Melintasi Batas Kesunyian

Merenungi Hidup…..Dengan Segala Macam Hikmahnya

Democrazy in my Country

Ditulis oleh Andres Irawan di/pada Juli 13, 2008

Akhirnya, kran demokrasi yang terbuka lebar itu memunculkan sebuah “kebingungan” baru. Setelah melalui proses yang panjang, Komisi Pemilihan Umum (KPU) menetapkan 34 partai peserta pemilu 2009. 7 partai lama yang meraih lebih dari 3% suara pada pemilu 2004, ditambah dengan 9 partai lama yang lolos berkat UU Pemilu yang “aneh” karena membatalkan Elektroral Treshold (ET) pada UU Pemilu lama serta 18 partai baru yang keberadaan dan eksistensinya masih memerlukan jawaban yang nyata

Inilah demokrasi, ketika ada kehendak, dana dan juga kesempatan, maka mendirikan partai baru untuk menjadi kontestan pemilu. Terlepas apapun alasan pendirian partai baru, apakah hanya sekedar oportunis belaka, kekecewaan terhadap partai lama alias barisan sakit hati, atau dengan alasan cita-cita membangun bangsa ini, namun ujungnya hanyalah satu bahwa dari sekian banyak partai yang telah eksis dianggap tidak bisa menjadi kendaraan politik tokoh pendiri partai baru tersebut. Disamping membuktikan bahwa kinerja partai lama yang ada, banyak yang mengecewakan rakyat.

Jika kita jeli, sebenarnya meskipun partai baru, akan tetapi tokohnya ya tetap aja tokoh lawas alias stok lama. Lihat saja Wiranto dengan Hanura, Laksamana Sukardi dengan PDP, Gerindra yang diisi para pensiunan Jenderal, dengan kata lain, baju baru tapi wajah lama. Ini yang menjadi kemandekan demokrasi, dimana tokoh-tokoh tua terus saja berkecimpung padahal sudah terbukti bahwa pemikiran tokoh tua ini tidak membawa kemajuan bangsa ini.

Yang menarik adalah, dengan dikabulkan Judicial Review 7 parpol lama yang gagal ikut pemilu 2009 karena tidak mendapat kursi di pemilu 2004 terhadap UU Pemilu tentang pasal yang membahas ET, dimana Mahkamah Konsitusi (MK) menganggap bahwa pasal ET tersebut “salah” secara dasar hukum, membuat semestinya 9 partai lama yang tidak memenuhi ET namun masih bisa ikut Pemilu 2009 menjadi terancam eksistensinya. Jika merujuk keputusan MK, maka 9 partai tersebut tidak dapat ikut pemilu 2009, jika KPU melakukan verifikasi ulang dan dinyatakan tidak layak ikut pemilu. Akan tetapi, inilah hukum di Indonesia, sering kali keputusan yang ditetapkan menjadi mubazir ketika keputusan tersebut tidak dilaksanakan. KPU sendiri cenderung menetapkan bahwa tidak ada verifikasi ulang, karena jika dilakukan akan menunda pelaksanaan pemilu keseluruhan, baik pemilu legislative maupun pemilu presiden.

Inilah dagelan politik di dewan rakyat. Sebelum pemilu 2004, dewan rakyat yang bersidang saat itu dengan gagahnya memutuskan bahwa parpol yang tidak lulus ET pada pemilu 1999, maka harus membentuk partai baru atau bergabung dengan parpol lain. Selang 5 tahun kemudian, aturan itu kemudian berubah setelah melalui deal-deal politik. Sebenarnya ini langkah yang baik, karena diharapkan akan menciutkan jumlah partai yang ada. Namun ternyata, justru makin banyak partai baru yang muncul di Indonesia, ketika sebenarnya saya mengharapkan partai pada pemilu ini, tidak lebih dari 15 partai.

Semestinya, pembentukan partai baru, ataupun pelaksanaan verifikasi lebih ditingkatkan syaratnya. Dengan syarat harus ada minimal 2/3 dari jumlah Provinsi, dan pada sebuah propinsi harus memiliki 2/3 cabang tingkat kabupaten, dimana pada masing-masing kabupaten hanya membutuhkan 1000 KTA, ini adalah syarat yang teramat mudah untuk mendirikan partai baru.

Anda bisa hitung saja ada sekitar 750 kabupaten di Indonesia. Jika hanya 1000 anggota tingkat kabupaten, berarti hanya membutuhkan sekitar 750.000 KTA. Jumlah yang sebenarnya terbilang kecil jika dibanding jumlah suara yang diperebutkan yang berkisar 180 juta suara, hanya kurang dari 0,5 persen dari total suara.

Sudah seharusnya syarat mendirikan partai baru direvisi, demikian juga syarat bagi partai yang tidak lolos ET. Untuk partai yang terkena ET, semestinya bukan hanya sekedar berubah nama atau bergabung dengan partai baru, namun semestinya partai yang terkena ET, wajib menggabungkan diri dengan partai lain, dengan total suara jika dijumlah sebesar 3% sesuai dengan batas ET, sehingga bisa untuk mengikuti pemilu selanjutnya. Dengan demikian, fenomena partai hanya sekedar ganti nama, namun berulang kali ikut partai tidak akan terjadi. Sedangkan untuk partai baru, sudah semestinya syarat KTA ditingkatkan menjadi minimal 6000 per kabupaten. Sehingga jika ditotal, maka sebuah partai baru memiliki sekitar 3 persen anggota dari jumlah penduduk Indonesia yang mempunyai suara. Dengan demikian, maka sama dengan partai yang terkena ET, memiliki jumlah riil massa yang jelas.

Dengan begitu beratnya syarat untuk mendirikan parpol baru, maka fenomena partai muncul bagai jamur akan terhenti dengan sendirinya. Sebuah partai baru yang muncul, maka merupakan partai yang solid dan memang kuat secara organisasi, bukan hanya sekedar kendaraan politik sesaat untuk kepentingan petinggi partai semata, namun memang sebuah partai yang bertujuan untuk membangun bangsa ini, demi kesejahteraan rakyatnya.

Terlepas dari apa yang saya tulis diatas, yang hanya sekedar wacana belaka, saya sendiri sebenarnya berharap bahwa pemilu tahun pada masa depan hanya diikuti kurang dari 15 parpol. Walaupun secara pribadi, menurut saya idealnya pemilu di Indonesia hanya sekitar 6-8 parpol saja. Dengan demikian, akan menghemat anggaran negara, menghemat waktu, juga menghindarkan gesekan antar parpol akibat begitu banyaknya parpol yang ada

Dan tentu saja, rakyatlah yang akan menjadi pihak diuntungkan. Ketika pilihan semakin sedikit, maka parpol akan dituntut menjadi parpol yang professional, menjadi parpol yang memang membela kepentingan rakyat, menjadi parpol yang konsisten dengan platform, memenuhi janji kampanye dan lain-lain yang ujungnya adalah meningkatkan kesejahteraan rakyat sehingga membawa bangsa Indonesia ini menjadi bangsa yang besar.

Walllahualambishshowwab

Ditulis dalam Dari Pikiran | Tidak ada komentar »

Genk Nero = Calon Praja IPDN

Ditulis oleh Andres Irawan di/pada Juni 14, 2008

Genk Nero, aksi gerombolan muda ini bagaikan preman di kalangan remaja putri. Dengan aksinya, mereka menculik sasaran, kemudian melakukan penganiayaan dengan cara menampar, memukul dan menjambak target sasarannya dengan cara main keroyok, 1 orang korban di hajar oleh 4 ketua Genk Nero. Padahal, pangkal masalahnya hanyalah rebutan pacar

Aksi kekerasan memang lekat pada dunia remaja. Sudah biasa kita dapati, tawuran antar sekolah, perkelahian antar genk, serta juga pengeroyokan pada orang luar kelompok remaja. Belum lagi kebiasaan bahwa masalah hanya bisa diselesaikan dengan adu fisik dan kekuatan, bukan dengan adu logika dan pikiran.

Begitulah dunia remaja, yang memang penuh dengan romantika (kok jadi puitis yah :) ). Okelah, maksud saya adalah sebenarnya permasalahan remaja adalah suatu fase dalam hidup seorang manusia, dimana dia beranjak tumbuh dewasa dengan menghadapi konflik baru di kehidupannya. Banyak yang menyatakan bahwa karakter seseorang, akan di tentukan dari bagaimana dia menjalani fase remajanya. Ketika masa remajanya “keras”, maka akan menempa seseorang untuk berjiwa keras pula, demikian sebaliknya (well, saya bukan psikolog soalnya :) )

Tapi, sebenarnya manusia hanya butuh satu momen penting untuk berubah. Satu hal yang terjadi dalam hidupnya, yang kemudian dapat dipelajari dan diambil hikmahnya, sehingga mampu merubah manusia tersebut. Itulah kenapa, Allah menempatkan manusia menjadi makhluk yang paling tinggi derajatnya, karena manusia mempunyai akal. Akal yang menentukan apakah dia mau menerima kebenaran, ataukan akal tersebut kemudian tertutup oleh nafsu sehingga menolak kebenaran

Kembali ke kasus Genk Nero, saya pribadi punya pendapat. Sepertinya anggota Genk Nero adalah siswa putri yang punya keinginan untuk melanjutkan pendidikan di IPDN :) . Dengan model senioritas, main keroyok, serta merasa paling benar, merupakan mental awal yang sudah terbentuk dan saya yakin akan makin terbina dan terasah dengan baik ketika ada di IPDN. Bukankah demikian adanya, karena di IPDN, model senioritas, maen keroyok 1 junior dihadapi 10 senior (kayak banci yah, masak menghadapi 1 orang harus dikeroyok 10 orang) merupakan hal yang biasa disana. Jadi jangan khwatir, karena nantinya negeri ini akan dipimpin oleh orang-orang yang suka ngeroyok. Walaupun saya berharap, suka ngeroyoknya bukan sama warga negaranya sendiri, tapi sama negara asing yang menginjak kehormatan bangsa ini seperti Australia dan Malaysia yang suka bikin gara-gara sama Indonesia hehehehehe :):) :)

Ditulis dalam Dari Hati | 39 Komentar »

Sudah Saatnya, Kita didepan!

Ditulis oleh Andres Irawan di/pada Mei 23, 2008

Harga minyak pasti naik. Itu adalah hal yang sudah dipastikan kebenarannya oleh pemerintah saat ini. Dan tidak punya alternatif lain, selain menaikkan harga BBM jika tidak ingin mengalami defisit dalam anggaran negara

Saya tidak akan menyorot kenapa pemerintah mengambil kebijakan tersebut, atau alternatif lain yang semestinya diambil pemerinta untuk menutup defisit APBN. Buat saya, pemerintah saat ini sudah gagal, tak perlu mencari alasan lain. Tapi saya justru ingin bicara soal komentar banyak pihak yang mengkritisi kebijakan SBY-JK untuk menaikkan harga BBM.

Tak kurang, mulai dari Gus Dur, Megawati bahkan juga para mentri di era Gus Dur dan Megawati ikut urun bicara. Semua menyatakan bahwa pemerintah tidak memihak rakyat dengan mengambil kebijakan yang tidak populis, menaikkan BBM.

Begitu mudahnya bicara, padahal saya sendiri belum lupa, saat Gus Dur menjabat presiden, dalam waktu hitungan bulan saja, sudah menaikkan BBM, demikian juga Megawati, setali tiga uang dengan Gus Dur, menjabat presiden dengan “record” menaikkan BBM juga.

Apa mereka lupa, jika mereka juga pernah melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan SBY, tapi mengkritisi saat mereka bukan sebagai presiden (dan punya niat jadi presiden lagi). Sungguh memalukan, karena saya yakin, seandainya mereka menjadi presiden kembali (saya sendiri berharap jangan sampai terjadi), pasti mereka juga akan menempuh cara yang sama seperti SBY saat ini, dengan alasan yang sama yaitu menutup defisit APBN

Contoh saja Rizal Ramli yang pernah menjadi menteri era Gus Dur, komentarnya termasuk paling pedas soal kenaikan BBM saat ini, tapi dia juga ikut mendukung presiden yang juga menaikkan BBM saat menjabat menteri

Bukan orang yang bisa komentar saja, namun tak mampu melakukan aksinya yang dibutuhkan negeri ini sebagai pemimpin. Tapi seseorang yang mempunyai jiwa besar, berjuang untuk negeri dan mengabdi bagi negara, menyejahterakan masyarakat tanpa kenal lelah, tidak berpikir jabatan dan kekuasaan. Tegas dengan pihak asing, berwibawa di depan masyrakat. Itulah yang dibutuhkan negeri ini.

Kita (pernah) punya orang seperti itu, Bung Karno, saat idealisme membangun bangsa masih menjadi pilihan. Meski kemudian surut perlahan saat kepentingan pihak tertentu mulai menguasai beliau. Kita butuh jiwa nasionalisme membangun negeri ini, kita butuh orang-orang muda yang bertenaga dan bersemangat membangun bangsa. Sudahlah, kalian yang sudah tua, berilah kami bimbingan dan nasehat, tapi biarkan kami yang bekerja. Masa anda sudah lewat wahai “orang tua”!

Ditulis dalam Dari Hati | 1 Komentar »

Prestasi : BBM naik lagi!

Ditulis oleh Andres Irawan di/pada Mei 19, 2008

Sebuah “kado” sedang disiapkan pemerintah Indonesia untuk rakyatnya. Kado itu adalah kenaikan BBM. Dengan alasan untuk menutupi defisit APBN akibat kenaikan harga minyak dunia, maka pemerintah tidak punya cara lain kecuali menaikkan harga BBM.

Memang jika kita perhatikan, sebenarnya harga BBM di Indonesia jauh lebih murah dibanding dengan harga BBM di Negara lain. Hal ini dikarenakan harga BBM di Indonesia masih disubsidi pemerintah sebagian sehingga harganya bisa cukup murah. Namun harus diingat, kenapa harga BBM murah, karena daya beli masyarakat Indonesia juga masih sangat kecil, dibanding negara lain

Namun sekali lagi, kebijakan menaikkan BBM merupakan kebijakan yang sangat tidak populis. Kebijakan tersebut, akan memicu kenaikan semua harga barang dan juga jasa transportasi. Tentu saja hal tersebut akan membuat makin banyaknya angka kemiskinan di Indonesia

Padahal jika mau, sebenarnya banyak cara yang bisa dilakukan pemerintah dibanding sekedar menaikkan harga BBM. Yaitu membenahi banyaknya kebijakan terkait penggunaan BBM.

Himbauan hemat energi, yang pernah didengungkan tahun 2005, hanya bisa berjalan efektif 1 bulan. Selanjutnya, non sense, tidak ada artinya sama sekali. Pemborosan energi, sudah menjadi kebisaaan yang sulit dihindari.

Belum lagi maraknya penyelundupan BBM keluar negeri. Memperparah system distribusi BBM dinegara ini, karena jatah BBM yang mestinya bisa didistribusikan ke daerah, justru dibawa kabur ke Negara lain. Stop penyelundupan BBM

Kebijakan konsumsi Pertamax untuk mobil dengan kapasitas 2000 cc keatas mestinya bisa diterapkan dengan benar. Sungguh memalukan sebenarnya, para orang kaya yang punya mobil berharga 500 juta lebih, namun mencuri jatah rakyat kecil yang hanya bisa kredit sepeda motor dengan cara ikut antri premium. Kalo memang gak kuat beli Pertamax, jangan beli mobil 500 juta dong, beli aja yang 100 juta dengan isi silinder kurang dari 2000 cc.

Dan yang terakhir, jangan ulang kesalahan menyerahkan SDA kepada pihak asing. Castrol, Exxon Mobil dan Conoco Phillips, merupakan 3 perusahaan amerika yang mengeruk minyak Indonesia, dan kemudian menjadi kaya raya karena kebodohan bangsa ini, membiarkan orang asing yang menambang hasil bumi kita

Jangan lupakan pula, bangun tempat penyulingan secara mandiri. Mungkin belum banyak yang tahu, jika BBM di Indonesia, dijual secara mentah ke Singapura, kemudian dibeli kembali pada saat sudah disuling menjadi Premium.

Namun, jika akhirnya pemerintah tetap nekat menaikkan BBM, ada opsi yang bisa diberikan. Yaitu, kenaikan BBM hanya bagi kendaraan pribadi berupa mobil dengan silinder 2000 cc keatas, sedangkan sepeda motor, kendaraan umum dan kendaraan barang tetap dengan harga subsidi. Opsi tersebut membuat rakyat kecil tidak banyak terbebani dengan kenaikan harga serta menjadikan orang kaya yang tidak punya otak dengan antri BBM murah, harus sadar dengan kemiskinan disekitarnya. Memang disini akan terjadi banyak usaha curang, dimana mobil bersilinder besar ikut antri premium murah, hal ini yang harus diantisipasi dengan membuat SPBU khusus mobil mewah, yang berbeda dengan SPBU premium subsidi

Kenaikan harga juga harus tidak berlaku bagi minyak tanah. Jelas Wakil Presiden sendiri yang bicara bahwa premium dikonsumsi kelas menengah keatas sedangkan kelas bawah menggunakan minyak tanah. Maka adalah sebuah lelucon yang sangat tidak lucu jika konsumsi kelas bawah, juga dinaikkan harganya.

Terakhir, harus diingat bahwa kenaikan BBM maka akan menekan masyarakat kelas bawah. Sudah dapat dipastikan bahwa ketika harga BBM naik, akan meningkatkan jumlah masyarakat miskin di Indonesia. Selain itu meningkatnya jumlah pengangguran, ketika ibu-ibu RT yang kebanyakan hanya dirumah, terpaksa mencari kerja karena gaji suami yang sudah tidak cukup lagi untuk kebutuhan sehari-hari.

Mungkin, nanti saat Pilpres tahun 2009, rakyat harus bikin kontrak politik dengan Calon Presiden, untuk tidak menaikkan BBM selama menjabat presiden. Dan jangan lupa, 4 tahun memerintah negeri ini, SBY – JK (akan) menaikkan BBM selama 2 kali.

Ditulis dalam Dari Hati | 4 Komentar »

Mencerdaskan atau Membodohi Bangsa

Ditulis oleh Andres Irawan di/pada Mei 9, 2008

Ujian Nasional. “Hantu” itu bernama Ujian Nasional (UN) dengan standar kelulusan harus mencapai nilai 5,25 untuk keseluruhan pelajaran yang diujikan. Bagi anda yang mempunyai anak yang duduk dikelas 6 SD, 3 SMP dan 3 SMA, maka anda mesti was-was karena anak anda tidak bisa memenuhi standar kelulusan UN. Atau mungkin anda sendiri yang saat ini sedang resah menanti hasil UN anda?

Jika kita bicara masalah UN, maka kita harus melihat dulu kenapa UN diadakan. UN merupakan evaluasi dari hasil pendidikan pada suatu jenjang tertentu. Dari UN itulah, maka akan diketahui apakah sang siswa telah layak dan pantas untuk menyelesaikan pendidikan pada jenjang tersebut, sehingga dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Lulus SD tentu melanjutkan ke SMP, dari SMP tentu saja ke SMA, dan dari SMA dapat melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi.

Namun, apakah UN merupakan sebuah keharusan? Dan apakah UN memang sudah mencapai sasaran yang diinginkan?

Pemerintah mencanangkan pendidikan 12 tahun. Dengan demikian maka semua anak usia 6-18 tahun wajib bersekolah mulai dari SD, SMP sampai SMA. Tentu saja target kebijakan ini adalah mencerdaskan seluruh rakyat Indonesia.

Terlepas dari itu, muncullah masalah ketika UN membuat sebagian atau malah banyak siswa yang kemudian tidak lulus dari evaluasi lewat UN. Bagaimana nasib mereka? Apakah mereka tidak dapat melanjutkan penddidikan ke jenjang selanjutnya, atau mereka mesti menunggu 1 tahun lagi agar dapat bersekolah ke jenjang berikutnya. Padahal, hak untuk mendapatkan pendidikan mutlak mereka dapatkan, terlepas mereka pintar atau kurang pintar.

Selain itu, mutu pendidikan yang sangat tidak merata tentu saja membuat standar kelulusan tidak adil bagi daerah yang mutu pendidikannya masih tertinggal. Siswa di daerah maju, di kota-kota besar di Jawa, tentu saja memiliki sarana yang lebih lengkap dalam belajar, dan juga mutu pendidikan lebih terjaga. Tapi untuk daerah yang sedang membangun, atau daerah yang terisolir seperti di perbatasan Malaysia, mutu pendidikan tidak bisa disamakan dengan sekolah di Jakarta.

Dengan mutu pendidikan yang tidak merata, tentunya tidak adil jika standar kelulusan disamakan, padahal materinya sama, hanya karena sarana dan prasarana yang berbeda, membuat pendidikan di daerah tertinggal menjadi suatu hal yang memprihatinkan.

Dalam hal ketidak adilan inilah, maka banyak pejabat dan pelaksana bidang pendidikan yang kemudian menerapkan kebijakan “yang penting lulus”. Akibatnya, tentu saja kelayakan pendidikan di daerah tertinggal patut dipertanyakan.

Sekali waktu, pergilah ke daerah terpencil di Indonesia Timur. Bagi anda yang kemudian bertandang ke sebuah SMA, mungkin anda akan merasa berhadapan dengan anak SD. Karena materi SD, banyak yang tidak dikuasai oleh siswa. Malah pernah ada seorang teman saya yang berkomentar “Materi SMA di sini, sama dengan materi SD di Jakarta”.

Hal ini, ternyata disebabkan masalah klasik, kekurangan tenaga pengajar, sehingga banyak lulusan D2 yang menjadi tenaga pendidik. Sebenarnya saya tidak terlalu mempermasalahkan soal jenjang pendidikan, asal sang guru mau belajar lagi, maka guru tersebut tentu saja bisa semakin berkembang. Tapi masalahnya, banyak guru yang tidak mempunyai standar sertifikasi mengajar alias belum layak mengajar (termasuk penulis). Akibatnya, banyak guru tersebut yang tidak mempunyai pedoman dalam hal pengajaran yang akibatnya hasil didikan juga tidak jelas kualitasnya. Belum lagi diperparah masalah moral dan kultur pendidikan yang bersifat primordial. Siapa yang “baik” dengan guru, maka nilainya bagus. Maksudnya adalah, siapa yang bersedia membantu guru, maka dia bisa dapat ranking. Ini berdasarkan cerita banyak orang, dimana jika ingin dapat mendapat nilai bagus, maka harus bersedia mencuci baju, masak, dan membersihkan rumah guru yang bersangkutan, bukan berdasarkan prestasi akademik disekolah.

Tentu saja, dengan model seperti hal tersebut diatas, maka kualitas pendidikan siswa menjadi tidak jelas. Banyak siswa yang sebenarnya berpotensi, dikarenakan tidak dibina dan dididik dengan baik oleh pendidik yang berkualitas, menjadikan siswa berpotensi ini bagaikan “layu sebelum berkembang”

Belum lagi masalah Kejar Paket, baik A, B dan C. Selama ini pemerintah menjadikan Kejar paket A,B dan C (Sekarang namanya Ujian Penyetaraan) adalah alternatif bagi siswa yang tidak lulus pada mata pelajaran tertentu dapat mengulang lewat Ujian Penyetaraan (UP), disesuaikan dengan jenjangnya. Padahal kondisi yang saya lihat di daerah saya saat ini, banyak siswa yang kemudian memilih tidak lulus lewat UN, namun dapat lulus lewat UP. Bagi mereka UN adalah hal yang tidak penting, karena kelulusan dapat mereka raih lewat UP.

Wajar, karena UN dilaksanakan oleh Diknas, lewat sekolah dengan mengisi lembar jawaban komputer yang mana pengkoreksian jawaban dilaksanakan secara terpusat, sehingga kecil kemungkinan ada “permainan” disana. Berbeda dengan UP yang hanya diselenggarakan oleh Diknas daerah, dan pengoreksian secara manual, sehingga peluang untuk “bermain” sangat terbuka lebar. Siapa yang bisa tahu, kalo nilai siswa yang mengikuti UP sebenarnya tidak lulus, namun karena adanya “permainan” maka bisa saja nilainya berubah menjadi lulus.

Lulus lewat UN, dengan nilai murni bukan lagi suatu hal yang membanggakan bagi banyak siswa di daerah tertinggal. Bagi mereka yang penting lulus, lewat cara apapun, dengan jalan apapun. Meskipun itu lewat UP dan harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit

Padahal UN sendiri tidaklah sesuci yang diperkirakan. Kasus kebocoran soal, sudah menjadi tradisi di setiap pelaksanaan UN setiap tahunnya. Belum lagi kasus guru yang mengganti jawaban siswa di sekolahnya, hanya agar siswa tersebut lulus. Sudah jamak orang tahu, bahwa status sekolah favorit akan dapat diraih jika sekolah tersebut mampu meluluskan siswanya 100% dengan nilai yang tinggi pula. Dengan demikian sekolah berlomba-lomba untuk bisa meluluskan siswanya agar dapat mempromosikan diri sebagai sekolah favorit kepada masyarakat. Dan cara yang tidak halalpun dapat ditempuh oleh pelaksana pendidikan sekolah tersebut, meskipun dengan cara yang tidak benar.

Sudah semestinya pelaksanaan UN dikaji ulang keberadaannya. Apakah UN merupakan suatu keharusan, ataukah hanya memboroskan anggaran biaya Negara. Apakah sasaran UN untuk mencerdaskan masyarakat Indonesia sudah tercapai, atau justru membuat masyarakat Indonesia menjadi cerdas yang semu, karena standar pendidikan yang tidak jelas

Jika kita bicara mencerdaskan bangsa, maka perhatikan juga pendidikan di daerah minim. Jangan bicara untuk bersaing dengan Negara lain dalam bidang pendidikan disaat kualitas pendidikan di negeri ini masih amburadul dan tidak jelas.

Wallahualambishshowwab.

(Penulis adalah seorang guru SMA, seorang tenaga pengajar Kursus Komputer dan juga seorang dosen PTS di Halmahera Selatan)

Ditulis dalam Dari Pikiran | 1 Komentar »

Come Back

Ditulis oleh Andres Irawan di/pada April 13, 2008

Akhirnya, setelah 4 bulan hiatus, tanpa ada tulisan sama sekali, sekarang adalah momen kembali berkarya

Banyak yang terjadi dalam 4 bulan. Ada yang bersifat personal, ada juga yang bersifat umum. Namun yang pasti, saya masih ada di Halmahera Selatan, dan mungkin akan lebih lama lagi setelah istri menjadi salah satu dokter PNS disini :)

well, banyak cerita namun akan saya tulis kemudian :)

Ditulis dalam Dari Hati | Tidak ada komentar »

Keterbatasan (Khusus PLN)

Ditulis oleh Andres Irawan di/pada Desember 31, 2007

Hidup di daerah kepulauan maka anda harus membiasakan diri dengan segala keterbatasan. Mulai dari keterbatasan sarana transportasi, dimana jika anda tinggal di Jawa, maka anda bisa kemana saja menggunakan kendaraan umum, atau jika punya sepeda motor maka anda bisa langsung mengendarainya, namun sarana transportasi di daerah kepulauan tentu saja dengan menggunakan kapal laut, dan jumlahnya terbatas. Sebagai contoh, ketika ingin pergi dari Pulau Bacan (Halmahera Selatan) ke Ternate, maka hanya bisa ditempuh dengan kapal di malam hari selama 8 jam perjalanan. Sebenarnya ada juga kapal cepat yang beroperasi 2 hari sekali, namun  butuh biaya 2 x lipat dari kapal biasa.

Keterbatasan yang lain adalah barang konsumsi. Di daerah kepulauan, tentu saja barang konsumsi menjadi barang yang mahal, karena barang-barang tersebut harus di kirim dari daerah lain, dan tentu saja selain waktu yang lebih lama dalam pengiriman, sarana transportasi laut juga membuat harga menjadi lebih mahal karena biaya kirim yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan sarana angkutan darat. Kalo anda mau tau, telur satu butir di Ternate berkisar 900 rupiah. Jadi kalo 1 kg (±16 butir, maka anda mesti mengeluarkan uang sekitar 14 ribu rupiah. Bandingkan dengan harga telur di Jawa yang hanya berkisar 9 – 10 ribu/kg

Dan keterbatasan yang lain adalah soal sumber energy alam. Karena jarang ada sungai, dengan arus yang baik, maka satu-satunya tenaga pembangkit listrik yang bisa di andalkan adalah tenaga diesel. PLN kota Ternate, memiliki beberapa generator listrik yang digerakkan oleh mesin diesel yang berbahan bakar solar. Namun, ternyata itu tidak menjadikan listrik di Ternate menjadi “aman”

Jika anda tinggal di daerah yang PLN nya menggunakan tenaga diesel, maka bersiaplah untuk mengalami seringnya mati lampu. Hampir setiap minggu di Ternate, mengalami pemadaman bergilir yang berkisar 5-6 jam setiap pemadaman. Suatu hal yang aneh, karena alasan yang digunakan adalah perawatan. Apakah setiap minggu jaringan listrik PLN pada satu daerah mesti dirawat?

Saya mengerti jika memakai suatu barang, maka aka nada masa perawatan, namun jika setiap minggu harus melakukan perawatan, maka itu adalah sesuatu yang tidak wajar. Namun  kemudian saya baru tahu bahwa alasan pemadaman tersebut, bukanlah soal perawatan, akan tetapi PLN tidak mau mengakui bahwa sebenarnya dia tidak mampu memberikan daya yang cukup bagi kebutuhan listrik untuk masyarakat, sehingga harus diadakan pemadaman bergilir.

Di Bacan, lebih parah lagi. Sejak bulan November 2007, setiap 3 hari sekali dilakukan pemadaman bergilir sejak jam 4 sore sampai jam 12 malam. Hal ini dikarenakan rusaknya salah satu generator listrik yang dimiliki PLN Bacan, sehingga hanya satu dari dua generator yang bisa membangkitkan aliran listrik. Akibatnya, jika tidak dilakukan pemadaman bergilir maka PLN tidak mampu memenuhi permintaan daya listrik masyarakat. Dan saya tidak tahu akan sampai kapan begini, karena janjinya bulan desember sudah akan normal, namun masih tetap saja terjadi pemadaman bergilir.

Padahal, asal anda tahu saja, biaya BBM untuk PLN di Bacan menghabiskan biaya 1 M/bulan. Jika kita kalkulasikan dengan biaya solar industri yang berharga 6 ribu/liter, maka akan kita dapatkan angka dalam sebulan PLN menghabiskan lebih dari 160 ribu liter/bulan. Mungkin angka yang kecil bagi anda, namun kalikan saja dengan pertahunnya, kemudian ada berapa daerah kepulauan yang menggunakan cara yang sama dalam memenuhi kebutuhan listriknya.

Bagi saya, itu adalah jumlah yang sangat besar, baik dari soal harga yang mesti di bayar ke Pertamina sebagai pemasok BBM, juga bentuk pemborosan BBM yang kita tahu bahwa suatu saat nanti BBM yang berasal dari fosil akan habis. Lalu jika BBM yang berasal dari fosil ini habis, bagaimana untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar generator listrik?

Makanya tak heran, jika PLN mempunyai hutang yang sangat besar ke beberapa pihak. Dua minggu lalu, saya membaca running text di Metro TV yang menyatakan PLN mempunyai tunggakan pembayaran alias hutang di Indonesia Power sebesar 10 Trilyun. Jumlah yang sangat besar memang, belum lagi jika ditambahkan hutang PLN kepada Pertamina dan perusahaan lainnya.

Namun anehnya, meskipun merugi setiap tahunnya, Pemerintah seakan tidak peduli dengan hal tersebut. Tidak ada langkah yang jelas untuk mencari alternative lain dalam memberikan sumber daya energy bagi masyarakat. Padahal, justru perusahaan yang menjadi penanggung jawab pembangkir energy, hanya bisa menghasilkan utang, akan tetapi dari segi pelayanannya sama sekali tidak memuaskan, sering padam lampu, jaringa rusak dan masih banyak hal lain yang seharusnya kita sebagai konsumen, berhak complain atas gangguan listrik yang kita terima.

Asal anda tahu saja, jika anda menjadi seorang Pegawai PLN dengan pendidikan S1, saat anda diterima bekerja, anda akan menjalani On Job Training (OJT) selama 6 bulan. Selama 6 bulan tersebut, anda hanya akan mendapat uang saku sebesar 1,6 juta rupiah. Namun setelah 6 bulan OJT dan anda dinyatakan lulus sebagai pegawai, otomotis gaji anda akan langsung menjadi 4,3 juta rupiah. Sebuah angka yang sangat besar menurut saya, jika di bandingkan layanan PLN yang sama sekali jauh dari memuaskan. Makanya tidak heran banyak orang yang berlomba-lomba jadi pegawai PLN, bayarannya gede soalnya.

Saya sendiri sempat tertegun, ketika sebuah iklan di TV berisi sebuah tekad dari PLN pada  tahun 2040 (atau 2020 ya?) menjadikan 100% wilayah di Indonesia akan teraliri listrik. Sebuah proyek yang semestinya adalah kewajiban pemerintah dalam hal ini PLN untuk menyediakan pelayanan bagi semua warga negaranya. Namun dengan melihat kenyataan yang ada sekarang, saya jutru pesimistis dengan hal tersebut.

Ada beberapa hal yang membuat saya mempunyai pemikiran pesimis, yang pertama bahwa wilayah kita adalah kepulauan. Untuk pulau besar seperti Jawa, Sumatra, Sulawesi mungkin tidak ada masalah, namun untuk daerah yang terdiri dari banyak pulau kecil, dengan cara apa PLN akan mengaliri listrik? Apakah dengan diesel juga? Padahal diperkirakan BBM fosil sebagai bahan bakar diesel, di Indonesia akan habis sekitar 30 tahun lagi. Berarti tahun 2040 Indonesia bisa mengalami krisis BBM (kecuali jika BBM dari bahan organic, yaitu : tumbuhan jarak dan kelapa sawit sudah diproduksi massal). Jika BBM tidak ada, maka diesel tidak bisa menyala.

Yang kedua, butuh biaya besar jika mengalirkan listrik antar pulau, karena harus dibangun kabel bawah laut yang tentu saja investasi yang sangat besar nilainya. Belum lagi resiko bahwa kabel yang bermuatan listrik tegangan tinggi, lebih mudah rusak dibandingkan kabel serat optic yang berisikan data untuk telekomunikasi dan internet.

Sudah semestinya, dicari alternative pembangkit listrik. Saya pernah melihat tayangan SCTV, di Sumbawa PLN setempat sudah menggunakan tenaga angin sebagai pembangkit listrik, dan hasilnya menghemat biaya  bahan bakar sampai 30 %. Sudah semestinya hal – hal positif tersebut diterapkan oleh PLN di daerah lain.

Jadi, jika memang bertekad menjadikan tahun 2040 Indonesiaa 100% teraliri listrik, harus ada langkah kongkrit dari PLN. Sudah semestinya PLN menjadi Perusahaan Laba Negara, bukan lagi Perusahaan Licik Negara

 

Ditulis dalam Dari Pikiran | 1 Komentar »

Happy b’day for us….. my wife

Ditulis oleh Andres Irawan di/pada Desember 24, 2007

Hari ini, tanggal 24 desember setahun yang lalu.

Mungkin hari yang biasa bagi orang lain, namun bagiku, adalah hari dimana aku melepas masa lajangku. Iya, tepat sekali. Setahun yang lalu aku menikah dengan seorang wanita yang ku yakini adalah wanita yang ditakdirkan untuk menemani hidupku

Meski sempat tertatih dalam masa awal menikah, namun setahun ternyata sudah berlalu. Dan Alhamdulillah, kami melaluinya dengan baik. Terlepas dari adanya masalah yang menerpa dalam rumah tangga, pertengkaran-pertengkaran kecil yang masih dalam batas kewajaran, dimana ketika dua kepala dengan ego yang berbeda mencoba bersatu dan mempersatukan diri, maka akan muncul gesekan-gesekan kecil dalam dinamikanya :) . Dan itu wajar kok, dijamin tidak ada sebuah keluarga tanpa adanya gesekan-gesekan kecil antara suami dan istri hehehe :)

Aku anak bungsu, maka tergolong manja. Sedangkan istri adalah anak tunggal yang keras dan mandiri. Tentu saja, karakter kami yang berbeda membuat kami harus bekerja keras memahami pasangan kami. Namun disitulah keasyikannya, kami jadi terus belajar dan mencoba menggali sifat-sifat tersembunyi dari kami setiap harinya, dan selalu ditemukan hal-hal unik diantara kami :)

Menikah dengan istri, mungkin adalah satu keputusan terbesar dalam hidupku. Apakah dia orang yang tepat untuk kita? Pertanyaan yang pernah terlontarkan oleh salah satu sahabat saya ketika bertemu dengannya. Dulu saya gak bisa menjawab, mungkin sekarang saya juga belum bisa menjawab. Namun saya percaya, bahwa setiap manusia ditakdirkan untuk memiliki pasangan masing-masing. Dan Allah sendiri telah memperintahkan kita untuk berkelompok dan berpasangan, dan jodoh adalah salah satu rahasia-Nya. Saya percaya, jika menikah adalah ibadah, maka pilihan kita juga merupakan ibadah.

Allah mempertemukan Rasulullah dengan Bunda Khatidjah, itu adalah sebuah garis hidup dari Rasul. Sama dengan ketika Allah menjadikan Hawa sebagai pendamping Nabi Adam. Dan saya percaya, Allah pula telah mengirimkan istri kepada saya.

Menikah adalah sebuah janji dalam hidup, ketika kita bersedia untuk berbagi hati dengan pasangan kita. Bukan hanya itu saja, namun menikah menjadikan kita memasuki babak baru dalam kehidupan, ketika kita harus memperhatikan pasangan, menemani pasangan, sampai pula dicemburui oleh pasangan kita :)

Namun itulah dinamika dalam sebuah pernikahan. Dengan itu pula kita belajar mengerti bahwa hakekat ibadah adalah untuk ibadah, bukan hanya sebagai permintaan orang tua untuk punya cucu, bukan pula hanya sekedar pelampiasan hasrat kita. Namu menikah, adalah bagaimana kita melihat kebaikan pasangan kita sebagai kebaikan kita, dan menjadikan keburukan pasangan kita sebagai keburukan kita pula. Dan dengan menikah pula, maka kita akan belajar untuk menhadapi semua, untuk terus meningkatkan kebaikan untuk mengurangi sisi buruk kita :)

Setahun menikah dengan istri, adalah sebuah ibadah dalam hidupku. Banyak hal yang kami dapatkan bersama. Saya menjadi dosen, tak akan mungkin jika kami masih dijawa. Pun dapat berjalan-jalan ke Indonesia Timur, mungkin juga tak akan terlaksana jika kami tidak menikah :) . Terlalu banyak anugerah Allah yang telah diberikan kepada kami, sehingga tak dapat kami sebut satu persatu. Mungkin, harapan kami terbesar adalah Allah bersedia mendengar doa kami, untuk mendapatkan keturunan (Amin…!!!)

Menikah adalah sebuah tanggung jawab dan janji yang kita ucapkan bukan hanya kepada Allah, namun pada semua undangan yang hadir di akad nikah kita. Dan kami berdua berharap dan berdoa, semoga kami dapat menjalani mahligai rumah tangga ini dengan baik, sampai Allah memanggil kami kembali ke sampingNya

 

 

(for my wife, maafin abang yang belum bisa menjadi suami yang baik buat dek. Tetep istiqomah dan ridho pada kehendak Nya ya!, semoga doa kita untuk mendapatkan momongan, segera didengar oleh Nya. Love u :) )

 

Ditulis dalam Dari Hati | 4 Komentar »

1st…..

Ditulis oleh Andres Irawan di/pada Desember 24, 2007

Mawar sangat indah, namun berduri tajam

Anggrek mempesona namun begitu manja

Melati harum mewangi namun mudah kotor

Tulip bersinar mengkilau namun akan pudar

 

Engkau bukanlah mawar atau anggrek

Engkau bukan pula melati atau tulip

Engkau memang berbeda

Engkau adalah matahari

 

Engkau yang memperindah hari tanpa melukai

Engkau yang mempesona diri dengan kemandirian

Engkau yang mengharumkan langkah tanpa habis

Engkau yang menerangi jalan tanpa henti

 

Engkaulah matahari

Engkaulah bungaku selamanya

Engkaulah…..

Bidadariku

 

(dedicted for my lovely wife)

Happy anniversary my honey

Hari ini, tepat setahun kita menikah. Semoga Allah selalu meridhoi langkah kita dalam membangun mahligai rumah tangga. Love u J

Ditulis dalam Dari Hati | Tidak ada komentar »

SETIAP JALAN PASTI ADA KERIKIL YANG MENGGANGGU!

Ditulis oleh Andres Irawan di/pada Desember 21, 2007

SETIAP JALAN PASTI ADA KERIKIL YANG MENGGANGGU!

Tak terasa hampir 6 bulan aku tinggal di Halmahera Selatan. Sebuah wilayah yang sangat indah, dengan begitu banyaknya potensi SDA yang tersimpan dalam kandungan buminya. Dan itu juga berarti hampir 6 bulan aku menjadi sebuah bagian dari Perguruan Tinggi, menjadi Biro Adm. Umum sekaligus mengasuh 2 mata kuliah sekaligus J

Ketika kita memutuskan untuk menempuh sebuah jalan hidup, maka kita juga akan menemui begitu banyak masalah yang akan kita hadapi di jalan tersebut. Bukan berarti rintangan, namun memang setiap jalan hidup yang kita tempuh pasti akan mendapatkan berbagai macam rintangan, namun jadikan saja itu sebagai sebuah tantangan J

Pada awalnya, aku merasa nyaman untuk menjadi bagian dari sebuah Perguruan Tinggi. Terlebih, karena Yayasan yang menaungi adalah Yayasan “ikhwah”. Namun, dengan berjalannya waktu aku dihadapkan pada berbagai masalah yang sejujurnya adalah masalah umum yang akan dihadapi oleh semua orang yang baru menjejakkan kaki di Indonesia Timur (Intim). Kemalasan, tanggungjawab dan kedisipilinan.

Dimulai dengan tidak aktifnya Pembantu Ketua (PK) I, Bidang Akademik. Meskipun di awal pendirian kampus yang bersangkutan menyatakan diri sanggup untuk menjadi PK I, namun kenyataannya malah tidak pernah hadir di kampus sama sekali. Bahkan tanggungjawab untuk memberikan kuliah sama sekali tidak dilaksanakan. Yang pada akhirnya, selama 7 pekan mahasiswa tidak mendapatkan kuliah tersebut alias kosong. Akhirnya, meski cukup terlambat, namun kuliah tersebut aku ambil alih.

Masalah lain yang muncul adalah tidak berjalannya banyak struktur organisasi di kampus. Aku yang sebenarnya tidak masuk dalam struktur, akhirnya mengambil alih banyak tugas akademik. Dan tentu saja, karena selain ngajar aku juga mesti ngurus akademik, maka ada beberapa masalah yang muncul.

Akhirnya,pada suatu saat, sampailah pada titik kesabaran terendah ketika muncul sikap ku yang menyampaikan ketidakpuasan atas kerja bagian akademik yang tidak masuk sama sekali dalam perkuliahan. Dan tahukah apa yang terjadi?

Yang ada datanglah “oknum” akademik yang dengan emosional melampiaskan kemarahan kepada ku seraya menundingku sebagai orang yang sombong, baru kerja sedikit sudah capek, padahal dia kerja ngurusin masalah kampus dulu (padahal, setahu ku kampus dulu tidak pernah ada aktifitas kuliah sama sekali). Dan bukan hanya itu saja, sikap yang arogan dengan tidak mau menerima penjelasan, bahkan ketika aku berusaha tetap berbicara justru “oknum” tersebut mengancam untuk melempar kursi dan meja kepadaku, justru membuat aku berfikir. Bukankah kami saat itu ada di wilayah kampus, dimana otak dan logika lebih dipakai dari pada otot dan fisik? Bukankah kampus menjunjung tinggi kebebasan berpendapat dan berargumentasi selama masih disampaikan dalam batas kesopanan dan kewajaran? Jadi, apakah “oknum” yang aku hadapi ini adalah orang akademik atau preman?

Dan lebih anehnya, setelah marah-marah, justru dia kemudian duduk bersama mahasiswa di pelataran dan dengan bangga menceritakan dirinya baru saja melabrak serta mengancamku. Jadi, bisa dikatakan dengan kiasan kepada para mahasiswa, dia mengaku sebagai preman, bukan kalangan akademik.

Belum lagi arah pembicaraan yang menudingku sebagai “orang luar” yayasan, bukan kalangan keluarga besar yayasan yang memang yayasan tersebut didirikan oleh salah satu tokoh yang cukup terkenal di Maluku Utara. Aku adalah pendatang, bukan saudara sehingga tidak berhak mengurusi kampus yang didirikan yayasan, dan dia karena masih terhitung saudara, maka lebih berhak mengelola yayasan.

Sempat jengkel juga dengan hal tersebut, bahkan aku sampai sudah buat surat pengunduran diri, yang tinggal diberikan kepada Ketua. Namun setelah berdiskusi dengan ketua, akhirnya ketua meminta aku tetap bertahan, dan tidak mendengarkan omongan-omongan yang dilontarkan oleh “oknum” tersebut. Okelah, akhirnya aku menganggap, itulah kerikil yang ada di jalan yang aku tempuh saat ini.

Well…. Itulah permasalah yang akan anda hadapi jika bekerja di Intim, SDM yang belum siap untuk maju, belum siap dengan tanggungjawab dan kedisiplinan dalam menerima amanah

Ditulis dalam Dari Hari | 4 Komentar »