Melintasi Batas Kesunyian

Merenungi Hidup…..Dengan Segala Macam Hikmahnya

Arsip untuk Juli, 2007

Ready to Go!

Ditulis oleh Andres Irawan di/pada Juli 9, 2007

Akhirnya, saaat yang 2 bulan ini saya tunggu tiba. Insya Allah, dalam minggu ini, saya akan pindah ke halmahera selatan, mengerjakan sebuah “proyek” yang bergerak di bidang pendidikan.

Dan mungkin pula, akan lama tidak menengok blog ini, jadi.. maaf yeeee :)

Mungkin, cuman bisa nengok 2 minggu sekali, soalnya pulang ke ternate juga 2 minggu sekali. jauh dari istri niy :( tapi insya Allah, demi masa depan, demi niat yang baik, dan demi sebuah perubahan, demi dakwah yang mungkin hanya setetes saja yang bisa ku berikan untuk jalan ini. Insya Allah, Ready

Angin tak kan mampu merobohkan pohon kelapa, namun petir dapat menumbangkannya. Ya Allah, lindungilah aku…!!!

Ditulis dalam Dari Hati | 2 Komentar »

Tangan Berbuat Mulut Berbicara

Ditulis oleh Andres Irawan di/pada Juli 9, 2007

SERUAN! Kepada seluruh kader dan simpatisan di seluruh Indonesia dan LN untuk menghubungi sdr/teman/kenalan di Jakarta untuk pilih ADANG – DANI di pilkada DKI, sebarkan!

SMS tersebut mampir ke HP ku kemaren, dengan pengirim adalah “sang bos” :) ya sudah, akhirnya ada beberapa saudara dan kerabat di Jakarta yang aku kirim untuk mengingatkan memilih ADANG-DANI saat Pilkada Jakarta Agustus nanti

Sebuah upaya yang dilakukan oleh sebuah Partai yang mengusung calon ADANG-DANI dalam Pilkada Jakarta, dan Partai tersebut adalah PKS. Bukan sesuatu yang mengejutkan sebenarnya, karena selama ini PKS memang terkenal sebagai partai kader yang mempunyai jaringan ke bawah yang solid serta kuat. Tidak sekali-dua kali, maklumat partai di sebarkan lewat jaringan sms antar kader dan ternyata terbukti efektif. Dan juga memang sebuah siasat yang jitu, dengan menggunakan sarana teknologi berupa SMS, untuk memberikan arahan dan pengumuman kepada kader tentang keputusan partai

Tapi ada satu yang sedikit saya agak risau, dari beberapa orang yang saya hubungi, ternyata ada beberapa orang yang mereka yang sebenarnya memang bukan orang Jakarta (pendatang), namun meski sudah beberapa lama menentap dan bekerja di Jakarta, belum atau tidak memiliki KTP Jakarta. Dengan demikian, tentu saja tidak dapat memilih.

Mungkin, jika hanya 1-2 orang ikhwah, tidak punya KTP Jakarta, tidaklah terlalu berpengaruh, meskipun satu suara tetaplah bernilai besar. Tapi jika saja ada 10.000 ribu kader, ikhwah pendatang yang bekerja di Jakarta sudah beberapa lama, namun belum mempunyai KTP Jakarta, maka sama saja PKS Jakarta kehilangan 10.000 suara. Coba banyangkan jika ternyata jumlah kader yang seperti itu lebih dari 10.000 orang, maka PKS pun juga akan kehilangan suara dengan jumlah yang sama dengan ikhwah yang tidak memiliki KTP Jakarta.

Maluku Utara sendiri, pada bulan September 2007 ini juga akan mengadakan Pilkada untuk memilih Gubernur. Dan salah satu kandidat dalam pemilihan gubernur kali ini adalah, KH. Abdul Gani Kasuba, Lc yang merupakan salah satu anggota Dewan dari PKS yang mengajukan diri sebagai calon wakil Gubernur, berpasangan dengan incumbent, Thaib Armaiyn. Tentu saja, kader atau simpatisan ikhwah di Ternate dan Maluku Utara pada umumnya di gencarkan untuk memiliki KTP daerah setempat. Karakteristik ikhwah di Ternate atau Maluku Utara pada umumnya adalah didominasi mahasiswa, dan juga PNS. Dan kebanyakan PNS sendiri adalah PNS pusat, yang setiap beberapa tahun sekali, akan rolling alias mutasi kedaerah lain. Maka, tentu saja fluktuasi jumlah kader setiap tahunnya cukup tinggi. Nah, ketika ada pilkada, dan salah satu ikhwan mencalonkan diri dalam pilkada tersebut, maka tentunya harus didukung seluruh kader yang ada di daerah tersebut, sehingga di upayakan seluruh kader memiliki KTP di daerah setempat. Dan Alhamdulillah, saya dan istri sudah punya KTP Ternate :)

Jadi, meski jaringan yang dimiliki kuat, namun jika ternyata jaringan yang dibawah tidak mendukung akan kebijakan di pusat, maka maklumat dari pimpinan, akan tidak berarti

 

Pedang tak kan berguna banyak, jika lengan yang mengayunkan tak mampu mengangkat pedang

 

Wallahualambishsowwab

 

Ditulis dalam Dari Hati | 1 Komentar »

Tentang Menikah (lagi)

Ditulis oleh Andres Irawan di/pada Juli 3, 2007

Nekat untuk Menikah! Kata itulah yang dulu saya pakai saat memutuskan diri untuk menikah. Bagaimana tidak nekat, jika penghasilan masih pas-pasan, kerja masih kontrak 6 bulan, dan hanya punya tabungan sedikit buat biaya nikah :) . Tapi kalo gak nekat, maka saya akan lama untuk menikah. Itulah yang saya sampaikan kepada bunda saya ketika saya minta ijin buat nikah :)

Menikah adalah masalah yang sederhana, namun rumit. Sederhananya adalah, anda tinggal memutuskan kapan menikah. Saat lulus kuliah, atau saat usia 25 tahun, atau momen/waktu yang anda anggap saat yang tepat untuk menikah (tentunya, persiapan baik fisik, mental maupun materiil sudah disiapkan). Namun menjadi rumit ketika anda masih ragu dengan calon anda (baik yang “disodorkan” pembina anda, atau mencari sendiri), terbentur dengan kondisi keluarga (baik keluarga anda, ataupun keluarga calon anda), sampai juga pada kesiapan fisik, mental dan tentunya materiil.

Bicara masalah calon, tentunya anda sudah mempertimbangkan dengan sebaik-baiknya calon pasangan hidup anda. Menikah bukan hanya sehari atau cuma setahun, namun untuk seumur hidup. Makanya, ada sebuah pepatah berbunyi “ketinggalan pesawat menyesal satu jam, tidak naik kelas menyesal satu tahun, namun salah memilih pasangan maka akan menyesal seumur hidup”.

Tentang hal diatas, saya jadi ingat sebuah masalah yang dialami oleh salah satu teman “bunderan” istri, masalah rumah tangga tentunya. Masalah tersebut sudah berkembang terlalu jauh, sampai sang suami sudah mengultimatum teman istri saya tersebut dengan sebuah kalimat sakti “tolong dipikirkan lagi hubungan kita, karena jika terus seperti ini saya khawatir akan menyakiti kamu atau anak kita”. Singkatnya, sang suami ini sudah memperingatkan istrinya (teman istri saya) untuk berpikir tentang pernikahan mereka berdua.

Usut punya usut, ternyata saat proses taaruf mereka dulu terlalu singkat, dan langsung menikah begitu saja sampai sekarang punya anak dua. Namun dalam perjalanannya, ternyata karakter mereka berdua bertolak belakang, sehingga beberapa kali menimbulkan pertengkaran, hingga akhirnya pernah sampai dua kali melakukan pemukulan terhadap sang istri hanya karena masalah sepele.

Dalam masalah tersebut, saya hanya memberikan saran melalui istri saya, dengan kondisi yang sudah seperti itu, sebaiknya ada seorang penengah yang bisa dipercaya untuk memfasilitasi masalah yang mereka hadapi.

Saya gak mau menjustifikasi, sample diatas pun saya sampaikan sebagai sebuah pertimbangan saat memilih pasangan maka ada sebuah pemikiran yang mendalam, sehingga tidak menimbulkan masalah di kemudian hari.

Perceraian di kalangan ikhwah, mungkin jarang terdengar, namun ternyata jumlahnya ratusan atau bahkan ribuan. Saya sendiri melihatnya sebagai sebuah “hukum alam”. Disaat jumlah kader yang ada semakin banyak, maka akan berbanding lurus dengan jumlah masalah yang ada. Namun sekiranya, hal tersebut bisa diminimalisir, dengan adanya sebuah pemahaman kepada seluruh kader, bahwa menikah adalah sebuah ibadah, maka pergunakanlah kesempatan tersebut dengan niat yang baik, cara yang baik dan juga tujuan yang baik.

Kembali pada masalah nekat, di blog saya yang lama, saya sempat menulis saat dulu saya sempat berdiskusi dengan Ust. Fauzil Adhim, tentunya tentang masalah nikah. Dan sampailah pada sebuah kondisi, bahwa ust. Fauzil mengompori saya untuk segera nikah jika kesiapan yang saya punya sudah cukup.

Hal yang sering menjadi problem buat seorang ikhwan buat menikah adalah kesiapan materi. Hal yang wajar tentunya, karena sebagai seorang suami, maka mencari nafkah adalah tugas dan tanggung jawab suami. Mungkin ikhwan tersebut sudah bekerja, namun mungkin penghasilan yang di punya, hanya bisa buat hidup seorang diri, dan itupun pas-pasan lagi :) . Namun sebenarnya bukan sebuah alasan untuk menunda pernikahan. Karena Allah sendiri sudah menjanjikan, bahwa rezeki manusia sudah di jamin oleh Allah

Hal tersebut yang membuat saya juga memberii motivasi kepada seorang al akh yang Insya Allah tanggal 7 Juli besok akan menikah di Jawa. Meski saat memutuskan menikah, gajinya masih 800 ribu, sedang istri belum penempatan kerja, padahal biaya hidup di Ternate sangatlah mahal, bisa 3 kali lipat dari biaya hidup di jawa. Namun insya Allah, Allah akan menjamin rezeki setiap hamba-Nya.

Masalah yang sering dihadapi juga adalah masalah dengan keluarga, terutama dengan keluarga besar. Beberapa suku di Indonesia, keluarga besar banyak menjadi faktor dominan dalam mengambil keputusan, termasuk masalah pernikahan. Misalnya saja suku Minang alias Padang – kebetulan saya sendiri adalah orang Minang-. Bagi orang Padang, laki-laki itu “dibeli”. Sesuatu yang tidak lazim sebenarnya. Hal itu dikarenakan jika misalnya bercerai, maka laki-laki tidak berhak atas harta yang ada, ternasuk rumah (dalam hukum adat). Selain itu, kebanyakan gadis minang, diharapkan menikah dengan sesama orang padang, bahkan banyak yang dijodohkan dengan saudara sendiri (hal yang sama juga dilakukan pada orang arab di Indonesia). Hal ini bertujuan, agar harta warisan tidak jatuh ke orang lain, alias masih dalam lingkaran keluarga (dalam hukum adat minang, laki-laki tidak dapat hak waris. Hanya ada pada anak perempuan). Oleh karena itu, jika ada seorang ikhwan jawa, akan menikah dengan akhwat Minang, mungkin bisa akan lama prosesnya, karena harus berhadapan dengan keluarga besarnya terlebih dulu. (Namun dalam beberapa waktu belakangan ini, adat tersebut sudah tidak terlalu kaku lagi sehingga proses menikah lebih mudah)

Atau misalnya saja di Ternate sini. Mungkin dalam hal adat, tidak terlalu serumit seperti orang padang, namun hal yang sering menjadi masalah bagi ikhwan yang akan menikah dengan akhwat asli Ternate adalah masalah mahar atau mas kawin. Sudah menjadi adat orang Ternate, meminta mahar yang cukup memberatkan yaitu tiga ekor sapi. Jika satu sapi berharga 7 juta, maka untuk mahar saja sudah habis 21 juta. Suatu jumlah yang tentunya sangat besar bagi pihak ikhwan. Belum lagi masalah pesta, yang menjadi adat di Ternate, pesta pernikahan berlangsung mewah dan besar-besaran, selama 3 hari 3 malam, musik nonstop 24 jam. Sebuah tradisi yang mubazir sebenarnya. Makanya, tak heran banyak laki-laki ternate yang memilih nikah dengan orang jawa, hanya karena adat tadi.

Oleh karena itu, seni menghadapi keluarga besar pasangan kita sangatlah diperlukan, karena kita menikah tidak hanya dengan pasangan kita, namun saat kita menikah, maka keluarga pasangan kita juga menjadi keluarga kita

Alhamdulillah, saat saya menikah banyak hal yang dipermudah oleh Allah. Mulai dari calonnya sendiri (love u my wife :) ), dapat kerja yang lumayan bahkan ada kesempatan diangkat pegawai tetap, sampai keluarga besar yang tidak terlalu mempermasalahkan kenapa saya menikah hanya beberapa bukan setelah lulus kuliah J

Dan saya yakin, dengan niat yang baik, cara yang baik dan tujuan yang baik maka insya Allah, Allah akan mempemudah dan meridhoi pernikahan kita J

Dedicted for

1. My lovely wife :)

2. Akh Fredy yang segera menempuh hidup baru. Barakallahu laka, wabaraka alaika wajama’a bainakuma fi khoir

3. My bro and sist, everywhere – anywhere

Ditulis dalam Dari Pikiran | 2 Komentar »

PNS (lagi – lagi)

Ditulis oleh Andres Irawan di/pada Juli 3, 2007

Sebuah data disampaikan oleh Menteri PAN, Taufiq Effandi bahwa dalam 2 tahun terakhir ini pemerintah Indonesia telah memberhentikan dengan tidak hormat – memecat – lebih dari 200 orang PNS dengan berbagai macam alasan, diantaranya adalah indispliner, tidak masuk bekerja atau terkait narkoba. Berarti dalam rentang waktu tersebut, hampir setiap 3 hari pemerintah memecat satu orang PNS dari jajaran pegawai pemerintah
Memang jumlah yang tidak berarti jika di banding dengan total jumlah PNS di seluruh Indonesia. Namun yang menjadi pertanyaan adalah, jika tidak masuk kerja, indispliner dsb, buat apa jadi PNS?

Menjadi PNS memang adalah sebuah pilihan yang mudah untuk mencari pekerjaan, karena gaji yang hampir tiap tahun naik, serta kompetensi yang tidak terlalu ketat jika dibanding dengan bekerja di perusahaan swasta. Namun ada beberapa kelemahan dalam catatan saya.
Yang pertama adalah kurangnya kompetensi antar pegawai. Jika anda PNS, secara normal, setiap 4 tahun sekali anda akan naik golongan. Jika anda seorang sarjana S1, berusia 25 tahun saat menjadi PNS, maka paling apes anda akan pensiun pada golongan IV/A, yang mana mungkin saja anda sudah menjadi kepala dinas kabupaten / kota. Berbeda halnya jika ada kompetensi antara pegawai, sehingga memunculkan persaingan – tentunya persaingan yang sehat – antar pegawai. Sehingga tentu saja karena ada kompetensi, maka akan dihasilkan pimpinan yang profesional dan berintegritas tinggi, bukan pimpinan yang menjabat karena golongannya yang tinggi.

Yang kedua adalah penyerapan rekrutmen PNS yang tidak profesional. Bukan rahasia jika banyak pejabat yang “menitipkan” anaknya pada sebuah institusi tertentu untuk menjadi PNS di institusi tersebut. Belum lagi orang-orang berduit yang bersedia membayar jutaan rupiah, agar keluarga atau anaknya bisa menjadi PNS. Hal ini menimbulkan kondisi dimana seorang PNS tersebut terlalu mudah untuk mendapatkan posisi sebagai PNS, padahal jika saja dilakukan rekrutmen yang jujur, bisa jadi orang lain lebih layak mengisi posisi anak pejabat tersebut.

Yang ketiga adalah sikap profesionalisme PNS. Saya gak perlu melihat jauh, di sekitar Ternate ini, banyak fenomena yang saya amati. Bukan sekali dua kali, saat saya belanja di pasar atau swalayan di Ternate, saya mendapati PNS dengan seragam dinasnya asyik makan atau belanja, padahal waktu masih menunjukkan jam 11 siang alias jam produktif. Itupun juga tidak satu atau dua orang, namun banyak orang yang mengenakan seragam dinas PNS, saat jam kantor justru keluyuran di pasar atau pusat pertokoan.

Belum lagi waktu kerja yang terbilang singkat. Di Ternate (atau Maluku Utara pada umumnya), jam kantor mestinya dimulai jam 8 pagi dan berakhir jam 5 sore hari (sesuai standar jam kerja nasional, 40 jam seminggu). Namun dengan alasan perbedaan waktu dengan pemerintah pusat, tak jarang kantor baru dipenuhi pegawai jam 9 pagi. Dan jangan harap jam 2 siang anda masih bisa mengurus keperluan anda pada kantor tersebut, karena jam tersebut rata-rata kantor sudah kosong pegawainya.

Beberapa faktor diatas bisa jadi cukup banyak mempengaruhi kinerja PNS dalam pelaksanaan tugasnya. Mestinya, pemerintah paling tidak bisa membenahi sistem yang selama ini diterapkan agar kedepannya dapat meningkatkan kinerja dari PNS.

Masak gak malu, digaji dari uang rakyat tapi gak ada kerja buat rakyat

Ditulis dalam Dari Pikiran | 2 Komentar »