Tanggapan Komentar “Geng Nero = Praja IPDN”

Masih inget dengan Genk Nero? Kalo masih belum ingat, anda bisa baca tulisan saya yang pertama tentang Genk Nero, tapi saya yakin anda semua masih ingat kasus tersebut. Sampai sekarang, saya belum mendapatkan kabar tentang kelanjutan kasus tersebut. Setahu saya, hukuman yang sudah diberikan adalah pelaku tindka kekerasan tersebut di keluarkan dari sekolah, namun untuk proses hukumnya saya sendiri tidak mengikuti sejauh mana perkembangannya

Okelah, kita tidak perlu membahas hukuman genk Nero, tapi yang jelas, akhir-akhir ini muncul kasus serupa yang tidak sedikit jumlahnya, yaitu video rekaman tindak kekerasan yang dilakukan oleh sekelompok / seseorang terhadap orang lain. Bahkan sempat juga diberitakan adanya rekaman perkelahian antara dua pelajar perempuan, yang mana ada salah satu oknum guru bukannya menengahi, namun justru menjadi wasit dari perkelahian tersebut. Bicara masalah perkelahian, mungkin bukan sesuatu yang mengejutkan bahwa dalam masa pertumbuhan remaja, bentuk kontak fisik alias perkelahian antar siswa itu merupakan sesuatu yang biasa dikalangan remaja. Saya sendiri mengakui, saat masih sekolah, ada beberapa kali berselisih pendapat dengan sesama teman, hanya karena masalah sepele, meski demikian,sendiri memilih tidak untuk berkelahi selama masih bisa di bicarakan Dan menurut pendapat saya, itulah dinamisasi dalam dunia remaja, perbedaan pendapat adalah sesuatu yang wajar, namun bukan berarti alasan menjadi sebuah perkelahian

Saya mengucapkan terima kasih atas banyaknya komentar dalam tulisan pertama, baik dari masyarakat umum, maupun juga banyak yang mengatasnamakan sebagai alumni IPDN. Sebuah tulisan, biasanya akan menghasilkan pendapat, baik yang pro maupun yang kontra. Dan tidak sedikit, yang kemudian “mengecam” saya atas tulisan menyamakan Nero dengan IPDN

Well, Jika menyangkut institusi mungkin dalam tulisan ini, secara terbuka saya menyatakan pemintaan maaf, jika saya dianggap melecehkan IPDN, oke, itu satu hal yang saya akui mungkin “kebablasan”. Meskipun demikian, saya merasa tidak bersalah jika saya menyatakan bahwa praja IPDN hanya berani main keroyok terhadap juniornya, sebagai bentuk senioritas. Toh, fakta yang ada menunjukkan bahwa seorang praja senior, suka “memplonco” junior yang berasal dari daerahnya, tentu saja karena junior dari daerah lain sudah menjadi “jatah” bagi senior dari mana junior tersebut berasal

Saya punya sahabat baik, teman yang masa SMA dulu satu kelas dengan saya, dan juga menjadi salah satu partner dalam menggerakan kegiatan siswa di SMA, dan dia juga menjadi alumni dari IPDN, bukan hanya satu tapi ada beberapa orang dan mereka sendiri mengakui akan adanya bentuk kekerasan dalam system pendidikan di IPDN masa mereka. Tapi saya sendiri memahami, system senioritas, itu berlaku disemua bentuk organisasi, apakah itu pendidikan, pemerintahan, atau bahkan tingkat sederhana seperti karang taruna dan lembaga remaja masjid. Saya sendiri juga pernah mengalami menjadi junior yang harus diperintah alias dikerjain oleh senior.

Tapi mungkin ada hal yang tidak dijadikan sebagai pelajaran bersama. Ini adalah oknum, yang karena menjadi bagian institusi, akhirnya menyeret institusi tersebut. Permasalahannya adalah, kasus yang sama terus menerus terjadi, dengan oknum yang berbeda. Ini sendiri membuktikan, adanya system yang perlu dibenahi dalam IPDN sendiri, dan wajar saja, jika orang luar seperti saya, kemudian mengambil kesimpulan bahwa praja IPDN = suka maen pukul juniornya. Dan untuk mengakui hal tersebut, susah sekali oleh yang melakukan 🙂

Oh ya satu lagi, saya mengamati (tapi jangan dianggap sebagai generalisir) kebanyakan, alumni IPDN sering kebabalasan rasa percaya dirinya, sehingga menjurus kearah pongah alias sombong, mungkin oknum, tapi kok saya beberapa kali dapatin hal yang sama ya pada beberapa oknum, tidak tahu dengan anda yang lainnya 🙂

Sistem sudah dibenahi oleh pemerintah, ini menjadi tantangan buat anda yang mengaku sebagai keluarga besar IPDN, jika ada kasus terulang kembali, maka apa yang ada “tuduhkan” kepada saya, silahkan anda telan kembali. Dan saya sendiri emang tidak punya kepentingan dalam hal tersebut, karena sebenarnya, saya hanya ingin mengingatkan bahwa silahkan aja maen kasar, tapi maen kasarlah kepada orang yang menggangu kedaulatan kita.

Wallahualambishshowab

(Mungkin sangat terlambat saya menulis tanggapan ini, tapi mohon dimaklumi, tinggal di Indonesia Timur, akses internet cukup susah untuk didapatkan, dan tulisan ini tidak butuh komentar dari anda) 🙂

Iklan
%d blogger menyukai ini: