Melintasi Batas Kesunyian

Merenungi Hidup…..Dengan Segala Macam Hikmahnya

New Year….New Life…..

Posted by Andres Irawan pada Januari 19, 2012

Januari 2012 sudah hampir masuk sepertiga yang terakhir. Tak terasa akan segera masuk bulan kedua. Bagaimana kabar sodara-sodaraku para blogger? Tak terasa sudah lama saya ga menulis di blog ini…..secara pribadi, saya kangen nulis sebenarnya. Hanya entah kenapa saat sudah diepan laptop dan bersiap merangkai kata, kepala ini tak kunjung juga menemukan hal yang pantas untuk ditulis…. 
Saya sekarang sudah tak lagi di Halmahera….setelah hampir 5 tahun, akhirnya kami kembali lagi ke Jawa, tepatnya Surabaya. Sebuah keputusan yang teramat berat meninggalkan apa yang telah kami rintis disana.
Tapi itulah hidup, kita harus memilih dan menjalankan apa yang sudah kita pilih. Semoga menjadi yang terbaik yang Allah berikan kepada kita. Amin ….!!!

 

Ditulis dalam Dari Hati | Tinggalkan sebuah Komentar »

Menggugat Allah tentang Rezeki

Posted by Andres Irawan pada Agustus 14, 2011

Menggugat Allah tentang Rezeki………..??? Nanti dulu.
Kita semua paham bahwa hidup/mati, jodoh dan rejeki merupakan kekuasaan Allah yang tidak bisa kita gugat baik keberadaan, waktu pemberian maupun kadarnya. Itu adalah hak Allah semata.
Dalam pepatah jawa, urip nang dunyo iku ibarate gor mampir ngombe, Hidup ini adalah sekedar mampir saja. Percaya atau tidak itu adalah urusan anda. Coba saja anda bayangkan, berapa lama usia manusia hidup di bumi. Rata-rata, usia harapan hidup orang Indonesia adalah sekitar 72 tahun. Artinya, anda hanya punya waktu 72 tahun (bisa lebih, tapi seringnya kurang) untuk menikmati hidup di dunia ini. Selebihnya, anda akan “hidup” di alam yang tidak dapat terjangkau oleh pegetahuan manusia, yaitu alam ghaib. Bahkan di alam ghoibpun (sebagai manusia yang beriman) kita percaya bahwa kita mulai dimintai pertanggungjawaban akan apa yang telah kita lakukan.
Nah, lalu bagaimana dengan jodoh??? Itu juga hak Allah untuk mengaturnya. Ada yang sekali bertemu seseorang, langsung klop dan menikah, serta harmonis sampai tua. Namun tak sedikit, ada yang harus menunggu lebih lama dibanding teman-teman yang seusianya untuk mendapatkan jodoh. Ada pula yang sudah menikah, namun terpaksa berpisah karena alasan ternyata bukan jodohnya dan kemudian menemukan jodohnya yang lain. Bahkan ada pula yang sampai harus berkali-kali menikah karena belum juga dapat yang sreg dihatinya.
Dan terakhir, tentang rezeki. Masalah rezeki ini lagi-lagi merupakan hak Allah dalam membagi kapan, dimana dan berapa banyak rezeki yang kita dapatkan. Ada yang hanya sedikit berusaha, langsung dapat rezeki yang melimpah. Tapi tak sedikit pula setelah membanting tulang dan berusaha secara keras, namun hanya mendapat rezeki sedikit bahkan sering tak mendapat rezeki.
Masalah rezeki inipun merupakan hal yang sangat sensitif. Tak sedikit, kita bersikap kufur terhadap nikmat Allah dengan menyalahkan Allah atas rezeki yang kita dapatkan. Banyak dari kita yang sering menganggap Allah tidak adil, karena tidak mengabulkan permohonan dan permintaan kita. Ini adalah hal yang sangat peka, ini masalah Ke-TAUHID-an, kepasrahan dan keyakinan kita terhadap takdir Allah.
Memang benar, Allah telah menentukan takdir seseorang. Saat manusia dilahirkan, saat itu pula “riwayat hidup” dibuat. Manusia hanyalah menjalani garis hidup ini. Namun sebelum kita menggugat Allah atas ketidak adilan yang kita dapat, harusnya kita berkaca pada diri kita, sudah layakkah kita meminta sesuatu kepada Yang Maha Kuasa, sedangkan kita belum punya kapasitas untuk menerima pemberian Yang Maha Kuasa.
Siapa yang tidak ingin kaya? Bahkan saat Rasulullah masih hidup pun, golongan kaum dhuafa pernah menggugat kedhuafaan mereka kepada Rasulullah, dan mengatakan iri dengan kaum kaya. Mereka iri sebab kaum kaya punya kesempatan untuk berinfaq dan shadaqah lebih besar dibandingkan kaum dhuafa yang tidak punya harta berlebih untuk bershadaqah.
Selain itu kemiskinan tentu saja lebih dekat dengan kekufuran. Berapa banyak saudara kita yang kemudian menggadaikan keimanan karena kemiskinan yang melanda, kemudian menukar akidah dengan sekarung beras dan sejumlah uang yang rutin diberikan tiap bulan oleh suatu kelompok murtadin.
Allah bukannya berlaku tidak adil, Dia justru mendidik umat Nya untuk bersabar dan ikhlas dengan hidup di dunia. Bersyukurlah terhadap nikmat Allah, maka akan digandakan nikmat yang diberikan. Tidak ada alasan buat kita untuk tidak bersyukur atas nikmat Allah, lalu apa yang menghalangimu untuk bersyukur???

Ditulis dalam Dari Hati | Tinggalkan sebuah Komentar »

People Power

Posted by Andres Irawan pada Juli 14, 2011

Sebuah ungkapan bijak, kecerdasan dan akhlak adalah selaras. Artinya adalah pemimpin yang cerdas, jika tidak diimbangi akhlak yang baik. maka dia akan menjadi pemimpin yang dhalim. Demikian juga dengan akhlak yang baik, jika tidak diimbangi dengan kecerdasan, maka dia akan menjadi pemimpin yang tidak adil.

Permasalahannya, menurut Lord Dalco, “power tends to corrupt”, alias kekuasaan akan cenderung menjadi absolut. Dengan kata lain, meskipun seorang pemimpin cerdas dan berakhlak, kekuasaan tetap saja bisa membawa dia menjadi seorang yang absolut.

Tidak mudah menjadi pemimpin memang, namun juga tidak berarti kita membiarkan pemimpin menjadi kekuasaan absolut. Ingat, kitalah, rakyat yang memegang kekuasaan tertinggi

Ditulis dalam Dari Hati | Tinggalkan sebuah Komentar »

Kangen….

Posted by Andres Irawan pada April 27, 2011

Tiba-tiba, kangen rasanya ngeblog lagi. Gak kerasa, semenjak pindah Halmahera, produktifitas nulisku hancur :(

yah, cuman sekedar menulis segala hal yang ada dalam pikiran. Bukan buat seneng-seneng doang atau update singkat, kalo soal itu khan ada facebook :) .

Tahun ini udah tahun ketujuh aku ngeblog, sempat membaca semua tulisan dari awal ngeblog sampai sekarangBanyak dinamikanya, walau tak sedikit kekurangannya.  Insya Allah semoga bisa lebih baik.

Kabar lainnya, sekarang saya “melajang”. Stop, jangan berfikir negatif dulu. Melajang ini hanya temporary, soalnya saya masih bertugas di Halmahera, sedangkan istri tercinta udah lanjutin kuliah spesialis ke Unair. Jadi untuk sementara waktu, mesti sabar-sabar dulu. Insya Allah pula, akhir tahun ini saya juga akan pindah lagi ke Surabaya…amin…

how are u, my friends….????

Ditulis dalam Dari Hari | 2 Komentar »

Nikahilah Wanita Karena…….???

Posted by Andres Irawan pada Agustus 2, 2010

Ada sebuah hadits Rasulullah SAW, bunyinya kira-kira begini : “Nikahilah wanita karena empat alasan. Pertama karena hartanya, kedua karena kecantikannya, ketiga karena keturunannya dan keempat karena agamanya. Maka pilihlah wanita karena agamanya (yang baik).”

Bertahun-tahun, aturan ini dipakai oleh banyak laki-laki sholeh dalam memilih jodoh. Dengan latar belakang apapun, harta melimpah atau sederhana, wajah ganteng atau biasa saja, keluarga ningrat atau kawula alit, mereka mengedepankan agamanya yang baik sebagai syarat jodohnya.

Semakin berkembangnya waktu, ada sebuah hal yang menarik yang kemudian membuat saya mengambil teori baru. Ada perubahan ‘aturan’ yang diperintahkan oleh Rasulullah dalam memilih istri. Menikahi wanita, memang dengan landasan empat perkara, yaitu karena hartanya, karena kecantikannya, karena keturunannya dan karena agamanya. Tapi alasan utama memilih istri bukan lagi karena agamanya yang baik, tapi sesuai dengan urutan, yaitu dari hartanya, kecantikannya, keturunannya, baru agamanya. Yang lebih fenomenaal lagi adalah, nikahilah wanita karena HARTA nya.

Ada argument yang membuat saya menyatakan ini. Menikahi wanita karena hartanya, seakan-akan menyempurnakan segalanya. Coba saja anda menikahi wanita kaya (kaya secara pribadi atau kaya secara keluarga). Kita semua tentu maklum, sebagian besar wanita (masih ada segelintir yang tidak) sangat mendambakan memiliki wajah dan penampilan yang menarik. Kalo pada dasarnya cantik, maka tanpa perlu atau hanya sedikit dipoles maka akan kelihatan cantik. Tapi bagaimana yang wajahnya biasa saja atau bahkan cenderung jelek? Maka jalan pintas menjadi cara paling mudah. Tak terhitung berapa banyak wanita yang rela mengeluarkan ratusan ribu atau jutaan (bahkan mungkin miliaran) rupiah untuk memoles agar kelihatan cantik, baik secara instan, atau berkala. Ribuan wanita mengantri menjadi pasien bedah plastik, klinik suntik botox atau salon kecantikan. Belum termasuk konsumen obat pelangsing, cream pemutih wajah dan tubuh, serta alat dan barang kosmetik lainnya. Coba anda hitung saja, biaya cream pemutih wajah satu paketnya sekitar 60 – 100 ribu rupiah, bertahan hanya selama 7-10 hari. Dengan promosi bahwa sanggup memutihkan wajah selama 6 minggu, maka dibutuhkan pemakaian sebanyak 5-6 paket. Artinya, seorang wanita membutuhkan biaya sekitar 300 – 400 ribu per bulan untuk membuat wajahnya kelihatan putih (meski belum pasti akan putih). Belum juga dihitung dengan barang kosmetik pendukung lainnya semisal pelembab, eye shadow, lipstick dll yang memakan anggaran hampir sama dengan cream pemutih wajah. Padahal, jika penggunaan kosmetik yang jika menunjukkan hasil wajah putih dihentikan, maka wajahnya akan kembali sedia kala seperti sebelum menggunakan cream. Nah pertanyaannya adalah, wanita mana yang bersedia menganggarkan sekitar 800 ribu per bulan (dan akan bertambah mengikuti fluktuasi harga) selama hidupnya hanya untuk urusan “dempul” wajah, jika bukan orang yang mempunyai uang berlebih.

Pun sama dengan cara instan, sekali suntik botox misalnya, atau urusan ke salon, bahkan sampe operasi pembesaran (atau kalo sudah dibesarkan, karena merasa kebesaran akhirnya dikecilkan) bagian tertentu wanita, penarikan kulit keriput serta pengangkatan sel kulit mati, sudah barang tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit, yang akan berlangsung selama hidup.

Artinya, dengan menikahi wanita yang kaya, maka urusan cantik, mungkin saja bisa didapatkan.

Lalu bagaimana dengan alasan keturunan? Keturunan yang dimaksud disini adalah keluarga atau kalau saya boleh menspesifikkan adalah derajat keluarga (meskipun ada juga yang menyatakan bahwa keturunan disini adalah berasal dari keturunan keluarga baik). Di negeri ini, bahkan diseluruh penjuru bumi, maka orang kaya dianggap memiliki derajat yang lebih tinggi dibanding orang biasa atau orang miskin. Contohnya lihat saja kalo anda ke bank, jika anda mengajukan kredit pinjaman, anda hanya pakai sandal jepit, kaos oblong dan celana panjang lusuh, anda akan disuruh antri di lobby. Tapi jika anda datang diantar mobil mewah, berjas dan berdasi seakan mencitrakan diri sebagai eksekutif (yang kaya atau berlagak kaya), saat anda datang ke bank untuk melakukan pinjaman, saya jamin anda akan langsung diarahkan menuju ruang meeting atau ruang tunggu ekslusif (satu paradoks yang saya alami ketika datang ke bank hanya dengan baju biasa dan saat datang berikutnya menggunakan dasi).

Dengan mempunyai banyak harta, maka derajat juga akan terangkat. Dalam sebuah legenda Siti Nurbaya, ada satu sosok antagonis bernama Datuk Maringgih. Disebutkan bahwa dia ini adalah tukang rendahan dahulu kala, namun kemudian menjadi orang kaya. Meskipun bukan dari kalangan bangsawan atau tetua adat, justru para Sutan dan Pemimpin Nagari sangat menghormatinya dikarenakan kekayaan yang berlimpah. Hal yang membuktikan, bahwa dengan harta, maka derajat bisa dibeli.

Maka dengan harta melimpah, dasar untuk menikahi wanita karena keturunannya sudah tercapai.

Dan yang terakhir, alasan menikahi seorang wanita karena agama. Hal inilah yang sebenarnya diperintahkan oleh Allah, sebagai patokan dalam memilih istri. Namun sebenarnya, dasar agamapun bisa dibeli, gak percaya, mari saya tunjukkan fakta.

Negara kita adalah Negara yang sebagian besar penduduknya adalah masyarakat feodal, bukan hanya di desa, tapi juga ada di kota. Saya pernah menulis, keheranan saya dengan sikap (maaf) golongan habaib yang enggan bersalaman secara sempurna dengan jamaahnya. Seorang habaib diartikan adalah keturunan Rasulullah SAW. Para habaib ini, sering hanya sekedar menyentuhkan ujung jarinya kepada orang lain saat bersalaman, bahkan sering tidak bersentuhan sama sekali. Inilah ciri masyarakat tradisional Indonesia, yang merasa bahwa seorang habaib sebagai keturunan langsung Rasulullah, maka dengan bersalaman saja akan mendapatkan berkah. Padahal semestinya kita ingat, bahwa Rasulullah tak lebih dari seorang manusia biasa yang diberikan keistimewaan sebagai pembawa Risalah Allah dimuka bumi, sehingga Allah begitu mengasihinya. Jika mengharap ridha Allah dan mencintai Rasulullah, mengapa kita tidak berdoa langsung kepada Allah. Jika kita mecintai Rasulullah, mengapa kita tidak bersholawat atas dirinya secara langsung dan bukan mencari perantara lewat manusia lain yang derajatnya tidak lebih tinggi dari Rasulullah??

Kembali ke tema, tipikal masyarakat kita adalah feodal, selain dengan uang, maka derajat juga bisa dibeli dengan “label”. Label itu adalah Haji. Seseorang dengan gelar haji, saya jamin akan meningkatkan ‘gengsi’ dan statusnya (Udah liat film ‘Emak Pengen Naik Haji’ khan??), selain itu seseorang yang sudah naik haji akan dianggap orang yang sudah mengerti agama dengan baik (sesuai dengan konsekuensi gelar haji tersebut). Dengan kata lain, Haji = Sholeh (Hajjah = Sholehah).

Oleh karena itu pula, seseorang dengan gelar haji, biasanya akan merubah penampilan. Kalo dulu kemana-mana gak pernah pake peci, sekarang setiap keluar rumah selalu menggunakan peci haji dan baru akan menoleh jika disapa “pak haji”. Atau bagi wanita, jika dulu sebelum naik haji belum berhijab, setelah naik haji maka mulai kerudungan atau berjilbab, meski kadang keluar rumah di teras justru tak berjilbab (padahal, jilbab ini tidak mengenal aturan haji, kalo sudah baligh, ya langsung berjilbab meski belum haji)

Ini konsekuensi dari gelar haji/hajjah yang disandang. Artinya, derajat naik karena “label”. Sekarang permasalahannya, coba anda perhatikan berapa biaya haji di Indonesia. Pasti anda paham, bahwa butuh bertahun-tahun bagi orang yang hidup biasa-biasa aja untuk menabung biaya haji. Tapi hanya butuh sepuluh detik untuk satu tanda tangan di selembar cek / slip transfer, bagi orang kaya untuk mendapatkan kursi haji.

Bahkan jika sudah lunas biaya haji pun, butuh 3-4 tahun bagi orang yang hidup biasa-biasa saja agar dapat berangkat haji karena waiting list yang panjang. Tapi bukan menjadi masalah bagi orang kaya, karena jatah Haji Ekslusif alias ONH Plus tentu saja dengan biaya yang berlipat dibanding biaya normal, dengan mudah dilunasi secara singkat.

Dan ketika musim haji telah berlalu dan anda mendapatkan gelar haji/hajjah, maka anda dianggap orang yang telah mengerti agama.

Dengan menikahi wanita yang kaya, maka anda mendapatkan harta, kecantikan, derajat dan agama.!!

Teori ngawur??? terserah anda mendefiniskannya.

Ditulis dalam Dari Hati | 3 Komentar »

back again

Posted by Andres Irawan pada Juli 10, 2010

dua tahun terlalu lama untuk semedi….
insya Allah segera kembali aktif… :)

(mencoba mengikis karat jiwa menulis)

Ditulis dalam Dari Hati | 4 Komentar »

Serakahkah….??

Posted by Andres Irawan pada Oktober 29, 2009

Manusia akan nampak karakter aslinya ketika berhadapan dengan uang. Percaya atau tidak, namun idiom ini akan dengan mudah kita jumpai dalam kehidupan kita sehari-hari. Dan disekeliling saya pun dengan mudah saya dapatin hal tersebut.

Semisal contoh : ketika harus melaksanakan tugas kampus ke luar kota, saya yang notabene adalah unsur pimpinan, semestinya Surat Perintah Perjalanan Dinas (SPPD) itu dibuatkan oleh bagian keuangan, tapi justru ketika saya meminta biaya dinas, malah disuruh buat SPPD terlebih dahulu, setelah itu bagian keuangan malah tanya ke Pimpinan tertinggi berapa besar biaya dinas yang harus diberikan, selanjutnya ketika biaya dinas sudah diserahkan ke saya,  bagian keuangan malah menyatakan bahwa tugas luar kota yang saya lakukan itu gak penting

Pertama, sudah semestinya SPPD dibuat oleh bagian keuangan, terlebih karena saya unsur pimpinan, tapi okelah saya gak masalahin, mungkin terlepas bahwa saya ini dianggap “orang luar” yang gak berhak untuk duduk pada unsur pimpinan. Tapi, mengenai besarnya biaya dinas yang mesti saya dapatkan sehingga harus konsul pada pimpinan tertinggi, buat saya adalah suatu hal yang menggelikan. Menggelikannya adalah bahwa perjalanan dinas begini tidaklah baru sekali-dua kali atau pertama kali dilaksanakan, tapi sudah berulang-ulang sehingga semestinya sudah ada patokan / standar mengenai besarnya biaya perjalanan disesuaikan dengan jumlah hari dan jabatan orang yang melakukan perjalanan J. Dan yang ketiga, kenapa harus berkomentar bahwa kegiatan ini tidak perlu. Toh saya diperintah oleh pimpinan tertinggi untuk berangkat sehingga punya dasar yang kuat, sedangkan dana yang saya pakai juga bukan uang pribadi dari bagian keuangan, dana tersebut adalah dana operasional yang memang digunakan ketika ada kegiatan J

Lain contoh adalah ketika seorang kepala dinas setempat berurusan dengan pihak Rumah Sakit dimana istri saya bekerja. Sebelumnya perlu saya beritahukan, bahwa daerah dimana saya tinggail menerapkan kebijakan kesehatan gratis pada kelas 2, sehingga pasien yang merupakan warga daerah dimana saya tinggal, tidak perlu mengeluarkan biaya sedikitpun ketika harus periksa / rawat inap, kecuali jika naik kelas, cukup bayar selisihnya saja. Nah, kepala dinas ini salah satu family / relasi nya rawat inap di RS, dimana naik kelas. Ketika harus membayar tagihan sebesar 1 juta, si kepala dinas ini malah menawar untuk bayar separuhnya saja, yaitu 500 ribu. Sebenarnya bukan masalah menawarnya ini, tapi sebagai orang terpelajar, apalagi si kepala dinas ini berlatar belakang kesehatan, tentunya sudah tahu mengenai system kesehatan gratis dan pembayaran selisih, dan mestinyapun sudah tahu pula bahwa penagihan selisih ini merupakan hasil dari perhitungan rincian RS yang sudah terprogram. Lalu kenapa harus mesti menawar membayar separo saja? Padahal sebagai kepala dinas dengan pangkat golongan IVb, paling tidak gaji yang diterima sebesar 3 juta belum ditambah tunjangan kinerja pejabat daerah  dimana jabatan eselon II mendapatkan tunjangan sebesar 7 juta rupiah (belum termasuk proyek-proyek yang dikelola dengan kapasitas sebagai kepala dinas)

Dua fenomena yang kemudian saya mencoba menarik sebuah benang merah, ketika manusia disuruh untuk mengeluarkan uang, maka mereka berlomba-lomba untuk menghindari pengeluaran yang  besar, bahkan kalau bisa tidak mengeluarkan uang sedikitpun. Tapi ketika ada uang di hadapan, maka manusia berlomba-lomba meraih sebanyak-banyaknya, kalo perlu dengan cara apapun, termasuk menjegal, main kotor, kolusi dan korupsi.

Manusia mempunyai sifat serakah, ini adalah watak manusia pada umumnya. Serakah bukan saja pada harta, tapi juga pada jabatan, kekuasaan, dan tahta. Bahkan secara sederhana, keserakahan manusia itu nampak saat perutnya diisi dengan 3 piring sekaligus saat makan, sedangkan tetangganya mungkin hanya bisa makan 1 kali sehari disetiap harinya.

Semoga saja kita tidaklah menjadi orang-orang yang terus menikmati keserakahan dalam hidupnya, berlomba-lomba menimbun segala hal pada hidupnya, sedangkan kewajiban yang semestinya ditunaikan justru terabaikan

Wallahulambishshowab

 

Ditulis dalam Dari Hati | 3 Komentar »

Posted by Andres Irawan pada April 6, 2009

Itu bukanlah angka yang perlu diseriusi, karena itu adalah ukuran celana saya 
Ya benar, setelah 2 tahun menikah, ukuran celana saya naik dari 30 = 33 alias, perut saya makin besar hehehehe, masalahnya adalah badan saya masih kecil saja, sehingga tampak buncit 
Bukan saya gak perduli dengan hal tersebut, cuman kok ya ngerasa males buat ngecilin perut . Mungkin kebiasaan orang Indonesia yang suka akan duduk, dibandingkan dengan berdiri. Demikian pula dengan saya, terbiasa duduk di tempat kerja, berbeda dengan beberapa tempat kerja terdahulu, kini saya lebih banyak duduk dibelakang meja, sebagai penanggungjawab bidang akademik di kampus saya 
Tapi, untung saya punya istri yang “cerewet”, dipaksalah saya buat olahraga, mulai lari, angkat barbel, sit up dan push up, sampai malah dibelikan L-Men hihihi . Habisnya saya ngeluh soalnya celana saya mulai terasa sempit, alias banyak celana saya yang akhirnya saya sumbangin buat baksos kampanye, soalnya udah gak muat lagi. Maklum, celana yang dibuat waktu masih bujang dulu, masih ukuran 30, padahal sekarang udah 33 
Ya udah deh, doain ya saya bisa ngecilin perut heheheh 

Ditulis dalam Dari Hati | 2 Komentar »

Tanggapan Komentar “Geng Nero = Praja IPDN”

Posted by Andres Irawan pada Maret 19, 2009

Masih inget dengan Genk Nero? Kalo masih belum ingat, anda bisa baca tulisan saya yang pertama tentang Genk Nero, tapi saya yakin anda semua masih ingat kasus tersebut. Sampai sekarang, saya belum mendapatkan kabar tentang kelanjutan kasus tersebut. Setahu saya, hukuman yang sudah diberikan adalah pelaku tindka kekerasan tersebut di keluarkan dari sekolah, namun untuk proses hukumnya saya sendiri tidak mengikuti sejauh mana perkembangannya

Okelah, kita tidak perlu membahas hukuman genk Nero, tapi yang jelas, akhir-akhir ini muncul kasus serupa yang tidak sedikit jumlahnya, yaitu video rekaman tindak kekerasan yang dilakukan oleh sekelompok / seseorang terhadap orang lain. Bahkan sempat juga diberitakan adanya rekaman perkelahian antara dua pelajar perempuan, yang mana ada salah satu oknum guru bukannya menengahi, namun justru menjadi wasit dari perkelahian tersebut. Bicara masalah perkelahian, mungkin bukan sesuatu yang mengejutkan bahwa dalam masa pertumbuhan remaja, bentuk kontak fisik alias perkelahian antar siswa itu merupakan sesuatu yang biasa dikalangan remaja. Saya sendiri mengakui, saat masih sekolah, ada beberapa kali berselisih pendapat dengan sesama teman, hanya karena masalah sepele, meski demikian,sendiri memilih tidak untuk berkelahi selama masih bisa di bicarakan Dan menurut pendapat saya, itulah dinamisasi dalam dunia remaja, perbedaan pendapat adalah sesuatu yang wajar, namun bukan berarti alasan menjadi sebuah perkelahian

Saya mengucapkan terima kasih atas banyaknya komentar dalam tulisan pertama, baik dari masyarakat umum, maupun juga banyak yang mengatasnamakan sebagai alumni IPDN. Sebuah tulisan, biasanya akan menghasilkan pendapat, baik yang pro maupun yang kontra. Dan tidak sedikit, yang kemudian “mengecam” saya atas tulisan menyamakan Nero dengan IPDN

Well, Jika menyangkut institusi mungkin dalam tulisan ini, secara terbuka saya menyatakan pemintaan maaf, jika saya dianggap melecehkan IPDN, oke, itu satu hal yang saya akui mungkin “kebablasan”. Meskipun demikian, saya merasa tidak bersalah jika saya menyatakan bahwa praja IPDN hanya berani main keroyok terhadap juniornya, sebagai bentuk senioritas. Toh, fakta yang ada menunjukkan bahwa seorang praja senior, suka “memplonco” junior yang berasal dari daerahnya, tentu saja karena junior dari daerah lain sudah menjadi “jatah” bagi senior dari mana junior tersebut berasal

Saya punya sahabat baik, teman yang masa SMA dulu satu kelas dengan saya, dan juga menjadi salah satu partner dalam menggerakan kegiatan siswa di SMA, dan dia juga menjadi alumni dari IPDN, bukan hanya satu tapi ada beberapa orang dan mereka sendiri mengakui akan adanya bentuk kekerasan dalam system pendidikan di IPDN masa mereka. Tapi saya sendiri memahami, system senioritas, itu berlaku disemua bentuk organisasi, apakah itu pendidikan, pemerintahan, atau bahkan tingkat sederhana seperti karang taruna dan lembaga remaja masjid. Saya sendiri juga pernah mengalami menjadi junior yang harus diperintah alias dikerjain oleh senior.

Tapi mungkin ada hal yang tidak dijadikan sebagai pelajaran bersama. Ini adalah oknum, yang karena menjadi bagian institusi, akhirnya menyeret institusi tersebut. Permasalahannya adalah, kasus yang sama terus menerus terjadi, dengan oknum yang berbeda. Ini sendiri membuktikan, adanya system yang perlu dibenahi dalam IPDN sendiri, dan wajar saja, jika orang luar seperti saya, kemudian mengambil kesimpulan bahwa praja IPDN = suka maen pukul juniornya. Dan untuk mengakui hal tersebut, susah sekali oleh yang melakukan :)

Oh ya satu lagi, saya mengamati (tapi jangan dianggap sebagai generalisir) kebanyakan, alumni IPDN sering kebabalasan rasa percaya dirinya, sehingga menjurus kearah pongah alias sombong, mungkin oknum, tapi kok saya beberapa kali dapatin hal yang sama ya pada beberapa oknum, tidak tahu dengan anda yang lainnya :)

Sistem sudah dibenahi oleh pemerintah, ini menjadi tantangan buat anda yang mengaku sebagai keluarga besar IPDN, jika ada kasus terulang kembali, maka apa yang ada “tuduhkan” kepada saya, silahkan anda telan kembali. Dan saya sendiri emang tidak punya kepentingan dalam hal tersebut, karena sebenarnya, saya hanya ingin mengingatkan bahwa silahkan aja maen kasar, tapi maen kasarlah kepada orang yang menggangu kedaulatan kita.

Wallahualambishshowab

(Mungkin sangat terlambat saya menulis tanggapan ini, tapi mohon dimaklumi, tinggal di Indonesia Timur, akses internet cukup susah untuk didapatkan, dan tulisan ini tidak butuh komentar dari anda) :)

Ditulis dalam Dari Hati | Tinggalkan sebuah Komentar »

Kembali…!!!

Posted by Andres Irawan pada Februari 2, 2009

Alhamdulillah, akhirnya bisa kembali lagi setelah sekian lama “menghilang”. Bukan karena terlalu sibuk, atau males nulis. Tapi karena memang kondisi di daerah terpencil, sarana internet masih menjadi kendala dalam berkomunikassi.

Kalo terakhir saya menulis pada bulan Juli, berarti hampir 7 bulan saya gak aktifkan blog ini, alias hiatus. Permasalahannya adalah yang pertama akses internet di Halmahera memang masih sulit. Selama ini saya hanya mengandalkan 2 tempat akses internet “gratis”, yaitu kantor Dinas Pendidikan yang jaringan internetnya dapat dari Depdiknas pusat, serta satu lagi kantor Bappeda Halsel yang berlangganan IM2. Keduanya bisa saya akses melalui wifi lewat laptop. Permasalahannya adalah saya sendiri tidak punya laptop. Memang ada laptop Toshiba Tecra di rumah saya, namun tidak ada wifi adapternya, selain itu batreinya drop (maklum, laptop tua :) ). Semestinya dari kampus ada laptop satu yang dulu biasa saya bawa, cuman karena bagian akademik membutuhkan computer portable, akhirnya laptop kampus saya serahkan ke akademik. Akhirnya perangkat keras membuat saya tidak bisa ngenet :(

Permasalahan kedua adalah jaringan internet di diknas sering error, kalopun tidak error, IT diknas sendiri sering rese, karena ngeliat banyak yang wifi di diknas, sering wifinya dimatikan, sehingga tidak terkoneksi. Padahal sebenarnya sebagai institusi pendidikan, saya sendiri punya hak untuk menggunakan jaringan internet diknas yang memang digunakan sebagai layanan internet institusi pendidikan dari dasar sampai tingkat tinggi. Dan sekarang, entah siapa yang punya ulah, kabel induk dari parabola satelit di kantor diknas ada yang mutus, sepertinya disengaja, mungkin sebel karena oknum tersebut sering diusir saat make wifi

Sedangkan kantor bappeda sendiri letaknya cukup jauh dari kota, sudah gitu aksesnya terbatas, karena sekarang mesti pake settingan sebelum bisa ngenet di bappeda, sehingga tidak bebas lagi

Untungnya, admin bappeda dikenalkan seorang teman kepada saya, sehingga akhirnya laptop saya disettingkan. Ya benar, laptop saya! Karena lama nungguin pengadaan barang dari kampus yang tak kunjung datang, akhirnya saya (dan istri), ngebobol tabungan kami berdua untuk beli netbook baru. Kebetulan ada temen yang pergi ke Jakarta, sehingga bisa nitip beli di Jakarta.

Memang bukan netbook mewah, bukan pula notebook yang punya kemampuan high performance, namun paling tidak bisa membantu mobilitas kami berdua karena saya sendiri mesti ngajar di kampus, sedangkan istri sendiri masih sering nerima terjemahan jurnal dari dokter yang sedang menempuh PPDS.

Insya Allah berkah :)


Ditulis dalam Dari Hati | Tinggalkan sebuah Komentar »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.