Dialog dari Hati dengan Hati

Malam itu, kulewatkan hampir dua jam untuk mendengarkan kisah seorang adekku, seorang adek yang kutemukan barusan, belum juga genap dua minggu. Dan saat itu, aku mesti berperan jadi “mas” untuk ndengerin semua masalahnya.

Lagi-lagi soal “cinta”
Entah kenapa, sekali lagi aku menghadapi hal beginian
Dan..lagi-lagi semua ceritanya seakan menohok hatiku, bahwa aku sendiri pun pernah mengalaminya, bahkan menjalaninya dengan kesadaran. Jujur aja, aku malu untuk mengakui beberapa “kelebatan hati” yang masuk tanpa permisi dan merenggut cintaku kepada yang Maha Kuasa dan berganti kepada cinta kepada makhluk manis berkerudung itu.

Gak usah khawatir kalo aku akan “terjebak” dengan adekku itu, karena dia sendiri adalah seorang pria. Dan sebenarnya, aku makin menjauh dari komunikasi dengan wanita. Bahkan di YM pun, seingatku hanya ada 3 orang wanita lajang yang biasa komunikasi, sisanya adalah wanita dewasa yang biasa aku panggil mbak atau ummi, dan mereka udah menikah semua. Lainnya, adalah ikhwan-ikhwan yang kujadikan sodara ku.

Keinginan untuk menikah muda, banyaknya interaksi dalam amanah, kepanitiaan maupun kegiatan, terlebih jika SDM nya sangatlah sedikit, lagi-lagi menjadi pemicu munculnya rasa-rasa didalam hati yang makin bersemi didalam hati adekku ini. Ah… andai saja engkau tau dek, saat semua sudah kau lewati nanti, justru kau akan tau begitu nikmatnya kemampuan dirimu untuk menjaga hati dari hal yang semestinya gak perlu itu.

Aku ingat, saat menjelang usia adekku tersebut, keinginan untuk segera menikah sangatlah menggebu-gebu. Ingin sekali melepas masa lajang dan menjadikan diri untuk berbagi hidup dengan seorang wanita yang tercinta. Hal itu wajar sebenarnya, karena fase-fase usia segitu, berkisar di awal sampai pertengahan 20an merupakan masa yang membutuhkan perhatian dan kasih sayang, dan pada masa itu pula “rasa” cinta itu mendominasi dan ingin terpenuhi

Alhamdulillah, menjelang usia 25 ku yang kurang dari sebulan ini, fase itu sudah terlewati. Bagiku sendiri, mungkin bukan menjadi prioritas untuk mengakhir masa kesendirianku, meski selepas ujian skripsi kemaren, tawaran untuk mengenalkan diriku dengan banyak akhwat makin deras saja. belum lagi tawaran dari beberapa orang untuk mencarikan aku seorang Pendamping Wisuda (PW). Aku hanya tertawa kecil dengan itu semua. Semua nanti adalah rahasia Allah, aku pun tak tau kapan dan dengan siapa nantinya. Mungkin saja bisa besok, atau bahkan masih tersimpan rapi rahasia siapa yang akan menjadi bidadariku. Maaf aja teman, andai waktu itu tiba…aku akan tahu dengan sendirinya siapa dia yang terpilihkan untukku.

Aku sendiri sadar, aku bukan orang suci yang tak pernah berbuat dosa, bahkan untuk menjaga hatiku dari hal gak perlu pun aku pernah tidak mampu. Namun aku berani berkata, bahwa aku berani mengakui kelemahan dan kesalahanku, bukan kemudian bersembunyi dibalik topeng kesucian yang selalu dikenakan banyak ikhwah disana


Iklan

2 komentar

  1. Terima kasih sudah menjadikan doalog malam itu sebagai sesuatu yang penting.

  2. beneran..adek belum berani liat foto mas di blog ini
    biarlah siluet wajah mas akan terus menjadi misteri..
    akan lebih seru kayaknya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: