Sekedar Senyum, Apa Susahnya!

Pagi itu, ketika saya bersiap berangkat ke kantor, melintas seorang remaja usia belasan tahun yang saya pikir masih usia sekolah. Remaja tersebut membawa pikulan yang berisi kerupuk produksi rumah tangga. Berhubung saat itu saya terburu-buru, saya tak sempat membeli dagangannya yang terlihat masih cukup banyak.

Seminggu kemudian, saya menjumpai remaja tadi melintas kembali di depan rumah dengan membawa pikulan yang berisi barang dagangan yang sama. Kali ini saya menghentikan langkahnya karena saya ingin membeli dagangannya. Cukup ramah dan sopan, dan tak lupa senyum darinya saat mengucapkan terima kasih karena sudah membeli dagangannya.

 Hal yang berbeda ketika saya membeli cemilan untuk teman-teman kantor dari penjual lain yang biasa mangkal di depan mini market didekat  tempat saya bekerja. Dagangannya sebenarnya cukup laris, karena saya lihat sudah tidak terlalu banyak didalam pikulannya. Namun  saya tak menemukan senyum yang terkembang dari bibirnya, ketika saya membeli dagangannya.

Buat sebagian orang, senyum adalah tanda kesopanan, atau menunjukkan rasa terima kasih. Selain itu pula, senyum bermakna keramahan atas komunikasi yang dilakukan oleh manusia. Dengan senyuman, maka seakan kita menghargai seseorang dan tanpa kita sadari akan memberikan rasa hormat dari orang yang kita berikan senyuman.

Sering pula kita jumpai, atasan yang acapkali memasang wajah keras. Tujuannya mungkin saja untuk memunculkan sikap dispilin kepada bawahannya. Padahal mungkin saja, sikapnya tersebut bukan membuat bawahannya displin, namun justru ketakutan yang melanda, sehingga membuat kinerja bawahan bisa jadi tidak sesuai dengan yang diharapkan.

Jika anda ke bank atau perkantoran, maka anda akan bertemu petugas front office yang rajin tersenyum kepada tamu yang datang. Hal itu seakan sudah menjadi standar dalam pelayanan, bahkan setahu saya ada pelatihan khusus kepada karyawan terkait senyuman. Sehingga karyawan yang tidak terbiasa tersenyum, setelah melewati pelatihan tersebut menjadi terbiasa senyum.

Namun, setulus apakah senyum anda? Banyak diantara kita yang memang terbiasa menyunggingkan senyuman, karena memang memiliki sikap ramah. Namun tak sedikit pula yang terpaksa tersenyum, karena memang memiliki karakter pendiam atau karena tuntutan pekerjaan.

Padahal kalau saja kita mau menyadarinya, senyuman itu adalah ibadah.  Bukankah Rasulullah Shalallahualaihiwassalam pernah bersabda : “Senyum kalian bagi saudaranya adalah sedekah, beramar makruf nahi mungkar yang kalian lakukan untuk saudaranya juga sedekah, dan kalian yang menunjukkan jalan bagi seseorang yang tersesat juga sedekah” (HR. Tirmizi dan Abu Dzar)

Senyum adalah sedekah yang sangat ringan sebenarnya, dan sebagai manusia beriman, mengapa kita merasa harus terpaksa melakukan senyum kepada saudara kita, ketika senyuman yang kita lakukan itu, selain merupakan bagian dari pekerjaan yang kita lakukan, juga menjadi ibadah kita karena merupakan sedekah

Jadi marilah kita tersenyum dengan ikhlas, kepada orang tua, saudara, teman atau kepada pelanggan kita, sebagai bentuk ibadah kita kepada Allah. Dan tentu dengan senyuman, maka silaturahim antara akan terjaga.

Iklan

One comment

  1. yuk keep smile 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: