Kenapa Akhwat Gak Berani PTT

Kenapa akhwat dokter jarang yang PTT 

Ada sebuah pernyataan yang dilontarkan oleh istri, saat kami sedang makan siang beberapa hari lalu. Pernyataan itu adalah, kenapa banyak akhwat yang berprofesi sebagai dokter jarang ikut PTT keluar daerah (keluar Jawa). Kebanyakan mereka memilih PTT di Rumah Sakit sekitar, atau menjadi honorer daerah (tentunya daerah asalnya, bukan daerah pedalaman). Bahkan, kalaupun ada akhwat PTT ke daerah, kebanyakan karena akhwat tersebut adalah orang asli daerah tersebut. Misalnya, ada akhwat yang berdomisili di Papua, kuliah kedokteran di Jawa, kemudian kembali lagi PTT ke Papua

Saya gak bermaksud menjustifikasi, namun hasil diskusi dengan istri ternyata menggelitik saya untuk menuliskan hal tersebut.

Kebanyakan, akhwat yang berprofesi sebagai dokter, ada yang diantara mereka menikah saat masih jadi mahasiswa atau masih coass. Namun banyak juga yang baru menikah saat sudah jadi dokter.

Untuk akhwat yang sudah menikah, jika suami mereka dokter, mereka biasanya akan memilih PTT di tempat yang menjadi domisili suaminya. Sebagai contoh, seorang akhwat teman istri saya yang memilih PTT di Aceh, karena suaminya yang dokter juga PTT disana. Pun demikian juga yang memiliki suami yang bekerja di luar Jawa, ketika sang istri di sumpah menjadi dokter, maka dia memilih PTT di tempat suaminya bekerja, meskipun itu pedalaman. Tapi, kebanyakan akhwat dokter yang sudah menikah dan suaminya bukan dokter, melarang istrinya PTT keluar daerah dan lebih menganjurkan untuk menjadi tenaga honorer daerah saja (meski lama PTT menjadi 3 tahun)

Banyak alasan, kenapa banyak ikhwah yang gak rela melarang istrinya PTT keluar daerah. Dan semua alasan itu wajar-wajar saja kok. Misalnya, karena masih penganten baru (ssst…!! Ini cerita tentang sahabat saya, yang mendapatkan istri dokter yang ternyata juga sahabat istri saya J ). Selain itu karena tidak baik buat sebuah hubungan keluarga, karena jarak suami – istri yang terlalu berjauhan (untuk kasus ini, saya sendiri sebenarnya sempat ditawarin oleh sepupu untuk kerja di perkebunan di Sum-Sel, namun setelah banyak pertimbangan, saya memilih bertahan di Ternate). Atau ada juga yang berkata bahwa suami sudah kerja di
kota tersebut, jika istri PTT keluar daerah, masak suami mesti keluar kerja, sedangkan suami punya kewajiban mencari nafkah (dalam kasus yang ini, saya no comment, karena memang itu yang terjadi. Saya keluar dari tempat kerja, hanya punya tabungan sedikit untuk menghidupi istri, dan berserah diri pada Allah, bahwa rejeki Allah luas, dan saya akan mencari rejeki itu di Maluku)

Tiga alasan tadi, hanyalah segelintir sedikit dari banyak hal yang membuat seorang ikhwah melarang istrinya untuk PTT di daerah. Namun, saya sempat salut ketika istri bercerita bahwa seorang sahabatnya mengajukan PTT ke Maluku, sedangkan dia sudah bersuami dan anaknya masih balita J

Selain dari suami, faktor lain yang memberatkan seorang akhwat untuk PTT keluar daerah adalah faktor keluarga. Banyak orang tua (terutama orang Jawa) yang menyuruh anaknya PTT  di dalam kota saja. Kalopun mesti keluar
kota, tidak terlalu jauh. Mungkin prinsip dari orang Jawa yang mempunyai filosofi “Makan gak makan, asal ngumpul”. Sebuah alasan yang juga bisa diterima sebenarnya, karena dalam falsafah jawa, seorang wanita itu harus dilindungi. Jadi gimana bisa ngelindungi, jika sang anak perempuan jauh dari pengawasan orang tuanya.

Dua sebab diatas, sudah lebih dari cukup untuk membuat seorang akhwat berpikir panjang dan mengurungkan niatnya (jika punya niat) untuk PTT keluar daerah. Sebagai seorang istri, maka dia mesti menghormati keputusan suaminya yang memilih sang istri untuk PTT lokal. Pun demikian sebagai seorang anak, restu dan ridho orang tua adalah hal yang penting bagi keselamatan dan hidup sang anak.

 

Lalu bagaimana yang belum  menikah??

Ini dia yang unik. Saat saya berkomunikasi dengan beberapa teman akhwat yang sedang coass atau masih kuliah kedokteran, ada beberapa diantara mereka yang justru tidak mau PTT keluar daerah. Seorang diantaranya, beralasan ingin PTT di RS saja, agar ada yang bisa menjadi tempat bertanya ketika ada masalah yang tidak bisa diselesaikan.  Ada juga yang khawatir dengan kondisi daerah tempat PTT yang mungkin rawan bagi seorang akhwat, dan masih banyak alasan lain.

Saya menghormati alasan mereka, karena tentu saja mereka ingin yang terbaik bagi dirinya. Namun di balik itu, saya ingin mengajukan sebuah argument tentang PTT keluar daerah.

Ketika PTT keluar daerah, maka seorang dokter akan ditempatkan di daerah Terpencil (T) atau daerah Sangat Terpencil (ST). Kedua daerah tersebut, baik T dan ST, 99 % penempatan adalah di Puskesmas, bukan di RS. Bahkan bisa saja jika emang diperlukan, ditempatkan di Puskesmas Pembantu (Pustu). Kondisi puskesmas di daerah T dan ST adalah kekurangan dokter, bahkan mungkin dokter PTT tersebut adalah satu-satunya dokter di puskesmas itu. Mungkin capek yang akan dirasakan, karena pasien bisa jadi banyak dan harus ditangani sendiri. Namun, justru disitulah tantangan yang harus dihadapi. Menurut istri, ketika kita adalah satu-satunya dokter di daerah itu, maka itu akan melatih kita untuk menghadapi kondisi yang sulit, dan itu akan jadi pengalaman yang berarti berguna kelak ketika kita menjalani Program Spesialis (PPDS). Perbedaan mendasar dari seorang PPDS pra PTT dan paska PTT adalah PPDS paska PTT lebih tanggap dan terlatih untuk menangani pasien, karena sudah berpengalaman dalam menangani pasien. Sedangkan pra PTT, tidak terlalu berpengalaman dalam menangani pasien. Selain itu, ketika kita hanya menjadi dokter satu-satunya dalam daerah tersebut, kita tidak bisa digugat dalam penanganan jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Tentu saja, selama penanganan pasien sesuai dengan prosedur yang ada.

Jika seorang dokter memilih PTT di RS, dengan argument ada yang mengingatkan ketika ada sebuah masalah, justru yang menjadi pertanyaan buat saya adalah benar gak dia seorang dokter. Sepengetahuan saya, dokter mesti menempuh pendidikan dokter (S1) selama 4-5 tahun, lalu mengikuti coass (Dokter Muda) selama ± 2 tahun. Selama 2 tahun itu, full praktik menangani pasien sesuai dengan bagian masing-masing, seperti bedah, anestesi, obgyn dll. Selama 2 tahun tersebut, pendidikan dokter selama 4 tahun itu, diterapkan secara langsung dengan menangani pasien, di bimbing oleh para dokter pengasuh. Ketika dinyatakan lulus di semua bagian, maka dia berhak menyandang dan disumpah sebagai seorang dokter.

Lalu, jika sudah menjadi seorang dokter,  buat apa untuk masih bertanya atau ada yang ngingetin ketika ada masalah. Memang, second opinion itu penting dalam bidang kedokteran, tapi bukan kita berharap ada yang ngingetin terus khan? Anda dokter, kalo masih terus diingetin, berarti gelar dokter anda meragukan dong……!!!

Lalu, tentang takutnya daerah yang rawan bagi seorang akhwat jika PTT keluar daerah, menurut saya itu adalah ketakutan yang anda buat sendiri, karena anda belum menjalaninya. Sebagai contoh, istri saya sendiri. Pada awalnya, saya sempat khawatir istri akan ditempatkan di daerah Batang Dua, daerah yang 100 % nasrani, ditengah lautan, 4 jam naek speed dari Ternate, dan babi adalah binatang peliharaan yang seenaknya aja jalan di jalanan umum.

Namun, kekhawatiran saya berlebihan. Jika anda seorang wanita, anda diprioritaskan untuk mendapat tempat yang “paling mudah”, tentunya Dinas Kesehatan Kota memiliki pertimbangan (dalam hal gender) dalam penempatan. Dan itu yang terjadi pada istri saya. Dan ternyata, demikian juga yang terjadi pada para dokter se-periode PTT dengan istri saya. Kebanyakan, mendapatkan tempat yang relatif nyaman. Dan mereka semua cukup enjoy menjalaninya. Dan satu hal lagi, ternyata daerah penempatan itu merupakan tawaran, bukan sebuah perintah penugasan. Jadi anda bisa memilih tempat, selama tempat tersebut memang membutuhkan dokter.

Tidak ada masalah dalam tempat yang rawan, asalkan kita juga bisa menghormati adat daerah tersebut. Lagian, daerah luar jawa tidak se-primitif 10-15 tahun lalu. Hampir semua kecamatan memiliki jalan lintas kota, dan juga terjangkau oleh signal telpon seluler. Jadi buat apa takut???

Lagian, PTT di daerah ST hanya 6 bulan. Dan kalau mau tahu, sebenarnya masa kerja efektif PTT di daerah ST hanya 4 bulan, karena 1 bulan diawal disibukkan akan adminstrasi penempatan, dan 1 bulan di akhir sudah ngurus administrasi pemulangan.

Uraian diatas, hanyalah sedikit gambaran dari saya kenapa sangat sedikit akhwat yang ikut PTT. Sedangkan yang saya tahu (saya mengambil sample di kampus istri, Unair) hampir separuh mahasiswa kedokteran itu “ngaji”, dan kebanyakan mahasiswa kedokteran itu adalah wanita. Jadi, tentu saja banyak akhwat di kampus kedokteran. Lalu, kenapa jarang PTT daerah???

 

(Selanjutnya)
Tantangan, Ikwah Semestinya PTT Keluar Daerah

 

Iklan

5 komentar

  1. menarik sekali, boleh saya forward ke milis alumni SMA saya di Bandung. Nampaknya disana ada beberapa alumni yg masuk kedokteran. Oya, salam cinta dari bandung, cup cup, hehehe…

  2. hee ktemu lagi

  3. Terimakasih Share informasi-ini…
    wassalam

  4. salam kenal mas.. saya juga punya rencana resign dr tmpr kerja buat nemanin istri ptt ke daerah,sudah punya anak 1 umur 2.5 tahun.. butuh banyak masukan dari mas andress, supaya lebih dalam pertimbangan. Tolong add saya via ym:ichsanmufti

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: