Tentang Menikah (lagi)

Nekat untuk Menikah! Kata itulah yang dulu saya pakai saat memutuskan diri untuk menikah. Bagaimana tidak nekat, jika penghasilan masih pas-pasan, kerja masih kontrak 6 bulan, dan hanya punya tabungan sedikit buat biaya nikah 🙂. Tapi kalo gak nekat, maka saya akan lama untuk menikah. Itulah yang saya sampaikan kepada bunda saya ketika saya minta ijin buat nikah 🙂

Menikah adalah masalah yang sederhana, namun rumit. Sederhananya adalah, anda tinggal memutuskan kapan menikah. Saat lulus kuliah, atau saat usia 25 tahun, atau momen/waktu yang anda anggap saat yang tepat untuk menikah (tentunya, persiapan baik fisik, mental maupun materiil sudah disiapkan). Namun menjadi rumit ketika anda masih ragu dengan calon anda (baik yang “disodorkan” pembina anda, atau mencari sendiri), terbentur dengan kondisi keluarga (baik keluarga anda, ataupun keluarga calon anda), sampai juga pada kesiapan fisik, mental dan tentunya materiil.

Bicara masalah calon, tentunya anda sudah mempertimbangkan dengan sebaik-baiknya calon pasangan hidup anda. Menikah bukan hanya sehari atau cuma setahun, namun untuk seumur hidup. Makanya, ada sebuah pepatah berbunyi “ketinggalan pesawat menyesal satu jam, tidak naik kelas menyesal satu tahun, namun salah memilih pasangan maka akan menyesal seumur hidup”.

Tentang hal diatas, saya jadi ingat sebuah masalah yang dialami oleh salah satu teman “bunderan” istri, masalah rumah tangga tentunya. Masalah tersebut sudah berkembang terlalu jauh, sampai sang suami sudah mengultimatum teman istri saya tersebut dengan sebuah kalimat sakti “tolong dipikirkan lagi hubungan kita, karena jika terus seperti ini saya khawatir akan menyakiti kamu atau anak kita”. Singkatnya, sang suami ini sudah memperingatkan istrinya (teman istri saya) untuk berpikir tentang pernikahan mereka berdua.

Usut punya usut, ternyata saat proses taaruf mereka dulu terlalu singkat, dan langsung menikah begitu saja sampai sekarang punya anak dua. Namun dalam perjalanannya, ternyata karakter mereka berdua bertolak belakang, sehingga beberapa kali menimbulkan pertengkaran, hingga akhirnya pernah sampai dua kali melakukan pemukulan terhadap sang istri hanya karena masalah sepele.

Dalam masalah tersebut, saya hanya memberikan saran melalui istri saya, dengan kondisi yang sudah seperti itu, sebaiknya ada seorang penengah yang bisa dipercaya untuk memfasilitasi masalah yang mereka hadapi.

Saya gak mau menjustifikasi, sample diatas pun saya sampaikan sebagai sebuah pertimbangan saat memilih pasangan maka ada sebuah pemikiran yang mendalam, sehingga tidak menimbulkan masalah di kemudian hari.

Perceraian di kalangan ikhwah, mungkin jarang terdengar, namun ternyata jumlahnya ratusan atau bahkan ribuan. Saya sendiri melihatnya sebagai sebuah “hukum alam”. Disaat jumlah kader yang ada semakin banyak, maka akan berbanding lurus dengan jumlah masalah yang ada. Namun sekiranya, hal tersebut bisa diminimalisir, dengan adanya sebuah pemahaman kepada seluruh kader, bahwa menikah adalah sebuah ibadah, maka pergunakanlah kesempatan tersebut dengan niat yang baik, cara yang baik dan juga tujuan yang baik.

Kembali pada masalah nekat, di blog saya yang lama, saya sempat menulis saat dulu saya sempat berdiskusi dengan Ust. Fauzil Adhim, tentunya tentang masalah nikah. Dan sampailah pada sebuah kondisi, bahwa ust. Fauzil mengompori saya untuk segera nikah jika kesiapan yang saya punya sudah cukup.

Hal yang sering menjadi problem buat seorang ikhwan buat menikah adalah kesiapan materi. Hal yang wajar tentunya, karena sebagai seorang suami, maka mencari nafkah adalah tugas dan tanggung jawab suami. Mungkin ikhwan tersebut sudah bekerja, namun mungkin penghasilan yang di punya, hanya bisa buat hidup seorang diri, dan itupun pas-pasan lagi 🙂. Namun sebenarnya bukan sebuah alasan untuk menunda pernikahan. Karena Allah sendiri sudah menjanjikan, bahwa rezeki manusia sudah di jamin oleh Allah

Hal tersebut yang membuat saya juga memberii motivasi kepada seorang al akh yang Insya Allah tanggal 7 Juli besok akan menikah di Jawa. Meski saat memutuskan menikah, gajinya masih 800 ribu, sedang istri belum penempatan kerja, padahal biaya hidup di Ternate sangatlah mahal, bisa 3 kali lipat dari biaya hidup di jawa. Namun insya Allah, Allah akan menjamin rezeki setiap hamba-Nya.

Masalah yang sering dihadapi juga adalah masalah dengan keluarga, terutama dengan keluarga besar. Beberapa suku di Indonesia, keluarga besar banyak menjadi faktor dominan dalam mengambil keputusan, termasuk masalah pernikahan. Misalnya saja suku Minang alias Padang – kebetulan saya sendiri adalah orang Minang-. Bagi orang Padang, laki-laki itu “dibeli”. Sesuatu yang tidak lazim sebenarnya. Hal itu dikarenakan jika misalnya bercerai, maka laki-laki tidak berhak atas harta yang ada, ternasuk rumah (dalam hukum adat). Selain itu, kebanyakan gadis minang, diharapkan menikah dengan sesama orang padang, bahkan banyak yang dijodohkan dengan saudara sendiri (hal yang sama juga dilakukan pada orang arab di Indonesia). Hal ini bertujuan, agar harta warisan tidak jatuh ke orang lain, alias masih dalam lingkaran keluarga (dalam hukum adat minang, laki-laki tidak dapat hak waris. Hanya ada pada anak perempuan). Oleh karena itu, jika ada seorang ikhwan jawa, akan menikah dengan akhwat Minang, mungkin bisa akan lama prosesnya, karena harus berhadapan dengan keluarga besarnya terlebih dulu. (Namun dalam beberapa waktu belakangan ini, adat tersebut sudah tidak terlalu kaku lagi sehingga proses menikah lebih mudah)

Atau misalnya saja di Ternate sini. Mungkin dalam hal adat, tidak terlalu serumit seperti orang padang, namun hal yang sering menjadi masalah bagi ikhwan yang akan menikah dengan akhwat asli Ternate adalah masalah mahar atau mas kawin. Sudah menjadi adat orang Ternate, meminta mahar yang cukup memberatkan yaitu tiga ekor sapi. Jika satu sapi berharga 7 juta, maka untuk mahar saja sudah habis 21 juta. Suatu jumlah yang tentunya sangat besar bagi pihak ikhwan. Belum lagi masalah pesta, yang menjadi adat di Ternate, pesta pernikahan berlangsung mewah dan besar-besaran, selama 3 hari 3 malam, musik nonstop 24 jam. Sebuah tradisi yang mubazir sebenarnya. Makanya, tak heran banyak laki-laki ternate yang memilih nikah dengan orang jawa, hanya karena adat tadi.

Oleh karena itu, seni menghadapi keluarga besar pasangan kita sangatlah diperlukan, karena kita menikah tidak hanya dengan pasangan kita, namun saat kita menikah, maka keluarga pasangan kita juga menjadi keluarga kita

Alhamdulillah, saat saya menikah banyak hal yang dipermudah oleh Allah. Mulai dari calonnya sendiri (love u my wife 🙂 ), dapat kerja yang lumayan bahkan ada kesempatan diangkat pegawai tetap, sampai keluarga besar yang tidak terlalu mempermasalahkan kenapa saya menikah hanya beberapa bukan setelah lulus kuliah J

Dan saya yakin, dengan niat yang baik, cara yang baik dan tujuan yang baik maka insya Allah, Allah akan mempemudah dan meridhoi pernikahan kita J

Dedicted for

1. My lovely wife 🙂

2. Akh Fredy yang segera menempuh hidup baru. Barakallahu laka, wabaraka alaika wajama’a bainakuma fi khoir

3. My bro and sist, everywhere – anywhere

Iklan

2 komentar

  1. Begitulah, menikah harus nekad dengan niat Lillahi Ta’ala.
    Aku pun demikian. Sampai sekarang sisa gaji 800-an rb tetap bisa, maklum hidup di desa yang serba murah.

    Penjaga Sanggar Mewah.

  2. mas, istrinya suruh buat blog juga dunk, biar bisa kenalan 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: