PNS (lagi – lagi)

Sebuah data disampaikan oleh Menteri PAN, Taufiq Effandi bahwa dalam 2 tahun terakhir ini pemerintah Indonesia telah memberhentikan dengan tidak hormat – memecat – lebih dari 200 orang PNS dengan berbagai macam alasan, diantaranya adalah indispliner, tidak masuk bekerja atau terkait narkoba. Berarti dalam rentang waktu tersebut, hampir setiap 3 hari pemerintah memecat satu orang PNS dari jajaran pegawai pemerintah
Memang jumlah yang tidak berarti jika di banding dengan total jumlah PNS di seluruh Indonesia. Namun yang menjadi pertanyaan adalah, jika tidak masuk kerja, indispliner dsb, buat apa jadi PNS?

Menjadi PNS memang adalah sebuah pilihan yang mudah untuk mencari pekerjaan, karena gaji yang hampir tiap tahun naik, serta kompetensi yang tidak terlalu ketat jika dibanding dengan bekerja di perusahaan swasta. Namun ada beberapa kelemahan dalam catatan saya.
Yang pertama adalah kurangnya kompetensi antar pegawai. Jika anda PNS, secara normal, setiap 4 tahun sekali anda akan naik golongan. Jika anda seorang sarjana S1, berusia 25 tahun saat menjadi PNS, maka paling apes anda akan pensiun pada golongan IV/A, yang mana mungkin saja anda sudah menjadi kepala dinas kabupaten / kota. Berbeda halnya jika ada kompetensi antara pegawai, sehingga memunculkan persaingan – tentunya persaingan yang sehat – antar pegawai. Sehingga tentu saja karena ada kompetensi, maka akan dihasilkan pimpinan yang profesional dan berintegritas tinggi, bukan pimpinan yang menjabat karena golongannya yang tinggi.

Yang kedua adalah penyerapan rekrutmen PNS yang tidak profesional. Bukan rahasia jika banyak pejabat yang “menitipkan” anaknya pada sebuah institusi tertentu untuk menjadi PNS di institusi tersebut. Belum lagi orang-orang berduit yang bersedia membayar jutaan rupiah, agar keluarga atau anaknya bisa menjadi PNS. Hal ini menimbulkan kondisi dimana seorang PNS tersebut terlalu mudah untuk mendapatkan posisi sebagai PNS, padahal jika saja dilakukan rekrutmen yang jujur, bisa jadi orang lain lebih layak mengisi posisi anak pejabat tersebut.

Yang ketiga adalah sikap profesionalisme PNS. Saya gak perlu melihat jauh, di sekitar Ternate ini, banyak fenomena yang saya amati. Bukan sekali dua kali, saat saya belanja di pasar atau swalayan di Ternate, saya mendapati PNS dengan seragam dinasnya asyik makan atau belanja, padahal waktu masih menunjukkan jam 11 siang alias jam produktif. Itupun juga tidak satu atau dua orang, namun banyak orang yang mengenakan seragam dinas PNS, saat jam kantor justru keluyuran di pasar atau pusat pertokoan.

Belum lagi waktu kerja yang terbilang singkat. Di Ternate (atau Maluku Utara pada umumnya), jam kantor mestinya dimulai jam 8 pagi dan berakhir jam 5 sore hari (sesuai standar jam kerja nasional, 40 jam seminggu). Namun dengan alasan perbedaan waktu dengan pemerintah pusat, tak jarang kantor baru dipenuhi pegawai jam 9 pagi. Dan jangan harap jam 2 siang anda masih bisa mengurus keperluan anda pada kantor tersebut, karena jam tersebut rata-rata kantor sudah kosong pegawainya.

Beberapa faktor diatas bisa jadi cukup banyak mempengaruhi kinerja PNS dalam pelaksanaan tugasnya. Mestinya, pemerintah paling tidak bisa membenahi sistem yang selama ini diterapkan agar kedepannya dapat meningkatkan kinerja dari PNS.

Masak gak malu, digaji dari uang rakyat tapi gak ada kerja buat rakyat

Iklan

2 komentar

  1. PNS memang enak sih. Kerjanya nge-Net dan nge-Blog tapi digaji.

  2. wah, boss jangan heran kenapa PNS bisa kayak begitu, seharusnya mereka jangan disebut sebagai PNS. tapi pasukan 902, masuk jam 9 pulang jam 2 hasilnya 0….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: