Sebuah Testimoni : Kesaksian dalam Hidupku(1)

Tidak terasa, usia ku akan menginjak angka 25 tahun. Dan terasa pula, sekian banyak hal yang aku alamin. Suka dan duka, pahit manis, senang ataupun sedih, semua terangkum menjadi satu dalam sebuah lembar episode kisah hidup seorang Andres.

Aku diberi nama "Andres Irawan". Lahir di kota Berseri, Surakarta Hadiningrat, tepat hari kamis Pon tanggal 2 April 1981, dirumah sakit Panti Waluyo. Kata mama ku, aku lahir pukul 10 pagi hari, pada usia kandungan 9 bulan lewat 15 hari.

Entah kenapa, aku diberi nama Andres, apa karena kebiasaan orang padang, yang suka ngasih nama anaknya yang rada aneh-aneh, tapi kata mama ku itu ada sejarahnya. Saat baru lahir, aslinya disiapkan sebuah nama yaitu "Hendrik", tapi saat pemberian nama itu, aku menangis kencang-kencang dan gak mau berhenti. Atas saran seorang tanteku, lalu dirubahlah namaku. Papaku sempat kebingungan mencari nama alternatif lainnya, sampe kemudian teringat seoarang penyanyi berdarah ambon yang menyanyikan lagu "Ambon Manise" bernama Andres. Langsung aja nama itu dicomot, dan seketika itu pula aku langsung diam.

Masa kecilku, sejak usia 3 bulan sampe 3 tahun ku habiskan selama kota Bandung, saat itu papaku dapat tugas belajar di LPPU ITB Bandung, sampe tahun 1984. Masa itu, aku lebih fasih berbahasa sunda dari pada bahasa Indonesia, apalagi bahasa Padang. Kami sekeluarga, papa-mama, uni dan aku tinggal sebuah rumah petak yang sederhana, didaerah Taman sari. Kalo hari minggu, biasanya kami berenang di kolam renang Karang Setra. Atau kalo tidak, aku biasa minta diajak naek kuda di sekitar jalan Ganesya (entah, apakah sekarang masih ada atau udah hilang).

Sejak kecil, aku sakit-sakitan, terutama asma. Bahkan pada usia 3 tahun, aku mengalami sebuah serangan sakit yang teramat parah, menjelang kepindahan papaku balik ke Solo. Saat itu, aku dirawat oleh Dokter spesialis anak paling top di kota bandung , dokter Ina namanya (aku gak tau apakah beliau masih buka praktek atau sudah pensiun). Bahkan dalam perjalanan pulang ke Solo itu, sudah diwanti-wanti untuk segera membawa aku ke rumah sakit Solo, untuk penanganan lebih lanjut. Antara maut dan hidup saat itu, bahkan orang tua ku udah pasrah. Tapi Alhamdulillah, setiba di Solo, justru keadaanku berangsur membaik.

Hanya satu setengah tahun di Solo, papaku dipindah tugaskan di wonogiri, selatan solo sejauh 32 km. Seluruh keluargapun pindah ke Wonogiri. Dan semenjak itu aku menjadi warga tetap wonogiri pada tahun 1986. Masa TK tahun 1986, saat itu aku termasuk murid cerdas, sudah bisa membaca dengan lancar. Hanya setahun di TK, tahun 1987 aku mengeyam pendidikan SD. Di SD aku bukanlah siswa yang menonjol, karena banyak teman-teman yang lebih pintar dariku. rangking kelasku hanya berkisar angka 5-10 besar di kelas. Di SD, aku hanyalah jadi "pupuk bawang" alias seseorang yang gak pernah dianggap. Badanku yang kecil, bahkan terkesan mungil dibanding teman-teman yang laen. Juga sifat pendiam ku, serta satu lagi kelemahanku, yaitu mudah nangis alias gembengan. Aku juga penakut, dan gak berani kalo ditantang berkelahi.

Lulus SD di tahun 1993, nilaiku gak memungkinkan masuk ke SMP favorit di wonogiri, akhirnya SMP 3 yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah menjadi pilihanku. di Sekolah inilah, terjadi perubahan yang sangat krusial pada diriku. Aku yang awalanya penakut, pendiam, gak berani berkelahi dan sebagainya, karena terpengaruh pergaulan dengan teman-teman yang nota bene SMP 3 merupakan SMP paling "rusak", membuat diriku jadi seorang yang nakal dan liar. Di sini, pertama kali aku merasakan menghisap rokok, bahkan juga minum alkohol. Aku juga terbiasa tawuran, berkelahi dan jotos-jotosan. bahkan aku pernah menghajar teman SD ku yang dulu pernah nantang diriku berkelahi. Asal tahu aja, saat masuk SMP terjadi perubahan drastis pada fisikku. Awal masuk SMP hanya 145 centimeter, dalam waktu 2 tahun melonjak menjadi 173 centi, membuat badanku menjulang cukup tinggi di antara teman-teman SMP lainnya, meskipun tetap aja kurus.

Di SMP pula, aku berteman akrab dengan Ashari(1), dia temanku sejak SD meski saat itu gak terlalu akrab, lalu sekelas terus selama 3 tahun di SMP. Badannya yang cukup besar membuat cukup ditakuti. Dari dia pula aku kenal sama yang namanya gambar porno. Jaman SMP dulu, buku stensilan alias enierrow ataupun gambar model telanjang adalah barang yang cukup "wah" pada masa itu. Dan aku belajar juga jadi pedagang gambar porno itu. Dengan Ashari pula, aku biasa berantem dan mabuk. Istilah mendhem alias mabuk buat kami, biasanya kita menuangkan aneka macam minuman kedalam baskom, dioplos sama minuman laen, lalu masing-masing peserta menciduk pake gelas aqua kecil, minum dan gak boleh berhenti sampe teler. Dan itu rutin aku lakukan minimal dua minggu sekali.

Namun, meskipun kegiatan premanku jalan lancar, orang tua ku sama sekali tidak tahu aktifitas sampinganku sperti mabuk itu tadi. Soalnya, aku mengimbangin dengan nilai akademik yang cukup lumayan, meski naik turun kayak rollercoaster. Kelas satu, semester awal aku meraih rangking 1, yup benar, rangking satu alias juara kelas. Namun semester berikutnya nilaiku hancur sampe cuman jadi rangking 17. Kelas dua, semester ganjil aku dapat rangking 4 dan lagi-lagi semester genap jatuh ke rangking 21. Saat kelas tiga, aku digenjot benar oleh papaku, sampe semester ganjil cuman rangking 14, tapi di penghujung ajaran, aku boleh berbangga diri karena mencatatkan nilai Ebtanas tertinggi di kelasku, jadi aku ini juara di awal dan diakhir periode. Selain akademis, aku sendiri tercatat sebagai anggota marching band SMP dengan alat yang ku pegang adalah bass drum. Selain itu aku juga menjadi pasukan pengibar bendera di SMP sehingga aktifitas itu bisa menutup efek negatif dari aktifitas mabukku.

Berbekal nilai yang cukup tinggi, aku bisa masuk ke SMA terbaik di kotaku. Yup, SMA 1 Wonogiri. Dan disinilah, aku menemukan "jalan kebenaran". Awalnya, gak sengaja aja, saat penataran P4. Saat itu setiap kelas didampingin oleh seorang senior OSIS sebagai Penanggungjawab Kelas atau PK. Nah, saat itu PK ku di kelas 1.3 adalah Ganesya(2) atau biasa disapa mas Gadhek. Mas Gadhek ini adalah seorang penggiat Rohis SMA. Di hari pertama penataran, setelah dibentak-bentak dan juga rada lelah psikis, siangnya dilanjutkan sholat Dhuhur bersama di Aula. Saat itu, setelah adzan, kok gak dimulai-mulai, akhirnya teman-teman mendaulat aku buat qomat biar bisa segara mulai Sholat. Akhirnya, qomatlah diriku dan kemudian sholat dimulai. Saat itu pula diriku diamati oleh mas Gadhek dan juga senior-senior rohis lainnya, soalnya kontradiktif banget. Sikapku yang cuek dan slengekan, bahkan mbalelo sama senior sampe hari pertama aku dapat jatah push up sebanyak 25 kali kok malah qomat, yang gak maen-maen dilihat seluruh siswa yang mau sholat, baik putra maupun putri. Akhirnya, setelah sholat aku dipanggil mas Gadhek dan dikasih tugas buat besok untuk adzan sholat dhuhur. Memang sih, meski nakal, sebenarnya mama papaku selalu menanamkan ajaran agama cukup dalam. Akhirnya selama satu minggu itu pula aku dapat tugas buat adzan selama masa penataran.

Setelah itu, aku bertemu dengan Fauzi(3) alias Ujik. Dia adalah pimpinan sangga ku dalam perkemahan pelantikan pramuka penegak. Ujik ini aslinya kelas 1.7. Karena tiap sangga di campur kelasnya, akhirnya kenalah diriku dengan Ujik (Bicara tentang Ujik, sudah banyak aku ceritakan sebelumnya, dan ada beberapa kisah yang nanti aku ceritakan sendiri dalam bab lain).

Kelas satu itu pula, aku sudah ditarik di dalam kepengurusan rohis SMA. Awalnya, karena aku jadi panitia acara maulid nabi Muhammad SAW di SMA, jadi seksi hiburan. Dan lagi-lagi, karena aku orangnya cenderung ndableg, aku sih oke-oke aja buat bikin lakon drama pada sesi hiburan. Dari situ, akhirnya aku direkrut di OSIS sebagai Bidang Kepribadian dan Budi Pekerti Luhur Seksi Humas. Disini tugasku sebagai pengumuman antar kelas dalam banyak hal, semisal berita duka, kegiatan atau hal lainnya. Namun entah kenapa, aku sering kebagian job buat ngumumin berita duka dan ngumpulin uang duka, sampe anak-anak kelas tiga menuluki aku "malaikat maut" karena setiap nongol selalu membawa berita kematian.

Nah, di kelas satu ini sebenarnya mulailah aku tersentu dengan nilai-nilai Islam secara konstan, meski aku sendiri masih males-malesan buat ikut. Selain itu, aktifitas mabukku masih jalan terus, thoh banyak teman-teman ku yang juga mabuk dan aku akrab dengan mereka.

Sampe aku naik kelas 2 dimana aku jadi ketua panitia perkemahan pelantikan penegak. Oh ya, selain aktif di Rohis dan OSIS, aku juga menjadi salah satu Pramuka Penegak Bantara di SMA, bahkan menjadi kerani di dewan Ambalan SMA saat pertengahan kelas dua (nanti akan aku ceritakan pada bagian lain). Disini pula, mental dan jiwa kepemimpinan ku diuji. Bagaimana menangani panitia yang gak karuan, juga banyak hal yang menimpa. Namun Alhamdulillah, semuanya bisa di atasi. Waktu kelas 2 ini, kegiatan OSIS ku makin menjadi-jadi. Aku yang dasarnya emang senang berorganisasi jadi makin sering keluar kemana-mana. Bahkan semenjak jadi Sekretaris I OSIS yang mebuat aku memegang kunci sekretariat OSIS yang sering ku pakai buat ngabur membolos. Imbasnya, nilai raportku pun kebakaran, fisika, matematika dan kimia semuanya dapat 5 secara bersamaan, yang bikin papaku ngamuk berat. Akhirnya aku disuruh non aktif sementara dan konsen pada pelajaran.

Aku nurut, soalnya emang berasa bersalah dan kemudian mulai aktif "ngaji". Saat itu aku belum tau tentang tarbiyah dan sebagainya. Yang aku tahu, saat itu ada dua kekuatan yang menarik diriku dan kelompok ngajiku, yang satu adalah golongan mas Gadhek, sedang yang satu lagi adalah golongan mas Djito(4), dan baru sekarang aku nyadar kalo mas Gadhek itu adalah tarbiyah sedangkan mas Djito adalah golongan "keras" yang sekarang ada dalam tahanan Polisi setelah di tangkap Detasemen Khusus 88 Anti Teror Polri.

Bersama mas Gadhek, aku dikenalkan pada seorang murobbi yaitu Ustad Abdullah Rabbani(5). Dari beliau, aku belajar banyak hal tentang tarbiyah, meskipun jujur aja aktifitas luaranku yaitu mabuk tetap jalan, malah makin parah. Bahkan pernah dalam suatu kesempatan, saat ada kegiatan nginap di sekolah aku yang habis mabuk didaulat jadi imam sholat Shubuh dan akunya manut aja. Yang paling parah waktu di Bali, aku bikin keonaran di kumpulan anak-anak saat mabuk arak bali yang lumayan keras, sampe anak-anak pada ketakutan.

Titik balik semua kisah hidupku, terjadi saat kelas tiga, saat duduk di kelas 3 IPA 5 alias PAIMO (IPA Limo). Disini, aku semeja dengan Didik(6). Dia adalah sama-sama teman ngajiku di SMA, juga ketua I OSIS dan tentunya juga salah satu sahabat dekatku. Kami makin dekat saat sama-sama menjadi pesakitan dan tertuduh utama di balik mogoknya siswa se SMA menuntut transparasi BP3 yang gak jelas. Pada awalnya, karena Didik dan aku sama-sama pengurus OSIS mencoba menjembatani antara Siswa dan Guru, namun kemudian malah kami yang dituduh bertanggungjawab atas aksi itu. Bersama dengan Ujik dan Jumari(7), kami berempat masuk daftar blacklist yang siap-siap di keluarkan dari sekolah.

Kesamaan nasib, membuat kami jadi sangat dekat, bahkan sampai sekarang. Dari Didik, saya diajak buat menghabiskan waktu istirahat pertama buat sholat dhuha, dan istirahat kedua buat sholat dhuhuh berjamaah. Alhamdulillah, setelah beberapa minggu berjalan, sholat Dhuhur yang awalnya cuman segelintir orang yang ikut, makin lama makin membuat musholla sekolah penuh sampai harus dibikin dua gelombang bergantian.

Tanpa disuruh, aku mulai mencoba berfikir tentang semua yang aku lakukan termasuk tentag mabuk itu tadi. Lalu aku coba meresapi banyak hal yang aku terima dalam kelompok liqoatku. Dan tambah terhenyak, waktu aku diajak Ujik kerumahnya, dan disuruh baca buku di kamar, buku itu berjudul "dosa-dosa besar yang dianggap kecil" (aku lupa penulis dan penerbitnya), aku tanpa melihat daftar isi sekenanya aja membuka halaman dan langsung terbuka halaman 81 yang aku masih ingat tidak ada tanda batas bacaan ataupun tekukan karena buku itu masih baru. Pada halaman tersebut, dijelaskan tentang haramnya Khamr alias alkohol, dimana sholatnya tidak diterima selama 40 hari, juga jika meninggal jika masih ada setitik alkohol di perutnya maka tidak akan masuk surga. Langsung badanku menggigil saking takutnya.

Dari situ, aku langsung mengentikan semua kelakuan nakalku. Yang pertama adalah Alkohol, aku say no to Alkohol sejak tanggal 5 Oktober 1998, tepat saat aku membaca bukunya Ujik tersebut. Sedangkan rokok, aku mengakhiri hari-hari asap di mulutku tanggal 27 November 1998. Bagi seorang perokok berat, akan susah menghentikan kebiasaan merokok, dan memang aku butuh waktu sampe hampir dua bulan untuk berhenti merokok.

Sejak saat itu pula, aku banyak menghabiskan waktu untuk ngaji dan kumpul mempelajari ilmu agama. Jangan heran jika lulus SMA aku hapal Juz Amma dan separuh Juz 29 (namun sekarang..entah kenapa semuanya menguap begitu saja, aku emang banyak maksiat lagi 😦 hiks)

Bergantinya murobbi ku dari Ustad Abdullah ke Mas Syamsu(8) tidak berpengaruh banyak. Aku tetap rajin ngaji, malah catatanku lengkp dan termasuk mutarobbi yang disiplin. Buktinya, mas Syamsu masih nanyain kabarku kalo sempt ketemu saat aku pulang.

Dari 14 orang kelompok liqoatku, ternyata hanya 3 orang yang bertahan saat kuliah di perguruan tinggi. Lainnya???entah kenapa, banyak yang hilang gak karuan. Namun yang pasti, aku bahagia, aku menemukan jalan kebenaran itu, meskipun saat ini aku kembali tertatih-taih untuk mempertahankannya

*****************************

catatan
1. Ashari : mahasiswa FE Univ Winuwardhana Malang, sudah lulus tahun 2005
2. Ganesya atau Mas Gadhek : Mantan ketua OSIS SMA 1 Wonogiri tahun 1996-1997, mantan Ketua Badan Perwakilan Mahasiswa IPB tahun 2001-2002, sekarang bekerja di perusahaan perikanan di Ciamis
3. Fauzi alias Ujik : mahasiswa FMIPA UNS, mantan ketua SKI FMIPA UNS tahun 2002-2003, menjadi anggota MS kampus UNS, sekarang mengajar di PP As Salam Solo
4. Mas Djito : Alumni SMA 1 Wonogiri tahun 1996, dalam tahanan Polisi dalam tuduhan tersangkut tindakan terorisme sebagai anak buah Noor Din M Top.
5. Ustad Abdullah Rabbani : Direktur BMT, Bidang Kaderisasi DPD PKS Wonogiri
6. Didik Wahyudi : Alumni Pendidikan Fisika UNY, mantan ketua Komsat KAMMI UNY, mantan Staf Kaderisasi KAMMI Daerah Yogya
7. Jumari : Lulusan STPDN tahun 2003, saudaraku yang sempat "murtad" namun sudah balik kembali menjadi seorang ikhwan.
8. Syamsu Ahmad Noor : Aktifis ADS DPD PKS Wonogiri, terakhir menjadi ketua Kebijakan Publik DPD PKS Wonogiri

Iklan

5 komentar

  1. Menarik juga cerita antum akh………… Saya alumni SMAN 1 Wonogiri tahun 1996, yangberarti seangkatan sama Mas Djito. Baru tahu kalau dia ketangkep sama Detasemen 88….. Mas Gadek atau Ganesha, saya kenal baik. Soalnya sewaktu di IPB masih sering ketemu. Pak Abdullah Rabbani, itu mah tetangga saya di Wonokarto (tempat tinggal orang tua saya di Jalan Arjuna IV Wonokarto). Salam kenal dari saya plus kakak kelas antum…… well, I’m living in Bogor.

    Abu Al-Jauzaa’

  2. Subiyakto Surodibroto · · Balas

    Mas Andres Irawan, saya yakin papamu bekerja di Proyek Bengawan Solo. Kalau boleh tau, siapa nama papamu? Saya juga alumni LPPU-ITB, cuma adik klas papamu jauh (angkatan 1988). Mungkin papamu angkatan 1981.

  3. Maryanto · · Balas

    Assalamu,alaikum…..wr.wb

    Semoga antum sekeluarga selalu dalam rahmat-Nya… Ndres, kok aku baru nemu blog mu sekarang ya? Td aku cm numpang lewat. Emang aku kuper bgt sih sejak sma. Antum bahkan mungkin tak ingat aku sama sekali krn kita cm 1 atau 2 kali tegur sapa wkt di sma. Nama2 yg antum sebut di sma itu aku tahu semua kecuali mas djito. Terakhir aku kuliah satu kampus sama ujik tp beda fakultas. Aku di pertanian (agrobisnis) dia di MIPA. Aku dulu 1-6, 2-6 dan 3 IPA 4 satu bangku dgn Rohmat Kustanto. Salam untuk semua akhi yang antum sebut tadi.

  4. Jadi ingat masa2 sma dulu, doni, si w, retno, tuti, umi,……….semuanya, salam untuk ex 3.A.1.1 tahun 1996. Gimana reuni kita, masih jalankah?

    1. Setya pokoh ya?
      Udah lama ga ketemu temen2. Lama ga mudik wng 😦

      Kamu skrng dimana?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: