In Another Story about “Geli”

He he he he 🙂

Hanya tertawa senyum kecilku yang mengembang setelah membaca sebuah postingan. Bukan kenapa-kenapa sih, hanya tersenyum simpul dan ketawa sambil garuk-garuk kepalaku yang udah mulai tumbuh rambut kecil yang halus (khan lagi botak nih :D)

Dengan itikad baik, aku mencoba memulai komunikasi setelah beberapa saat aku mencoba membenamkan diri pada sejumlah kegiatan yang gak mempertemukan dengan dirinya, juga orang-orang yang terkait dirinya. Namun aku sadar, bahwa sebenarnya itu tidak baik. Kalo kamu berselisih dengan seseorang, jangan sampe 3 hari. Nah ini malah udah tiga minggu, jadinya aku mencoba menanyakan sesuatu yang memang semestinya dari dulu aku tanyakan. Dan, emang aku akuin semua awal nya dari aku, meski demikian juga aku pengen melihat seperti apa sih reaksinya.

Aku pun..mencoba memulai segalanya dengan baik. Bahkan sekedar untuk menciptakan adanya komunikasi lagi, aku sengaja memilih tanggal 29 maret kemaren, tepat pukul 00:00 untuk memulainya. Bukan kenapa-kenapa, hanya saja saat itu tepat dia berusia 23 tahun. Dan, aku sengaja dengan suara (yang aslinya ngantuk banget, nyoba nelpon dia) yang diperhalus mungkin buat ngucapin selamat milad padanya, dan juga menyampaikan "kado" buatnya dari ku di emailnya

Mau tau apa isi "kado" ku itu??? Kalo di Harry Potter, ada isitilah Howler, yaitu sebuah surat yang isinya berupa "ancaman" atau kemarahan atas kenakalan yang diperbuat. Aku gak bilang itu sama seperti Howler tapi isinya ya mirip sebenarnya, meski dalam kasus ini itu lebih berupa ungkapan kekesalan dalam hati, juga semacam permintaan untuk mengklarifikasikan diri, atas kesalahan ku.

Bahkan, sebenarnya di dalam surat itu aku sama sekali tidak menekankan bagaimana aku protes tentang kedekatannya dengan "Seorang Teman" atau juga malah makin asyiknya dia dengan beberapa orang sahabat-sahabatku dulu. Aku lebih menekankan, kenapa ada perbedaan perlakuan yang kau tunjukkan kepadaku, seakan ketika aku sudah berubah nilai didepanmu, lalu aku kau tinggalkan begitu saja.

Memang, aku tahu kamu udah tahu cerita versi "Teman" itu, dan tanpa kamu sadari sebenarnya "aib" sudah aku angkat sebelumnya, tanpa aku tutupin fakta apapun, mungkin insting jurnalismu saat itu tidak tanggap akan apa yang sudah aku berikan tentang fakta itu, gak masalah kok. Hanya masalahnya, adalah ternyata kamu menunjukkan sifat tidak bersahabatmu setelah kamu makin dekat dengan "Seorang Teman" tersebut. Kalo kemudian aku mempertanyakan hal tersebut, apakah aku salah??? Sedangkan kau bisa bersikap baik pada dia, sedangkan pada diriku engkau justru menunjukkan sikap bermusuhan seakan kau justru menimpakan semua salah itu hanya kepadaku.

Apa aku melibatkan dirimu pada masalah antara aku dan "teman" itu?? Nothing, justru aku bereaksi atas sikap kamu yang berubah drastis dan membuat aku jadi bertanya-tanya, apakah emang setiap wanita cuman bisa melihat salah di orang lain, ketika kekeliruan yang dia lakukan sebenarnya membuat masalah itu kian runcing.

Oke….kalo cuman sekedar salah menyalahkan, maka masalah gak akan pernah selesai. Namun dengan diam mu, seakan menunjukkan sikap tidak bersahabatmu kepadaku dan ternyata malah engkau memilih menjelaskan kepada publik, baiklah kalo gitu karena justru dengan membuka kepada publik, aku pikir akan memperjelas posisi kita masing-masing.

Di postingan itu, aku melihat ada ombak nuansa emosi yang terlibat sangat besar disana, meski aku juga gak tahu apakah perkiraanku benar atau salah. Tapi yang akan terus menjadi suatu masalah adalah, ketika emosi itu makin merajalela tanpa ada kendali dari masing-masing pihak. Dan sepertinya, kalo dia pernah nulis di postingan sebelumnya di blognya tulisan seperti ini, "Bicara Dengan Bahasa Hati…Tak ada MUSUH yang tak dapat ditaklukkan oleh CINTA. Tak ada PENYAKIT yang tak dapat disembuhkan oleh KASIH SAYANG. Tak ada PERMUSUHAN yang tak dapat dimaafkan oleh KETULUSAN. Tak ada KESULITAN yang tak dapat dipecahkan oleh KETEKUNAN. Tak ada BATU KERAS yang tak dapat dipecahkan oleh KESABARAN. Semua itu haruslah berasal dari hatimu…Bicaralah dengan bahasa hati, maka semua akan sampai ke hati pula…" maka tiadalah gunanya tulisan itu ketika dirinya juga sulit berbicara dengan HATI

Gak mesti cepat emang, namun aku percaya kok kalopun saat ini reaksinya adalah menimbulkan konflik yang makin meruncing antara aku dan dia, aku pikir biarkan saja waktu bicara.

Dan makasih pula atas "doa" nya, meskipun aku pikir semestinya doa itu juga buat kamu. Juga kalo kamu bilang "Ternyata, materi2 tarbiyah yang katanya sudah pernah di “santap”nya, gak membekas sedikitpun di dirinya". Sepertinya kalo aku boleh bilang, kamu juga evaluasi diri kamu sendiri apakah setiap huruf dalam kata, yang pernah kamu tuliskan dulu ketika akan pentingnya seseorang buat dirimu itu sudah kamu penuhi?? (Jangan memungkiri bahwa ketika aku meminta "hak" untuk konfirmasi dirimu sama sekali tidak memenuhi hal tersebut, meski dulupun aku juga melakukan hal yang sama, tapi aku segera menjawabnya kemudian secara personal, bukan mempublikasikan seperti caramu saat ini)

Yah…. namanya juga manusia, pasti ada konflik khan??? Tinggal menyikapinya dengan hati tenang atau kita memilih diam saja ketika kesempatan untuk sama-sama memperbaiki justru dilewatkan begitu saja. Kalo mau bener-bener mutusin silaturahim, ya dengan cara diam seperti itu bukannya udah nujukin sikap??? 

Ps : What a wonderful world……susprise banget dengan "salah penafsiran" mu 🙂

 

Catatan tambahan : Sehabis membaca lagi postingannya hari ini, ada sesuatu yang membuatku merasa sangat tidak nyaman. Bentuk justifikasi sepihak dengan membawa nama materi tarbiyah yang dia anggap aku hanya menerima tapi tidak mengamalkannya 🙂 Sebuah bentuk pembunuhan karakter sebenarnya, tapi sudahlah….. gak perlu aku ungkapkan apa yang pernah dia berikan dulu kepadaku, dan sekarang dia lupakan begitu saja. Aku menyerang sikap, bukan pribadi. Aku menyelesaikan secara personal, bukan publik. kalo akhirnya dia memilih menyerang pribadi dan menyampaikan kepada publik ya itu adalah cara dia mempertahankan egoisme pada dirinya sendiri. 

NB….Dengan sangat terpaksa, aku tidak memperkenankan adanya komentar dalam postingan ini, maaf yah…karena …ini adalah hasil pemikiranku setelah membaca "surprised" tersebut. Minta Maaf itu berat..gak percaya???Aku sendiri yang ngebuktikan 😀

 

Iklan
%d blogger menyukai ini: