Profesional Dong..!!!

Saat mudik kemaren merupakan saat aku kembali kerumah. Sudah lama aku gak pulang ke rumah, mungkin hampir 5 bulan sejak bulan juni. Meskipun akhir Agustus sempat pulang, namun cuma satu malam dan itupun hanya sekedar nginap aja dan gak sempat keluar ke rumah teman-teman.

Solo – Wonogiri berjarak 32 km, jika naek bus ditempuh sekitar 60 – 75 menit. Sedangkan naek motor bisa hanya 40 – 50 menit (bahkan saat masih suka trek-trekan dulu aku pernah hanya 20 menit )

Kita lupakan saja soal diatas. Sekarang mari membicarakan suatu hal yang lebih produktif. Sudah biasa kita dapati, diatas bis kota atau bis antar kota akan ada seseorang atau beberapa orang yang membawa alat musik yang bisa berupa gitar, kentrung (gitar kecil bersenar 3) bahkan sampai aqua galon atau pipa paralon yang di modfikasi sehingga bisa menjadi gendang. Mereka adalah pengamen

Pertanyaannya adalah, apakah pengamen itu sebuah pekerjaan / profesi???

Seorang pengamen yang pernah aku jumpai, dia mengatakan bahwa mengamen itu adalah alternatif dia untuk mendapatkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Setelah melamar ke banyak tempat, tidak ada panggilan, akhirnya dia memilih menjadi pengamen yang naik turun bis kota. Hampir semua pengamen (meskipun hanya beberapa orang) yang aku tanya mengatakan demikian. Dengan kata lain, bagi mereka, mengamen adalah sebuah pekerjaan / profesi

Namun ada yang membedakan antara pengamen tiap kota dengan kota lainnya. Dari beberapa kota yang pernah aku tinggali, aku menemukan beberapa karakteristik dari pengamen tiap kota. Mulai dari Jakarta, meskipun hanya kurang 3 bulan aku kerja di kota metropolis ini, namun aku sangat akrab dengan kehidupan diatas bis kota. Maklum saja, dalam satu hari kerja bisa aku menghabiskan 4-5 jam diatas bis kota. Dengan demikian, aku pun cukup akrab dengan sajian hiburan diatas bis, yaitu pengamen. Ada yang bernyanyi / nembang dengan diselipi syair (entah karangan sendiri atau gubahan orang lain), atau juga keseluruhan ngamennya adalah puisi panjang yang cukup panjang (hebat banget, bisa hapal seluruh syairnya). Tapi kebanyakan dari mereka adalah pengamen yang melantunkan 3- 5 lagu sekali ngamen dan diimbangi dengan kualitas vokal yang tidak bikin kuping sakit (lumayanlah)

Kalo di Jember, biasanya pengamen membawa temannya, jadi rame-rame dan mereka membawa berbagai macam alat musik yang ringan sehingga suara yang dihasilkan pun lebih rame. Biasanya mereka melantunkan 2-3 lagu yang kadang di modifikasi sendiri.

Sedangkan di Surabaya, biasanya melantunkan 2-3 lagu yang mereka sendiri berusaha menyajikan sebaik mungkin sesuai kapasitas vokal mereka. Namun kalo di Surabaya, justru aku lebih banyak menemui anak kecil usia sekolah yang hanya bersenjatakan kecrek tutup botol sebagai alat musik. Tentu saja secara olah vokal mereka kalah, dan juga lagu yang dibawakan biasanya juga kacau liriknya.

Nah, kalo di Solo ini yang paling parah. Biasanya dengan modal gitar atau kentrung, kemudian menyanyikan lagu yang sedang populer namun vokal dipaksakan dan itupun tidak sampai habis, setelah itu dengan setengah memaksa meminta recehan kepada yang mendengar

Hal ini yang kadang bikin aku jengkel. Aku bisa menerima kalo di Jakarta atau Surabaya mereka sedikit memaksa meminta recehan, karena lagu yang dibawakan cukup banyak dan vokalnya pun tidak terlalu mengecewakan. Pun demikian juga di Jember, karena nuansa rame nya (atau mungkin takut karena di tagih rame-rame ). Tapi kalo yang di Solo, kadang aku sampai gontok-gontokan dengan pengamen, gara-gara aku gak punya recehan namun mereka tetap memaksa meminta. Dan yang lebih menjengkelkan, adalah karena hanya lagu yang sepotong dan tidak selesai serta vokal yang ancur-ancuran mereka meminta “bayaran” atas usaha mereka.

Kalo memang ngamen adalah sebuah pekerjaan, mana profesionalitasnya? Bukankah jika ingin dapat hasil yang banyak, maka usahanya pun juga lebih. Lalu bagaimana bisa mendapat banyak, kalo usahanya sendiri asal-asalan. Jujur saja, para pengamen di daerah Solo dan sekitarnya sama sekali gak profesional. Kalo ingin hasil banyak, profesional dong!!!

 

(16.15, menjelang pulang kantor. Sambil winamp di komputer melantunkan lagu lama kesukaanku “Out of Nothing at All” by Air Supply)

 

Catatan

Aku sendiri pernah ngalamin yang namanya jadi pengamen, hampir 10 tahun silam. Saat liburan akhir tahun, biasanya dengan teman aku naek dari bis ke bis (saat itu pengamen belum sebanyak sekarang). Dan hasilnya yang diperoleh cukup lumayanlah meskipun habisnya juga hanya untuk foya-foya remaja (masa remajaku, bisa baca Sebuah Testimoni)

Iklan

One comment

  1. hmmm…
    susah juga ya? ngadepin orang2 suka maksa kyk getu…

    lain kali siapin receh sekarung aja Kang :p biar gag keabisan..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: