Planet Footbal

Memang benar, kalo ada istilah bahwa sepak bola adalah olahraga yang sangat merakyat. Pun demikian aku juga, meskipun memilih Basket sebagai eskul saat awal-awal kuliah, namun akhirnya masuk juga ke tim football fakultas

Dengan tinggi badan 180 centimeter, memang menjadikan aku memiliki postur tubuh yang tinggi menjulang dibanding dengan teman-teman lainnya. Makanya itu pula, aku memilih posisi sebagai Penjaga Gawang alias Kiper. meninggalkan posisi sebagai bek kiri yang pernah aku jalanin selama masih SMA

Dan ternyata emang gak memalukan, penampilan perdanaku bisa membawa Tim Fakultas Pertanian menjadi juara II Maba Cup. Dan selanjutnya bisa membawa Tim FP menjadi Juara I Rektor Cup. Di ajang Rektor Cup ini, aku resmi ditasbihkan sebagai Kiper spealis Adu penalti. Karena di babak Semi final dan Final, mampu menghadang tembakan algojo lawan. Dan memang dengan jangkaun tangan yang cukup panjang serta naluri menebak arah bola berdasar dari gaya berat tubuh sang penendang membuat aku mendapatkan julukan tersebut.

Tapi tentunya aku tanpa kelemahan. Dengan pengelihatan yang terpaksa menggunakan kacamata minus 2,5 membuat aku cukup riskan main sore hari, terlebih menjelang maghrib, karena bola menjadi tidak nampak. Dan itu aku sadari, makanya biasanya aku sering minta main jam pertama yaitu jam 14:30 agar saat itu matahari masih bersinar, sehingga bola masih kelihatan

Tapi tahukah anda semua, jika mungkin pakaian atau kostumku sebagai Kiper, sering membuat orang heran. Sebagai seorang yang mengerti batas aurat seoarang laki-laki, tentunya aku tahu kalo dengkul alias lututku tidak boleh dikonsumsi orang ramai. Tapi sebagai pemain bola, tentunya pakai celana pendek. Memang ada kelonggaran sebagai Kiper untuk pakai celana panjang, atau bahkan training. Tapi jujur saja, aku gak nyaman pake training, karena gerah, juga berat, apalagi kalo maen pas hujan. Akhirnya aku keluar akal. Aku beli celana senam buat cewek, yang ketat alias full pressed body, sepanjang 3/4 kaki, yang kemudian aku padukan dengan kaos kaki panjang sampai atas lutu, dan kemudian di lutut aku tutup pake “deker”. Penampilan itu membuat aku dari leher sampai ujung kaki tertutup rapat, dan terus dengan rambut gondrong yang diselipi bandana membuat temen-temen bilang lebih pantas jadi rocker dari pada maen bola. But, its oke kok. Bukankah arena lapangan hijau juga bisa jadi arena “caltwalk” dengan berpakain dan bergaya lain dari yang lain, meski tetep syari’

Prestasi sebagai tim juara Rektor Cup membuat tim kami cukup dikenal sehingga beberapa kali diundang main dengan tim lain. Seperti di foto, itu kami maen di sebuah desa di lereng gunung Ijen. Dan tahukah anda, jika oksigen disana cukup tipis, membuat kami lebih cepat lelah, selain dingin, juga lembab, tapi yang penting, kami bisa enjoy melihat pemandangan yang Subhanallah, sangat indah sekali

Well…itulah sedikit pengalamanku, mungkin bisa berguna sebagai cerita buat anak cucuku suatu saat ntar. Semoga saja!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: