Tentang Berjabat Tangan

Jaman dahulu, saat belum ada kapal pesawat terbang komersial, jamaah haji Indonesia berangkat dengan menggunakan kapal laut. Tentu saja perjalanan menuju tanah suci tidak secepat saat ini. Butuh waktu sebulan untuk sampai ke arab, tergantung arah angin. Nah, suatu ketika jamaah haji Indonesia yang berasal dari madura sampai ke pelabuhan di arab sana, maka nampaklah orang-orang arab yang bertubuh tinggi besar. Ada tradisi bagi orang-orang madura pada khususnya dan orang Nahdliyin pada umumnya, bahwa sebuah kebanggaan pencarian berkah untuk mencium tangan para habib (orang keturunan arab yang dipercaya keturunan Rasulullah), dengan mencium tangan para habib, maka mereka berharap mendapat berkah dari keturunan nabi. Kembali ke cerita, melihat banyak olrang arab, maka serentaklah, para jamaah haji asal madura tersebut berebut mencium tangan orang-orang arab tersebut. Tentu saja orang-orang arab tersebut pada bengong melihat kelakuan pada jamaah haji tersebut. Ternyata, orang arab yang berad adi pelabuhan tersebut sebenarnya adalah kuli pelabuhan yang mencari nafkah dengan mengangkut barang-barang jamaah haji 

Sebuah cerita usang memang, namun cerita tersebut lah yang sedikit mengispirasikan tulisan berikut ini. Jika anda orang madura (saya mohon maaf jika ada yang kurang berkenan setelah membaca tulisan ini), atau anda yang pernah tinggal dalam komunitas madura, maka anda akan tahu tentang kebiasaan berjabat dan mencium tangan yang sudah saya tulis di awal tadi. Saya bukan bermaksud mengejek kebiasaan tersebut, namun saya justru akan menceritakan sebuah fenomena yang terjadi di depan mata saya, dan tidak hanya satu tapi berkali-kali saya lihat dengan orang yang berbeda.

Satu contoh, ketika saya menghadiri walimah teman saya di Situbondo, saat itu yang akan menikahkan adalah seoarang habib (tentu saja habib ini keturunan arab dan “bergelar” Kyai Haji). Ketika sang habib ini datang, serta merta tamu yang datang sontak berebut berjabat dan mencoba mencium tangan sang habib ini. Tapi saya jadi heran, sang habib tentu saja menjulurkan tangan untuk berjabat tangan, tapi bukan sebuah bentuk berjabat tangan yang ‘normal’. Sang habib ini, hanya menempelkan ujung jari tengahnya dan dengan cepat menariknya kembali, sehingga hanya menempel sepersekian detik seakan sang habib ini enggan berjabat tangan dengan para hadirin, dan sekedar formalitas belaka.

Muncul pertanyaan buat saya, apakah begitu berharga tangan sang habib tersebut, sampai tidak mau berjabat tangan dengan sempurna. Sedangkan Rasulullah sendiri memberikan contoh, ketika berjabat tangan maka beliau tidak akan melepaskan sampai yang menjabat tangannya melepaskan. Apakah karena sang habib orang arab, yang tentu saja lebih dekat garis keturunan dengan Rasul sehingga merasa derajatnya lebih tinggi, sedangkan Rasul sendiri, tidak pernah memberikan contoh kepada para sahabat untuk mencium tangan Rasul.

Dalam Islam sendiri, derajat seseorang di hadapan Allah ditentukan oleh ketakwaannya. Bukan mendiskreditkan, namun belum tentu seorang habib lebih bertakwa dibanding orang lain. Manusia dihadapan Allah adalah sama, jika mengharap keberkahan dari Rasul, maka perbanyaklah shalawat kepada Rasul, bukan dengan mengharap keberkahan dengan cara mencium tangan para habib. Mereka memang guru dan pemuka agama, namun mereka tetap manusia yang mempunyai derajat sama dengan kita.

Catatan

1. Saya hanya mengungkap fakta, bukan bermaksud menghina. Mohon maaf jika ada yang kurang berkenan

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: