Sebuah Permintaan Maaf

Seperti sebuah pahatan batu, saat kikir dan palu menghujam sisi-sisi sebongkah batu, untuk kemudian di bentuk menjadi sebuah bagian dari suatu bangunan. Betapa tajam pahat dan juga kerasnya hantaman palu tersebut

Atau saat mengukir sebatang kayu, saat pahat dan palu mengoyak dinding batang tersebut, lalu membuang dan mengukirkan jejak dalam kebadan kayu tersebut

Itu adalah sebuah seni keindahan, yang dilakukan oleh orang-orang yang ahli dan berpengalaman dalam bidangnya. Seorang pemahat batu, dia akan hati-hati dalam mengikis batuan itu, pun demikian seorang pengukir, akan dengan seksama memperhatikan pahat dan kikirnya agar jangan sampai merusak alur ukiran yang telah digambar sebelumnya

Lalu..bagaimana dengan kita????

Kita pun berlaku sebagai pemahat dan pengukir. Saat kita berbicara, kita melontarkan pahatan kita ke batang kayu yang didepan kita, lalu dengan “keahlian” kita, kita mengukirkan kehendak kita di batang kayu tersebut. Hasilnya???? bisa baik, bisa juga buruk, sesuai dengan apa yang kita ucapkan

Pun demikian juga, saat kita bersikap, kita mengayunkan palu mengikis bagian dari sebuah batu. Kita membentuk batu tersebut, menjadi sebuah “karya” seni kita, sesuai dengan kehendak hati kita. Dan hasilnya???? Bisa baik, juga bisa buruk sesuai dengan sikap yang kita lakukan

Tapi…..setiap “kesalahan” dalam mengukir dan memahat..akan meninggalkan “bekas” yang teramat dalam di batu maupun kayu tersebut

Pernah mendengar cerita paku dan kayu?? Saat seorang anak merasa emosi, lalu atas nasehat bapaknya, setiap dia emosi maka tancapkan paku disebuah papan kayu. Sang anak lalu menuruti nasehat bapaknya, sampai akhirnya kayu tersebut penuh dengan paku sampai anak tersebut bisa menahan emosinya. Lalu atas nasehat bapaknya, setiap bisa menahan emosi maka cabutlah paku tersebut satu persatu. Sampai suatu hari, tiada paku yang masih tersisa di papan tersebut.

Sang anak memang telah bisa menahan emosi, namun…bekas dari emosi yang pernah dia lakukan, tergambar jelas dari lobang hunjaman paku di papan tersebut, dan bekas itu tidak akan pernah hilang sampai kapanpun.

Mungkin, seperti itulah yang aku rasakan saat ini. Setelah sebulan dalam keadaan tertekan, menghindari orang, menyalahkan orang lain, menjauhi orang lain, memutus silaturahim, mengajak berantem orang lain, sampai mengasari dan mengucapkan serta menyampaikan sesuatu yang seharusnya tidak aku lakukan, dan sekarang..satu persatu teman-temanku pun pergi

Maaf…telah aku sampaikan, tapi tidak ada respon sama sekali…. Atau malah memang sudah tiada kata maaf lagi untukku. Ah…..sudahlah…menjadi sebuah ketetapan takdirku untuk menanggung semua yang telah aku lakukan dan aku ucapkan kepada para sodaraku….

Semoga….dihari ini, masih ada sebuah “selimut” yang menghangatkan hatiku yang beku

dedicted for all my bro and sis yang telah berkonfrontasi denganku selama ini -Mnx, Dhit, Balung, Net, Eno, Rina, Echoy, Bozz-

(especially for “Mentari” dan “Anggrek” andai ada waktu membalik semua ucapan dan perbuatanku yang pernah terlontarkan untuk kalian)


Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s