Democrazy in my Country

Akhirnya, kran demokrasi yang terbuka lebar itu memunculkan sebuah “kebingungan” baru. Setelah melalui proses yang panjang, Komisi Pemilihan Umum (KPU) menetapkan 34 partai peserta pemilu 2009. 7 partai lama yang meraih lebih dari 3% suara pada pemilu 2004, ditambah dengan 9 partai lama yang lolos berkat UU Pemilu yang “aneh” karena membatalkan Elektroral Treshold (ET) pada UU Pemilu lama serta 18 partai baru yang keberadaan dan eksistensinya masih memerlukan jawaban yang nyata

Inilah demokrasi, ketika ada kehendak, dana dan juga kesempatan, maka mendirikan partai baru untuk menjadi kontestan pemilu. Terlepas apapun alasan pendirian partai baru, apakah hanya sekedar oportunis belaka, kekecewaan terhadap partai lama alias barisan sakit hati, atau dengan alasan cita-cita membangun bangsa ini, namun ujungnya hanyalah satu bahwa dari sekian banyak partai yang telah eksis dianggap tidak bisa menjadi kendaraan politik tokoh pendiri partai baru tersebut. Disamping membuktikan bahwa kinerja partai lama yang ada, banyak yang mengecewakan rakyat.

Jika kita jeli, sebenarnya meskipun partai baru, akan tetapi tokohnya ya tetap aja tokoh lawas alias stok lama. Lihat saja Wiranto dengan Hanura, Laksamana Sukardi dengan PDP, Gerindra yang diisi para pensiunan Jenderal, dengan kata lain, baju baru tapi wajah lama. Ini yang menjadi kemandekan demokrasi, dimana tokoh-tokoh tua terus saja berkecimpung padahal sudah terbukti bahwa pemikiran tokoh tua ini tidak membawa kemajuan bangsa ini.

Yang menarik adalah, dengan dikabulkan Judicial Review 7 parpol lama yang gagal ikut pemilu 2009 karena tidak mendapat kursi di pemilu 2004 terhadap UU Pemilu tentang pasal yang membahas ET, dimana Mahkamah Konsitusi (MK) menganggap bahwa pasal ET tersebut “salah” secara dasar hukum, membuat semestinya 9 partai lama yang tidak memenuhi ET namun masih bisa ikut Pemilu 2009 menjadi terancam eksistensinya. Jika merujuk keputusan MK, maka 9 partai tersebut tidak dapat ikut pemilu 2009, jika KPU melakukan verifikasi ulang dan dinyatakan tidak layak ikut pemilu. Akan tetapi, inilah hukum di Indonesia, sering kali keputusan yang ditetapkan menjadi mubazir ketika keputusan tersebut tidak dilaksanakan. KPU sendiri cenderung menetapkan bahwa tidak ada verifikasi ulang, karena jika dilakukan akan menunda pelaksanaan pemilu keseluruhan, baik pemilu legislative maupun pemilu presiden.

Inilah dagelan politik di dewan rakyat. Sebelum pemilu 2004, dewan rakyat yang bersidang saat itu dengan gagahnya memutuskan bahwa parpol yang tidak lulus ET pada pemilu 1999, maka harus membentuk partai baru atau bergabung dengan parpol lain. Selang 5 tahun kemudian, aturan itu kemudian berubah setelah melalui deal-deal politik. Sebenarnya ini langkah yang baik, karena diharapkan akan menciutkan jumlah partai yang ada. Namun ternyata, justru makin banyak partai baru yang muncul di Indonesia, ketika sebenarnya saya mengharapkan partai pada pemilu ini, tidak lebih dari 15 partai.

Semestinya, pembentukan partai baru, ataupun pelaksanaan verifikasi lebih ditingkatkan syaratnya. Dengan syarat harus ada minimal 2/3 dari jumlah Provinsi, dan pada sebuah propinsi harus memiliki 2/3 cabang tingkat kabupaten, dimana pada masing-masing kabupaten hanya membutuhkan 1000 KTA, ini adalah syarat yang teramat mudah untuk mendirikan partai baru.

Anda bisa hitung saja ada sekitar 750 kabupaten di Indonesia. Jika hanya 1000 anggota tingkat kabupaten, berarti hanya membutuhkan sekitar 750.000 KTA. Jumlah yang sebenarnya terbilang kecil jika dibanding jumlah suara yang diperebutkan yang berkisar 180 juta suara, hanya kurang dari 0,5 persen dari total suara.

Sudah seharusnya syarat mendirikan partai baru direvisi, demikian juga syarat bagi partai yang tidak lolos ET. Untuk partai yang terkena ET, semestinya bukan hanya sekedar berubah nama atau bergabung dengan partai baru, namun semestinya partai yang terkena ET, wajib menggabungkan diri dengan partai lain, dengan total suara jika dijumlah sebesar 3% sesuai dengan batas ET, sehingga bisa untuk mengikuti pemilu selanjutnya. Dengan demikian, fenomena partai hanya sekedar ganti nama, namun berulang kali ikut partai tidak akan terjadi. Sedangkan untuk partai baru, sudah semestinya syarat KTA ditingkatkan menjadi minimal 6000 per kabupaten. Sehingga jika ditotal, maka sebuah partai baru memiliki sekitar 3 persen anggota dari jumlah penduduk Indonesia yang mempunyai suara. Dengan demikian, maka sama dengan partai yang terkena ET, memiliki jumlah riil massa yang jelas.

Dengan begitu beratnya syarat untuk mendirikan parpol baru, maka fenomena partai muncul bagai jamur akan terhenti dengan sendirinya. Sebuah partai baru yang muncul, maka merupakan partai yang solid dan memang kuat secara organisasi, bukan hanya sekedar kendaraan politik sesaat untuk kepentingan petinggi partai semata, namun memang sebuah partai yang bertujuan untuk membangun bangsa ini, demi kesejahteraan rakyatnya.

Terlepas dari apa yang saya tulis diatas, yang hanya sekedar wacana belaka, saya sendiri sebenarnya berharap bahwa pemilu tahun pada masa depan hanya diikuti kurang dari 15 parpol. Walaupun secara pribadi, menurut saya idealnya pemilu di Indonesia hanya sekitar 6-8 parpol saja. Dengan demikian, akan menghemat anggaran negara, menghemat waktu, juga menghindarkan gesekan antar parpol akibat begitu banyaknya parpol yang ada

Dan tentu saja, rakyatlah yang akan menjadi pihak diuntungkan. Ketika pilihan semakin sedikit, maka parpol akan dituntut menjadi parpol yang professional, menjadi parpol yang memang membela kepentingan rakyat, menjadi parpol yang konsisten dengan platform, memenuhi janji kampanye dan lain-lain yang ujungnya adalah meningkatkan kesejahteraan rakyat sehingga membawa bangsa Indonesia ini menjadi bangsa yang besar.

Walllahualambishshowwab

Iklan

2 komentar

  1. Begitu banyak tanggung jawab yang sangat berat untuk menjadi pemimpin bangsa. Banyaknya parpol membuatku bersyukur kalau begitu banyak yang ingin membawa perubahan pada masyarakat. (yah semoga memang benar2 memperhatikan rakyat)

  2. partai tambah banyak means : tambah pusing…mana da fatwa haram golput nih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: