Menggugat Allah tentang Rezeki

Menggugat Allah tentang Rezeki………..??? Nanti dulu.
Kita semua paham bahwa hidup/mati, jodoh dan rejeki merupakan kekuasaan Allah yang tidak bisa kita gugat baik keberadaan, waktu pemberian maupun kadarnya. Itu adalah hak Allah semata.
Dalam pepatah jawa, urip nang dunyo iku ibarate gor mampir ngombe, Hidup ini adalah sekedar mampir saja. Percaya atau tidak itu adalah urusan anda. Coba saja anda bayangkan, berapa lama usia manusia hidup di bumi. Rata-rata, usia harapan hidup orang Indonesia adalah sekitar 72 tahun. Artinya, anda hanya punya waktu 72 tahun (bisa lebih, tapi seringnya kurang) untuk menikmati hidup di dunia ini. Selebihnya, anda akan “hidup” di alam yang tidak dapat terjangkau oleh pegetahuan manusia, yaitu alam ghaib. Bahkan di alam ghoibpun (sebagai manusia yang beriman) kita percaya bahwa kita mulai dimintai pertanggungjawaban akan apa yang telah kita lakukan.
Nah, lalu bagaimana dengan jodoh??? Itu juga hak Allah untuk mengaturnya. Ada yang sekali bertemu seseorang, langsung klop dan menikah, serta harmonis sampai tua. Namun tak sedikit, ada yang harus menunggu lebih lama dibanding teman-teman yang seusianya untuk mendapatkan jodoh. Ada pula yang sudah menikah, namun terpaksa berpisah karena alasan ternyata bukan jodohnya dan kemudian menemukan jodohnya yang lain. Bahkan ada pula yang sampai harus berkali-kali menikah karena belum juga dapat yang sreg dihatinya.
Dan terakhir, tentang rezeki. Masalah rezeki ini lagi-lagi merupakan hak Allah dalam membagi kapan, dimana dan berapa banyak rezeki yang kita dapatkan. Ada yang hanya sedikit berusaha, langsung dapat rezeki yang melimpah. Tapi tak sedikit pula setelah membanting tulang dan berusaha secara keras, namun hanya mendapat rezeki sedikit bahkan sering tak mendapat rezeki.
Masalah rezeki inipun merupakan hal yang sangat sensitif. Tak sedikit, kita bersikap kufur terhadap nikmat Allah dengan menyalahkan Allah atas rezeki yang kita dapatkan. Banyak dari kita yang sering menganggap Allah tidak adil, karena tidak mengabulkan permohonan dan permintaan kita. Ini adalah hal yang sangat peka, ini masalah Ke-TAUHID-an, kepasrahan dan keyakinan kita terhadap takdir Allah.
Memang benar, Allah telah menentukan takdir seseorang. Saat manusia dilahirkan, saat itu pula “riwayat hidup” dibuat. Manusia hanyalah menjalani garis hidup ini. Namun sebelum kita menggugat Allah atas ketidak adilan yang kita dapat, harusnya kita berkaca pada diri kita, sudah layakkah kita meminta sesuatu kepada Yang Maha Kuasa, sedangkan kita belum punya kapasitas untuk menerima pemberian Yang Maha Kuasa.
Siapa yang tidak ingin kaya? Bahkan saat Rasulullah masih hidup pun, golongan kaum dhuafa pernah menggugat kedhuafaan mereka kepada Rasulullah, dan mengatakan iri dengan kaum kaya. Mereka iri sebab kaum kaya punya kesempatan untuk berinfaq dan shadaqah lebih besar dibandingkan kaum dhuafa yang tidak punya harta berlebih untuk bershadaqah.
Selain itu kemiskinan tentu saja lebih dekat dengan kekufuran. Berapa banyak saudara kita yang kemudian menggadaikan keimanan karena kemiskinan yang melanda, kemudian menukar akidah dengan sekarung beras dan sejumlah uang yang rutin diberikan tiap bulan oleh suatu kelompok murtadin.
Allah bukannya berlaku tidak adil, Dia justru mendidik umat Nya untuk bersabar dan ikhlas dengan hidup di dunia. Bersyukurlah terhadap nikmat Allah, maka akan digandakan nikmat yang diberikan. Tidak ada alasan buat kita untuk tidak bersyukur atas nikmat Allah, lalu apa yang menghalangimu untuk bersyukur???

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: