Menjawab Tantangan

“Anak bontot, jadi pikirannya pendek. Gak ada kabar apa-apa, ta-tau udah mau nikah aja”

 

Komentar itu yang dilontarkan oleh kakak sepupuku ketika aku menemuinya di sebuah hotel di Surabaya saat beliau sedang dinas di Surabaya. Komentar itu pula yang beliau ucapkan ketika keluarga besar ku mempertanyakan keputusanku untuk menikah. Sebuah keputusan yang teramat cepat, dibandingkan dengan proses pernikahan saudara-saudara ku yang lain dalam keluarga besar ini.

Aku menikah, setelah melalui diskusi yang panjang dengan bundaku, yang akhirnya berujung dengan restu dari bunda kepadaku untuk menikah. Sebuah restu yang menjadi awal dari segala kemudahan yang terjadi dalam proses menikah.

Banyak protes kenapa aku mesti buru-buru menikah, banyak pula yang sempat menentang kenapa mesti cepat untuk menikah. Dan alasan yang dipakai hampir semuanya sama, yaitu kesiapan financial. Aku masih baru bekerja beberapa bulan, dan masih berstatus kontrak ( dan akan segera berakhir pula 🙂 ), sedang istriku baru saja disumpah menjadi dokter, dan masih harus melakukan PTT yang kemungkinan besar adalah keluar jawa. Tentu saja, dalam segi ekonomi akan menimbulkan tanda tanya besar buat banyak orang.

Belum lagi, pertanyaan apakah “dia” adalah orang yang tepat untuk kita. Pertanyaan itu pula yang terlontar dari seorang teman yang secara kebetulan, sempat aku temui di hotel ketika dia juga sedang dinas di Surabaya ( Thx atas sarapan pagi nya ya Chi, pertama kali gw sarapan di hotel 🙂 ). Dan tetap seperti yang udah aku jawab pada teman tersebut, bahwa “dia” akan menjadi orang yang tepat buat kita ketika dia juga menjadikan kita sebagai orang yang tepat buat dirinya 🙂

Dalam sebuah tulisan diblognya, seorang teman juga mempersoalkan tentang kesiapan ekonomi dalam berumah tangga. Karena jika gak siap, maka akan banyak konsekuensi yang akan di tanggung, termasuk kemungkinan cerai 😦

Namun buatku, justru adalah sebuah tanggungjawab besar dalam diri kita, juga buat keluarga untuk selalu menekankan rasa bersyukur  kepada keluarga kita, dengan semua yang kita punyai, baik hal positif maupun negatif. Karena dengan bersyukur itu pula, maka apa yang tidak kita punya, bukan menjadi sebuah beban yang harus kita pikul, namun dengan apa yang sudah kita punya, maka adalah sebuah anugerah Allah yang mesti kita jaga

Hidup adalah bersyukur, dan rasa syukur itu pula yang membuat kita merasa cukup atas apa yang kita punya

 

Dedicted for

1.  Bunda dan Papa, terima kasih atas ajaran untuk bersyukurnya. Dengan segala kekurangan yang ada, bunda dan papa telah membesarkan anak mu ini hingga dewasa

2.       My Lovely Wife, Marin. Selalu ingatkan abang, untuk terus bersyukur setiap harinya atas apa yang kita punya!

Iklan

One comment

  1. bagus juga postingannya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: