Melintasi Batas Kesunyian

Merenungi Hidup…..Dengan Segala Macam Hikmahnya

Arsip untuk Desember, 2007

Keterbatasan (Khusus PLN)

Ditulis oleh Andres Irawan di/pada Desember 31, 2007

Hidup di daerah kepulauan maka anda harus membiasakan diri dengan segala keterbatasan. Mulai dari keterbatasan sarana transportasi, dimana jika anda tinggal di Jawa, maka anda bisa kemana saja menggunakan kendaraan umum, atau jika punya sepeda motor maka anda bisa langsung mengendarainya, namun sarana transportasi di daerah kepulauan tentu saja dengan menggunakan kapal laut, dan jumlahnya terbatas. Sebagai contoh, ketika ingin pergi dari Pulau Bacan (Halmahera Selatan) ke Ternate, maka hanya bisa ditempuh dengan kapal di malam hari selama 8 jam perjalanan. Sebenarnya ada juga kapal cepat yang beroperasi 2 hari sekali, namun  butuh biaya 2 x lipat dari kapal biasa.

Keterbatasan yang lain adalah barang konsumsi. Di daerah kepulauan, tentu saja barang konsumsi menjadi barang yang mahal, karena barang-barang tersebut harus di kirim dari daerah lain, dan tentu saja selain waktu yang lebih lama dalam pengiriman, sarana transportasi laut juga membuat harga menjadi lebih mahal karena biaya kirim yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan sarana angkutan darat. Kalo anda mau tau, telur satu butir di Ternate berkisar 900 rupiah. Jadi kalo 1 kg (±16 butir, maka anda mesti mengeluarkan uang sekitar 14 ribu rupiah. Bandingkan dengan harga telur di Jawa yang hanya berkisar 9 – 10 ribu/kg

Dan keterbatasan yang lain adalah soal sumber energy alam. Karena jarang ada sungai, dengan arus yang baik, maka satu-satunya tenaga pembangkit listrik yang bisa di andalkan adalah tenaga diesel. PLN kota Ternate, memiliki beberapa generator listrik yang digerakkan oleh mesin diesel yang berbahan bakar solar. Namun, ternyata itu tidak menjadikan listrik di Ternate menjadi “aman”

Jika anda tinggal di daerah yang PLN nya menggunakan tenaga diesel, maka bersiaplah untuk mengalami seringnya mati lampu. Hampir setiap minggu di Ternate, mengalami pemadaman bergilir yang berkisar 5-6 jam setiap pemadaman. Suatu hal yang aneh, karena alasan yang digunakan adalah perawatan. Apakah setiap minggu jaringan listrik PLN pada satu daerah mesti dirawat?

Saya mengerti jika memakai suatu barang, maka aka nada masa perawatan, namun jika setiap minggu harus melakukan perawatan, maka itu adalah sesuatu yang tidak wajar. Namun  kemudian saya baru tahu bahwa alasan pemadaman tersebut, bukanlah soal perawatan, akan tetapi PLN tidak mau mengakui bahwa sebenarnya dia tidak mampu memberikan daya yang cukup bagi kebutuhan listrik untuk masyarakat, sehingga harus diadakan pemadaman bergilir.

Di Bacan, lebih parah lagi. Sejak bulan November 2007, setiap 3 hari sekali dilakukan pemadaman bergilir sejak jam 4 sore sampai jam 12 malam. Hal ini dikarenakan rusaknya salah satu generator listrik yang dimiliki PLN Bacan, sehingga hanya satu dari dua generator yang bisa membangkitkan aliran listrik. Akibatnya, jika tidak dilakukan pemadaman bergilir maka PLN tidak mampu memenuhi permintaan daya listrik masyarakat. Dan saya tidak tahu akan sampai kapan begini, karena janjinya bulan desember sudah akan normal, namun masih tetap saja terjadi pemadaman bergilir.

Padahal, asal anda tahu saja, biaya BBM untuk PLN di Bacan menghabiskan biaya 1 M/bulan. Jika kita kalkulasikan dengan biaya solar industri yang berharga 6 ribu/liter, maka akan kita dapatkan angka dalam sebulan PLN menghabiskan lebih dari 160 ribu liter/bulan. Mungkin angka yang kecil bagi anda, namun kalikan saja dengan pertahunnya, kemudian ada berapa daerah kepulauan yang menggunakan cara yang sama dalam memenuhi kebutuhan listriknya.

Bagi saya, itu adalah jumlah yang sangat besar, baik dari soal harga yang mesti di bayar ke Pertamina sebagai pemasok BBM, juga bentuk pemborosan BBM yang kita tahu bahwa suatu saat nanti BBM yang berasal dari fosil akan habis. Lalu jika BBM yang berasal dari fosil ini habis, bagaimana untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar generator listrik?

Makanya tak heran, jika PLN mempunyai hutang yang sangat besar ke beberapa pihak. Dua minggu lalu, saya membaca running text di Metro TV yang menyatakan PLN mempunyai tunggakan pembayaran alias hutang di Indonesia Power sebesar 10 Trilyun. Jumlah yang sangat besar memang, belum lagi jika ditambahkan hutang PLN kepada Pertamina dan perusahaan lainnya.

Namun anehnya, meskipun merugi setiap tahunnya, Pemerintah seakan tidak peduli dengan hal tersebut. Tidak ada langkah yang jelas untuk mencari alternative lain dalam memberikan sumber daya energy bagi masyarakat. Padahal, justru perusahaan yang menjadi penanggung jawab pembangkir energy, hanya bisa menghasilkan utang, akan tetapi dari segi pelayanannya sama sekali tidak memuaskan, sering padam lampu, jaringa rusak dan masih banyak hal lain yang seharusnya kita sebagai konsumen, berhak complain atas gangguan listrik yang kita terima.

Asal anda tahu saja, jika anda menjadi seorang Pegawai PLN dengan pendidikan S1, saat anda diterima bekerja, anda akan menjalani On Job Training (OJT) selama 6 bulan. Selama 6 bulan tersebut, anda hanya akan mendapat uang saku sebesar 1,6 juta rupiah. Namun setelah 6 bulan OJT dan anda dinyatakan lulus sebagai pegawai, otomotis gaji anda akan langsung menjadi 4,3 juta rupiah. Sebuah angka yang sangat besar menurut saya, jika di bandingkan layanan PLN yang sama sekali jauh dari memuaskan. Makanya tidak heran banyak orang yang berlomba-lomba jadi pegawai PLN, bayarannya gede soalnya.

Saya sendiri sempat tertegun, ketika sebuah iklan di TV berisi sebuah tekad dari PLN pada  tahun 2040 (atau 2020 ya?) menjadikan 100% wilayah di Indonesia akan teraliri listrik. Sebuah proyek yang semestinya adalah kewajiban pemerintah dalam hal ini PLN untuk menyediakan pelayanan bagi semua warga negaranya. Namun dengan melihat kenyataan yang ada sekarang, saya jutru pesimistis dengan hal tersebut.

Ada beberapa hal yang membuat saya mempunyai pemikiran pesimis, yang pertama bahwa wilayah kita adalah kepulauan. Untuk pulau besar seperti Jawa, Sumatra, Sulawesi mungkin tidak ada masalah, namun untuk daerah yang terdiri dari banyak pulau kecil, dengan cara apa PLN akan mengaliri listrik? Apakah dengan diesel juga? Padahal diperkirakan BBM fosil sebagai bahan bakar diesel, di Indonesia akan habis sekitar 30 tahun lagi. Berarti tahun 2040 Indonesia bisa mengalami krisis BBM (kecuali jika BBM dari bahan organic, yaitu : tumbuhan jarak dan kelapa sawit sudah diproduksi massal). Jika BBM tidak ada, maka diesel tidak bisa menyala.

Yang kedua, butuh biaya besar jika mengalirkan listrik antar pulau, karena harus dibangun kabel bawah laut yang tentu saja investasi yang sangat besar nilainya. Belum lagi resiko bahwa kabel yang bermuatan listrik tegangan tinggi, lebih mudah rusak dibandingkan kabel serat optic yang berisikan data untuk telekomunikasi dan internet.

Sudah semestinya, dicari alternative pembangkit listrik. Saya pernah melihat tayangan SCTV, di Sumbawa PLN setempat sudah menggunakan tenaga angin sebagai pembangkit listrik, dan hasilnya menghemat biaya  bahan bakar sampai 30 %. Sudah semestinya hal – hal positif tersebut diterapkan oleh PLN di daerah lain.

Jadi, jika memang bertekad menjadikan tahun 2040 Indonesiaa 100% teraliri listrik, harus ada langkah kongkrit dari PLN. Sudah semestinya PLN menjadi Perusahaan Laba Negara, bukan lagi Perusahaan Licik Negara

 

Ditulis dalam Dari Pikiran | 1 Komentar »

Happy b’day for us….. my wife

Ditulis oleh Andres Irawan di/pada Desember 24, 2007

Hari ini, tanggal 24 desember setahun yang lalu.

Mungkin hari yang biasa bagi orang lain, namun bagiku, adalah hari dimana aku melepas masa lajangku. Iya, tepat sekali. Setahun yang lalu aku menikah dengan seorang wanita yang ku yakini adalah wanita yang ditakdirkan untuk menemani hidupku

Meski sempat tertatih dalam masa awal menikah, namun setahun ternyata sudah berlalu. Dan Alhamdulillah, kami melaluinya dengan baik. Terlepas dari adanya masalah yang menerpa dalam rumah tangga, pertengkaran-pertengkaran kecil yang masih dalam batas kewajaran, dimana ketika dua kepala dengan ego yang berbeda mencoba bersatu dan mempersatukan diri, maka akan muncul gesekan-gesekan kecil dalam dinamikanya :) . Dan itu wajar kok, dijamin tidak ada sebuah keluarga tanpa adanya gesekan-gesekan kecil antara suami dan istri hehehe :)

Aku anak bungsu, maka tergolong manja. Sedangkan istri adalah anak tunggal yang keras dan mandiri. Tentu saja, karakter kami yang berbeda membuat kami harus bekerja keras memahami pasangan kami. Namun disitulah keasyikannya, kami jadi terus belajar dan mencoba menggali sifat-sifat tersembunyi dari kami setiap harinya, dan selalu ditemukan hal-hal unik diantara kami :)

Menikah dengan istri, mungkin adalah satu keputusan terbesar dalam hidupku. Apakah dia orang yang tepat untuk kita? Pertanyaan yang pernah terlontarkan oleh salah satu sahabat saya ketika bertemu dengannya. Dulu saya gak bisa menjawab, mungkin sekarang saya juga belum bisa menjawab. Namun saya percaya, bahwa setiap manusia ditakdirkan untuk memiliki pasangan masing-masing. Dan Allah sendiri telah memperintahkan kita untuk berkelompok dan berpasangan, dan jodoh adalah salah satu rahasia-Nya. Saya percaya, jika menikah adalah ibadah, maka pilihan kita juga merupakan ibadah.

Allah mempertemukan Rasulullah dengan Bunda Khatidjah, itu adalah sebuah garis hidup dari Rasul. Sama dengan ketika Allah menjadikan Hawa sebagai pendamping Nabi Adam. Dan saya percaya, Allah pula telah mengirimkan istri kepada saya.

Menikah adalah sebuah janji dalam hidup, ketika kita bersedia untuk berbagi hati dengan pasangan kita. Bukan hanya itu saja, namun menikah menjadikan kita memasuki babak baru dalam kehidupan, ketika kita harus memperhatikan pasangan, menemani pasangan, sampai pula dicemburui oleh pasangan kita :)

Namun itulah dinamika dalam sebuah pernikahan. Dengan itu pula kita belajar mengerti bahwa hakekat ibadah adalah untuk ibadah, bukan hanya sebagai permintaan orang tua untuk punya cucu, bukan pula hanya sekedar pelampiasan hasrat kita. Namu menikah, adalah bagaimana kita melihat kebaikan pasangan kita sebagai kebaikan kita, dan menjadikan keburukan pasangan kita sebagai keburukan kita pula. Dan dengan menikah pula, maka kita akan belajar untuk menhadapi semua, untuk terus meningkatkan kebaikan untuk mengurangi sisi buruk kita :)

Setahun menikah dengan istri, adalah sebuah ibadah dalam hidupku. Banyak hal yang kami dapatkan bersama. Saya menjadi dosen, tak akan mungkin jika kami masih dijawa. Pun dapat berjalan-jalan ke Indonesia Timur, mungkin juga tak akan terlaksana jika kami tidak menikah :) . Terlalu banyak anugerah Allah yang telah diberikan kepada kami, sehingga tak dapat kami sebut satu persatu. Mungkin, harapan kami terbesar adalah Allah bersedia mendengar doa kami, untuk mendapatkan keturunan (Amin…!!!)

Menikah adalah sebuah tanggung jawab dan janji yang kita ucapkan bukan hanya kepada Allah, namun pada semua undangan yang hadir di akad nikah kita. Dan kami berdua berharap dan berdoa, semoga kami dapat menjalani mahligai rumah tangga ini dengan baik, sampai Allah memanggil kami kembali ke sampingNya

 

 

(for my wife, maafin abang yang belum bisa menjadi suami yang baik buat dek. Tetep istiqomah dan ridho pada kehendak Nya ya!, semoga doa kita untuk mendapatkan momongan, segera didengar oleh Nya. Love u :) )

 

Ditulis dalam Dari Hati | 4 Komentar »

1st…..

Ditulis oleh Andres Irawan di/pada Desember 24, 2007

Mawar sangat indah, namun berduri tajam

Anggrek mempesona namun begitu manja

Melati harum mewangi namun mudah kotor

Tulip bersinar mengkilau namun akan pudar

 

Engkau bukanlah mawar atau anggrek

Engkau bukan pula melati atau tulip

Engkau memang berbeda

Engkau adalah matahari

 

Engkau yang memperindah hari tanpa melukai

Engkau yang mempesona diri dengan kemandirian

Engkau yang mengharumkan langkah tanpa habis

Engkau yang menerangi jalan tanpa henti

 

Engkaulah matahari

Engkaulah bungaku selamanya

Engkaulah…..

Bidadariku

 

(dedicted for my lovely wife)

Happy anniversary my honey

Hari ini, tepat setahun kita menikah. Semoga Allah selalu meridhoi langkah kita dalam membangun mahligai rumah tangga. Love u J

Ditulis dalam Dari Hati | Leave a Comment »

SETIAP JALAN PASTI ADA KERIKIL YANG MENGGANGGU!

Ditulis oleh Andres Irawan di/pada Desember 21, 2007

SETIAP JALAN PASTI ADA KERIKIL YANG MENGGANGGU!

Tak terasa hampir 6 bulan aku tinggal di Halmahera Selatan. Sebuah wilayah yang sangat indah, dengan begitu banyaknya potensi SDA yang tersimpan dalam kandungan buminya. Dan itu juga berarti hampir 6 bulan aku menjadi sebuah bagian dari Perguruan Tinggi, menjadi Biro Adm. Umum sekaligus mengasuh 2 mata kuliah sekaligus J

Ketika kita memutuskan untuk menempuh sebuah jalan hidup, maka kita juga akan menemui begitu banyak masalah yang akan kita hadapi di jalan tersebut. Bukan berarti rintangan, namun memang setiap jalan hidup yang kita tempuh pasti akan mendapatkan berbagai macam rintangan, namun jadikan saja itu sebagai sebuah tantangan J

Pada awalnya, aku merasa nyaman untuk menjadi bagian dari sebuah Perguruan Tinggi. Terlebih, karena Yayasan yang menaungi adalah Yayasan “ikhwah”. Namun, dengan berjalannya waktu aku dihadapkan pada berbagai masalah yang sejujurnya adalah masalah umum yang akan dihadapi oleh semua orang yang baru menjejakkan kaki di Indonesia Timur (Intim). Kemalasan, tanggungjawab dan kedisipilinan.

Dimulai dengan tidak aktifnya Pembantu Ketua (PK) I, Bidang Akademik. Meskipun di awal pendirian kampus yang bersangkutan menyatakan diri sanggup untuk menjadi PK I, namun kenyataannya malah tidak pernah hadir di kampus sama sekali. Bahkan tanggungjawab untuk memberikan kuliah sama sekali tidak dilaksanakan. Yang pada akhirnya, selama 7 pekan mahasiswa tidak mendapatkan kuliah tersebut alias kosong. Akhirnya, meski cukup terlambat, namun kuliah tersebut aku ambil alih.

Masalah lain yang muncul adalah tidak berjalannya banyak struktur organisasi di kampus. Aku yang sebenarnya tidak masuk dalam struktur, akhirnya mengambil alih banyak tugas akademik. Dan tentu saja, karena selain ngajar aku juga mesti ngurus akademik, maka ada beberapa masalah yang muncul.

Akhirnya,pada suatu saat, sampailah pada titik kesabaran terendah ketika muncul sikap ku yang menyampaikan ketidakpuasan atas kerja bagian akademik yang tidak masuk sama sekali dalam perkuliahan. Dan tahukah apa yang terjadi?

Yang ada datanglah “oknum” akademik yang dengan emosional melampiaskan kemarahan kepada ku seraya menundingku sebagai orang yang sombong, baru kerja sedikit sudah capek, padahal dia kerja ngurusin masalah kampus dulu (padahal, setahu ku kampus dulu tidak pernah ada aktifitas kuliah sama sekali). Dan bukan hanya itu saja, sikap yang arogan dengan tidak mau menerima penjelasan, bahkan ketika aku berusaha tetap berbicara justru “oknum” tersebut mengancam untuk melempar kursi dan meja kepadaku, justru membuat aku berfikir. Bukankah kami saat itu ada di wilayah kampus, dimana otak dan logika lebih dipakai dari pada otot dan fisik? Bukankah kampus menjunjung tinggi kebebasan berpendapat dan berargumentasi selama masih disampaikan dalam batas kesopanan dan kewajaran? Jadi, apakah “oknum” yang aku hadapi ini adalah orang akademik atau preman?

Dan lebih anehnya, setelah marah-marah, justru dia kemudian duduk bersama mahasiswa di pelataran dan dengan bangga menceritakan dirinya baru saja melabrak serta mengancamku. Jadi, bisa dikatakan dengan kiasan kepada para mahasiswa, dia mengaku sebagai preman, bukan kalangan akademik.

Belum lagi arah pembicaraan yang menudingku sebagai “orang luar” yayasan, bukan kalangan keluarga besar yayasan yang memang yayasan tersebut didirikan oleh salah satu tokoh yang cukup terkenal di Maluku Utara. Aku adalah pendatang, bukan saudara sehingga tidak berhak mengurusi kampus yang didirikan yayasan, dan dia karena masih terhitung saudara, maka lebih berhak mengelola yayasan.

Sempat jengkel juga dengan hal tersebut, bahkan aku sampai sudah buat surat pengunduran diri, yang tinggal diberikan kepada Ketua. Namun setelah berdiskusi dengan ketua, akhirnya ketua meminta aku tetap bertahan, dan tidak mendengarkan omongan-omongan yang dilontarkan oleh “oknum” tersebut. Okelah, akhirnya aku menganggap, itulah kerikil yang ada di jalan yang aku tempuh saat ini.

Well…. Itulah permasalah yang akan anda hadapi jika bekerja di Intim, SDM yang belum siap untuk maju, belum siap dengan tanggungjawab dan kedisiplinan dalam menerima amanah

Ditulis dalam Dari Hari | 4 Komentar »