Sebuah Bangsa Berbudaya (Tidak) Selamat

Sebuah Tulisan dari Istri 🙂

Sebuah Bangsa Berbudaya (Tidak) Selamat

Kalimat di atas adalah judul sebuah artikel di majalah Interaksi No2/tahun IX/2007 yang aku temukan tergeletak di sebuah meja pegawai puskesmas tempatku PTT. Isinya menarik, mengenai betapa bangsa Indonesia memiliki angka ketidakselamatan yang tinggi dibandingkan bangsa-bangsa lain di dunia. Ketidakselamatan tersebut termasuk kecelakaan di jalan raya (kecelakaan lalu lintas), kecelakaan dalam kerja (working accident), kecelakaan selama mendapatkan perawatan medic, akibat bencana, alam atau buatan (kesalahan) manusia dll.

Berikut sebuah kutipan dari artikel itu.

Setiap tahunnya 300.000 nyawa hilang di jalan raya (transportasi). Mulai dari pengendara motor roda dua, mobil pribadi, angkutan umum, kereta api, kapal sampai pesawat. Penyebabnya bermacam-macam mulai dari mengantuk, rambu lalu lintas yang tidak jelas, kendaraan tidak laik jalan, kebut-kebutan.

Organisasi kesehatan yang seharusnya menjunjung tinggi keselamatan, ternyata belum aman. Sayangnya di Indonesia belum ada survey kesehatan nasional yang menghitung angka keTIDAKselamatan pasien di rumah sakit, sedangkan di AS sekitar 44.000 sampai 98.000 pasien tidak selamat (meninggal) akibat medical error (if there are no evaluation, how can they know how good or how bad their job were?)

Ketidakselamatan itu konon merupakan akibat dari kesalahan system, bukan kesalahan individual. Karena memang diakui atau tidak, Indonesia belum memiliki system pencegahan dan tanggap kecelakaan/bencana yang tertata baik (pemerintah masih sedang merancangnya). Dari pengalaman-pengalaman selama ini dapat dilihat betapa amburadulnya kerja tim penanggulangan bencana. Begitu juga misalnya jika terjadi kecelakaan di jalan raya yang memakan korban cukup besar, akan terlihat bahwa untuk evakuasi korban memakan waktu yang lama jika harus menunggu tim P3K datang, sehingga biasanya penduduk sekitar area kecelakaan akan berusaha menolong semampu mereka (dan karena mereka tidak mendapatkan pelatihan mengenai bagaimana transportasi korban kecelakaan yang baik dan benar, biasanya korban kecelakaan tersebut akan mendapatkan luka tambahan atau semakin parah lukanya sampai ada yang meninggal akibat cara transportasi yang tidak benar, tetapi ini tentu saja diluar kemauan dan pengetahuan si penolong). Sarana dan prasarana yang ada pun terlihat pas-pasan atau bahkan tidak ada.

Misalnya, rambu-rambu lalu lintas yang ada di jalan (dan banyak jalan rawan kecelakaan yang tidak memiliki rambu-rambu lalu lintas!) banyak yang sudah sulit dibaca di siang hari apalagi malam hari (entah karena pudar catnya, tertutup pohon-pohon peneduh trotoar atau kios-kios pinggir jalan, atau memang letaknya tidak strategis). Atau tidak adanya pemadam kebakaran portable di gedung-gedung bertingkat, tidak adanya tangga darurat yang mudah dicapai. Jarang sekali kita temukan adanya pipa air bertekanan tinggi di jalan-jalan yang bisa diakses sewaktu-waktu jika terjadi kebakaran.

Demikian juga dengan informasi yang diberikan pada masyarakat umum, sangat jarang sekali bahkan tidak ada. Jika anda sedang bepergian, tahukah anda nomor-nomor darurat yang bisa dihubungi 24 jam untuk mendapatkan pertolongan seandainya anda mengalami kecelakaan atau melihat kecelakaan. Jika anda berada dalam kapal atau pesawat, tahukah anda apa yang harus anda lakukan jika kapal tiba-tiba tenggelam, atau pesawat anda tiba-tiba harus mendarat darurat? (akhir-akhir ini aku dan suami cukup sering naik pesawat dan kapal, sayangnya hampir separuh lebih dari pesawat dan kapal yang kami tumpangi tidak ada pengarahan mengenai langkah-langkah yang harus diambil jika kondisi darurat terjadi, termasuk dimana harus mengambil pelampung, dimana sekoci dan pintu daruratnya. Tampaknya awak pesawat dan kapal berasumsi bahwa semua penumpang sudah mengerti apa yang harus dilakukan).

Jika anda berada di rumah sakit sebagai pasien yang akan mendapatkan terapi medik, tahukah anda perlakuan apa yang seharusnya anda terima, langkah-langkah prosedur terapi tersebut, apa resikonya dan efek samping, dan apa yang akan dilakukan dokter jika seandainya muncul salah satu resiko tersebut? (or you just trust 100% to your doctor to do anything to you, perhaps even give you 5 year warranty?)

Jika saat ini anda berada di sebuah gedung bertingkat, tahukah anda dimana letak tangga darurat terdekat, letak pemadam kebakaran portable, atau prosedur tetap yang harus anda lakukan seandainya terjadi gempa atau kebakaran saat anda berada di dalam gedung itu? Atau dimanapun anda berada saat ini, lihat sekeliling anda, adakah papan petunjuk mengenai apa yang harus anda lakukan seandainya tiba-tiba terjadi gempa bumi, gunung meletus, kebakaran atau tsunami? Apa anda tahu kemana anda harus pergi? Siapa yang harus anda hubungi untuk menyakan informasi macam itu?

Kemudian, jika anda selamat dari suatu bencana atau kecelakaan, tahukah anda apa yang harus anda lakukan untuk meminimalkan akibat dari bencana atau kecelakaan itu pada anda atau orang di sekitar anda? Tahukah anda bagaimana cara menolong korban-korban lain? (as in don’t move them if you think their legs or arm or neck in kinda funny position, or as in don’t give them a drink if they can’t even answer your calling, you might, in great chance, suffocated them to death).

Indonesia yang secara geografis rawan gempa baik tektonik (pergerakan lempeng bumi) maupun vulkanik (aktivitas gunung berapi) ternyata hanya sedikit sekali menerapkan konstruksi anti gempa. Pemerintah baru saja terpikir untuk memasang system siaga tsunami SETELAH bencana Aceh terjadi. (yeah, we kinda need those don’t we?)

Dari beberapa bencana alam besar yang menimpa Indonesia 10 tahun terakhir, ribuan nyawa yang hilang sebenarnya dapat dikurangi jika saja ada system pencegahan dan penanggulangan bencana nasional yang baik dan efisien serta DILAKSANAKAN dengan baik. System yang baik, secara teori, mampu mendeteksi kecelakaan yang akan terjadi, sehingga memungkinkan pihak berwenang untuk mengurangi jumlah korban dan kerugian. Tsunami memiliki tenggang waktu beberapa menit-jam sejak terjadi gempa bawah laut sebelum menghantam pantai tergantung jarak gempa dari pantai, waktu ini cukup untuk menyelamatkan beberapa ratus nyawa manusia (if you care enough for them).

Tetapi tentu saja, pencegahan dan antisipasi adalah the best policy. Desain gedung dapat meminimalkan jumlah korban dan kerugian jika terjadi kebakaran atau gempa, apalagi jika ditambah pemasangan petunjuk arah tangga darurat dan pemadam kebakaran portable di setiap tempat yang strategis, atau pemasangan system deteksi asap di setiap gedung bertingkat (it’s mean also, don’t smoke here or else). Pemasangan rambu-rambu lalu-lintas di tempat-tempat strategis, sanksi yang tegas dan berat untuk pelanggar aturan lalu-lintas, standar laik pakai untuk kendaraan yang jelas dan diterapkan dengan baik, kepedulian awak kendaraan umum untuk sekedar memberikan petunjuk pada penumpang kendaraan umum mengenai langkah-langkah yang harus diambil jika terjadi kondisi gawat darurat dapat mengurangi angka kecelakaan di jalan raya. System deteksi tsunami yang baik memberikan cukup waktu untuk menyelamatkan mungkin ratusan nyawa.

. Aspek budaya mungkin dapat menjelaskan kenapa masalah keselamatan mendapat perhatian yang kecil di Indonesia. Misalnya saja budaya bonek yang ada pada supporter sepakbola (biasanya dialamatkan pada supporter Persebaya, walaupun beberapa supoter klub sepakbola lain tidak kalah “ganas”) dimana mereka rela berjejalan di atap kereta api jika klub sepakbola kesayangannya berlaga di tempat yang jauh, rela bentrok dengan supporter klub lawan atau polisi tanpa mempedulikan keselamatannya sendiri. Atau bisa juga dilihat pada fenomena berani mati untuk membela pemimpinnya (tanpa peduli salah-benarnya pemimpin tersebut) pada beberapa tahun yang lalu di Jawa Timur. Entah kenapa budaya ini bisa muncul, mungkin karena rasa ketidakberdayaan bangsa Indonesia dalam segala aspek kehidupannya. Misalnya saja, karena tidak mampu membayar biaya rumah sakit, maka keluarga “tidak peduli” pada keselamatan seorang calon ibu, dan hanya memanggil dukun untuk menolong proses persalinannya. Atau karena tidak mampu mencari pekerjaan yang lebih baik, maka seorang bapak tidak peduli dengan keselamatannya dan bekerja sebagai penambang pasir liar dengan resiko sewaktu-waktu terkubur dalam gua yang digalinya. Tetapi, mereka yang memiliki tingkat ekonomi yang lebih baik, bisa dikatakan juga tidak memiliki budaya selamat. Coba lihat saat pesawat akan lepas landas atau mendarat ketika tanda larangan menyalakan telepon seluler menyala, masih banyak orang-orang yang berbicara seenaknya melalui telepon seluler mereka. Entahlah mungkin memang bangsa Indonesia hanya memiliki kapasitas kepedulian yang kecil terhadap keselamatan.

Nah, apakah anda akan tetap memelihara budaya tidak selamat ini? The thing always happens the way you believe in, and the belief in a thing makes it happen.

Iklan

One comment

  1. jadi inget mottonya Shell, om..

    “No Safety, No Business!”

    ck ck ck…indonesia..indonesia…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: