Dua Sisi Berbeda (2)

Dua sisi dalam kehidupan ini sering kita jumpai. Ada kaya ada pula miskin, ada yang senang ada pula yang sedih, ada yang bersuka ria namun ada juga yang sedang bersusah payah.

Bagaikan dua sisi mata uang yang berbeda, kadang kita tidak sadar, ketika perut kita kenyang, ada orang disamping kita yang masih harus mengais sisa makanan di tempat sampah. Ada juga saat kita lagi tertawa senang karena kita mendapatkan hadiah mobil baru, sedangkan di sebuah pasar loak, ada seorang bapak tua yang terpaksa menjual sepeda bututnya untuk membayar uang sekolah anaknya yang makin membumbung tinggi. Dan disisi lain, saat kita membuang uang untuk sekedar menonton konser band terkenal dari Amerika, disaat itu pula ada seorang wanita yang menyewakan (maaf) tubuhnya kepada pria hidung belang demi menafkahi anaknya yang masih kecil dan orang tuanya yang telah renta

Tiga hari, aku pernah merasakan jadi "gembel", hidup bersama beberapa orang yang mempunyai taraf ekonomi yang sangat sangat sangat lemah sekali. Dan cukup sudah aku merasakan betapa susahnya untuk bertahan hidup dengan uang ditangan kurang dari 3 ribu rupiah perhari. Pantaslah, mengapa saat penyaluran dana Bantuan Langsung Tunai (BLT) sebagai dana kompensasi BBM kepada masyarakat miskin sangat disambut antusias sekali oleh masyarakat. Mereka rela berdesakan hanya untuk mendapatkan uang sejumlah 300 ribu per 3 bulan (100 ribu/bulan) karena memang uang itu sangat berarti bagi mereka.

Dari situ, aku merasakan sendiri, mencari uang memang susah. Aku itu anak manja awalnya, dan terlalu dimanja sama bundaku, sampai aku gak bisa mandiri. Dan setelah merasakan susahnya hidup, akhirnya aku bertekad untuk lulus kuliah secepatnya. Alhamdulillah tinggal wisuda. Tapi hidup terus berlanjut. Berawal dari pernah merasakan susahnya menjadi "gembel", dengan pendapatan kurang dari 250 ribu perbulan, aku nekat untuk mengurangi subsidi dari bundaku. Mau gak maum, harus belajar jadi orang susah.

Aku memang bukan orang kaya, bahkan keluargaku tidak ada satupun yang menjadi orang kaya. Tapi alhamdulillah, kami tidak pernah merasa kekurangan karena sampai sekarang kami selalu bersyukur atas apa yang kami dapatkan. Dan itu pun di tanamkan kepada diriku oleh kedua orang tuaku.

Hanya sayang, masih banyak diantara kita yang kurang memaknai rasa bersyukur. Sering kali kita hanya memandang yang diatas kita, dengan kelebihan materi ataupun rupa dan fisik. Sering kita melupakan bahwa diluar sana, jauh lebih banyak saudara kita yang lebih layak kita perhatikan dari pada sekedar kita melihat kelebihan yang dimiliki orang lain

Saya lupa, hadits ini hukumnya apa (maklum, saya bukan ahli hadits). "Tidak akan masuk surga, seseorang yang tidur dalam keadaan kenyang sedangkan tetangganya kelaparan". Mungkin kita harus sadar, bahwa dibalik dunia gemerlap kita, ada dunia lain yang berbeda karena tertutup oleh kelamnya kehidupan.

Bukan hanya sekedar simpati, tapi ada bukti nyata kepedulian kita akan kebersamaan dalam hidup ini.

 

Wallahualambishowab

Iklan

2 komentar

  1. hidup kaya raya dengan bersyukur…
    itu resep saya, kang. *senyum manis*

    Dlm kondisi orang tua lg susah seeprti skrg ini, saya msh bs berucap Alhamdulillah. Kenapa? Ya kalo ortu msh jaya spt di masa lalu, mungkin saya ga akan pernah kyk skrg ini: mengharuskan diri untuk bekerja dgn rajin dan jg berhemat.

    semua pasti ada hikmahnya, ya kan Kang?

  2. noorma · · Balas

    nah, kalo sudah sadar berarti sudah separuh jalan =) ayo, semangat! =) perjuangan masih panjang lho.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: