Satu Istri Cukup?!

Tulisan ini sebenarnya lebih layak dimuat pada bulan lalu, saat “konflik” baru saja berkembang. Yaitu terkait dengan kontroversi buku yang ditulis oleh Ustad Cahyadi Takariawan, “Bahagiakan Diri dengan Satu Istri”

Entah kenapa. Media “memblow up” buku tersebut, yang membuat banyak ikhwah yang resah. Resah ketika banyak ikhwah yang berpoligami, karena dalam buku tersebut menuliskan bahagia dengan memiliki satu istri. Resah bagi ikhwah yang masih punya istri satu, dan punya niat berpoligami. Serta resah bagi akhwat yang selama ini mempunyai pandangan mendukung poligami J

Saya gak mau bicara masalah hukum alias fiqh poligami, karena saya emang bukan ahli fiqh, namun saya hanya ingin menekankan suatu hal.

Poligami adalah sebuah pilihan. Poligamipun, diperbolehkan bagi orang-orang yang layak berpoligami. Satu syarat yang utama dari poligami adalah “SANGGUP”. Sanggup secara financial, fisik dan juga mental.

Kesanggupan itu, tentunya juga didukung oleh pemahaman agama yang baik, karena prinsip sebuah pernikahan adalah perlindungan bagi seorang wanita. Jika wanita itu masih perawan ataupun janda, ketika menikah maka dia berubah status menjadi nyonya, dan tentunya ada suami yang melindungi kehormatan dan derajatnya dihadapan masyarakat. Dengan hal tersebut tentu saja meminimalkan fitnah yang muncul.

Namun, dari banyak hal yang saya jumpai, nampaknya poligami sepertinya sudah menjadi “cita-cita” bagi banyak ikhwah. Meskipun hanya bersifat kelakar ataupun candaan yang muncul saat bertemu atau berkumpul pada sebuah acara, namun poligami selalu muncul menjadi bahan utama dalam pembicaraan. Nampak dalam penafsiran saya, bahwa poligami adalah sebuah “keharusan” dan menjadi hal yang wajar bagi ikhwah untuk berpoligami

Ini yang saya garis bawahi, sudah saya tekankan di muka bahwa poligami adalah sebuah pilihan. Ketika seorang ikhwah merasa cukup dengan satu istri, karena dalam diri istrinya ditemukan banyak manfaat yang bisa diperoleh, maka buat apa poligami.

Keadilan adalah sebuah syarat mutlak dari poligami, dan menjadi janji Allah pula bahwa jika tidak mampu berlaku adil, cukuplah satu istri karena menjauhkan diri dari kezhaliman. Dan inilah yang harus kita perhatikan. Kemampuan untuk berpoligami didukung oleh kemampuan kita untuk berlaku adil, bukan hanya kepada istri, namun juga kepada tanggungjawab kita pada yang lain. Ada sebuah “berita negatif” yang saya terima, terkait dengan salah satu anggota dewan. Dimana anggota dewan ini jarang turun ke konstituennya karena hampir setiap minggunya kerjaannya adalah terbang dari Ternate-Manado-Makassar. Karena punya istri di Manado dan Makassar, dan kerjanya menjadi anggota dewan yang berkedudukan di Ternate. Nah, kalo gitu apakah ini bisa disebut yang namanya keadilan, ketika tanggungjawab yang lain justru tidak di selesaikan hanya karena memenuhi tanggungjawab pada istri (maaf, berita ini belum saya crosscheck kebenaran, namun tetap saya tulis sebagai sebuah pertimbangan saja)

Sekali lagi saya tidak menolak poligami, namun saya juga tidak mendukungnya. Karena bagi saya, adalah sebuah pilihan untuk memiliki satu istri, dan ketika dengan memiliki banyak istri, maka waktu kita banyak terserap buat membagi perhatian pada istri kita, sedangkan ternyata waktu tersebut justru bisa kita gunakan untuk melakukan sebuah perubahan yang berarti, maka pilihan untuk berpoligami sebenarnya adalah sebuah pilihan yang tidak layak dilakukan. Karena tentu saja, dengan memiliki banyak istri, maka ada bagian dari waktu kita yang mesti dipergunakan untuk memperhatikan istri. Dan makin banyak istri, maka makin banyak waktu yang harus kita berikan untuk istri.

Wallahualambishshowwab

Iklan

6 komentar

  1. satu istri cukup?! sangat cukup !

    itu pilihan saya…

    😀

    Salam kenal…

    Peace, Love `N Harmony !

  2. Ada yang satu saja kewalahan, ada yang perlu 2 ada yang butuh 3 dan diperbolehkan sampai 4.

    Silahkan dipilih… dipilih… Ada dasar syar’i-nya.

    Penjaga Sanggar Mewah

  3. Imam Mawardi · · Balas

    cukup, boleh tambah walau cukup. tambah bukan berarti tamak dan serakah.

  4. Poligami memang bukan sesuatu yg dosa, apabila disahkan dalam agama maupun hukum. Sehingga keberadaan isteri2nya mempunyai kekuatan yg sama. Tetapi manusia bukanlah nabi yg bisa berbagi secara adil.

    Jadi kesetiaan memang memerlukan Pengorbanan. Dan apabila laki2 yang mempunyai nurani, pasti tidak akan pernah melakukan affair dengan perempuan lain ataupun berpoligami.

    klo dibalik, boleh gak isterinya POLIANDRI? ..hihihi..

  5. satu istri cukup mas.
    satu di Solo, satu di Jember dan Satu di Bandung eh iya yang terakhir satu di Padang. cukup ga usah banyak-banyak…

    +++++

    perbandingan wanita laki-laki makin hari kan makin besar rasionya…

  6. eagermall · · Balas

    lah,…. baca pula buku “jangan rebut suamiku”, karya siapa saya lupa. berjodoh tuh dengna buku bahagia dengna satu istri,…
    he…he,….

    bagaimanapun jarang dan hampir tak ada wanita mau berbagi suami,… jika dia,..alaupun toh ada mayoritas motivasinya tak seperti yang diatur oleh aturan agama. piye yo ngomongnya,… sulit,…. pokoke emoh lah,…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: