SETIAP JALAN PASTI ADA KERIKIL YANG MENGGANGGU!

SETIAP JALAN PASTI ADA KERIKIL YANG MENGGANGGU!

Tak terasa hampir 6 bulan aku tinggal di Halmahera Selatan. Sebuah wilayah yang sangat indah, dengan begitu banyaknya potensi SDA yang tersimpan dalam kandungan buminya. Dan itu juga berarti hampir 6 bulan aku menjadi sebuah bagian dari Perguruan Tinggi, menjadi Biro Adm. Umum sekaligus mengasuh 2 mata kuliah sekaligus J

Ketika kita memutuskan untuk menempuh sebuah jalan hidup, maka kita juga akan menemui begitu banyak masalah yang akan kita hadapi di jalan tersebut. Bukan berarti rintangan, namun memang setiap jalan hidup yang kita tempuh pasti akan mendapatkan berbagai macam rintangan, namun jadikan saja itu sebagai sebuah tantangan J

Pada awalnya, aku merasa nyaman untuk menjadi bagian dari sebuah Perguruan Tinggi. Terlebih, karena Yayasan yang menaungi adalah Yayasan “ikhwah”. Namun, dengan berjalannya waktu aku dihadapkan pada berbagai masalah yang sejujurnya adalah masalah umum yang akan dihadapi oleh semua orang yang baru menjejakkan kaki di Indonesia Timur (Intim). Kemalasan, tanggungjawab dan kedisipilinan.

Dimulai dengan tidak aktifnya Pembantu Ketua (PK) I, Bidang Akademik. Meskipun di awal pendirian kampus yang bersangkutan menyatakan diri sanggup untuk menjadi PK I, namun kenyataannya malah tidak pernah hadir di kampus sama sekali. Bahkan tanggungjawab untuk memberikan kuliah sama sekali tidak dilaksanakan. Yang pada akhirnya, selama 7 pekan mahasiswa tidak mendapatkan kuliah tersebut alias kosong. Akhirnya, meski cukup terlambat, namun kuliah tersebut aku ambil alih.

Masalah lain yang muncul adalah tidak berjalannya banyak struktur organisasi di kampus. Aku yang sebenarnya tidak masuk dalam struktur, akhirnya mengambil alih banyak tugas akademik. Dan tentu saja, karena selain ngajar aku juga mesti ngurus akademik, maka ada beberapa masalah yang muncul.

Akhirnya,pada suatu saat, sampailah pada titik kesabaran terendah ketika muncul sikap ku yang menyampaikan ketidakpuasan atas kerja bagian akademik yang tidak masuk sama sekali dalam perkuliahan. Dan tahukah apa yang terjadi?

Yang ada datanglah “oknum” akademik yang dengan emosional melampiaskan kemarahan kepada ku seraya menundingku sebagai orang yang sombong, baru kerja sedikit sudah capek, padahal dia kerja ngurusin masalah kampus dulu (padahal, setahu ku kampus dulu tidak pernah ada aktifitas kuliah sama sekali). Dan bukan hanya itu saja, sikap yang arogan dengan tidak mau menerima penjelasan, bahkan ketika aku berusaha tetap berbicara justru “oknum” tersebut mengancam untuk melempar kursi dan meja kepadaku, justru membuat aku berfikir. Bukankah kami saat itu ada di wilayah kampus, dimana otak dan logika lebih dipakai dari pada otot dan fisik? Bukankah kampus menjunjung tinggi kebebasan berpendapat dan berargumentasi selama masih disampaikan dalam batas kesopanan dan kewajaran? Jadi, apakah “oknum” yang aku hadapi ini adalah orang akademik atau preman?

Dan lebih anehnya, setelah marah-marah, justru dia kemudian duduk bersama mahasiswa di pelataran dan dengan bangga menceritakan dirinya baru saja melabrak serta mengancamku. Jadi, bisa dikatakan dengan kiasan kepada para mahasiswa, dia mengaku sebagai preman, bukan kalangan akademik.

Belum lagi arah pembicaraan yang menudingku sebagai “orang luar” yayasan, bukan kalangan keluarga besar yayasan yang memang yayasan tersebut didirikan oleh salah satu tokoh yang cukup terkenal di Maluku Utara. Aku adalah pendatang, bukan saudara sehingga tidak berhak mengurusi kampus yang didirikan yayasan, dan dia karena masih terhitung saudara, maka lebih berhak mengelola yayasan.

Sempat jengkel juga dengan hal tersebut, bahkan aku sampai sudah buat surat pengunduran diri, yang tinggal diberikan kepada Ketua. Namun setelah berdiskusi dengan ketua, akhirnya ketua meminta aku tetap bertahan, dan tidak mendengarkan omongan-omongan yang dilontarkan oleh “oknum” tersebut. Okelah, akhirnya aku menganggap, itulah kerikil yang ada di jalan yang aku tempuh saat ini.

Well…. Itulah permasalah yang akan anda hadapi jika bekerja di Intim, SDM yang belum siap untuk maju, belum siap dengan tanggungjawab dan kedisiplinan dalam menerima amanah

Iklan

4 komentar

  1. assalamu’alaikum wr wb…

    akhirnya kk ku kembali :D, ayo k, kita semangat meniti pembangunan di timur Indonesia [sambil jalan2 menikmati keindahannya tentuw ;)]

    salam buat mba noorma yah 😉

  2. ya, banyak cerita dari kawan soal kondisi daerah disana kang. tantangan lebih kalo memutuskan berkarir di daerah situ.

    -welkome bek 😀

  3. wow sperti cerita di senetron 🙂
    jadi selama ini apa tuntutan mahasiswa sampean mas
    di berpihak sama sampean atau malah ke oknum itu

  4. Mudah-mudahan bisa sabar ya mas. Orang model begini selalu ada dimana saja.

    Trik menghadapi mereka adalah bukan dengan memadamkan api mereka, tapi adalah dengan membesarkan api kita sendiri. Sehingga kita bisa menerangi semua orang, dan tidak lagi bisa dibakar oleh api si oknum tadi itu.
    Oknum-oknum seperti ini terlalu kecil untuk mendapat waktu kita / sekedar dipikirkan oleh kita.

    Ada beberapa kawan saya juga di beberapa kampus yang seperti ini. Tapi karena memang performanya luar biasa dan dia juga disukai semua orang (karena attitude nya yang positif, walaupun banyak yang dengki / iri kepada ybs), maka mereka tetap bisa menjulang & menerangi banyak orang.

    catatan:
    kita tetap perlu **waspada** dengan makar-makar yang kemungkinan akan mereka lakukan karena hasad di hati mereka.
    jadi dari kita sendiri perlu waspada, dan menindak semua makar oknum ini dengan bijak; dan kita juga minta tolong serta menyerahkan hasilnya kepada Allah swt.
    InsyaAllah hasilnya akan dahsyat.

    Moga sukses dunia & akhirat mas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: