Keseimbangan

Gak kerasa, udah hampir dua minggu lamanya aku hiatus..blogku gak ada updatean sama sekali, paling cuman nyamperin liat ada yang ngisi SB or gak. Dan baru tadi siang habis chatting ama Kang Funs, ditanyain kok gak update lagi sih?

Bicara tentang update…semestinya banyak hal yang bisa aku tulis saat ini, tentang diri sendiri, renungan disekitar ku atau juga peristiwa dalam skala global semisal tentang opini politik pemerintahan atau juga sistem rancang kritik social. Tapi..kali ini ini aku pengen mengangkat sebuah sisi gelap.

Malam jumat lalu, aku sengaja nongkrong dialun-alun. Aku tau persis kalo malam hari alun-alun akan ramai dengan aneka macam penjual makanan dan minuman yang mesti dipadatin pembeli. Tapi aku sih cuek saja. Dulu biasanya suka nongkrong didepan masjid raya selepas maghrib sampai jam 11an gitu deh. Malah sekitar 2 tahun lalu, hampir tiap minggu ada satu malam dimana aku nongkrong di alun-alun. Tapi kalo yang ini emang statusnya WAJIB, soalnya emang “bunderan”nya di alun-alun kok he3 (emang bunderan apa sih? Yang pasti hanya orang yang melakukannya tiap minggu yang tau)

Sehabis pesan makanan dan minuman, aku ngambil salah satu tempat duduk di lesehan yang telah disediakan. Disampingku udah ada dua orang “cewek” dengan dandanan yang cukup menor dan baju full pressed body. Aku sih mikirnya cuek aja, apa urusanku dengan mereka. Nah..lagi asyik bengong nungguin makanan, gak taunya ada suara “berat” yang menyapaku, dan tau gak..ternyata suara “berat” itu berasal dari “cewek” yang duduk disebelahku. Waaaa…… ternyata mereka banci yang lagi nyari mangsa, emang aku cowok apaan he3.

Tapi aku sih cuek aja, lha wong emang gak ngerasa terganggu kok. Dan emang, asli deh…sempet ketipu juga dengan penampilan mereka, mirip banget sama cewek. Kali aja kalo ada pemilihan ratu Waria, mungkin mas eh mbak yang ada disebelahku itu pantes jadi pemenang he he he

Bicara tentang waria, jadi ingat kalo aku punya seseorang yang biasa aku panggil “om Temon” dia ini waria yang aku kenal sejak kecil, karena tetanggaku saat masih tinggal di kawasan Jajar, Solo. Dulu aku sering bingung, kok om ku yang satu ini sering dandan kayak cewek, gak taunya emang banci.

Kemudian jadi ingat juga, tentang aksi yang dilakukan oleh temen-temen di FPI (kalo gak salah) yang merangsek masuk disebuah tempat yang digunakan sebagai pemilihan Ratu waria. Teman-teman FPI berusaha membubarkan acara tersebut dengan alas an adalah acara yang mudharat dan gak sesuai syariat. Disisi lain, sempet terjadi bentrok dengan aparat kepolisian dan keamanan setempat dengan aksi yang dilakukan oleh temen-temen FPI tersebut.

Lalu jadi ingat lagunya Project Pop yang judulnya “jangan ganggu banci”, sebuah lagu yang secara nyata menunjukkan pembelaan terhadap para banci dan waria yang ada di sekitar kita.

Saya gak mau terjebak dengn polemik pro-kontra banci, tapi paling nggak saya berfikir bahwa bagaimanapun juga waria adalah seorang makhluk hidup yang layak dapat yang semesetinya diperoleh. Namun dengan “perbedaan’ dalam kejiwaannya memang menyebabkan adanya gesekan dengan kultur social budaya disekitar kita. Alangkah bijaknya jika kita semestinya menghormati mereka (para banci) sebagai manusia dan disisi lain juga semestinya juga ada saling pengertian dengan “perbedaan” kejiwaan mereka itu, tidak menjadikan mereka menuntut persamaan perlakuan yang selayaknya seperti manusia normal lainnya

Yah..bagaimanapun juga, BANCI juga MANUSIA….

Iklan

One comment

  1. Each place or city is a node in the Blue Mars network. ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: