Serakahkah….??

Manusia akan nampak karakter aslinya ketika berhadapan dengan uang. Percaya atau tidak, namun idiom ini akan dengan mudah kita jumpai dalam kehidupan kita sehari-hari. Dan disekeliling saya pun dengan mudah saya dapatin hal tersebut.

Semisal contoh : ketika harus melaksanakan tugas kampus ke luar kota, saya yang notabene adalah unsur pimpinan, semestinya Surat Perintah Perjalanan Dinas (SPPD) itu dibuatkan oleh bagian keuangan, tapi justru ketika saya meminta biaya dinas, malah disuruh buat SPPD terlebih dahulu, setelah itu bagian keuangan malah tanya ke Pimpinan tertinggi berapa besar biaya dinas yang harus diberikan, selanjutnya ketika biaya dinas sudah diserahkan ke saya,  bagian keuangan malah menyatakan bahwa tugas luar kota yang saya lakukan itu gak penting

Pertama, sudah semestinya SPPD dibuat oleh bagian keuangan, terlebih karena saya unsur pimpinan, tapi okelah saya gak masalahin, mungkin terlepas bahwa saya ini dianggap “orang luar” yang gak berhak untuk duduk pada unsur pimpinan. Tapi, mengenai besarnya biaya dinas yang mesti saya dapatkan sehingga harus konsul pada pimpinan tertinggi, buat saya adalah suatu hal yang menggelikan. Menggelikannya adalah bahwa perjalanan dinas begini tidaklah baru sekali-dua kali atau pertama kali dilaksanakan, tapi sudah berulang-ulang sehingga semestinya sudah ada patokan / standar mengenai besarnya biaya perjalanan disesuaikan dengan jumlah hari dan jabatan orang yang melakukan perjalanan J. Dan yang ketiga, kenapa harus berkomentar bahwa kegiatan ini tidak perlu. Toh saya diperintah oleh pimpinan tertinggi untuk berangkat sehingga punya dasar yang kuat, sedangkan dana yang saya pakai juga bukan uang pribadi dari bagian keuangan, dana tersebut adalah dana operasional yang memang digunakan ketika ada kegiatan J

Lain contoh adalah ketika seorang kepala dinas setempat berurusan dengan pihak Rumah Sakit dimana istri saya bekerja. Sebelumnya perlu saya beritahukan, bahwa daerah dimana saya tinggail menerapkan kebijakan kesehatan gratis pada kelas 2, sehingga pasien yang merupakan warga daerah dimana saya tinggal, tidak perlu mengeluarkan biaya sedikitpun ketika harus periksa / rawat inap, kecuali jika naik kelas, cukup bayar selisihnya saja. Nah, kepala dinas ini salah satu family / relasi nya rawat inap di RS, dimana naik kelas. Ketika harus membayar tagihan sebesar 1 juta, si kepala dinas ini malah menawar untuk bayar separuhnya saja, yaitu 500 ribu. Sebenarnya bukan masalah menawarnya ini, tapi sebagai orang terpelajar, apalagi si kepala dinas ini berlatar belakang kesehatan, tentunya sudah tahu mengenai system kesehatan gratis dan pembayaran selisih, dan mestinyapun sudah tahu pula bahwa penagihan selisih ini merupakan hasil dari perhitungan rincian RS yang sudah terprogram. Lalu kenapa harus mesti menawar membayar separo saja? Padahal sebagai kepala dinas dengan pangkat golongan IVb, paling tidak gaji yang diterima sebesar 3 juta belum ditambah tunjangan kinerja pejabat daerah  dimana jabatan eselon II mendapatkan tunjangan sebesar 7 juta rupiah (belum termasuk proyek-proyek yang dikelola dengan kapasitas sebagai kepala dinas)

Dua fenomena yang kemudian saya mencoba menarik sebuah benang merah, ketika manusia disuruh untuk mengeluarkan uang, maka mereka berlomba-lomba untuk menghindari pengeluaran yang  besar, bahkan kalau bisa tidak mengeluarkan uang sedikitpun. Tapi ketika ada uang di hadapan, maka manusia berlomba-lomba meraih sebanyak-banyaknya, kalo perlu dengan cara apapun, termasuk menjegal, main kotor, kolusi dan korupsi.

Manusia mempunyai sifat serakah, ini adalah watak manusia pada umumnya. Serakah bukan saja pada harta, tapi juga pada jabatan, kekuasaan, dan tahta. Bahkan secara sederhana, keserakahan manusia itu nampak saat perutnya diisi dengan 3 piring sekaligus saat makan, sedangkan tetangganya mungkin hanya bisa makan 1 kali sehari disetiap harinya.

Semoga saja kita tidaklah menjadi orang-orang yang terus menikmati keserakahan dalam hidupnya, berlomba-lomba menimbun segala hal pada hidupnya, sedangkan kewajiban yang semestinya ditunaikan justru terabaikan

Wallahulambishshowab

 

Iklan

3 komentar

  1. dah lama tak mampir
    pa cabar
    salam hangat selalu

  2. ayo dong nge blog lagi boz…ehheh
    p cabar
    salam hangat dari blue

  3. Ass…..bos andres I.
    salam jumpa lg.iya …kenapa harus serakah, toh qta pun akan meninggalkan semua materi yg qta kumpulkan slama hidup…..kenapa harus serakah, sombong!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: