Bahagia Merayakan Cinta

T = “Mas, aku boleh minta pendapat ga? Aku diajak nikah sama cowokku. Akunya gak masalah, papa juga setuju aja, tapi mama belum bias ngelepas kayaknya. Lagian cowokku itu kerja diluar jawa, jadinya masih pisah dong mas. Enaknya gimana?”

J = “Udah nyoba ngeloby mama belum?Ya kalo dek nya ngerasa siap dan gak masalah dari papa, ya udah, jalanin aja”

T = “Tapi mamaku kayaknya belum siap ngelepas mas, lagian khan masih mesti pisah dulu”

J = “Dicoba lagi ngeloby mama dek lah. Dek itu beruntung, diluar sana masih banyak cewek yang udah berumur tapi bingung karena gak ada yang ngelamar. Ini dek udah diajak nikah sama cowoknya malah bingung”

T = “Iya deh mas, ntar aku coba ngeloby mamaku. Thanks yah mas”

J = “Iyaa, gak papa kok. Ntar hasilnya kasih tau yah”

Ini perbicanganku lewat SMS dengan seorang teman, lebih tepatnya temannya adekku, sekitar 3 minggu yang lalu. Seminggu kemaren aku dapat kabar bahwa Insya Allah mama nya ngijinin dan pertengahan tahun 2006 besok akan nikah (doain jadi yah) dan aku tentunya diminta datang ke resepsinya, ya lumayanlah meski jauh di Jakarta sono.

Bicara tentang jodoh dan nikah, sesuatu hal yang selalu menarik untuk dibahas. Awal Januari ini, salah satu teman terbaikku di rumah sana, Fauzi, Insya Allah juga akan melangsungkan akad nikah. Aku yang bisa dikatakan tahu banyak tentang “proses” Fauzi ini termasuk seringnya dicurhatin ketika mendapat masalah juga share pikiran, merasa cukup kagum akan perjalanan dan usahanya untuk menikah, pun termasuk tahu benar kondisinya yang baru bekerja sebagai guru kontrak di almamaternya di As-Salam Solo.

Satu faktor yang sangat menentukan dalam pernikahan adalah orang tua. Jadi ingat kisah sedih banyak temenku, yang proses pernikahannya terhambat atau malah gagal sama sekali ketika orang tuanya gak ngasih ijin atau malah menolak calon yang dihadirkan. Memang hak orang tua yang menentukan apakah anaknya, baik yang laki maupun perempuan untuk menikah dengan siapa yang dipilihnya.

Namun dibalik itu pula, sebenarnya orang tua pun adalah sesuatu yang unik, terutama jika mempunyai anak gadis. Masih ingat dengan ungkapan ini khan.. “Anak laki-laki, sampai tua adalah milik Ibunya. Sedangkan anak perempuan adalah milik suaminya”. Maksudnya adalah, sampai tua pun, seorang anak laki-laki akan terus bertanggungjawab terhadap orang tuanya, sedangkan anak perempuan saat dia menikah, maka tanggungjawabnya akan beralih kepada suaminya. Karena sang ayah telah menyerahkan sepenuhnya anak gadisnya kepada sang suami.

Pagi tadi barusan sempat bicara ama Mbak-ku (aslinya sih cuman beda usia 5 bulan 16 hari he he he) yaitu Mbak Wuland. Nah..tadi itu dapat cerita yang cukup bermanfaat dan dapat diambil hikmahnya. “orang tua itu aneh, mereka selalu takut anak2 gadisnya ga ‘laku’. tapi selalu merasa cemburu juga pas ada laki2 dateng buat minta anak2 gadisnya. Namun ya akhirnya mesti dikasih juga lah coz. it’s love U know”

Kemudian Mbak Wuland ini memberi masukan dari sebuah buku “Bahagia Merayakan Cinta”. Dibuku tersebut dikatakan bahwa “Nafas cinta mereka meniup kuncupku, maka ia mekar jadi bunga. Dan ketika bunga itu mekar, ada anak orang lain yang akan memetiknya. mereka merelakannya dalam kesedihan, kebanggaan, kekhawatiran, harapan, kecemasan, dan doa. Mereka kembali melewati hari-hari dalam sepi, tanpa celoteh dan canda yang biasa kita pentaskan. Memang sudah bukan masanya. Memang dunia berputar mengiringkan bertambahnya usia mereka, dan sudah saatnya, bukan mereka yang diwasiati Allah ttg anak2 mereka, tetapi kita, anak-anak mereka lah yang diwasiati Allah ttg mereka” dan ditutup dengan sebuah ayat Cinta dari sang Maha Kuasa “…maka bersyukurlah padaKu, dan pada kedua orang tuamu …” (Al Luqman : 14).

Mungkin saat ini, kita belum merasakan beratnya mempunyai seorang anak gadis yang kemudian setelah dewasa kita serahkan ke laki-laki lain. Tapi dari situ saya belajar tanggung jawab sebagai orang tua amatlah besar dalam kehidupan anaknya. Jadi wajar saja seperti yang cerita di atas, bila orang tua merasa belum rela melepas anak gadisnya.

Satu hal yang pasti, hidup itu akan terus berjalan meskipun kita mengalami kesulitan dan kesukaran. Seringkali jalan yang kita tempuh, nampak indah diawal namun penuh kerikil tajam ditengahnya, bahkan juga jurang yang dalam di pinggirnya. Alangkah indahnya kita, jika memaknai setiap cinta dan kasih sayang yang telah kita terima selama ini, terutama dari orang tua kita sebagai bekal di perjalanan usia kita yang tidak lama ini

(ps—-> Alhamdulillah, bundaku udah nelpon aku dari Makkah, dan sehat-sehat aja. Hope u can be a “Mabrur Hajj”. I love u mom)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: