fenomena sinetron Indonesia

Kemarin saya baru melihat sebuah sinetron di suatu saluran TV swasta. Sebuah sinetron religius yang menggambarkan suatu fenomena yang terjadi di masyarakat, misalnya suatu pengajian, atau ibadah seseorang. Dan kemudian diselipkan suatu konflik dimana terjadi “penyimpangan� dikarenakan tidak beriman dan bertawakal kepada Allah

Sinetron yang saya lihat kemarin itu, menceritakan tentang tipu daya syaithan yang menggoda seorang kyai yang notabene menjadi pemuka agama yang terperangkap dalam bisikan syaithan untuk memenuhi nafsu syahwatnya. Dimana sang kyai tersebut yang pada awalnya mengajari seorang remaja putri tentang agama, namun akhirnya pada suatu hari, mereka terlibat dalam hubungan badan. Lalu dengan bujukan syaithan pula sang kyai tersebut akhirnya membunuh remaja putri tersebut. Sewaktu iklan, saya sempatkan untuk melihat saluran lainnya, tidak tahunya di stasiun TV lain juga menyiarkan sinetron yang sama, bernafaskan religi. Hanya ceritanya saja yang berbeda. Kali ini tentang orang bodoh yang menjadi sahabat syaithan.

Saya tidak akan mempermasalahkan cerita dari masing-masing sinetron tersebut, tapi saya akan mencoba menganalisa bagaimana maraknya sinetron-sinetron Islami di berbagai stasiun TV. Coba saja kita amati, hampir semua TV berlomba menyajikan sinetron religi. Ada yang diangkat dari kisah nyata, semisal majalah Ghoib, ada juga yang berdasarkan cerita orang-orang, cerita pendek suatu majalah Islami atau juga scenario dari pihak produser.

Sungguh, saya bangga melihat maraknya nuansa islami di berbagai TV saat ini, tidak hanya pas saat bulan Ramadhan saja kita disuguhi sajian religi, namun sepanjang minggu kita akan melihat cerita-cerita yang menyentuh hati. Saya jadi ingat saat TV masih hanya TVRI, RCTI, SCTV dan TPI sangat jarang sekali melihat sajian islami. Dan saat ini kita dengan mudah memilih acara-acara yang baik buat menyegarkan keimanan kita.

Terlepas masih banyaknya kekurangan dalam sinetron seperti cerita yang kurang masuk akal, ataupun saya yakin kalo pemain yang berperan disana bukan mahrom yang mana banyak adegan yang mereka berpelukan, bergandengan tangan dan lain-lain, namun paling tidak itu bisa menjadi tontonan alternative bagi kita semua, dari pada ngelihatin sinteron-sinetron yang menjual mimpi buatannya Production House (PH) saat ini yang hanya mengejar keuntungan semata, atau sinetron-sinetron tentang ABG yang ngajarin pacaranlah, foya-foyalah, berantem antar temenlah dan lain-lain, yang mana tentunya bikin “panas” mata

Tapi kemudian sempat terlintas dalam pikiran saya bahwa maraknya sinteron islami tersebut merupakan imbas atau mungkin bahasa kasarnya adalah jelinya para PH melihat peluang untuk memasarkan sinetron islami. Kita lihat saja seperti sinetron “Titipan Illahiâ€? di sebuah TV swasta yang dibintangi Anjas dan Tia Ivanka, yang sebenarnya merupakan kelanjutan dari sinteron yang sama pada saat bulan ramadhan lalu. Setelah sinteron tersebut mendapatkan rating yang tinggi (mampu mengalahkan sinetron “Adam-Hawa” di stasiun TV swasta lain yang mempunyai jam tayang yang hampir sama) serta mendapatkan penghargaan sebagai acara Ramadhan terfavorit, Raam Punjabi selaku produser tentunya melihat ini sebagai peluang untuk mendapatkan keuntungan dengan melanjutkan produksi sinetron tersebut, meskipun memang itu hak dia selaku produser. Tapi tentu saja, ceritanyapun jadi sangat jauh dari nuansa islami, meski terkadang dipaksakan agar penonton menganggap bahwa sinetron tersebut tetap Islami. Jalan ceritapun juga kembali “back to basic” alias jualan mimpi dan kemewahan lagi seperti biasanya.

Itu baru satu sinetron, padahal masih banyak lagi sinetron lainnya yang mungkin sama seperti sinetron diatas. Belum lagi adalah opini yang bisa beredar bahwa orang Islam itu bodoh-bodoh, juga gila harta atau lainnya.

Mungkin kita harus sabar untuk menyaksikan film dengan nuansa Islami yang kental seperti Fatahillah dengan bang Igo sebagai pemeran utamanya. Atau juga script yang ditulis oleh Mbak Asma Nadia yang pernah disiarin di FTV

So… pada kesimpulannya, saya sepakat aja, selama sinteron islami tersebut berpengaruh positif terhadap perkembangan dakwah. Dan tentunya hal ini jadi PR yang teramat besar bagi kaum dai yang berkecimpung di dakwah sinematografi. Kita harus banyak memunculkan banyak Chairul Umam baru untuk menyutradarai film-film Islami, juga penulis-penulis scenario yang mengembangkan dakwah Islami yang utuh. Sudah saatnya sineas-sineas Islami mulai berperan dalam mengambil porsi dakwah yang lebih banyak.

Dan dilain pihak, kita selaku konsumen, tentunya jangan mau hanya jadi obyek garapan para PH saja. Kita harus memilih tayangan yang memang sesuai untuk kita dan juga sebaiknya meningkatkan keimanan kita. Jadi, maju terus dakwah sinematografi Indonesia!

Iklan

One comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: