Melintasi Batas Kesunyian

Merenungi Hidup…..Dengan Segala Macam Hikmahnya

Arsip untuk Mei, 2007

Tantangan PTT Daerah (Catatan buat Akhwat)

Ditulis oleh Andres Irawan di/pada Mei 28, 2007

Pada tulisan sebelumnya, saya menyoroti kenapa banyak akhwat yang memilih PTT lokal, bukan PTT keluar daerah.  Kali ini saya lebih menyoroti sebuah hal yang coba saya amati dalam masalah PTT

Di tulisan sebelumnya, saya menulis sebuah sample di kampus istri, hampir separuh mahasiswa kedokteran itu “ngaji”, dan kebanyakan mahasiswa kedokteran itu adalah wanita. Jadi, tentu saja banyak akhwat di kampus kedokteran. Selain akhwat, tentu saja banyak ikhwan di kampus kedokteran. Makanya tak heran, paling tidak ada dua lembaga medical sosial yang ada di Indonesia yan mereka “dekat” dengan Islam, yaitu MER-C dan BSMI.

Ada sebuah ketakutan, bagi ikhwah (terutama akhwat) ketika memilih PTT. Yaitu jauh dari keluarga, dan juga daerah asing yang belum dikenal. Baik, catatan itu mungkin tidak berlaku buat istri saya, karena istri punya teman yaitu saya J. Tapi, kalo saya boleh bicara, bahwa sebenarnya tidak ada masalah apa-apa ketika menjejakkan kaki di tempat baru. Asal tahu aja, dari PTT angkatan 45 (periode istri saya), hanya 3 orang dari 10 dokter PTT yang berjenis kelamin pria. Jadi ada 7 orang wanita, yang sebagian besar mendapatkan daerah ST. dan dari 7 orang itu, hanya 2 orang akhwat, satu istri saya, dan satu lagi akhwat dari Unpad, ke Halmahera Timur.

Pertanyaannya adalah, kenapa mereka berani sedangkan banyak akhwat tidak??

Mungkin jawabannya, sudah saya jelaskan di tulisan sebelumnya. Okelah, tak perlu kita bahas lebih lanjut kali ini. Namun ada satu hal yang saya pelajari dari komposisi PTT angkatan istri, dan juga angkatan setelah istri.

Dari dua formasi periode PTT, ada satu hal yang menjadi catatan saya, adalah selalu hadirnya dokter PTT dari etnis tionghoa (Chinesse), berjenis kelamin wanita, dan tentu saja nashara.

Bukan saya pengen mengangkat issue SARA, namun saya justru bertanya, kenapa gak di setiap angkatan ada akhwat, atau paling tidak ikhwah lah

Etnis Chinesse, tentu saja mereka memiliki jiwa perantauan. Nenek moyang mereka, puluhan tahun lalu migrasi ke Indonesia, jadi kalo hanya masih wilayah

Indonesia, bukan suatu masalah buat mereka. Berbeda dengan orang jawa (maaf, sekali lagi saya mengangkat issu orang jawa), yang mungkin kurang memiliki jiwa petualang, yang penting ngumpul.

Yang kedua, secara financial, mereka lebih berada. Tentu sajalah, kuliah kedokteran tentu saja harus memiliki “modal” yang kuat. Selain uang masuknyanya yang mahal, biaya kuliah pun juga tinggi. Apalagi di kampus swasta, lha wong di kampus negeri aja mahalnya minta ampun. Makanya tak heran jika ada ungkapan, seorang mahasiswa kedokteran, jika bukan ortunya dokter, maka ortunya adalah direktur atau orang berpangkat. Alhamdulillah, meski istri adalah orang sederhana, namun masih diberikan kesempatan menjadi dokter J. Kembali lagi ke masalah financial, ketakutan PTT keluar daerah adalah, biaya hidup yang mahal.

Memang, biaya hidup di luar jawa cukup sangat mahal. Tapi, andakan dapat gaji, selain itu juga dapat insentif pusat sebesar 5 juta bagi daerah ST. Belum lagi insentif dari daerah, yang besarnya bervariasi, antara 2-5 juta. Lagian juga gak lama khan PTT, cuman 6 bulan, dengan masa efektif hanya 4 bulan kerja. Lalu, ketakutan dari mana lagi???

Yang ketiga, etnis chinesse dapat melihat peluang dengan baik. mereka sadar, bahwa di Jawa sudah sangat ketat persaingan antar doker. Belum lagi kenyataan bahwa tingkat persaingan di jawa, jika tidak menjadi dokter spesialis, maka bisa jadi terpinggirkan. Oleh karena itu mereka mengincar daerah yang belum banyak dokternya.

Lalu, hal yang paling menarik yang menjadi catatan saya adalah ketika seorang dokter PTT etnis Chinesse, saat tiba di Ternate, dia sudah di jemput orang dari Gereja. Ternyata, gereja tempat asalnya, sudah mengontak gereja di Ternate, untuk membantu dokter PTT tersebut selama di
Ternate.

Dari situ, saya jadi “kagum”, bahwa kepedulian gereja, sangat membantu sekali bagi jamaatnya ketika menghadapi suatu hal. Itu yang agama nasrani. Lalu bagaimana dengan kita umat Islam???

Boro-boro, ngubungin masjid, ke masjid aja jarang L

Okelah, saya menyisihkan temen-temen muslim dulu untuk sementara, saya ingin nyorotin tentang ikhwah. Jika anda takut untuk menjejakkan kaki di tempat baru, khan ada DPD. Kalo anda tidak tahu dimana letak DPD, khan bisa nanya. Dan insya Allah, disitu kita akan diterima dengan terbuka, bahkan anda semua akan di back up selama melaksanakan PTT disana. Dan yang pastinya, maka “bunderan” anda akan terjamin lancar.

Itu yang terjadi pada saya dan Istri J

Dan catatan terakhir saya adalah, bahwa sesungguhnya daerah Indonesia Timur, masih sangat butuh SDM, baik dokter maupun ikhwah bidang lain, baik anda ikhwan ataupun akhwat. Catatan saya, untuk Ternate, hanya ada 2 dokter akhwat (termasuk istri) dan 1 dokter ikhwan. Kebanyakan dokter ikhwah, ada di Halmahera Selatan (tau sendiri khan, ada apa disana J ). Dengan kondisi itu, sebenarnya, anda semua sangat dibutuhkan disini.  Masak anda kalah sama temen dari etnis Chinesse, karena mereka aja yang nasrani berani masuk ke wilayah yang 80 % Islam, bahkan sempat rusuh besar antara Islam dan Nasrani. Karena siapa tahu pula, keberadaan dokter PTT nasrani di Maluku, memberikan “masukan” berarti bagi kaum nashara di Maluku.

Lalu, dimanakah tanggungjawab kita, untuk memberikan “nuansa” Islam bagi saudara-saudara kita sesama muslim di Maluku?

Wallahualambishshowab

 

Ditulis dalam Dari Pikiran | 6 Komentar »

Kenapa Akhwat Gak Berani PTT

Ditulis oleh Andres Irawan di/pada Mei 28, 2007

Kenapa akhwat dokter jarang yang PTT 

Ada sebuah pernyataan yang dilontarkan oleh istri, saat kami sedang makan siang beberapa hari lalu. Pernyataan itu adalah, kenapa banyak akhwat yang berprofesi sebagai dokter jarang ikut PTT keluar daerah (keluar Jawa). Kebanyakan mereka memilih PTT di Rumah Sakit sekitar, atau menjadi honorer daerah (tentunya daerah asalnya, bukan daerah pedalaman). Bahkan, kalaupun ada akhwat PTT ke daerah, kebanyakan karena akhwat tersebut adalah orang asli daerah tersebut. Misalnya, ada akhwat yang berdomisili di Papua, kuliah kedokteran di Jawa, kemudian kembali lagi PTT ke Papua

Saya gak bermaksud menjustifikasi, namun hasil diskusi dengan istri ternyata menggelitik saya untuk menuliskan hal tersebut.

Kebanyakan, akhwat yang berprofesi sebagai dokter, ada yang diantara mereka menikah saat masih jadi mahasiswa atau masih coass. Namun banyak juga yang baru menikah saat sudah jadi dokter.

Untuk akhwat yang sudah menikah, jika suami mereka dokter, mereka biasanya akan memilih PTT di tempat yang menjadi domisili suaminya. Sebagai contoh, seorang akhwat teman istri saya yang memilih PTT di Aceh, karena suaminya yang dokter juga PTT disana. Pun demikian juga yang memiliki suami yang bekerja di luar Jawa, ketika sang istri di sumpah menjadi dokter, maka dia memilih PTT di tempat suaminya bekerja, meskipun itu pedalaman. Tapi, kebanyakan akhwat dokter yang sudah menikah dan suaminya bukan dokter, melarang istrinya PTT keluar daerah dan lebih menganjurkan untuk menjadi tenaga honorer daerah saja (meski lama PTT menjadi 3 tahun)

Banyak alasan, kenapa banyak ikhwah yang gak rela melarang istrinya PTT keluar daerah. Dan semua alasan itu wajar-wajar saja kok. Misalnya, karena masih penganten baru (ssst…!! Ini cerita tentang sahabat saya, yang mendapatkan istri dokter yang ternyata juga sahabat istri saya J ). Selain itu karena tidak baik buat sebuah hubungan keluarga, karena jarak suami – istri yang terlalu berjauhan (untuk kasus ini, saya sendiri sebenarnya sempat ditawarin oleh sepupu untuk kerja di perkebunan di Sum-Sel, namun setelah banyak pertimbangan, saya memilih bertahan di Ternate). Atau ada juga yang berkata bahwa suami sudah kerja di
kota tersebut, jika istri PTT keluar daerah, masak suami mesti keluar kerja, sedangkan suami punya kewajiban mencari nafkah (dalam kasus yang ini, saya no comment, karena memang itu yang terjadi. Saya keluar dari tempat kerja, hanya punya tabungan sedikit untuk menghidupi istri, dan berserah diri pada Allah, bahwa rejeki Allah luas, dan saya akan mencari rejeki itu di Maluku)

Tiga alasan tadi, hanyalah segelintir sedikit dari banyak hal yang membuat seorang ikhwah melarang istrinya untuk PTT di daerah. Namun, saya sempat salut ketika istri bercerita bahwa seorang sahabatnya mengajukan PTT ke Maluku, sedangkan dia sudah bersuami dan anaknya masih balita J

Selain dari suami, faktor lain yang memberatkan seorang akhwat untuk PTT keluar daerah adalah faktor keluarga. Banyak orang tua (terutama orang Jawa) yang menyuruh anaknya PTT  di dalam kota saja. Kalopun mesti keluar
kota, tidak terlalu jauh. Mungkin prinsip dari orang Jawa yang mempunyai filosofi “Makan gak makan, asal ngumpul”. Sebuah alasan yang juga bisa diterima sebenarnya, karena dalam falsafah jawa, seorang wanita itu harus dilindungi. Jadi gimana bisa ngelindungi, jika sang anak perempuan jauh dari pengawasan orang tuanya.

Dua sebab diatas, sudah lebih dari cukup untuk membuat seorang akhwat berpikir panjang dan mengurungkan niatnya (jika punya niat) untuk PTT keluar daerah. Sebagai seorang istri, maka dia mesti menghormati keputusan suaminya yang memilih sang istri untuk PTT lokal. Pun demikian sebagai seorang anak, restu dan ridho orang tua adalah hal yang penting bagi keselamatan dan hidup sang anak.

 

Lalu bagaimana yang belum  menikah??

Ini dia yang unik. Saat saya berkomunikasi dengan beberapa teman akhwat yang sedang coass atau masih kuliah kedokteran, ada beberapa diantara mereka yang justru tidak mau PTT keluar daerah. Seorang diantaranya, beralasan ingin PTT di RS saja, agar ada yang bisa menjadi tempat bertanya ketika ada masalah yang tidak bisa diselesaikan.  Ada juga yang khawatir dengan kondisi daerah tempat PTT yang mungkin rawan bagi seorang akhwat, dan masih banyak alasan lain.

Saya menghormati alasan mereka, karena tentu saja mereka ingin yang terbaik bagi dirinya. Namun di balik itu, saya ingin mengajukan sebuah argument tentang PTT keluar daerah.

Ketika PTT keluar daerah, maka seorang dokter akan ditempatkan di daerah Terpencil (T) atau daerah Sangat Terpencil (ST). Kedua daerah tersebut, baik T dan ST, 99 % penempatan adalah di Puskesmas, bukan di RS. Bahkan bisa saja jika emang diperlukan, ditempatkan di Puskesmas Pembantu (Pustu). Kondisi puskesmas di daerah T dan ST adalah kekurangan dokter, bahkan mungkin dokter PTT tersebut adalah satu-satunya dokter di puskesmas itu. Mungkin capek yang akan dirasakan, karena pasien bisa jadi banyak dan harus ditangani sendiri. Namun, justru disitulah tantangan yang harus dihadapi. Menurut istri, ketika kita adalah satu-satunya dokter di daerah itu, maka itu akan melatih kita untuk menghadapi kondisi yang sulit, dan itu akan jadi pengalaman yang berarti berguna kelak ketika kita menjalani Program Spesialis (PPDS). Perbedaan mendasar dari seorang PPDS pra PTT dan paska PTT adalah PPDS paska PTT lebih tanggap dan terlatih untuk menangani pasien, karena sudah berpengalaman dalam menangani pasien. Sedangkan pra PTT, tidak terlalu berpengalaman dalam menangani pasien. Selain itu, ketika kita hanya menjadi dokter satu-satunya dalam daerah tersebut, kita tidak bisa digugat dalam penanganan jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Tentu saja, selama penanganan pasien sesuai dengan prosedur yang ada.

Jika seorang dokter memilih PTT di RS, dengan argument ada yang mengingatkan ketika ada sebuah masalah, justru yang menjadi pertanyaan buat saya adalah benar gak dia seorang dokter. Sepengetahuan saya, dokter mesti menempuh pendidikan dokter (S1) selama 4-5 tahun, lalu mengikuti coass (Dokter Muda) selama ± 2 tahun. Selama 2 tahun itu, full praktik menangani pasien sesuai dengan bagian masing-masing, seperti bedah, anestesi, obgyn dll. Selama 2 tahun tersebut, pendidikan dokter selama 4 tahun itu, diterapkan secara langsung dengan menangani pasien, di bimbing oleh para dokter pengasuh. Ketika dinyatakan lulus di semua bagian, maka dia berhak menyandang dan disumpah sebagai seorang dokter.

Lalu, jika sudah menjadi seorang dokter,  buat apa untuk masih bertanya atau ada yang ngingetin ketika ada masalah. Memang, second opinion itu penting dalam bidang kedokteran, tapi bukan kita berharap ada yang ngingetin terus khan? Anda dokter, kalo masih terus diingetin, berarti gelar dokter anda meragukan dong……!!!

Lalu, tentang takutnya daerah yang rawan bagi seorang akhwat jika PTT keluar daerah, menurut saya itu adalah ketakutan yang anda buat sendiri, karena anda belum menjalaninya. Sebagai contoh, istri saya sendiri. Pada awalnya, saya sempat khawatir istri akan ditempatkan di daerah Batang Dua, daerah yang 100 % nasrani, ditengah lautan, 4 jam naek speed dari Ternate, dan babi adalah binatang peliharaan yang seenaknya aja jalan di jalanan umum.

Namun, kekhawatiran saya berlebihan. Jika anda seorang wanita, anda diprioritaskan untuk mendapat tempat yang “paling mudah”, tentunya Dinas Kesehatan Kota memiliki pertimbangan (dalam hal gender) dalam penempatan. Dan itu yang terjadi pada istri saya. Dan ternyata, demikian juga yang terjadi pada para dokter se-periode PTT dengan istri saya. Kebanyakan, mendapatkan tempat yang relatif nyaman. Dan mereka semua cukup enjoy menjalaninya. Dan satu hal lagi, ternyata daerah penempatan itu merupakan tawaran, bukan sebuah perintah penugasan. Jadi anda bisa memilih tempat, selama tempat tersebut memang membutuhkan dokter.

Tidak ada masalah dalam tempat yang rawan, asalkan kita juga bisa menghormati adat daerah tersebut. Lagian, daerah luar jawa tidak se-primitif 10-15 tahun lalu. Hampir semua kecamatan memiliki jalan lintas kota, dan juga terjangkau oleh signal telpon seluler. Jadi buat apa takut???

Lagian, PTT di daerah ST hanya 6 bulan. Dan kalau mau tahu, sebenarnya masa kerja efektif PTT di daerah ST hanya 4 bulan, karena 1 bulan diawal disibukkan akan adminstrasi penempatan, dan 1 bulan di akhir sudah ngurus administrasi pemulangan.

Uraian diatas, hanyalah sedikit gambaran dari saya kenapa sangat sedikit akhwat yang ikut PTT. Sedangkan yang saya tahu (saya mengambil sample di kampus istri, Unair) hampir separuh mahasiswa kedokteran itu “ngaji”, dan kebanyakan mahasiswa kedokteran itu adalah wanita. Jadi, tentu saja banyak akhwat di kampus kedokteran. Lalu, kenapa jarang PTT daerah???

 

(Selanjutnya)
Tantangan, Ikwah Semestinya PTT Keluar Daerah

 

Ditulis dalam Dari Pikiran | 4 Komentar »

At Least….Sudah 2 Bulan

Ditulis oleh Andres Irawan di/pada Mei 28, 2007

Akhirnya, sudah dua bulan saya dan istri tinggal di Ternate. Istri sudah dua bulan kerja sebagai dokter PTT di sebuah puskesmas Ternate, dan saya..??? Saya masih berkutat dengan mencari kerja J

Tapi jangan dikira hanya berpangku tangan, insya Allah, dalam waktu dekat ini, akan kembali “sibuk” dengan banyak hal, karena sebuah kewajiban sebagai seorang pegawai. Meskipun resikonya adalah, saya mesti berjauhan  dengan istri karena tempat saya dan istri berjarak 6 jam perjalanan dengan kapal kayu LTapi tak mengapa, dijalanin aja kok J

Selama dua bulan di Ternate, banyak hal yang sudah saya jalanin. Mancing dan nangkap gurita di Moti, belanja di pasar yang menjadi rutinitas mingguan (maklum, istri kerja, suami di rumah J ) sampai, ditarik ke dalam “strukutural”.

Namun alhamdulillah, meski pendapatan kecil (maklum, gaji PTT kecil dan daerah terpencil gak dapat insentif sedangkan harga barang di ternate sangat mahal), jauh dari orang tua dan belajar hidup mandiri, namun kami bersyukur karena Allah masih memberi kami keselamatan dan nikmat yang tiada taranya

Alhamdulillah……!!!! J

Ditulis dalam Dari Hari | 1 Komentar »

Tour Of Moti Island

Ditulis oleh Andres Irawan di/pada Mei 5, 2007

Senin, tanggal 30 April kemaren adalah hari pertama “Tour of Moti Island”. Awalnya ketika temen istri yang PTT disana, Ikhsan nawarin buat maen ke Moti. Setelah ijin sama istri (maklum, pria beristri euy J ) akhirnya jadilah berangkat ke Moti

Kami berangkat bertiga, saya, Ikhsan dan satu lagi dokter PTT juga di Kep. Sula, Novi. Pada awalnya, rencana berangkat pagi sekali jam 5 pagi naek speedboat. Tapi akhirnya disepakati berangkat jam 8 pagi, kumpul di pelabuhan Bastiong. Oh yah, di Ternate ada banyak pelabuhan, maklum daerah kepulauan. Namun pelabuhan umum yang menjadi pusat transportasi ada dua yaitu pelabuhan Ahmad Yani, yang merupakan pelabuhan nasional, melayani kapal besar denga  trayek Papua-Jakarta serta kapal tanker dan kargo. Sedangkan yang satu lagi adalah pelabuhan  Bastiong yang melayani penyebarangan jarak dekat disekitar Maluku Utara.

Dari Bastiong, kami naek speedboat kecil menuju Tidore. Speedboat dalam bahasa setempat biasa disebut Speed saja (Dan kebanyakan, orang ternate suka menyingkat sebuah nama dengan menyebut kata depannya saja, semisal kantor gubernur biasa disebut kantor gub saja). Perjalanan Ternate – Tidore hanya memerlukan waktu 15 menit saja, karena sangat dekat. Sesampainya di pelabuhan Rum (Tidore), perjalanan disambung menggunakan angkot menuju pelabuhan Tomoulou. Jarak Rum – Tomoulou dapat ditempuh dengan angkot sekitar 20 menit saja. Sampai di pelabuhan, kami dijemput oleh speed puskesmas.

Tomoulou – Moti memakan waktu sekitar 30 menit, dan melewati sebuah pulau dulu baru sampai Moti. Pulau tersebut adalah pulau Mare. Ada yang unik dari Mare, menurut cerita penduduk setempat, salah satu sudut pulau Mare memiliki tebing yang kalo dilihat mirip (maaf) kemaluan perempuan J

Sampai di Moti, kami di sambut oleh cuaca yang panas dan tak ada listrik sehingga tak ada kipas menyala. Moti memang belum ada listrik tetap, sehingga jika malam tiba, penduduk menggunakan genset untuk menyalakan lampu, dan itupun juga tidak lama, paling dari jam 7 sore sampai jam 11 malam.

Setelah bertemu dengan dr. Taat, kepala puskesmas Moti, maka banyak rencana dibuat. Sore itu juga, kami akan pergi mancing ke tengah laut. Sore sekitar jam 3, kami segera berangkat melaut menggunakan speed. Perjalanan ke tengah laut sangat mengasyikkan. Dan hasilnya, meski cuma dapat ikan tidak banyak, namun seru karena kami sempat kehujanan ketika mancing, namun rasa dingin terhapus ketika mendapatkan ikan Dolosi yang berhasil di pancing J

Menjelang maghrib, sekitar jam 18.30 WIT kami pulang. Sampainya di rumah, segera membersihkan diri dan kemudian makan malam serta istirahat.

Esoknya, setelah memenuhi panggilan pasien di balik gunung (bagian lain dari Moti), kami merancang acara untuk membakar ikan hasil tangkapan kemaren. Dan pantai Tuma menjadi tujuan kami. Di temani oleh Fadel, Ello, Itex, Romi, Bu Mala dan Atina, kami makan siang di pantai Tuma dengan menu Ikan bakar, Dabu-dabu (sambal khas Ternate), serta sagu dengan kopi dan dilengkapi tentunya adalah kelapa muda yang sangat segar sekali. Subhanallah sekali, makan di tepi pantai bersama teman-teman dengan memandang Pulau Tidore, Mare dan Ternate di kejauhan, sangat nikmat rasanya

Saat menunggu ikan bakar, kami mencari Bilolo (kalo diBandung namanya kumang, kalo di jawa namanya pompongan), laut di buat maenan yang disebut Bilolo naek haji. Bilolo, di letakkan di dalam lubang pasir yang ditengahnya di tancapkan dahan kering. Bilolo itu akan berusaha mencari jalan keluar dengan cara memanjat dahan tersebut

Malamnya, kami melakukan Basilo (menangkap gurita). Basilo di lakukan dengan cara berjalan di tepi laut yang dangkal, sebatas betis / lutut dan diterangi oleh cahaya lampu petromaks sambil mencari gurita dan ditangkap dengan tangan langsung. Sepertinya mudah, namun  yang sulit adalah membedakan gurita dengan batu karang karena hampir sama warnanya. Dan hasilnya, sangat seru, meski cuma dapat 2 gurita, namun asyik banget karena baru kali ini saya memegang gurita hidup

Hari Rabu, kami tidak banyak melakukan kegiatan. Selain ngantuk, karena semalam begadang nonton bola, juga sorenya maen bola di lapangan. Tapi kamisnya, saya naek Jiop. Jiop adalah perahu nelayan yang digunakan untuk menjaring ikan. Jiop biasanya lama berputar-putar untuk melihat tempat yang banyak ikan, setelah di tandai dengan daun kering maka Jiop kemudian melempar jaringnya. Diantara awak Jiop ada yang terjun ke laut untuk mengarahkan ikan menuju jaring. Jaringpun ditebar secara melingkar hingga sampai di titik awal penebaran jaring. Namun kali ini kami rada sial, karen tidak ada ikan yang nyangkut di jaring. Padahal awalnya saya udah semangat buat liat ikan yang ada serta makan ikan mentah J (kebiasaan di Moti, makan ikan mentah hasil tangkapan)

Esoknya, saya mesti balik ke Ternate karena ada keperluan. Dan Subhanallah, selama 4 hari di Moti, banyak petualangan yang seru yang mungkin gak akan saya dapatkan ketika saya masih di Surabaya. Meski masih banyak hal yang belum terlaksana, seperti makan ikan mentah, naek Bajeko (sama seperti Jiop namun biasa berlayar malam hari) serta naek sampan dayung, namun banyak hal baru yang sudah saya dapatkan

Oh ya, satu lagi. Akhirnya saya kesampaian buat ngelihat lumba-lumba secara langsung di laut lepas. Dulu pernah lihat lumba-lumba pula saat nyeberang di sulat Sunda, dan sekarang saya bisa melihat lumba-lumba yang asyik meloncat dari air secara bergerombol, bukan satu-satu seperti di sirkus atau Ancol.

Dalam perjalanan pulang, saya naek speed langsung Moti-Bastiong, dan meski sempat kehujanan hingga kedinginan, namun tetap seru. Jadi pengin balik ke Moti lagi, dan tentu saja kalo jadi ke Moti lagi bakalan ada Tour of Moti Seri II J

Credit

  1. Thanx buat Ikhsan, lu baik banget sampai ngajakin gw ke Moti, ntar gw balik ke sana lagi bareng istri yah J
  2. Thanx juga buat Novi, nemenin gw ke Moti juga. Sayang lu pulang duluan, jadi gak sempat naek Jiop dan liat lumba-lumba J
  3. Thanx juga buat dr. Taat, Fadel, Ello, Itex dan semua genx Moti atas penerimaannya yang baik selama di Moti Island. Ntar kita buat kaos dengan sablon depan bertulis “Hard Rock Moti” yuk J

All of picture in Moti, dapat dilihat di sini dan di sini

Ditulis dalam Dari Hari | 4 Komentar »

Travelling in Moti Island (Introducing)

Ditulis oleh Andres Irawan di/pada Mei 4, 2007

Beberapa hari ini, saya sempat maen ke tempat teman istri sesama dokter PTT di ternate. Dia di tempatkan di Pulau Moti, masih wilayah Ternate juga sebenarnya, namun 2 jam perjalanan dengan speedboat

Foto ini adalah saaat kami mancing di tengah lautan, saya dapat ikan yang biasa disebut ikan Dolosi. Meski sempat kehujanan namun asyik banget.

Banyak hal yang dilakukan disana, seperti menangkap gurita (dalam bahasa setempat disebut Basilo), dan juga lihat kahea atau lumba-lumba di laut lepas

Nanti akan saya tulis lebih banyak, sementara ini dulu yah :)

Ditulis dalam Dari Hari | Leave a Comment »