Hero and not hero

Mereka bukan orang yang ganteng, atau layak menjadi cover boy sebuah majalah. Mereka juga bukan orang pintar yang mampu menciptakan berbagai peralatan handal. Juga bukan orang kaya yang mampu membeli berbagai barang dan menumpuknya di rumah.

Tapi meskipun demikian, mereka adalah orang yang dianggap bertanggungjawab atas sebuah peristiwa besar yang menjadi catatan kelam dalam keanekaragaman suku dan agama di negeri ini. Mereka di anggap sebagai aktor utama dan penggerak massa pembantaian kaum muslim di POSO. Iyya, mereka adalah Tibo Cs.

Dan sekarang, setelah eksekusi mereka telah dilaksanakan. Saat mereka sudah jadi “mayat”, masih banyak orang yang mencoba mengutak-atik masalah ini. Mulai dari eksekusi yang dianggap tidak manusiawi dengan menembak sebanyak 15 tembakan. Sampai adanya pengaduan lembaga penolakan hukuman mati Indonesia ke mahkamah Internasional dengan tuduhan kejahatan Negara kepada warganya.

Bagaimanapun juga, Tibo Cs seakan menjadi “hero” bagi rakyat NTT. Mereka bagaikan menjadi inspirasi bagi orang-orang Nasrani di NTT. Seakan Tibo adalah PAHLAWAN.

Tibo Cs, dituduh sebagai dalang dan aktor utama pembantaian umat Islam…sekali lagi umat ISLAM di Poso. Mereka dan pasukannya, dengan keji menyembelih dan membunuh beratus-ratus umat muslim di Poso. Bahkan tidak memberi ampun kepada anak-anak dan wanita dan orang lanjut usia.

Jika akhirnya eksekusi tersebut dilakukan, maka itu adalah hukuman yang mesti mereka tanggung sebagai konsekuensinya. Namun jika akhirnya Tibo cs menjadi sosok pahlawan bagi masyarakat NTT, akan menjadi sebuah kontradiksi dalam kehidupan.

Amrozi cs, semestinya juga layak dijadikan pahlawan karena aksi “heroik” nya. Namun sekali lagi, semestinya bukan aksi yang perlu diamati, namun akibat dan akses negatif yang terjadi setelah aksi tersebut.

Tibo cs dan Amrozi cs, sama-sama melakukan pembantaian massa meski caranya berbeda. Mereka semua juga menjadi saksi kunci akan aksi selanjutnya. Dan sesuai dengan hukum di negara ini, mereka mesti menjalani eksekusi

Bukan kisah heroik, bukan pula akhir dari hidup dengan eksekusi, namun kesadaran, bahwa batas toleransi di negeri ini sudah teramat tipis sehingga membantai adalah jalan yang teramat mudah bahkan teramat sering dilakukan.

Bagaimana bisa tercipta kedamaian, jika kisah Tibo dan Amrozi menjadi teladan bagi orang-orang disekelilingnya?

Wallahualambishoshowab

Iklan

4 komentar

  1. thx udah posting tentang Tibo…nambahin di tangannya si Tibo (sendirian) kata temen saya yang orang POso :paling tidak sudah 500 kepala orang Islam yang disembelih sama dia. KAcau banget tuh orang!!!

  2. […] ~Artikel Bpk.Andress. […]

  3. Thanks Postingnya… Mau nambahin, Tibo Cs Pantas mati, Amrozi Cs juga pantas mati. Tapi apa yg terjadi, Amrozi CS lebih dulu masuk bui, Tibo Cs nyusul belakangan, system peradilannya LIFO (last in first out)ya mas…

  4. Amrozi dkk d besar2kan tp tibo cs knp gak d besar2kan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: