A Time of Moment

Bayangkan jika kita berada disebuah tanah luas yang berada ditepi sungai. lalu kita meminta ijin pada yang punya untuk berkebun. Setelah diberikan ijin, kita mulai menanam berbagai jenis buah-buahan dan sayuran. Lalu kita merasakan panen pertama yang begitu menggembirakan, hasil sebuah pekerjaan yang dengan kerja keras kita agar kebun tersebut menghasilkan. Meskipun sebenarnya, pada penanaman pertama ini, berbagai macam hama dan serangan penyakit silih berganti datang menyerang. Namun dengan kebulatan tekad dan juga keinginan untuk mendapatkan hasil yang baik, membuat kebun ini akhirnya berproduksi dengan baik. Lalu kemudian kita tanam lagi sayuran lagi, kita berupaya keras untuk menghasilkan panen yang sama baiknya dengan panen yang kedua. Tapi ternyata panen yang kedua ini tidaklah sebaik panen yang pertama. Padahal dari segi serangan hama dan penyakit, jauh berkurang.

Sampai akhirnya, kebun ini tidak mau berproduksi lagi. Ditanami apapun, menjadi mati, padahal tidak tahu apa masalahnya. Setelah diselidiki, ternyata hama penyakit yang ada didalam kebun itu telah kebal dengan berbagai jenis pengendali hama yang ada.

Sampai akhirnya datang petani lain yang kemudian mengolah tanah tersebut dengan baiknya, sampai beberapa kali panen dan menghasilkan. Dengan sabarnya, petani tersebut menyingkirkan hama lama dan kemudian dapat menikmati hasil panenannya beberapa kali dengan puasnya.

Tapi kemudian dengan alasan yang tidak jelas, petani kedua ini tiba-tiba pergi begitu saja disaat kebun ini sedang berbuah dengan banyak-banyaknya. Akibatnya adalah gagal panen karena tidak ada perawatan. Sampai akhirnya kita tahu hal tersebut dan berupaya merawat tanaman-tanaman yang ada didalam kebun tersebut. Namun apa daya, setelah berusaha sekuat tenaga, tanaman di kebun tersebut menjadi mati dan kebun tersebut menjadi gersang, terlebih setelah sungai yang mengalir didalamnya juga menjadi kering dan tak berair lagi. Tidakkah kita menjadi sedih dengan semua hal tersebut?

(Hikmah dalam Hidup : Kita bertanggung jawab terhadap apa yang telah kita lakukan, tapi ada kalanya kita tidak mendapatkan kesempatan untuk bertanggung jawab meski pun kita telah berupaya maksimal. Jika itu yang terjadi, mungkin perasaan bersalah tetaplah ada, tapi aalngkah lebih baiknya kita berdoa agar semua menjadi lebih baik dengan segala yang ada saat ini)

ps—-> Andres udah “normal” lagi. Seperti yang Balung bilang..urip kuwi yo mampir dinggo ngombe..Balung yag ngombe, aku sing mangan (iyo gak Lung?)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: