Jadinya…Mudik..!!!

Akhirnya, setelah diskusi dengan beberapa orang, lebaran tahun ini insya Allah akan aku lewati di rumah Wonogiri. Pada awalnya aku sendiri berencana untuk melewatkan Idul Fitri tahun ini sebagai yang pertama jauh dari keluarga. Bukan kenapa, atau malas ketemu keluarga atau anak yang gak berbakti sehingga tak mau kumpul. Tapi disebabkan faktor non teknis yaitu karena tempat kerjaku sendiri hanya memberikan waktu yang mepet buat mudik.

Sebagai pegawai baru, tentu aku belum mendapatkan jatah cuti tahunan. Dan tentu saja menyebabkan aku mesti stand by untuk jaga kantor. Kantorku sendiri, selain sebagai kantor cabang tempat aktifitas untuk wilayah provinsi Jatim, juga sebagai counter sales atau pusat penjualan. Sehingga mesti tetap stand by.

Ada beberapa alasan kenapa akhirnya, aku memutuskan untuk tetap pulang besok meskipun gak dapat cuti. Diantaranya adalah selain sebagai tradisi untuk kumpul bersama dengan keluarga, ziarah makam ayahku, juga karena setelah mendengar kondisi bundaku yang cukup menurun. Aku baru sadar bahwa usi bundaku sudah 52 tahun lebih. Masa yang sebenarnya bagi sebagian besar orang adalah usia yang belum tua, tapi sebagai single parent yang membesarkan anaknya sendiri (terutama aku) tentu banyak perjuangan yang beliau lakukan. Dan saatnya sekarang aku mesti berbakti kepada orang tua.

Ngomong-ngomong soal kumpul sama keluarga saat lebaran, seumur hidupku belum pernah lebaran sendirian, selalu kumpul bersama keluarga. Biasanya waktu kecil kami sekeluarga biasa kumpul di jakarta, di rumah Om / mamak dari pihak bundaku Dan biasanya kami setelah sholat kemudian “jalan” sambil nyari salam tempel atau angpaw . Besarnya salam tempel itu tergantung juga dari tingkat pendidikan, jadi makin tinggi sekolahnya maka makin besar yang didapat.

Kumpul bersama keluarga besar di jakarta (maklum, tradisi orang minang ) itu aku lakukan sampai tahun 1999. Mulai tahun 2000, kami biasa melewatkan lebaran di rumah saja, karena ada agenda rutin yaitu ziarah makam ayahku.

Tapi, dari sekian banyak lebaran yang aku alamin, mungkin lebaran pertama kali saat usiaku belum genap setahun merupakan lebaran paling spesial dalam hidup. Bukan kenapa, tapi karena saat itu dalam kondisi masih bayi aku membuat geger orang satu rumah. Jadi ceritanya gini, saat sholat Ied, rumah Om hanya ada tante dan bundaku. Saat itu, aku sudah di mandikan dan dipakaikan baju baru. Saat yang lain masih sholat, bundaku sedianya mau menyuapiku makan. Namun saat itu aku batuk-batuk dan seperti tersedak. Bundaku curiga dengan batukku, dan kemudian langusng histeris ketika melihat cincin yang ada di jariku udah gak ada. Ya emang gak ada karena udah aku makan

Akhirnya orang satu rumah pada ribut karena insiden itu, dan kemudian aku akhirnya dibawa ke dokter. Dan saran dokter ternyata malah simple aja, aku disuruh makan yang banyak agar cincin itu nanti bisa keluar bersama kotoranku. Walhasil, aku dikasih makan pepaya mulu biar cepet buang kotoran, dan tentu saja bunda dan tanteku mengorek kotoranku untuk memastikan cincin itu sudah keluar atau belum

Besoknya, baru cicin tersebut keluar bersama kotoranku dan membikin lega orang satu rumah. Jadi mesti sekarang kurus gini, aku pernah makan cincin lhoh . Coba, ada lagi gak yang pernah ngalamin hal kayak gitu? Kalo ada kita bikin komunitas yuk . Sampai sekarang, cerita itu masih jadi guyonan antara aku dan tanteku ketika bertemu

 

Ps : jangan pernah memasangkan aksesoris model apapun pada bayi anda, berbahaya (pengalaman pribadi)

Iklan

One comment

  1. Lebaran hari Senin apa Selasa ya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: