Aku Bukan Ikhwan

Ikhwan….entah sebuah pakem darimana asalnya dan juga dari mana awalnya, setiap orang yang sudah “terbina” maka dia bisa disetempeli dengan label ikhwan, bahkan mungkin bangga menjadi seorang ikhwan.

Apakah dengan “ngaji”, dengan ngikut liqoat, dengan menjadi kader KAMMI, dengan menjadi kader PKS, maka dirimu sudah merasa menjadi ikhwan????

Pun demikian dengan akhwat, apakah dengan ngaji, ikut liqoat, dengan menjadi kader KAMMI dan menjadi kader PKS, serta berjilbab panjang dengan jubah atau pakaian longgar, maka bisa kah dia disebut akhwat??

Bagiku jawabannya adalah tidak..!!!
Sebuah dikotomi dan kerancuan bahasa dalam penggunaannya

Aku memang ngaji, aku ikut liqoat tiap minggunya. Aku juga aktif di KAMMI, belum DM 1 aja aku udah jadi pengurus Komsat, selanjutnya bahkan aku pernah menjabat sebagai ketua komsat, dan juga KASTRAT KAMMI Jember. Meski gak masuk kepengurusan DPD, aku selalu siap dan stand by saat DPD membutuhkan orang. Aku tercatat jadi anggota kader PKS, bahkan kartu anggota pun, itu aku sendiri yang ngeprint bersama dengan beribu KTA lainnya pada masa kampanye 2004 karena itu amanah yang dilimpahkan padaku. Tapi aku tetap merasa bukan ikhwan.

Sejak awal, aku tidak mengiyakan saja setiap orang yang manggil diriku dengan sebutan ikhwan, malah kadang aku lebih suka dipanggil namaku dengan apa adanya, ataupun panggilah aku dengan sebutan kak, mas dan sebagainya. Bahkan meminjam istilah yang dipakai sahabat baikku, Didik(1), lebih suka disebut cowok biasa dari pada ikhwan. Cowok dalam artian cowok biasa yang lagi belajar buat berubah baik, meski dia tertatih-tatih untuk belajar dan masih saja berbuat kesalahan, dari pada menjadi ikhwan yang hanya jual stempel saja namun kelakuan gak karuan. Dengan ini pula, aku menyangkal sebuah testimonal di FS dari Rho Mayda(2) bahwa aku adalah ikhwan tulen. Maaf Ima, aku bukan seorang ikhwan, aku hanya cowok biasa yang banyak kesalahan

Sungguh, bukan aku anti dengan sebutan ikhwan, atau menggugat monopoli sebutan ikhwan pada orang yang “ngaji”, tapi aku malu. Aku malu pada diriku sendiri, aku malu pada orang lain, aku malu pada ALLAH.

Aku malu, dengan label ikhwan, aku masih melakukan banyak larangan Tuhan
Aku malu, dengan label ikhwan, aku masih bersikap seperti bajingan
Aku malu, dengan label ikhwan, aku memakai topeng dalam sebuah peran
Aku malu, dengan label ikhwan, aku masih akrab dengan setan

Lalu…..masihkan kamu semua dengan sikap kalian yang seperti itu, dengan bangganya mengaku dirimu seorang ikhwan???

Aku masih lemah dihadapanmu Ya Allah, Ampuni diriku yang pernah menggugatmu

****************

1. Didik Wahyudi = Alumni Pendidikan Fisika UNY, mantan Ketua Komsat UNY, mantan Staf Kaderisasi KAMMI Yogya, sekarang kerja di Jepara

2. Rhomayda aka Ima = Sesama blogger, sekarang tinggal di Belgia, klik aja namanya kalo mau lihat blognya

Iklan

3 komentar

  1. Assalamualaikum akhi.. maaf klo pakai label sebutannya tapi klo gak salah akhi itu artinya saudara/ teman laki-laki… jadi boleh dong manggil akhi…
    aku juga kurang setuju sama predikat ikhwan.. maaf rata-rata orang yang senang dengan sebutan ikhwan itu menganggap dirinya lebih baik dari orang lain.. dan ada juga beberapa orang yang memakai label ikhwan bisa dijadikan asas manfaat untuk mencari akhwat atau perempuan muslimah yang sholehah…
    afwan tidak ada maksud menjelekan label ‘ikhwan’ hanya berpendapat sesuai keadaan saat ini.

    Wassalam.

  2. mei chan · · Balas

    assalamualaikum wr. wb.

    yup, q setuju dengan pendapat yang mengatakan bahwa kalo qt dah aktif ngaji lantas kita dikatakan sebagai seorang ikhwan.

    ane lebih setuju kalo setiap muslim itu adalah ikhwan, tanpa harus dibeda-bedakan. mengapa? karena kita musti ingat bahwasannya label2 seperti itu justru akan menjauhkan diri kita dari saudara sesama muslim kita yang kini masih belum paham hakikat islam, and agama islam yang ia anut.

    sekedar berbagi cerita, q sebenarnya miris melihat temenku yang masih belum sadar tentang makna berislam. sebut saja inisialnya H, ia seorang mahasiswa teknik di jember, kehidupannya sehari-hari hanya dihabiskan untuk masalah perut dan perut kebawah, sekedar makan-minum, cari uang, minum2an keras, dan pacaran (maaf bukan cm pacaran bahkan lebih, karena q pernah memergokinya lg ML).

    apakah ketika dia tahu bahwa kita adalah ikhwa lantas ia mau ikut kita? apakah dengan dakwah ala KITA, ia mau akhirnya meninggalkan nafsu syahwatnya? dll. saya kira jawabannya adalah tidak!!!

    lantas bagaimana? orang-orang semisal dia hanya akan meninggalkan perbuatan nista tersebut apabila kita memberikan contoh yang baik kepadanya, kita harus berteman dengannya dan memberikan contoh yang baik serta menasehati dengan kata2 yang tidak menyinggung perasaannya, maka barulah ia akan sadar.

    sekedar berbagi cerita, alhamdulillah akhirnya kini ia sudah mau sholat walaupun bolong2, mau ninggalin miras, walau pacarannya masih belum.

    tulisan ini hanyalah merupakan pengalaman dari seorang mantan aktivis KAMMI di jember, yang sudah out lama karena ketidakcocokan aturan yang sifatnya eksklusif dari KAMMI jember.

    harap pertimbangkan dan jangan takut terkontaminasi oleh saudara2 kita, ingat!!! dakwah itu memang berat!!! islam itu agama berat (inna sanulki ‘alaika qoulan syakilaaa…) namun kita harus terus memperjuangkannya.

  3. Apa yg kau rasakan sama dengan apa yg aku rasakan, saudaraku.
    Engkau malah jauh lebih baik dariku.
    Menurut bahasa,ikhwan adalah saudara.
    Menurut orang umum,ikhwan,seperti yg engkau katakan.
    Bagiku,ia adalah sebutan bagi lelaki yg berIslam scr kaffah.
    Beriman dgn sbnr2ny iman kpd Allah.
    Dan kafir dgn sbnr2ny kekafiran kpd selain Allah.
    Tak ragu menyambut seruan Jihad.
    Tak gentar dgn segala ancaman dan siksaan musuh2 Allah.
    Dan tntu dgn konsekuensi yg kelak akan dtanggungny.
    Itulah mereka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: