Keterbatasan (Khusus PLN)

Hidup di daerah kepulauan maka anda harus membiasakan diri dengan segala keterbatasan. Mulai dari keterbatasan sarana transportasi, dimana jika anda tinggal di Jawa, maka anda bisa kemana saja menggunakan kendaraan umum, atau jika punya sepeda motor maka anda bisa langsung mengendarainya, namun sarana transportasi di daerah kepulauan tentu saja dengan menggunakan kapal laut, dan jumlahnya terbatas. Sebagai contoh, ketika ingin pergi dari Pulau Bacan (Halmahera Selatan) ke Ternate, maka hanya bisa ditempuh dengan kapal di malam hari selama 8 jam perjalanan. Sebenarnya ada juga kapal cepat yang beroperasi 2 hari sekali, namun  butuh biaya 2 x lipat dari kapal biasa.

Keterbatasan yang lain adalah barang konsumsi. Di daerah kepulauan, tentu saja barang konsumsi menjadi barang yang mahal, karena barang-barang tersebut harus di kirim dari daerah lain, dan tentu saja selain waktu yang lebih lama dalam pengiriman, sarana transportasi laut juga membuat harga menjadi lebih mahal karena biaya kirim yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan sarana angkutan darat. Kalo anda mau tau, telur satu butir di Ternate berkisar 900 rupiah. Jadi kalo 1 kg (±16 butir, maka anda mesti mengeluarkan uang sekitar 14 ribu rupiah. Bandingkan dengan harga telur di Jawa yang hanya berkisar 9 – 10 ribu/kg

Dan keterbatasan yang lain adalah soal sumber energy alam. Karena jarang ada sungai, dengan arus yang baik, maka satu-satunya tenaga pembangkit listrik yang bisa di andalkan adalah tenaga diesel. PLN kota Ternate, memiliki beberapa generator listrik yang digerakkan oleh mesin diesel yang berbahan bakar solar. Namun, ternyata itu tidak menjadikan listrik di Ternate menjadi “aman”

Jika anda tinggal di daerah yang PLN nya menggunakan tenaga diesel, maka bersiaplah untuk mengalami seringnya mati lampu. Hampir setiap minggu di Ternate, mengalami pemadaman bergilir yang berkisar 5-6 jam setiap pemadaman. Suatu hal yang aneh, karena alasan yang digunakan adalah perawatan. Apakah setiap minggu jaringan listrik PLN pada satu daerah mesti dirawat?

Saya mengerti jika memakai suatu barang, maka aka nada masa perawatan, namun jika setiap minggu harus melakukan perawatan, maka itu adalah sesuatu yang tidak wajar. Namun  kemudian saya baru tahu bahwa alasan pemadaman tersebut, bukanlah soal perawatan, akan tetapi PLN tidak mau mengakui bahwa sebenarnya dia tidak mampu memberikan daya yang cukup bagi kebutuhan listrik untuk masyarakat, sehingga harus diadakan pemadaman bergilir.

Di Bacan, lebih parah lagi. Sejak bulan November 2007, setiap 3 hari sekali dilakukan pemadaman bergilir sejak jam 4 sore sampai jam 12 malam. Hal ini dikarenakan rusaknya salah satu generator listrik yang dimiliki PLN Bacan, sehingga hanya satu dari dua generator yang bisa membangkitkan aliran listrik. Akibatnya, jika tidak dilakukan pemadaman bergilir maka PLN tidak mampu memenuhi permintaan daya listrik masyarakat. Dan saya tidak tahu akan sampai kapan begini, karena janjinya bulan desember sudah akan normal, namun masih tetap saja terjadi pemadaman bergilir.

Padahal, asal anda tahu saja, biaya BBM untuk PLN di Bacan menghabiskan biaya 1 M/bulan. Jika kita kalkulasikan dengan biaya solar industri yang berharga 6 ribu/liter, maka akan kita dapatkan angka dalam sebulan PLN menghabiskan lebih dari 160 ribu liter/bulan. Mungkin angka yang kecil bagi anda, namun kalikan saja dengan pertahunnya, kemudian ada berapa daerah kepulauan yang menggunakan cara yang sama dalam memenuhi kebutuhan listriknya.

Bagi saya, itu adalah jumlah yang sangat besar, baik dari soal harga yang mesti di bayar ke Pertamina sebagai pemasok BBM, juga bentuk pemborosan BBM yang kita tahu bahwa suatu saat nanti BBM yang berasal dari fosil akan habis. Lalu jika BBM yang berasal dari fosil ini habis, bagaimana untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar generator listrik?

Makanya tak heran, jika PLN mempunyai hutang yang sangat besar ke beberapa pihak. Dua minggu lalu, saya membaca running text di Metro TV yang menyatakan PLN mempunyai tunggakan pembayaran alias hutang di Indonesia Power sebesar 10 Trilyun. Jumlah yang sangat besar memang, belum lagi jika ditambahkan hutang PLN kepada Pertamina dan perusahaan lainnya.

Namun anehnya, meskipun merugi setiap tahunnya, Pemerintah seakan tidak peduli dengan hal tersebut. Tidak ada langkah yang jelas untuk mencari alternative lain dalam memberikan sumber daya energy bagi masyarakat. Padahal, justru perusahaan yang menjadi penanggung jawab pembangkir energy, hanya bisa menghasilkan utang, akan tetapi dari segi pelayanannya sama sekali tidak memuaskan, sering padam lampu, jaringa rusak dan masih banyak hal lain yang seharusnya kita sebagai konsumen, berhak complain atas gangguan listrik yang kita terima.

Asal anda tahu saja, jika anda menjadi seorang Pegawai PLN dengan pendidikan S1, saat anda diterima bekerja, anda akan menjalani On Job Training (OJT) selama 6 bulan. Selama 6 bulan tersebut, anda hanya akan mendapat uang saku sebesar 1,6 juta rupiah. Namun setelah 6 bulan OJT dan anda dinyatakan lulus sebagai pegawai, otomotis gaji anda akan langsung menjadi 4,3 juta rupiah. Sebuah angka yang sangat besar menurut saya, jika di bandingkan layanan PLN yang sama sekali jauh dari memuaskan. Makanya tidak heran banyak orang yang berlomba-lomba jadi pegawai PLN, bayarannya gede soalnya.

Saya sendiri sempat tertegun, ketika sebuah iklan di TV berisi sebuah tekad dari PLN pada  tahun 2040 (atau 2020 ya?) menjadikan 100% wilayah di Indonesia akan teraliri listrik. Sebuah proyek yang semestinya adalah kewajiban pemerintah dalam hal ini PLN untuk menyediakan pelayanan bagi semua warga negaranya. Namun dengan melihat kenyataan yang ada sekarang, saya jutru pesimistis dengan hal tersebut.

Ada beberapa hal yang membuat saya mempunyai pemikiran pesimis, yang pertama bahwa wilayah kita adalah kepulauan. Untuk pulau besar seperti Jawa, Sumatra, Sulawesi mungkin tidak ada masalah, namun untuk daerah yang terdiri dari banyak pulau kecil, dengan cara apa PLN akan mengaliri listrik? Apakah dengan diesel juga? Padahal diperkirakan BBM fosil sebagai bahan bakar diesel, di Indonesia akan habis sekitar 30 tahun lagi. Berarti tahun 2040 Indonesia bisa mengalami krisis BBM (kecuali jika BBM dari bahan organic, yaitu : tumbuhan jarak dan kelapa sawit sudah diproduksi massal). Jika BBM tidak ada, maka diesel tidak bisa menyala.

Yang kedua, butuh biaya besar jika mengalirkan listrik antar pulau, karena harus dibangun kabel bawah laut yang tentu saja investasi yang sangat besar nilainya. Belum lagi resiko bahwa kabel yang bermuatan listrik tegangan tinggi, lebih mudah rusak dibandingkan kabel serat optic yang berisikan data untuk telekomunikasi dan internet.

Sudah semestinya, dicari alternative pembangkit listrik. Saya pernah melihat tayangan SCTV, di Sumbawa PLN setempat sudah menggunakan tenaga angin sebagai pembangkit listrik, dan hasilnya menghemat biaya  bahan bakar sampai 30 %. Sudah semestinya hal – hal positif tersebut diterapkan oleh PLN di daerah lain.

Jadi, jika memang bertekad menjadikan tahun 2040 Indonesiaa 100% teraliri listrik, harus ada langkah kongkrit dari PLN. Sudah semestinya PLN menjadi Perusahaan Laba Negara, bukan lagi Perusahaan Licik Negara

 

Iklan

One comment

  1. hai Kak!!! im back :D…duh, di Seram juga sekarang lagi hampir tiap hari mati lampu nihhh, kalo udah kek gini, jadi kangen Jakarta 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: