i still believe in u

“ndres, xxx semakin jauh, piye iki?”

“Akhi Fauzi, ini benar2 permintaan yang amat sangat, akhi xxx kondisinya sedang sangat kecewa terhadap sikap jamaah, mungkinantum paham beliau (sms dari seorang akhwat”

itulah dua sms yang aku terima dua malam yang lalu, pas pulsa lagi cekak dan juga pikiran ngeluw ngerjain proposal skrip yang gak beres-beres.

Fauzi, saudara ku yang dipertemukan Allah saat aku di SMU, saudara yang bisa dibilang bagaikan kakak kandungku sendiri, orang yang banyak merubah “jalan hidupku” dari bernadalan dan tukan bikin onar, menjadi sedikit mengenal Islam meski karakter “bengal” nya masih nampak walau dah jadi ikhwan 🙂

sms yang sangat mengganggu hatiku, karena ada satu lagi yang bagaikan sodara sendiri bagiku, yaitu ikhwan yang menjadi topik di sms tersebut. bersama Fauzi, kami bertiga bisa dibilang “kader” yang bertahan sejak SMA sampai kuliah dan kemudian disusul oleh temen2 yang lain yang mulai “ngaji” saat menginjak bangku kuliah
Fauzi sendiri menjadi Salah satu pembesar di Majelis Syuro UNS, aku sendiri sempat menjadi sekum SKI sebelum hengkang menjadi ketua Komsat dan juga Kastrat KAMMI Daerah Jember, sedang xxx sendiri juga sempat menjadi ketua komsat di sebuah kampus di yogyakarta dan sempet masuk jajaran pengurus KAMMI Daerah Jogja. dari kami bertiga sebenarnya dialah yang paling mempunyai jiwa organisasi, jago orasi dan akalnya jalan, sedang aku adalah orang lapangan yang agresif dan mobilitas tinggi, sedang Fauzi adalah pemikir yang jempolan dan menjadi “pendingin” bagi kami berdua

Aku jadi ingat sms dari Yuni, akhwat temen SMA ku yang sering disilaturahimi oleh xxx, dia sempet mengabarkan kondisi xxx yang sekarang sering jalan bareng sama akhwat, terlebih setelah mendapat fasilitas mobil dari ortunya.

Hal ini bermula ketidakpuasan saat xxx merasa di”kalahkan” secara rekayasa pada saat pemilihan ketua Organisasi, dan ternyata ini karena “pesanan” para ustad2 di sana. dab hal ini memicu ketidakpercayaannya terhadap jamaah, dan membuat dia mundur dari aktifitas organisai tersebut.
Aku sempet terkejut mendapatkan berita tersebut, namun aku coba untuk terus menyemangatinya meski aku gak tau caranya
Cukup lama… berita itu berlalu, dan aku pikir itu sudah normal kembali

ternyata….
hal ini muncul lagi saat sms yang aku terima malam itu

Ada pertanyaan yang kemudian menggayut dalam benakku

Apakah idealisme, cita2 dan juga semangat juang akan pudar saat ternyata kita mendapatkan ujian dan cobaan didalamnya
Ataukah…

kita harus mengakui keberadaan “kekuatan” lain yang mengendalikan sebuah pergantian kekuasaan?

Aku gak menyalahkan temenku, saat dia kecewa terhadap jamaah. hanya menyayangkan imbas dari kekecewaan tersebut berpengaurh negatif terhadap aktifitasnya

mungkin aku juga sama, pemberontak yang sering mengambil jalur melawan arus terhadap keputusan jamaah, sama-sama pembangkang (meski aku pembangkang yang taat) untuk mengambil sudut pandang lain dalam melihat sebuah kasus. tapi meski begitu, meski dilabeli status pemberontak dan pembangkang, aku masih ingin menjadi seoarang “jundi” yang berarti dalam jamaah ini. jadi inget ucapannya K’Adewiyah di jakarta sono, akhwat yang kayak kakak sendiri bagiku, “meski aku berbeda dengan yang lain, aku masih ingin jadi jundi yang baik di jamaah ini”

So…
meski aku sedih atas keberadaanmu my brother
i still believe in u

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: