Tantangan dalam Hidup

Berapa orang diantara kita adalah orang yang beruntung. Dilahirkan dari keluarga yang sholeh dan dibesarkan dengan ilmu agama yang baik dari kedua orang tuanya. Selain itu juga di limpahi fasilitas yang cukup atau bahkan berlebih karena taraf ekonomi orang tua yang cukup mapan.

Tapi banyak juga diantara kita dilahirkan dari rahim seorang ibu yang bersuamikan seorang yang saleh namun hidup dengan sederhana dalam kesehariannya, atau bahkan sang ayah tersebut mesti membanting tulang dan memeras keringat untuk menghidupi keluarganya. Meski demikian sang ayah tersebut mampu mendidik istri dan anaknya dengan ilmu agama yang cukup sehingga menjadi keluarga yang berbahagia dan bertakwa.

Ada juga yang dilahirkan dari keluarga yang kaya, bapak ibu yang sukses sebagai pengusaha atau pejabat sehingga berlimpah materi. Namun dengan limpahan materi tersebut, membuat kasih sayang orang tua dianggap bisa digantikan dengan harta dan materi. Akhirnya sang anak jauh dari nilai agama karena kurangnya perhatian orang tua terhadap perkembangan agama anak-anaknya.

Namun, ada yang dilahirkan dari keluarga yang tidak mampu secara ekonomi, dan orang tua juga kurang memberikan perhatian terutama pemahaman agama kepada anak-anaknya, sehingga anak-anaknya menjadi liar dan nakal serta besar dijalanan.

Dari empat sampel diatas, manakah yang anda pilih??

Kita tidak bisa menentukan dari siapa kita dilahirkan. Kita juga tidak dapat meminta untuk dilahirkan dan dibesarkan dari sebuah keluarga yang sholeh dan kaya. Namun kita dapat memilih, bagaimana dan seperti apa hidup kita

Jika dikaitkan dengan masalah pernikahan, secara nyata, sebenarnya sampel pertama adalah keluarga yang paling mudah untuk mendorong anaknya agar cepat berumah tangga, agar dapat mapan dan mandiri. Dengan pemahaman agama yang cukup dari kedua orang tuanya, dapat mendorong sang anak untuk lebih bertanggungjawab dalam hidupnya. Salah satunya adalah dengan bekeluarga.

Akan ada pertanyaan, bagaimana dengan kemandirian dan cara menghidupi keluarga sang anak tersebut. Sebagai orang tua yang cukup paham akan agama, tentu orang tua tersebut sudah mempersiapkan pada sang anak akan kemandirian dan itu akan bernilai besar ketika sang anak memutuskan menikah, terutama di usia muda. Jika memang belum mapan secara ekonomi, tentu sang ayah masih bisa menyokongnya meski tidaklah besar, sampai sang anak bisa mapan.

Ada suatu cerita, ketika ada seorang ikhwan ingin menikahi seorang akhwat. Dia sempat dihinggapi rasa kebingungan karena penghasilannya yang tidak seberapa dan hanya bisa digunakan untuk makan satu orang secara sederhana untuk satu bulan. Namun ternyata, justru orang tua calon akhwat tersebut memberikan sang ikhwan ini sebuah toko yang bisa dia kelola sebagai modal untuk mandiri. Dan akhirnya, menikahlah mereka dan hidup bahagia

Seorang teman baikku, menikah saat masih belum lulus. Dengan penghasilannya sebagai seorang tenaga pengajar, dia nekat menikahi seorang akhwat yang juga belum lulus. Kedua orang tua teman baikku ini, tidak banyak bertanya, dan merestuinya bahkan juga masih membantu (seberapa banyak bantuan, hanya mereka yang tahu). Semua itu hanya karena adanya pemahaman yang baik terhadap agama di dukung tingkat ekonomi yang berkecukupan.

Namun bagaimana jika ekonomi ortu kita biasa-biasa aja, atau juga ortu kita yang cukup kaya namun melarang kita untuk menikah sebelum kita mapan. Pertanyaan yang gampang-gampang susah dijawab sebenarnya. Jika ortu kita cukup paham akan agama, namun tingkat ekonomi yang biasa aja. Paling tidak anda sudah mendapatkan “restu” untuk menikah. Dan langkah selanjutnya adalah membuktikan kemampuan untuk mandiri. Jika kita sudah mampu untuk mandiri, tidak ada alasan lagi untuk tidak menikah

Bagaimana dengan keluarga yang tidak memberikan pemahaman agama yang baik serta taraf ekonomi yang cukup pula? Biasanya tipe seperti ini, sang anak akan menjadi “terserah loe”. Ortu juga gak akan begitu peduli akan hidup si anak, sehingga mudah saja menikah meskipun tidak jelas akan kelanjutan hidup sang anak tersebut.

Namun yang paling susah adalah membicarakan hal nikah kepada ortu yang kaya dan berkecukupan namun kurang memahami soal agama. Biasanya, ortu model ini mengedepankan kemapanan dan materi dalam hal pernikahan. Jika mereka mempunyai anak laki-laki, maka yang diinginkan adalah sang anak mengejar karier dulu sampai level yang cukup tinggi, baru memikirkan berkeluarga. Atau jika mereka mempunyai anak perempuan, maka pengen dapat mantu yang karirnya mapan dan tinggal di lingkungan yang cukup terkenal

Bukan salah mereka sebenarnya, karena semuanya memang diukur dari materi. Sedangkan mereka lupa, bahwa hidup bukan hanya sekedar materi. Jadi jangan salahkan pula jika sang anakpun menjadikan materi sebagai ukuran. Akhirnya adalah rangkaian sebuah hubungan yang tidak jelas dan tidak berfaedah.

Aku kenal dengan beberapa orang yang mengalami kondisi baik sampel 1 sampai sampel 4. Dan aku juga sedikit banyak tahu kondisi beberapa orang ikhwah yang lagi berproses lama banget hanya karena masalah ortu ini. Aku gak mau menghakimi atau menyalahkan mereka, karena seperti yang pernah aku bilang, “memang enak menghakimi orang lain, namun kadang kita lupa akan diri sendiri”. Yang pasti, meloby ortu itu itu sulit, tapi bukan berarti gak bisa. Dan aku salut kepada orang-orang yang kukenal baik dan mereka mampu melakukan itu

 

  • Dedicted buat my bro’s and sis’s yang telah menggenapkan dien nya : ujik, nang, bunda yunita and all of u)

  • Pertanyaan buat aku, ipunk (sukurin kena deh loe ) dan juga banyak sodara ku disana

Iklan

2 komentar

  1. hy” pada kmn nee,,,

  2. cinta tw indah,tpi terkadang bikin qtaa jd
    bingung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: