dari teman dokter PTT yang satu lagi yang ngejemput. Setelah makan siang (yang porsinya masya Allah banyaknya J ) akhirnya nginap di hotel

Awal April 2007

3 hari di hotel menguras cukup dalam uang kami, Alhamdulillah lagi ada tantenya teman dokter PTT juga yang menyilahkan kami untuk tinggal sementara dengannya

Mulai ngurus adminsitrasi PTT, ditempatkan di puskesmas kota, dan mulai nyari rumah kos karena belum dapat rumah dinas

Mulai nyari kerjaan, di ternate biaya hidup sangat tinggi. Jika di Surabaya, dengan uang 5 ribu sudah bisa dapat makan + minum, maka di ternate paling tidak harus sedia 15 ribu dengan porsi yang sama. Sudah masukin lamaran kebeberapa perusahaan, tinggal nunggu panggilan (kalo di panggil J )

Sempat stress juga, karena biasanya punya aktifitas di siang hari di kantor, sekarang cuma bengong aja dirumah L semoga bisa dapat kerjaan. Amin..!!!

Dan akhirnya sekarang, kami tinggal di sebuah kamar kos yang dekat dengan tempat kerja istri. Semoga kami bisa menjalani episode kehidupan ini dengan baik J

Ditulis dalam Dari Hari | Leave a Comment »

In Ternate

Ditulis oleh Andres Irawan di/pada April 4, 2007

Alhamdulillah, sekarang ada di Ternate dan Subhanallah sekali dengan kota satu ini, karena selain kotanya yang indah dikelilingi pantai, juga penduduk yang ramah. Bayangkan saja, belum kenal sama sekali, ketemu juga di pesawat, tapi sudah nganterin kemana saja, terus juga nginep bahkan di sampe nawarin minjemin mobil jika keliuar :)

Meski rada panas, namun cukup mendingan di banding Surabaya. Insya Allah, jika emang takdir untuk bekerja disini, akan seterusnya ada di Ternate :)

Welcome to heaven :)

Ditulis dalam Dari Hidup | 6 Komentar »